Akibat Tambang Emas Ilegal, Ribuan Warga Tak Bisa Manfaatkan Sungai Batang Natal. APH Tak Berkutik Kepenambang
- account_circle Muhammad Hanapi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Kondisi Sungai Batang Natal berwarna coklat pekat akibat limbah tambang emas ilegal,( Istimewa)
MADINA (Mandailing Online) –Kondisi Sungai Batang Natal di Kecamatan Batang Natal dan Lingga Bayu kini sangat memprihatinkan. Sungai kebanggaan masyarakat itu yang dulu jernih dan menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi sungai susu coklat pekat yang tak bisa lagi dimanfaatkan.
Airnya tidak bisa lagi untuk mandi, mencuci, apalagi untuk dikonsumsi. Penyebabnya satu limbah tambang emas ilegal (PETI) yang dibuang langsung ke aliran sungai.
Foto-foto yang diterima redaksi Mandailing Online memperlihatkan betapa parahnya kerusakan. Dari pantauan udara, Sungai Batang Natal yang membelah perkebunan sawit terlihat coklat pekat seperti kopi susu. Di hilir Kecamatan Natal, air sungai yang berwarna kuning kecoklatan itu bahkan sudah masuk ke wilayah pesisir pantai di Kecamatan Natal.

“Limbah tambang emasnya dibuang langsung ke sungai, bagaimana air sungai mau bersih. Tiap hari puluhan alat berat pelaku tambang beraktivitas tanpa ada yang melarang. Kami masyarakat yang menderita,” keluh seorang warga Batang Natal dengan nada geram, Sabtu (25/10/2026).
Menurut warga, aktivitas PETI di hulu Sungai Batang Natal sudah tidak terkendali. Puluhan excavator beroperasi siang malam mengeruk bukit dan bantaran sungai. Lumpur hasil kerukan dialirkan ke sungai.
Dampaknya langsung dirasakan warga di dua kecamatan. Mulai dari krisis air bersih, habisnya habitat sungai seperti ikan sungai, sampai pada ancaman kesehatan dan bencana.
Ironisnya, meski kerusakan sudah terlihat jelas dan dikeluhkan warga bertahun-tahun, penindakan dari Aparat Penegak Hukum (APH) terkesan tumpul.
“Di mana Dinas Lingmungan Hidup Madina, Di mana Polres Madina. Masa puluhan alat berat beraktifitas melakukan penambangan emas secara ilegal tapi tidak ada yang ditangkap. Apakah hukum hanya tajam ke pencuri ayam saja” tanya warga lainnya.
Warga mendesak Bupati Mandailing Natal Saifullah Nasution, Kapolres Madina, dan Dandim 0212/TS untuk turun langsung ke lokasi dan menghentikan aktivitas PETI.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin bencana longsor dan banjir bandang akan menimpa warga.(*)
- Penulis: Muhammad Hanapi




