Senin, 15 Jun 2026
light_mode

Refleksi Pawai Obor 1 Muharram 1448 H: Di Sini Bersalawat, Di Sana Menghujat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution*

 

Suatu malam di tahun  lalu, sesudah salat isya, saya duduk di teras Masjid Jamik Kota Siantar bertepatan dengan malam 1 Muharram. Sepertinya hampir setiap tahun, masyarakat didominasi anak-anak di kelurahan ini memang selalu menggelar pawai obor berkeliling kampung. Malam ini juga dipastikan ada karena sudah dipost di linimasa facebook saudara saya, Ludfan Nasution.

Saat melihat arak-arakan mereka malam itu, di sela kepulan asap minyak tanah, ada rasa cemas yang mendadak muncul pas apinya padam. Bau gosong di ujung gang itu seperti menampar wajah kita dan bertanya: apa yang tersisa di dalam diri setelah acara selesai? Kalau besok pagi kita kembali ke dunia nyata lalu langsung saling mencaci dan menghujat di linimasa, ya tradisi keliling kampung di Kota Siantar kemarin itu dan yang sekarang cuma jadi tontonan teater yang menyedihkan. Hiburan semalam saja.

Jujur, kadang saya merasa cara kita beragama dan bernegara sekarang ini kok semakin hari semakin kekanak-kanakan ya? Kita ini hobi sekali terkotak-kotak. Ribut buat hal-hal kecil, lalu lanjut saling maki dan lempar hujatan di medssos. Lelah kita melihatnya. Padahal kalau mau sedikit saja membuka mata dan melihat kenyataan di luar sana, dunia ini sedang mengerikan. Anomali global nyata-nyata sedang mengintai kita. Mulai dari krisis lingkungan yang makin kacau, cuaca yang tidak menentu, harga energi yang melambung, sampai bayang-bayang krisis pangan yang siap bikin miliaran perut kelaparan.

Melihat situasi segawat itu, ngeri ngeri sedap rasanya menatap kondisi kita hari ini. Sebagai sebuah bangsa, negara, dan masyarakat, kita seperti sedang berjalan beriringan di tepi jurang yang dalam. Apa yang menanti kita di depan sana amat sangat mengkhawatirkan. Benang tipis? Mana cukup! Di tengah badai sekacau ini kita butuh tali tambang—tali yang benar-benar besar, kasar, dan kokoh—untuk mengikat erat ego kita masing-masing. Tanpa tali tambang itu? Badai di depan sana akan dengan sangat mudah mencerai-beraikan kita semua sampai tidak bissa tersisa.

Bagaimana mungkin kita, sebagai umat dan sesama anak bangsa, bisa ikut andil memberi solusi buat dunia kalau energi kita habis cuma buat meributkan urusan internal yang remeh? Bagaimana mau menyelamatkan masa depan negara ini kalau isi hati kita isinya cuma curiga dan gersang dari rasa saling percaya?

Zaman boleh maju, silakan. Tapi modernisasi itu harusnya beriringan dengan iman yang makin matang. Teknologi tanpa rem spiritual cuma bakal melahirkan orang-orang pintar yang hatinya batu. Tipe orang yang tidak punya perasaan, tapi luar biasa jago bikin hoaks di gawaian cuma demi menjatuhkan saudaranya sendiri. Kita memang butuh sains untuk membaca situasi dunia, tapi kita jauh lebih butuh ketakwaan yang konsisten—bukan yang musiman—biar kepintaran kita tidak berbalik menjadi senjata yang kejam untuk saling hancurkan.

Padahal, sejarah kita di Nusantara sudah pernah memberi pelajaran yang teramat mahal dan getir soal ini. Bayangkan, di zaman kerajaan dahulu, saat belum ada pabrik hoaks, belum ada buzzer bayaran, dan internet pun belum lahir, kehancuran akibat adu domba sudah sedashat itu.

Kesultanan Banten yang dulu begitu kuat dan disegani, runtuh berantakan bukan karena diserang pasukan besar dari luar. Bukan. Kerajaan itu tumbang hanya lewat desas-desus, kasak-kusuk mulut ke mulut, dan adu domba manual. Sultan Haji dihasut sampai tega mencurigai ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa. Begitu rasa percaya hilang, pecahlah perang saudara, dan penjajah tinggal masuk mengambil alih dengan mudah tanpa perlu buang banyak peluru.

Hal yang sama menimpa Mataram yang akhirnya terbelah jadi kerajaan-kerajaan kecil lewat Perjanjian Giyanti karena elite dan masyarakatnya gampang termakan intrik politik dan hobi saling menghujat. Kalau tanpa teknologi saja fitnah bisa merubuhkan kerajaan sebesar itu, apalagi hari ini ketika hoaks dan fitnah diproduksi secara massal oleh industri digital? Sejarah mencatat dengan jelas: sekuat apa pun kita, benteng negara ini pasti hancur kalau kebencian sudah merusak akal sehat masyarakatnya.

Namun di sisi lain, sejarah juga mengajarkan hal yang sebaliknya. Ada kebahagiaan dan keagungan yang luar biasa ketika persatuan dan kesatuan diutamakan. Ketika para pendiri bangsa ini mampu menyingkirkan ego pribadi dan kelompoknya, mereka berhasil melahirkan kejayaan dan keunggulan yang membuat kita merdeka. Sejarah yang mengajari kita untuk memercayai bahwa di dalam kerapatan barisan, selalu ada kemenangan.

Kita harus sadar kalau situasi dunia sekarang menuntut kita buat dewasa sebagai sebuah bangsa. Jangan biarkan persatuan ini cuma jadi slogan semalam saat pawai.

Mari kita genggam erat tali tambang persaudaraan ini. Kita jaga barisan masyarakat ini biar tetap rapi, tetap di jalur yang benar, bahkan ketika riuh pawainya sudah tidak ada lagi. Jangan biarkan malam ini menjadi malam terakhir untuk membuktikan persatuan kita. Barisan ini harus tetap tegak berdiri menghadapi apa pun di depan sana, tidak peduli hari berganti atau bulan berlalu.

Perbanyak sholawat, hindari menghujat supaya hidup selamat. InsyaAllah…

 

*Penulis adalah ASN pada Dinas Pariwisata Madina

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembangunan Jembatan Gantung di Kampung Baru Terus Dikebut

    Pembangunan Jembatan Gantung di Kampung Baru Terus Dikebut

    • calendar_month Selasa, 17 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Jembatan gantung aek batang gadis yang menghubungkan Desa Kampung Baru- Simanondong di Kecamatan Panyabungan Utara ,Mandailing Natal ( Madina ) bernilai Rp.4,6 miliar terus dikebut penyelesaiannya, diperkirakan pertengahan bulan november 2023 jembatan ini sudah bisa di fungsikan. Plt Kepala Dinas PUPR Madina Elpiyanti Harahap saat meninjau pembangunannya Selasa 17/10/2023, mengku […]

  • Tangani Stunting, Atika Bentuk Dua Tim

    Tangani Stunting, Atika Bentuk Dua Tim

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengatakan pihaknya akan membentuk dua tim untuk menangani masalah stunting di Madina. Dua tim yang dibentuk akan bekerja dua arah, tetapi satu tujuan. “Dua arah satu tujuan itu, menyiapkan tim koreksi (data) dan tim penurunan stunting. Kemudian update, aksi kompetensi di […]

  • Jelang Didakwa, LHI Ambeien

    Jelang Didakwa, LHI Ambeien

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sidang Perdana Terancam Molor JAKARTA – Sidang perdana kasus suap pengaturan kuota daging impor dengan terdakwa Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terancam molor. Mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu sedianya menjalani sidang minggu depan. Namun, jadwal tersebut bisa jadi mundur karena LHI mengeluh sakit. Pengacara LHI, Zainuddin Paru, kemarin (18/6) mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi […]

  • Warga Malintang Minta Saparuddin Haji Ciptakan Pemerintah Yang Baik

    Warga Malintang Minta Saparuddin Haji Ciptakan Pemerintah Yang Baik

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MALINTANG (Mandailing Online) – Pasangan Saparuddin Haji Lubis-Miswaruddin Daulay diminta jika menjadi bupati dan wakil bupati Madina supaya menciptakan pemerintahan yang baik dan tidak menyimpang. Permintaan itu disampaikan masyarakat Kecamatan Bukit Malintang kepada calon bupati Madina Saparuddin Haji Lubis saat melakukan silaturrahim di kawasan itu, Rabu malam (21/10). “Kita juga berharap, apabila nantinya paslon nomor […]

  • Hingga September Realisasi PAD Madina Baru 65%

    Hingga September Realisasi PAD Madina Baru 65%

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Berdasarkan data yang tercatat di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) hingga September 2025 Capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mandailing Natal senilai 125M dari target sekitar 191M. Kaban Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Ahmad Yasir Lubis, SP., MM. Pada Mandailing Online mengatakan, capaian PAD tersebut terhitung hingga September, dan optimis memenuhi target yang […]

  • Satu Rumah Di Malintang Julu Habis Terbakar

    Satu Rumah Di Malintang Julu Habis Terbakar

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MALINTANG (Mandailing Oline) – Satu unit rumah di Desa Malintang Julu, Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal (Madina) habis dilalap si jago merah, Senin malam (20/1/2014) sekira pukul 20.00 Wib. Api dapat dijinakkan oleh masyarakat sekitar satu jam kemudian memakai ember. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, sementara kerugian materi diperkirakan ratusan juta rupiah. Keterangan […]

expand_less