Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

HISTORISME MANDAILING

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 13 Feb 2020
  • print Cetak

Oleh : Askolani Nasution
Budayawan Mandailing

Pengantar

Nama Mandailing acapkali diletakkan pada kerangka historis yang tidak sesuai. Peletakan itu tentu karena tidak pernah melalui kajian sejarah dan arkeologi yang relevan. Hal itu yang menyebabkan distorsi sosial dalam berbagai kebutuhan.

Historime Mandailing

Tentu tidak mudah untuk menentukan kapan manusia dan kebudayaan Mandailing muncul pertama kali di Sumatera.

Selain karena belum pernah ada penelitian yang mendalam tentang itu, juga nyaris tidak ada referensi yang bisa dijadikan patokan.

Apalagi selama ini, semua referensi tentang Mandailing hanya bersumber dari peneliti Barat.

Tragisnya, semua referensi Barat tidak pernah punya kehati-hatian untuk menggeneralisir semua kawasan Tapanuli sebagai bagian dari Batak.

Dan itu menimbulkan distorsi sosial yang luar biasa, termasuk dalam kasus SPO (2020).

Penyebutan nama Mandailing dalam literasi yang valid untuk dijadikan rujukan ilmiah, baru muncul dalam kitab “Negara Kertagama”, Pupuh XIII, tahun 1365 M.

Dalam naskah klasik itu nama Mandailing disebut sebagai satu kawasan bawahan dari Majapahit, selain daerah Jambi, Palembang, Toba, Darmasraya, dan daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane Kampe, haru, Tamihang, Perlak dan Padang. Dalam penggalan itu, sama sekali tidak ada sebutan Batak.

Dalam referensi itu, Toba juga disebut. Tapi kata Batak, sama sekali tidak ada. Tentu, karena kata Batak sendiri baru muncul setelah Perang Dunia I, itu juga dalam referensi yang ditulis oleh orang Eropah.

Misalnya oleh Van Der Tuuk, penyusun “Tata Bahasa Batak” tahun 1860-an.

Istilah Batak baru populer sejak abad ke-20. Itu pun terbatas hanya untuk menyebut satu kawasan luas sesuai dengan misi yang diinginkan.

Misalnya “Batta-Mission” untuk menyebut satu kawasan zending masa sebelum Perang Dunia II. Jadi sama sekali tidak untuk menyebut karakteristik daerah tertentu. Tentang itu, bisa dibaca dalam tulisan Uli Kozok berjudul “Dari Batta ke Batak”.

Bahwa Mandailing memiliki berbagai peninggalan sejarah yang luar biasa tentu tidak diragukan lagi.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa abad 1-5 Masehi, para pedagang Cina dan India sudah sering melakukan perjalanan ke kawasan Mandailing.

Sebuah catatan menyebut bahwa pada masa itu telah ada kerajaan-kerajaan merdeka di Sumatera, termasuk kerajaan Mandailing. Kerajaan Mandailing telah melakukan kontak dagang dengan Cina dan India terutama perdagangan emas, keramik, dan sutra.

Adanya bukti peninggalan keramik itu, sering ditemukan dalam eksplorasi situs-situs tua di Mandailing.

Pada masa itu, ada delapan rute perdagangan penting di Sumatera, salah satu adalah rute Pelabuhan Natal ke pedalaman Mandailing.

Perdagangan itu, selain membuka cakrawala berpikir juga menjadi sarana penyiaran agama-agama baru. Sebab, penaklukan secara otomatis mengubah adat-istiadat lokal sesuai dengan kebudayaan penakluk.

Bukti telah berdirinya peradaban Mandailing sejak masa klasik, ditunjukkan dengan berbagai temuan arkeologi.

Misalnya temuan Schnitger (1935) berupa Kursi Batu di Kelurahan Kotanopan, patung Sangkalon di Hutagodang, Batu Tagor di Panyabungan Tonga, makam kuno di Desa Singengu dan Pakantan.

Studi PV van Stein Callenfels (1920) juga menemukan keberadaan Arca Perunggu yang menggambarkan dua perempuan menunggangi seekor gajah, ditemukan di aliran sungai Panyabungan. Peradaban itu berkembang pada budaya megalitikum.

Periode Hindu-Budha Klasik di Mandailing menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi kawasan budaya yang otonom pada masanya. Sumber emas di Sepanjang Sungai Batang Gadis, sungai terpenting yang melewati hampir seluruh dataran rendah di Mandailing, menjadi daya tarik bagi kerajaan-kerajaan besar. Tentang hal ini banyak dikupas arkeolog Perancis, Daniel Perret.

Selain kerjaan Chola, Barus, Majapahit, Singosari, kawasan Mandailing juga pernah dijajah dua kerajaan besar yang berpusat di Sumatera, yakni Dharmasraya dan Sriwijaya.

Dharmasraya meninggalkan candi Simangambat, candi Siabu, candi Biara Panyabungan, dan situs Hutasiantar sebagai jejak kekuasaannya pada abad 8-9 Masehi.

Bukti sejarah peninggalan masa Hindu-Budha Klasik di Mandailing adalah temuan situs dan artefak sepanjang Sungai Batang Gadis, Sungai Batang Angkola, dan hulu Sungai Barumun.

Peradaban sekitar daerah aliran sungai ini menjadi ciri masa Hindu-Budha Klasik. Karena itu ditemukan Candi Simangambat, Candi Siabu, dan Saba Pulo di sekitar Sungai Batang Angkola.

Di sekitar DAS Batang Gadis ditemukan Candi Biara Pidoli dan Situs Hutasiantar. Peradaban DAS Batang Angkola tersebut diungkap oleh arkeolog Belanda, Schnitger (1935).

Selain itu arkeolog Arkeolog Bosch (1930) menemukan arca Ganesha di Pasar Siabu yang berasal dari Candi Bonandolok.

Hal lain yang memicu tingginya peradaban dan daya tarik kawasan Mandailing adalah kandungan emas yang terdapat sepanjang Sungai Batang Gadis, terutama di sekitar Hutabargot.

Banyak catatan yang menyebut betapa emas dari kawasan ini di ekspor ke luar negeri melalui Dermaga Pantai Barat Mandailing setelah berperahu menyusuri sungai Batang Gadis.

Bukti penambangan emas di kawasan ini juga ditemukan dalam catatan Daniel Perret. Ia menyabut adanya Garabak ni Agom, tanda aktivitas pertambangan kono di sekitar Lumpatan Harimau pada koordinat 01 58 41 LU, 99 30 13 BT.

Penting kembali dipahami bahwa istilah Batak adalah hal yang sangat baru. Uli Kozok menyatakan : Menarik untuk dicatat bahwa ejaan “Batak” masih relatif baru. Pada abad ke 1900 orang Eropa menyebut orang Batak sebagai Batta, dan sekali-sekali, Bata. Hanya H.N. van der Tuuk yang menggunakan ejaan “Batak” sejak tahun 1860an. Istilah Batak baru mulai populer setelah tahun 1904.

Tentu saja banyak hal yang masih samar-samar menyangkut sejarah Mandailing. Misalnya apakah candi Simangambat diperuntukkan untuk masyarakat berkebudayaan Mandailing atau etnis Melayu. Sebab, beberapa prasasti yang ditemukan di sini, termasuk prasasti Gunung Sorik Marapi, memang ditulis dengan bahasa Melayu. Itu semua butuh kajian yang mendalam, termasuk oleh Balai Arkeologi.

Tapi substansinya bukan itu. Penyebutan Batak yang mensubordinasi Mandailing dalam SPO 2020, merupakan penyederhanaan yang amat dangkal. Referensi akademisnya rendah. Selain karena istilah “Batak” masih amat baru, istilah itu juga awalnya hanya digunakan oleh peneliti Barat. Dalam tataran adat dan budaya daerah Mandailing, dan saya yakin juga di sub-etnis Tapanuli lainnya, sama sekali tak ditemukan referensi tentang kata “Batak” dalam bahasa Ibu mereka.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muslimat NU Sinunukan Sahata Pembangunan Dilanjutkan

    Muslimat NU Sinunukan Sahata Pembangunan Dilanjutkan

    • calendar_month Senin, 21 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SINUNUKAN (Mandailing Online) – Ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi Muslimat NU Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sahata (sepakat) pembangunan infrastruktur jalan di kecamatan itu dilanjutkan. Hal itu mereka sampaikan ketika mendengarkan orasi politik calon wakil bupati Madina nomor 2 Atika Azmi Utammi Nasution di Desa Widodaren, Senin (21/10/2024). “Pembangunan di pantai barat cukup masif […]

  • Penangkapan 13 Warga Batahan I, Polres Madina Harus Arif

    Penangkapan 13 Warga Batahan I, Polres Madina Harus Arif

    • calendar_month Senin, 21 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyidik Polres Madina harus bijak dan profesional dalam melakukan proses penyidikan terhadap 13 warga Batahan I yang ditangkap atas tuduhan mencuri buah sawit. 13 warga Batahan I Kecamatan Batahan, Mandailing Natal (Madina) ditangkap pelisi Kamis pekan lalu atas tuduhan mencuri ketika memanen buah sawit di lahan perkebunan yang dinyatakan status stanpass […]

  • Target Bebas Pemadaman Listrik, PLN Sumut Sewa Kapal PLTGU dari Turki

    Target Bebas Pemadaman Listrik, PLN Sumut Sewa Kapal PLTGU dari Turki

    • calendar_month Selasa, 23 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        MEDAN – PT PLN (Persero) menyewa Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) atau Marine Vessel Power Plant (MVPP) dari Karadeniz Powership Onur Sultan, Turki selama lima tahun. Ini dilakukan untuk mengatasi krisis listrik di Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Kapal super besar ini luasnya tiga kali lapangan bola kaki memiliki kapasitas 240 […]

  • Ramai-ramai kecam pembebasan Corby

    Ramai-ramai kecam pembebasan Corby

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat ramai-ramai mengecam keputusan pemerintah yang mengabulkan pembebasan bersyarat yang diajukan Schapelle Leigh Corby, terpidana 20 tahun dalam kasus kepemilikan 4,2 kg mariyuana. Menurut anggota Komisi III Bidang Hukum DPR, Eva Kusuma Sundari, tadi malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden yang memberi grasi kepada pengedar narkoba. Menurut Eva, sikap […]

  • Pasangan SUKA Lebih Berpeluang Menang di PSU Pilkada Madina Besok

    Pasangan SUKA Lebih Berpeluang Menang di PSU Pilkada Madina Besok

    • calendar_month Jumat, 23 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan: Akhiruddin Matondang Pemimpin Redaksi BeritaHuta Pelaksanaan pemungutan suara ulang (PSU) Pilkada Madina 2020 tinggal menghitung jam. Siapa bakal unggul?. Menurut hitungan-hitungan berdasarkan data yang saya miliki, pasangan calon (paslon) Ja’far Sukhairi-Atika Azmi Utammi (SUKA) lebih berpotensi menang. Perolehan suara PSU menentukan paslon mana peraih suara terbanyak pada Pilkada Madina (Mandailing Natal), Sumut. Karena perolehan […]

  • Jenderal A.Haris Nasution dan Soeharto

    Jenderal A.Haris Nasution dan Soeharto

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    DWI FUNGSI = Tidak percaya otoritas sipil. Jenderal Nasution perumus doktrin ‘Jalan Tengah’ TNI. Kemudian lewat doktrin yang lebih canggih, Dwi Fungsi, Jenderal Suharto memperluas peran tentara hingga jauh ke wilayah sipil dan menjadikan tentara seperti imperium pribadi. Sumber :Juliusmant

expand_less