Hadapi Berbagai Isu, Manajemen RSUD Panyabungan Buka Suara Mulai Dari Isu Anggaran Sampai Pengolahan Limbah dan TPS
- account_circle Muhammad Hanapi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

RSUD Panyabunga
PANYABUNGAN || Mandailing Online – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal akhirnya buka suara terkait sejumlah pemberitaan, mulai dari pengelolaan anggaran hingga persoalan limbah B3 dan Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Kepala Bidang Penunjang RSUD Panyabungan, Wiwin Ferdiansyah, menegaskan bahwa penanganan sampah medis menjadi prioritas utama dan didukung oleh anggaran khusus yang terpisah.
“Anggaran untuk limbah B3 dan TPS tidak digabung dengan anggaran obat maupun Bahan Habis Pakai (BHP), ada pos anggarannya tersendiri. Apabila tidak ada anggaran khusus ini, tentu RSUD Panyabungan tidak akan mampu menangani lonjakan volume limbah,” ujar Wiwin saat dikonfirmasi, Jumat (8/5/2026).
Menjawab pertanyaan terkait anggaran Pembuatan Grounding senilai Rp200.000.000 di tengah masih adanya kekurangan fasilitas lainnya, Wiwin menjelaskan bahwa pembangunan ini merupakan syarat mutlak.
Hal ini dilakukan demi memenuhi standar agar rumah sakit bisa menerima bantuan hibah alat kesehatan berat seperti Cathlab, CT Scan, dan Mammograph dari pemerintah pusat.
“Apabila nilai grounding tidak terpenuhi di bawah 2 Ohm, Kementerian Kesehatan tidak bersedia menghibahkan alat-alat tersebut ke RSUD Panyabungan. Jadi ini investasi jangka panjang untuk kemajuan pelayanan,” jelasnya.
Paket pekerjaan konstruksi senilai Rp200 juta tersebut saat ini dikerjakan oleh CV Bejana Utama.
Untuk menindaklanjuti rekomendasi DPRD Mandailing Natal, pihaknya telah melakukan rapat koordinasi bersama Dewan Pengawas. Langkah konkret yang sudah dilakukan antara lain menambah jumlah tenaga kebersihan dan mengajukan usulan anggaran pematangan lahan area rumah sakit ke APBD.
“Meskipun saat ini dukungan anggaran dari APBD masih terbatas, kami terus berupaya maksimal. Kami sudah mengajukan berbagai proposal bantuan, baik ke Bupati, Gubernur Sumatera Utara, hingga ke Kementerian Kesehatan,” tambahnya.
Sementara itu, terkait pengadaan barang yang bernilai fantastis tahun ini, Wiwin memastikan seluruh proses dilakukan secara transparan dan sesuai kebutuhan:
– Pengadaan Bahan Medis Habis Pakai (BHP): Rp3.405.609.742, dibeli rutin sesuai kebutuhan melalui e-Katalog.
– Pengadaan Bahan Habis Pakai Kimia: Rp2.220.000.000, disesuaikan dengan kebutuhan alat laboratorium melalui e-Katalog.
– Pengadaan Bahan Habis Pakai HD: Rp1.900.000.000, merupakan kebutuhan yang disesuaikan dengan kerjasama mesin HD bersama PT Nadi Lambang Tekhnologi Indonesia.
Wiwin juga menambahkan, terkait dukungan anggaran APBD untuk pencapaian status rumah sakit rujukan, hal tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan dan ranah Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
- Penulis: Muhammad Hanapi

