Rabu, 7 Okt 2026
light_mode

Bantuan 500 Kartu BPJS Kerja: Ilusi Perlindungan atau Jurus Selamat?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
  • print Cetak

 

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Ketua Konfederasi Sarikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) NU Mandailing Natal

 

 

Ada yang terasa janggal setiap kali buruh dirayakan dengan angka.

Bantuan 500 kartu BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja rentan di Mandailing Natal dari Pemprov Sumut, memunculkan dugaan buruk.

Seremoni dalam suasana yang rapi, penuh simbol, dan tentu saja — layak diberitakan itu menyimpan pertanyaan besar: ilusi perlindungan atau jurus untuk menyelamatkan para pekerja?

Masalahnya: ia terlalu rapi untuk ukuran sebuah kenyataan yang berantakan.

Angka Nyaring, Realitas Senyap

Jumlah kartunya mencapai lima ratus. Kesannya, banyak. Tapi, tidak jika kita buka data ketenagakerjaan Madina.

Angka yang terlihat besar di judul berita itu mengecil drastis saat dihadapkan dengan kenyataan ribuan buruh rentan yang bekerja tanpa perlindungan di kebun, di pasar, di proyek, di pinggir-pinggir ekonomi yang tak pernah masuk laporan resmi.

Kalau kita jujur, 500 bukan solusi.
Ia adalah fragmen kecil yang dipoles menjadi narasi besar.

Dan kita tahu, buruh tidak hidup dari narasi.

Negara Bayar, Siapa Menghindar?

Di tengah tepuk tangan itu, ada satu pertanyaan yang sengaja dibuat samar:
Kalau negara yang membayar BPJS buruh, lalu perusahaan membayar apa?
Ini bukan pertanyaan retoris. Ini inti persoalan.

BPJS Ketenagakerjaan bukan program amal. Ia kewajiban hukum.

Dan kewajiban itu melekat pada perusahaan, bukan pada kas negara.

Ketika pemerintah masuk menggantikan peran itu — tanpa penegakan hukum yang keras, maka yang terjadi bukan perlindungan, melainkan pergeseran tanggung jawab secara diam-diam.
Dan dalam pergeseran seperti ini, yang paling cepat belajar adalah perusahaan yang ingin hemat.

Bantuan Topeng

Mari kita bicara jujur.
Program seperti ini, tanpa pengawasan ketat, berisiko menjadi topeng paling elegan bagi pelanggaran paling kasar. Perusahaan tidak perlu lagi buru-buru mendaftarkan pekerjanya. Mereka cukup menunggu negara datang dengan program berikutnya.
Sementara buruh tetap bekerja seperti biasa — tanpa kepastian, tanpa jaminan, tanpa posisi tawar.

Kita sedang menyaksikan sesuatu yang berbahaya: pelanggaran yang diberi ruang oleh kebijakan yang tampak baik.

Seremoni yang Bikin Nyaman

Setiap tahun, kita melihat pola yang sama.
Hari Buruh datang, panggung disiapkan, pernyataan dikeluarkan, angka diumumkan.

Lalu semua kembali normal — termasuk ketidakadilan itu sendiri. Masalahnya, bukan pada niat baik.

Masalahnya adalah ketiadaan keberanian untuk melangkah lebih jauh dari seremoni.

Memanggil atau memberi ruang lega bagi perusahaan bukan tidak cukup, tapi tidak cakap. Pertanyaannya: siapa yang akan ditindak, dan kapan?

 

Serikat Tidak Akan Membiarkan Ini Berhenti di Sini

Sebagai Ketua Sarbumusi NU Mandailing Natal, saya tidak melihat ini sebagai capaian. Saya melihat ini sebagai alarm.
Ada tiga hal yang tidak bisa lagi ditunda:

Pertama, buka data kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di seluruh perusahaan.
Jangan lindungi pelanggar dengan diam.

Kedua, tetapkan target yang masuk akal: ribuan pekerja harus terlindungi, bukan ratusan. Dan itu harus punya tenggat waktu, bukan sekadar wacana tahunan.

Ketiga, libatkan serikat buruh sebagai pengawasan nyata, bukan pelengkap acara.
Karena hanya buruh yang tahu di mana ketidakadilan itu benar-benar terjadi.

Tak Usah Pencitraan, Selamatkan Buruh

Kita harus berani mengatakan ini secara terbuka: Jika kebijakan seperti ini hanya memperbaiki citra, tapi tidak memperbaiki struktur—maka yang sedang diselamatkan bukan buruh, melainkan persepsi.

Dan buruh sudah terlalu lama hidup di bawah kebijakan yang terlihat baik, tapi terasa kosong. “Hadiah” 500 kartu itu bisa menjadi awal.

Tapi tanpa keberanian untuk menagih kewajiban perusahaan dan membongkar pelanggaran yang ada, itu hanya akan menjadi satu lagi catatan kecil dalam daftar panjang seremoni besar yang gagal mengubah kenyataan.

Dan buruh, sekali lagi atau lagi-lagi — akan diminta bersabar.

Padahal yang mereka butuhkan bukan kesabaran.

Mereka butuh keadilan.***

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kholidah, Penyuluh Pertanian dari Madina Diundang ke Istana Negara Jakarta

    Kholidah, Penyuluh Pertanian dari Madina Diundang ke Istana Negara Jakarta

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seorang petugas Penyuluh Pertanian Lapangan dari Kabupaten Mandailing Natal bernama Kholidah diundang Presiden Jokowi ke Istana Negara di Jakarta. Kholidah selama ini tercatat sebagai petugas PPL yang bertugas di Kelurahan Siabu, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina). Dia dinobatan sebagai salah satu PPL kategori PNS teladan tingkat nasional, sehingga di hari peringatan […]

  • Miliki Sabu, Istri Mantan PLH Kadis PU Siantar Diringkus

    Miliki Sabu, Istri Mantan PLH Kadis PU Siantar Diringkus

    • calendar_month Jumat, 13 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PEMATANGSIANTAR : Sarina br Sianipar alias Omek (47), istri mantan Pelaksana Harian (PLH) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU) Kota Pematangsiantar, almarhum Dohar Sidabutar, ditangkap Sat Narkoba Polres setempat, Selasa malam 10 Mei 201, saat menggelar pesta sabu-sabu di rumahnya Jalan Narumonda bawah, Kelurahan Kebun Sayur Kecamatan Siantar Timur. Selain itu, juga diamankan lima orang […]

  • Kabut Asap Datang Lagi

    Kabut Asap Datang Lagi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah sempat hilang selama setu pekan akibat diguyur hujan, kabut asap kembali menyelimuti udara Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Pantaun wartawan, Jum’at (28/3/2014) kembalinya kabut asap membuat masyarakat kembali mengeluh. “Dalam satu pekan ini masyarakat sudah kembali senang karena kabut asap sudah hilang, namun dengan datangnya kembali kita pun harus antsipasi agar […]

  • Kabag Hukum: Itu Mobil Dinas Direktur RSUD

    Kabag Hukum: Itu Mobil Dinas Direktur RSUD

    • calendar_month Senin, 23 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN – Diduga telah dilakukan  pemalsuan plat mobil dinas  Kijang Innova putih dengan nomor polisi BB 1519 F yang merupakan mobil dinas Direktur RSUD Kota Padangsidimpuan (Psp) dr Aminuddin. Kenderaan sebagai penunjang kinerja pejabat itu menurut plat dan warnanya jelas milik Direktur RSUD. Hal itu dipastikan Kabag Umum Tobonsyah Pulungan saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (20/12). […]

  • CPNS: Pukul 01.30 Lulus, Pukul 07.00 Kalah

    CPNS: Pukul 01.30 Lulus, Pukul 07.00 Kalah

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Pengumuman Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (DPRD) Kota Medan menuai konflik. Lima peserta yang dinyatakan lulus melalui situs www.pcpns.pemkomedan.go.id, namun tidak tercantum di berbagai media yang ada pengumuman CPNSD Kota Medan, mendatangi Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan, Kamis (23/12), untuk mengungkapkan kekesalan mereka dan berharap wakil rakyat bisa menindaklanjuti. Kelima […]

  • Naskah Deklarasi "Batang Pungkut Green Conservation"

    Naskah Deklarasi "Batang Pungkut Green Conservation"

    • calendar_month Selasa, 5 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bismillahirrahmanirrahim Sesungguhnya kami menyadari bahwa lingkungan hidup adalah warisan yang paling berharga untuk generasi yang akan datang, oleh karena itu kami berkomitmen untuk menjaganya. Kami menyadari bahwa dampak negatif pertambangan lebih besar dari pada dampak positifnya terhadap masyarakat dan lingkungan hidup, oleh karena itu kami menolak pertambangan khususnya di wilayah Kabupaten Mandailing Natal. Kami menghormati […]

expand_less