Lopo Kopi Dotek: Ruang Sosial Serasa Ngampus
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Goresan Ringan: Ludfan Nasution
Jurnalis/pengamat, tinggal di Kotasiantar, Panyabungan
Di banyak tempat di Mandailing dan Tapanuli bagian selatan lainnya, lopo kopi (lepau/warung kopi) bukan sekadar tempat minum kopi. Ia adalah ruang sosial kecil tempat pikiran bertemu, beradu, lalu berpisah tanpa perlu diputuskan siapa yang benar.
Di sana kopi sering disajikan dalam bentuk yang khas: kental, pekat, pahit dan manis menyatu. Sebagian orang menyebutnya kopi dotek. Bubuk kopi yang agak banyak, air tidak terlalu longgar, gula secukupnya—hasilnya segelas kopi dengan tubuh yang tebal dan rasa yang berlapis.
Kopi seperti ini jarang diminum terburu-buru. Ia diseruput perlahan, memberi waktu bagi lidah dan pikiran untuk bekerja bersamaan.
Biasanya kopi dotek hadir pada dua momen: pagi sebelum kerja dimulai dan malam setelah aktivitas selesai. Pagi hari, ia seperti mesin penggerak pikiran. Malam hari, ia berubah fungsi menjadi teman rehat, teman cerita, dan kadang teman merenung.

Ludfan Nasution
Sering terjadi sebuah adegan sederhana: sisa pedas makan malam masih terasa di lidah, lalu masuk kopi dotek panas. Jika kebetulan ada rokok kesukaan, suasana itu bagi sebagian orang terasa seperti “syurga kecil dunia”.
Namun sebenarnya yang paling menarik dari lopo kopi bukanlah kopinya, melainkan percakapannya.
Topik-topik di meja kopi sering muncul dari hal sederhana. Seseorang melempar pertanyaan atau pendapat. Kadang tentang politik daerah, kadang tentang adat, kadang tentang ekonomi kampung, kadang pula sekadar soal kehidupan sehari-hari.
Yang menarik, topik-topik itu jarang sekali benar-benar selesai.
Satu orang memancing gagasan. Yang lain menimpali. Beberapa menit kemudian muncul bantahan. Suasana sempat memanas, lalu tiba-tiba berubah arah karena ada cerita baru atau orang baru datang. Diskusi pun berpindah.
Di lopo kopi, gagasan tidak selalu dicari kesimpulannya. Ia lebih sering dilemparkan untuk menguji pikiran kawan. Seperti batu kecil yang dilempar ke kolam, riaknya menyebar ke berbagai arah.
Justru karena tidak dituntaskan, gagasan itu sering terbawa pulang oleh masing-masing orang.
Mungkin malam itu topiknya tidak selesai. Tapi keesokan hari seseorang masih memikirkannya. Di situlah lopo kopi menjalankan fungsi yang sering tidak disadari: menanam benih pikiran dalam masyarakat.
Warung kopi semacam ini bisa disebut sebagai universitas rakyat yang paling sederhana. Tidak ada kurikulum, tidak ada dosen, tidak ada jadwal resmi. Yang ada hanya kopi, percakapan, dan pengalaman hidup yang saling dipertukarkan.
Kopi dotek sendiri seolah menjadi metafora kecil dari kehidupan sosial itu: pahit dan manis hadir bersamaan, kental dan tidak tergesa-gesa.
Di meja kopi, orang tidak selalu mencari kemenangan dalam debat. Yang lebih penting adalah menjaga percakapan tetap hidup.
Dan selama kopi masih mengepul di cangkir, percakapan seperti itu tampaknya akan terus ada—dengan atau tanpa kesimpulan.***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

