Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Biografi Adnan Buyung Nasution

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 24 Sep 2013
  • print Cetak

BIOGRAFI
Adnan Buyung Nasution adalah pria kelahiran Jakarta, 20 Juli 1934, yang dikenal sebagai seorang advokat handal, pendiri Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, dan juga pernah menjabat sebagai anggota DPR/MPR. Tidak banyak yang tahu bahwa nama tengah Buyung sebenarnya adalah Bahrum. Pada akta kelahirannya, namanya tercatat sebagai Adnan Bahrum Nasution. Namun, Buyung menamai dirinya sebagau Adnan B. Nasution. Nama “Buyung” dia dapatkan karena dia sering dipanggil demikian oleh teman-teman dan kerabatnya.

Buyung dikenal sebagai sosok yang tangguh. Ketika Buyung berusia 12 tahun, Buyung hidup sendiri dengan adik semata wayangnya, Samsi Nasution, berdagang barang loakan di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di tempat itu pula, ibu Buyung yang bernama Ramlah Dougur berjualan es cendol. Sementara ayahnya, R. Rachmat Nasution, bergerilya melawan Belanda pada tahun 1947 hingga 1948.

Sang ayah merupakan sosok yang bisa dibilang memberikan banyak pengaruh pada Buyung kecil. Rachmat Nasution adalah seorang pejuang gerilya dan reformasi. Dia juga merupakan pendiri kantor berita Antara dan harian Kedaulatan Rakyat. Selain itu, dia juga merintis The Time of Indonesia. Berkat keaktifan sang ayah dalam politik, ketika SMP Buyung mengikuti Mobilisasi pelajar (mopel). Dalam karirnya di organisasi tersebut, Buyung ikut berdemonstrasi terhadap pendirian sekolah NICA di Yogyakarta.

Ketika bersekolah di SMA Negeri 1 Jakarta, Buyung menjabat sebagai Ketua Cabang Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), yang kemudian dia bubarkan karena mengandung unsur PKI.
Selepas SMA, Buyung terdaftar sebagai mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, satu tahun kemudian, BUyung pindah ke Fakultas Gabung Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik di Universitas Gajah Mada. Tidak lama kemudian, Buyung berpindah ke Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan di Universitas Indonesia. Di tiga universitas tersebut, Buyung aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa.

Setelah lulus dari UI, Buyung meneruskan kuliah dan bekerja sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta. Selain itu, Buyung juga tetap aktif dalam kegiatan politik di Indonesia. Buyung tercatat sebagai pendiri dan Ketua Gerakan Pelaksana Ampera. Ketika terjadi peristiwa Gestapu, Buyung tercatat sebagai anggota Komando Aksi penggayangan Gestapu. Bahka, Buyung sempat mendapatkan skorsing selama satu setengah tahun akibat ikut berdemonstrasi dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan dituduh sebagai anti revolusi.

Setelah itu, Buyung dipindahtugaskan ke Manado. Namun demikian, Buyung ditempatkan di Medan. Hal tersebut membuat Buyung hengkang dan menganggur hingga setahun kemudian. Pada saat yang bersamaan. Buyung mendapatkan panggilan kembali untuk DPR/MPR. Setelah satu tahun menganggur, Buyung kemudian mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dan membuka kantor pengacara (advokat). Kedua lembaga tersebut berjalan dengan baik sehingga sekarang kantor pengacara tersebut merupakan kantor pengacara terbaik di Indonesia.

Sementara itu, YLBHI yang dia dirikan mendapatkan respon yang sama, dan membawahi banyak LBH lainnya, sehingga dikenal sebagai lokomotif demokrasi. Gagasan untuk mendirikan LBH tersebut merupakan refleksi ketika Buyung menjalankan persidangan. Menurut Buyung, para terdakwa selalu pasrah menerima dakwaan, dan Buyung beranggapan mereka butuh pembela. Namun, ide tersebut baru dapat dia realisasikan setelah dia melanjutkan belajar hukum di Universitas Melbourne.

Di sana dia belajar bahwa Lembaga Hukum memiliki pola, model, dan bentuk. Kemudian, dia membagi ide tersebut kepada Kepala Kejaksaan Agung Soeparto. Menurut Agung Soeparto, belum waktunya ide tersebut direalisasikan. Hal tersebut memacu Buyung untuk mendapatkan banyak persetujuan. Kemudian, dia melakukan pendekatan dengan banyak petinggi hukum, seperti Yap Thiam Hien, Lukman Wiryadinata, dan Ali Moertopo. Melalui Ali Moertopo, ide tersebut sampai di telinga Presiden Soeharto.

Tidak berapa lama kemudian, Buyung mendapatkan persetujuan dan dukungan dari pemerintah. Selain presiden, Buyung juga mendapatkan suara dari Ali Sadikin Gubernur Jakarta saat itu. Sehingga, pada 28 Oktober 1970, lahirlah LBH yang diketuai oleh Buyung sendiri. Pada pembukaan LBH tersebut, Buyung mendapatkan 10 skuter dari pemerintah.

Riset dan Analisa oleh Nastiti Primadyastuti

PENDIDIKAN
SMA Negeri 1 Jakarta
Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB)
Fakultas Gabung Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik di Universitas Gajah Mada
Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Universitas Indonesia
Studi Hukum Internasional, Universitas Melbourne, Australia
Universitas Utrecht, Belanda

KARIR
Jaksa/Kepala Humas Kejaksaan Agung (1957-1968)
Anggota DPRS/MPRS (1966-1968)
Direktur/Ketua Dewan Pengurus LBH (1970-1986)
Ketua Umum YLBHI (1981-1983)
Ketua DPP Peradin (1977)
Advokat/Konsultan Hukum Adnan Buyung & Associates
(rmol)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus Pembunuhan di Runding, Korban Diduga Diculik Dari Tempat Usaha Galundung

    Kasus Pembunuhan di Runding, Korban Diduga Diculik Dari Tempat Usaha Galundung

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online – Fardiansyah Sitompul (36), warga Panyabungan Tonga, Kabupaten Mandailing Natal, menjadi korban pembunuhan sadis oleh sekelompok orang pada Rabu dinihari (8/4/2026) di Desa Runding, Kecamatan Panyabungan Barat. Korban diduga diculik dari tempat usaha galundungnya di samping rumahnya, meninggalkan sepeda motor dan sandal. Kerabat korban, Yakub, mengungkapkan bahwa korban tidak memiliki musuh dan tidak […]

  • Penerimaan CPNS 2013, tak Ada Istilah Putra Daerah

    Penerimaan CPNS 2013, tak Ada Istilah Putra Daerah

    • calendar_month Kamis, 19 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulawesi Tenggara (Sultra), Nur Endang Aburaera mengatakan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) kali ini menghilangkan kesan putra daerah. Menurutnya, tak ada lagi prioritas warga lokal untuk diterima jadi CPNS karena semuanya memiliki peluang yang sama. Nur Endang menjelaskan penentuan kelulusan CPNS berdasarkan rangking penilaian yang dilakukan secara […]

  • Kades Sirambas Tidak Berniat Cabut Laporan Polisi Terkait Pengrusakan Kantor Desa

    Kades Sirambas Tidak Berniat Cabut Laporan Polisi Terkait Pengrusakan Kantor Desa

    • calendar_month Senin, 9 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Masih ingat kasus warga desa Sirambas, Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang telah dilaporkan Kepala Desa nya sendiri ke Polisi dengan tuduhan pengerusakan kantor desa. Kabarnya Kades Sirmbas tidak berniat mencabut laporan. Kades menilai perlakuan warganya itu sebagai konsekuensi apa yang telah dilakukan. ” untuk niat cabut lapiran […]

  • Peraturan Berubah, Penyaluran Benih Padi Telat

    Peraturan Berubah, Penyaluran Benih Padi Telat

    • calendar_month Senin, 2 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dinas Pertanian Mandailing Natal (Madina) menyatakan penyaluran benih kepada petani melorot dari jadwal, diperkirakan baru akan tersalur pada September ini. Keterlambatan penyaluran benih unggul ini menyebabkan terganggunya satu kali musim tanam, yakni musim tanam bulan Maret. Melorotnya jadwal itu akibat adanya perubahan kebijakan pemerintah Jakarta tentang perubahan dari Bantuan Langsung Banih […]

  • Ratusan Pemuda di Madina Ikuti Seminar Internasional

    Ratusan Pemuda di Madina Ikuti Seminar Internasional

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online)- Penyelenggaraan seminar kepemudaan di aula Gedung Serbaguna, Panyabungan, Mandailing Natal, Sukses dihadiri 700 anak muda Madina, Syafi’i Efendi M.M (Motivator Muda Indonesia) berikan pemahaman pentingnya mindset serta mental wirausaha bagi Peserta yang hadir. Minggu, (10/9/2023). Event Internasional Seminar Youth Power dengan sub tema ” Kekuatan Pemuda dalam tatanan Kewirausahaan”, berlangsung meriah […]

  • Dua Tahun Gunung Baringin Tak Punya Lurah

    Dua Tahun Gunung Baringin Tak Punya Lurah

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Sudah hampir 2 tahun masyarakat Kelurahan Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tidak memiliki lurah. Hal ini berakibat terganggunya aktivitas masyarakat, terutama ketika mengurus administrasi kependudukan, karena harus ke kantor kecamatan. Demikian disampaikan salah seorang warga Gunung Baringin, Darwan Hasibuan kepada MedanBisnis, Minggu (27/3), di Gunung Baringin. “Kita kehilangan panutan sebagai […]

expand_less