Rabu, 29 Jul 2026
light_mode

ATAS NAMA GALUNDUNG

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 7 Agt 2011
  • print Cetak


Ada banyak kata ternyata yang mati, zaman melupakannya. Tapi ada juga banyak kata yang kembali terpilih, karena zaman tak melupakannya. Sebutlah “galundung” sebuah idiom yang tiba-tiba meneror pola perhatian kita. Ia bukan sekedar alat pemecah batu. Kalau hanya itu, ia tidak akan lebih hebat dari palu, martil, “indalu” atau “batu panggilingan”, meskipun dalam konteks fungsi yang sama. “Galundung” berwibawa karena konteks sosialnya. Ia adalah kata bagi pertanda “harapan” atau lebih tepat “impian.” Impian bahwa dengan galundung nasib kita akan berubah hari ini. Dan kita suka mimpi itu, karena dalam mimpi gairah kita dibangunkan. Sama dengan judi, kita suka bukan karena permainnya, tetapi pada impian selama proses judi, bahwa dalam beberapa detik kita akan bermetamorfosa menjadi “Sutan” atau selamanya “Setan.”
Begitulah semua impian! Tentu saja! Siapa yang tak suka keajaiban! Tuhan memang pemilik segala nasib, tetapi impian kita yakini dapat membuat nasib berubah (dengan atau tanpa restu pemiliknya, siapa yang masih peduli).
Aha, besok kita bangun langsung menjadi orang kaya. Hari ini adalah akhir dari kekumalan, akhir dari kemiskinan, keterpurukan, akhir dari seseorang yang tak dianggap, seseorang yang selalu menelan air liur dan menahan emosi setiap kali kita sebagai rakyat dicorengi.
Galundung dan logam mulia yang diberinya adalah awal dari kehidupan kita sebagai rakyat akan diakhiri. Kita lahir menjadi seseorang: suaranya bukan hanya pelengkap pilkada. Ucapan kita bisa menjadi hukum, karena kita lah pemilik baru ruang keadilan. Bukan hanya suara hakim yang bisa kita beli, bahkan juga suara keadilan.
Betapa enak menjadi pemilik nilai. Betapa enak menjadi sumber inspirasi bagi orang miskin, karena setelah ini, orang miskin akan ingin menjadi seperti saya juga! Karena itu, dalam lobang yang berpuluh-puluh meter, dalam keyakinan bahwa semakin dalam semakin dekat ke ajal dan semakin bergantung kita kepada keajaiban Tuhan, dalam keyakinan akan ada karunia bergumpal-gumpal emas, dalam keyakinan bahwa tak mungkin Tuhan tidak memberi kita limpahan rezeki seperti yang diberikannya kepada penggali lain (bukankah Tuhan tak mungkin dendam kepada kita?), dan dalam berbagai impian lain, sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa kita! Nyawa, ah siapa yang peduli. Enak mati muda, begitu kata Soe Hok Gie, tokoh muda yang senantiasa mengilhami para penggagas perubahan. Kita tak ingin mati sia-sia, karena itu kita pertaruhkan segalanya untuk satu dua lubang yang kita impikan akan segera mengubah hidup kita!
Oleh : Askolani Humas DPRD Kabupaten Mandailing Natal

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPK Punya Bukti Amrun Daulay Terlibat

    KPK Punya Bukti Amrun Daulay Terlibat

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ferry Wibisono, menegaskan punya bukti kuat keterlibatan politisi Demokrat, Amrun Daulay, dalam korupsi mesin jahit, sapi import dan pengadaan sarung di Departemen Sosial. Daulay turut bekerja sama dengan Mantan Menteri Sosial yang kini jadi terdakwa Bachtiar Chamsyah. Sebelumnya JPU KPK dalam dakwaannya menyebut nama Amrun […]

  • Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Sri Handayani Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. Satu demi satu negara berjatuhan ke jurang resesi. Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, […]

  • Penambang Emas Liar di Huta Bargot Abaikan Pemerintah

    Penambang Emas Liar di Huta Bargot Abaikan Pemerintah

    • calendar_month Rabu, 23 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Gencarnya upaya Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam menertibkan penambangan emas liar di Kecamatan Huta Bargot melalui surat peringatan maupun sosialisasi, tak membuat penambang emas liar menghentikan aktifitasnya. Penambang tidak menghiraukan larangan pemerintah. Jumlah penambang malah semakin bertambah dan marak melakukan penggalian tanpa memikirkan keselamatan warga sekitar dan rusaknya lingkungan akibat bahan kimia yang […]

  • Setahun Pengganti Jakfar Sukhairi Tak Ada, PKB Kebiri Hak Politik Rakyat

    Setahun Pengganti Jakfar Sukhairi Tak Ada, PKB Kebiri Hak Politik Rakyat

    • calendar_month Jumat, 2 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Nyaris setahun sudah PKB tak bergeming menetapkan pengganti Jakfar Sukhairi Nasution di DPRD Madina. Sikap PKB itu dinilai mengkebiri hak politik konstituen PKB. Akibatnya, dari lima orang kader PKB di DPRD, kini hanya 4 orang yang duduk setelah Jakfar Sukhairi Nasution mundur dari DPRD karena mencalonkan diri sebagai wakil bupati Madina […]

  • Goa Pastab Yang Bermisteri

    Goa Pastab Yang Bermisteri

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Kabupaten Mandailing Natal memiliki banyak pesona wisata memukau. Banyak potensi-potensi wisata yang sebenarnya mempunyai nilai jual untuk dikembangkan. Mulai dari wisata bahari, pantai, pemandangan alam, tempat pemandian, histori budaya,  hingga goa-goa unik dan bersejarah. Goa Pastab merupakan salah satunya. Goa ini terletak di desa Pastab, Kecamatan Tambangan. Desa Pastab  hanya berkisar 3 km dari […]

  • Pencipta Lagu Mandailing : Ini Pasal Bagi Pelanggar Hak Cipta

    Pencipta Lagu Mandailing : Ini Pasal Bagi Pelanggar Hak Cipta

    • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pencipta lagu Mandailing, Ahmad Nasyari Nasution sejauh ini belum menyatakan  akan membawa perusahaan rekaman inisial NP ke jalur hukum terkait dugaan pembajakan lagu. Meski begitu, seniman sepuh pencipta lagu-lagu Mandailing itu kepada wartawan di Panyabungan, kemarin menyatakan bahwa pihak NP patutnya menyadari konsekwensi hukum dari pelanggaran hak cipta. Baca : http://www.mandailingonline.com/pencipta-lagu-ahmad-nasyari-nasution-ditelikung-produser/ […]

expand_less