Harapan Baru di Selatan Sumut: IKANAS Madina dan Jalan Panjang Nasution untuk Nusantara
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Ada yang perlahan bergerak dari selatan Sumatera Utara.
Bukan suara ledakan politik.
Bukan pula gegap-gempita proyek negara.
Tetapi denyut lama yang seperti hendak dibangunkan kembali:
kesadaran tentang persaudaraan, kehormatan sosial, dan tanggung jawab antargenerasi di tengah dunia yang semakin individualistik.
Di Mandailing Natal, geliat itu mulai terasa melalui bangkitnya kembali DPC Khusus IKANAS Madina.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya agenda organisasi marga:
musyawarah cabang, pemilihan pengurus, konsolidasi biasa.
Tetapi bagi yang memahami lanskap sosial Mandailing, peristiwa seperti ini tidak pernah sesederhana itu.
Karena di dalam masyarakat Mandailing, organisasi marga bukan sekadar wadah genealogis.
Parsadaan ini adalah bagian dari struktur peradaban sosial.
Nasution Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Banyak orang luar keliru membaca marga.
Mereka mengira marga hanyalah nama belakang:
identitas administratif yang selesai di kartu keluarga.
Padahal dalam dunia Mandailing, marga bekerja jauh lebih dalam.
Klan adalah jaringan:
* kehormatan,
* tanggung jawab,
* perlindungan sosial,
* hubungan budaya,
* bahkan distribusi pengaruh antarkelompok.
Dan Nasution, sebagai salah satu marga besar Mandailing, hidup di tengah jaringan itu selama ratusan tahun.
Karena itu, Nasution tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Begitu IKANAS berbicara tentang:
> kahanggi, mora, dan anakboru,
Maka, sesungguhnya organisasi paguyuban ini sedang membuka pintu menuju seluruh ekosistem sosial Mandailing.
Saat menyebut anakboru, Ikanas langsung berkaitan dengan seluruh marga yang mengambil boru Nasution:
* Harahap,
* Lubis,
* Hasibuan,
* Daulay,
* Pulungan,
* Batubara,
* dan lainnya.
Begitu pula ketika berbicara tentang mora, Nasution tidak pernah bisa dilepaskan dari hubungan historis dan kultural dengan, terutama Lubis, dalam banyak struktur sosial Mandailing. Mereka adalah pihak-pihak kekuarga yang memberi boruna untuk the next generation Nasution.
Artinya, Ikanas bukan hanya organisasi internal Nasution.
Titik tumpu ikatan sosial-budaya ini memiliki potensi menjadi simpul sosial yang jauh lebih besar:
penghubung antarmarga, ruang konsolidasi budaya, sekaligus jangkar solidaritas masyarakat Mandailing modern.
Struktur Formal dan “Mesin Tak Terlihat”
Di sinilah rumit sekaligus menariknya organisasi marga di Mandailing.
Di permukaan, ada struktur formal:
* DPC,
* DPW,
* DPP,
* AD/ART,
* musyawarah,
* kepengurusan.
Tetapi di bawah permukaan, bekerja struktur lain yang jauh lebih tua:
* harajaon,
* legitimasi adat,
* pengaruh tokoh,
* keseimbangan kahanggi,
* relasi mora-anakboru,
* hingga memori sejarah antarkelompok.
Kadang, dua dunia itu berjalan harmonis.
Kadang saling menegangkan.
Karena itu, memimpin organisasi seperti Ikanas tidak cukup hanya pandai berpidato atau mengelola administrasi.
Personalitasnya harus mampu membaca:
* psikologi adat,
* keseimbangan penghormatan,
* ego sosial,
* dan dinamika budaya Mandailing yang sangat halus.
Sebab di Mandailing, konflik sering tidak meledak di meja. Kerap bergerak diam-diam melalui rasa hormat yang terganggu. Dan kehancuran organisasi sering dimulai bukan karena kekurangan uang, tetapi karena hilangnya keseimbangan sosial.
Madina Sedang Menjadi Episentrum Baru
Di titik inilah Mandailing Natal menjadi penting.
Hari ini Madina bukan lagi sekadar kabupaten di ujung selatan Sumut.
Madina mulai berubah menjadi:
* pusat memori kolektif Mandailing,
* titik temu diaspora,
* ruang pulang emosional,
* sekaligus laboratorium sosial baru.
Banyak tokoh Mandailing lahir dari tanah ini.
Banyak jejaring sosial dan ekonomi Mandailing masih bertumpu pada hubungan emosional dengan Madina.
Karena itu, ketika DPC Khusus Ikanas Madina bergerak, gaungnya tidak berhenti di Panyabungan. Terus bisa menjalar ke:
* Medan,
* Jabodetabek,
* Riau,
* Sumbar, bahkan
* Diaspora Mandailing di luar negeri.
Sebab, bagi orang Mandailing, Madina bukan sekadar wilayah administratif.
Mandailing adalah pusat rasa.
Krisis Besar Indonesia: Putusnya Ikatan Sosial
Dan justru di sinilah relevansi besar Ikanas muncul.
Indonesia hari ini menghadapi krisis yang jarang dibicarakan:
krisis kohesi sosial.
Modernitas melahirkan manusia yang makin individual.
Kota-kota besar dipenuhi orang yang hidup sendiri-sendiri.
Organisasi formal makin birokratis.
Partai politik makin transaksional.
Hubungan sosial makin dingin dan kering.
Generasi muda kehilangan jangkar:
* tercerabut dari akar budaya,
* jauh dari sejarah keluarga, dan
* tumbuh dalam dunia digital yang sering minim ikatan emosional.
Di banyak daerah, struktur sosial tradisional sudah runtuh.
Tetapi Mandailing masih menyimpan sesuatu yang langka:
hubungan mora-kahanggi-anakboru masih hidup.
Adat masih bekerja. Rasa malu sosial masih ada. Penghormatan masih punya makna. Kekerabatan masih bisa menjadi energi kolektif.
Dan itu adalah modal sosial yang sangat mahal di masa depan.
Dari Organisasi Seremonial ke Organisasi Strategis
Tetapi peluang besar itu hanya akan hidup jika Ikanas mampu keluar dari jebakan lama. Terlalu banyak organisasi marga mati pelan-pelan akibat:
* sibuk seremoni,
* perebutan posisi,
* konflik elite,
* nostalgia kosong,
* atau sekadar hidup saat pesta dan kematian.
Padahal jika dikelola dengan visi modern, Ikanas bisa berubah menjadi:
* pusat database diaspora Nasution,
* jaringan pendidikan,
* beasiswa generasi muda,
* forum bisnis antarkeluarga,
* penguatan UMKM,
* pusat dokumentasi sejarah Mandailing, bahkan
* kekuatan sosial lintas daerah.
Dan ketika Ikanas bicara anakboru dan mora, maka potensi itu otomatis meluas ke seluruh jejaring antarmarga Mandailing.
Di situlah kekuatan sejatinya.
Jalan Panjang untuk Nusantara
Karena itu, kebangkitan DPC Khusus Ikanas Madina sebenarnya tidak hanya penting bagi keluarga besar Nasution.
Ikanas juga menyimpan pertanyaan besar untuk Indonesia:
> apakah komunitas budaya masih bisa menjadi tenaga sosial modern bagi Nusantara?
Mandailing mungkin sedang mencoba menjawab itu.
Bahwa modernitas tidak harus membunuh akar budaya.
Bahwa kemajuan tidak harus memutus persaudaraan.
Bahwa organisasi sosial tidak harus kehilangan ruh.
Dan mungkin dari Panyabungan hari ini sedang tumbuh satu pesan penting untuk Indonesia:
> masa depan Nusantara tidak cukup dibangun hanya oleh negara dan pasar.
Tetapi juga oleh komunitas-komunitas yang masih percaya:
bahwa manusia tidak hidup sendiri,
bahwa kehormatan sosial masih penting,
dan bahwa persaudaraan antargenerasi adalah energi peradaban.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya bertahan oleh kekuatan ekonomi.
Nation bertahan karena masih ada orang-orang yang bersedia menjaga ikatan satu sama lain.
Dan di selatan Sumatera Utara, Ikanas Madina tampaknya sedang mencoba menghidupkan kembali ikatan itu. ***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

