Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Harapan Baru di Selatan Sumut: IKANAS Madina dan Jalan Panjang Nasution untuk Nusantara

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada yang perlahan bergerak dari selatan Sumatera Utara.

Bukan suara ledakan politik.
Bukan pula gegap-gempita proyek negara.

Tetapi denyut lama yang seperti hendak dibangunkan kembali:
kesadaran tentang persaudaraan, kehormatan sosial, dan tanggung jawab antargenerasi di tengah dunia yang semakin individualistik.

Di Mandailing Natal, geliat itu mulai terasa melalui bangkitnya kembali DPC Khusus IKANAS Madina.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya agenda organisasi marga:
musyawarah cabang, pemilihan pengurus, konsolidasi biasa.

Tetapi bagi yang memahami lanskap sosial Mandailing, peristiwa seperti ini tidak pernah sesederhana itu.

Karena di dalam masyarakat Mandailing, organisasi marga bukan sekadar wadah genealogis.

Parsadaan ini adalah bagian dari struktur peradaban sosial.

Nasution Tidak Pernah Berdiri Sendiri

Banyak orang luar keliru membaca marga.

Mereka mengira marga hanyalah nama belakang:
identitas administratif yang selesai di kartu keluarga.

Padahal dalam dunia Mandailing, marga bekerja jauh lebih dalam.

Klan adalah jaringan:
* kehormatan,
* tanggung jawab,
* perlindungan sosial,
* hubungan budaya,
* bahkan distribusi pengaruh antarkelompok.

Dan Nasution, sebagai salah satu marga besar Mandailing, hidup di tengah jaringan itu selama ratusan tahun.

Karena itu, Nasution tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Begitu IKANAS berbicara tentang:
> kahanggi, mora, dan anakboru,

Maka, sesungguhnya organisasi paguyuban ini sedang membuka pintu menuju seluruh ekosistem sosial Mandailing.

Saat menyebut anakboru, Ikanas langsung berkaitan dengan seluruh marga yang mengambil boru Nasution:
* Harahap,
* Lubis,
* Hasibuan,
* Daulay,
* Pulungan,
* Batubara,
* dan lainnya.

Begitu pula ketika berbicara tentang mora, Nasution tidak pernah bisa dilepaskan dari hubungan historis dan kultural dengan, terutama Lubis, dalam banyak struktur sosial Mandailing. Mereka adalah pihak-pihak kekuarga yang memberi boruna untuk the next generation Nasution.

Artinya, Ikanas bukan hanya organisasi internal Nasution.

Titik tumpu ikatan sosial-budaya ini memiliki potensi menjadi simpul sosial yang jauh lebih besar:
penghubung antarmarga, ruang konsolidasi budaya, sekaligus jangkar solidaritas masyarakat Mandailing modern.

Struktur Formal dan “Mesin Tak Terlihat”

Di sinilah rumit sekaligus menariknya organisasi marga di Mandailing.

Di permukaan, ada struktur formal:
* DPC,
* DPW,
* DPP,
* AD/ART,
* musyawarah,
* kepengurusan.

Tetapi di bawah permukaan, bekerja struktur lain yang jauh lebih tua:
* harajaon,
* legitimasi adat,
* pengaruh tokoh,
* keseimbangan kahanggi,
* relasi mora-anakboru,
* hingga memori sejarah antarkelompok.

Kadang, dua dunia itu berjalan harmonis.
Kadang saling menegangkan.

Karena itu, memimpin organisasi seperti Ikanas tidak cukup hanya pandai berpidato atau mengelola administrasi.

Personalitasnya harus mampu membaca:
* psikologi adat,
* keseimbangan penghormatan,
* ego sosial,
* dan dinamika budaya Mandailing yang sangat halus.

Sebab di Mandailing, konflik sering tidak meledak di meja. Kerap bergerak diam-diam melalui rasa hormat yang terganggu. Dan kehancuran organisasi sering dimulai bukan karena kekurangan uang, tetapi karena hilangnya keseimbangan sosial.

Madina Sedang Menjadi Episentrum Baru

Di titik inilah Mandailing Natal menjadi penting.

Hari ini Madina bukan lagi sekadar kabupaten di ujung selatan Sumut.

Madina mulai berubah menjadi:
* pusat memori kolektif Mandailing,
* titik temu diaspora,
* ruang pulang emosional,
* sekaligus laboratorium sosial baru.

Banyak tokoh Mandailing lahir dari tanah ini.
Banyak jejaring sosial dan ekonomi Mandailing masih bertumpu pada hubungan emosional dengan Madina.

Karena itu, ketika DPC Khusus Ikanas Madina bergerak, gaungnya tidak berhenti di Panyabungan. Terus bisa menjalar ke:
* Medan,
* Jabodetabek,
* Riau,
* Sumbar, bahkan
* Diaspora Mandailing di luar negeri.

Sebab, bagi orang Mandailing, Madina bukan sekadar wilayah administratif.

Mandailing adalah pusat rasa.

Krisis Besar Indonesia: Putusnya Ikatan Sosial

Dan justru di sinilah relevansi besar Ikanas muncul.

Indonesia hari ini menghadapi krisis yang jarang dibicarakan:
krisis kohesi sosial.

Modernitas melahirkan manusia yang makin individual.
Kota-kota besar dipenuhi orang yang hidup sendiri-sendiri.

Organisasi formal makin birokratis.
Partai politik makin transaksional.
Hubungan sosial makin dingin dan kering.

Generasi muda kehilangan jangkar:
* tercerabut dari akar budaya,
* jauh dari sejarah keluarga, dan
* tumbuh dalam dunia digital yang sering minim ikatan emosional.

Di banyak daerah, struktur sosial tradisional sudah runtuh.

Tetapi Mandailing masih menyimpan sesuatu yang langka:
hubungan mora-kahanggi-anakboru masih hidup.

Adat masih bekerja. Rasa malu sosial masih ada. Penghormatan masih punya makna. Kekerabatan masih bisa menjadi energi kolektif.

Dan itu adalah modal sosial yang sangat mahal di masa depan.

Dari Organisasi Seremonial ke Organisasi Strategis

Tetapi peluang besar itu hanya akan hidup jika Ikanas mampu keluar dari jebakan lama. Terlalu banyak organisasi marga mati pelan-pelan akibat:
* sibuk seremoni,
* perebutan posisi,
* konflik elite,
* nostalgia kosong,
* atau sekadar hidup saat pesta dan kematian.

Padahal jika dikelola dengan visi modern, Ikanas bisa berubah menjadi:
* pusat database diaspora Nasution,
* jaringan pendidikan,
* beasiswa generasi muda,
* forum bisnis antarkeluarga,
* penguatan UMKM,
* pusat dokumentasi sejarah Mandailing, bahkan
* kekuatan sosial lintas daerah.

Dan ketika Ikanas bicara anakboru dan mora, maka potensi itu otomatis meluas ke seluruh jejaring antarmarga Mandailing.

Di situlah kekuatan sejatinya.

Jalan Panjang untuk Nusantara

Karena itu, kebangkitan DPC Khusus Ikanas Madina sebenarnya tidak hanya penting bagi keluarga besar Nasution.

Ikanas juga menyimpan pertanyaan besar untuk Indonesia:
> apakah komunitas budaya masih bisa menjadi tenaga sosial modern bagi Nusantara?

Mandailing mungkin sedang mencoba menjawab itu.

Bahwa modernitas tidak harus membunuh akar budaya.
Bahwa kemajuan tidak harus memutus persaudaraan.
Bahwa organisasi sosial tidak harus kehilangan ruh.

Dan mungkin dari Panyabungan hari ini sedang tumbuh satu pesan penting untuk Indonesia:
> masa depan Nusantara tidak cukup dibangun hanya oleh negara dan pasar.

Tetapi juga oleh komunitas-komunitas yang masih percaya:
bahwa manusia tidak hidup sendiri,
bahwa kehormatan sosial masih penting,
dan bahwa persaudaraan antargenerasi adalah energi peradaban.

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya bertahan oleh kekuatan ekonomi.

Nation bertahan karena masih ada orang-orang yang bersedia menjaga ikatan satu sama lain.

Dan di selatan Sumatera Utara, Ikanas Madina tampaknya sedang mencoba menghidupkan kembali ikatan itu. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mbah Yono Naik Sepeda Keliling Indonesia

    Mbah Yono Naik Sepeda Keliling Indonesia

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Meski di usia tua dan renta, Suyono Notodiwiryo (70) yang familiar dipanggil Mbah Yono, warga Menteng, Jakarta Pusat, ingin membuktikan kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mengelilingi nusantara naik sepeda. Mbah Yono tiba di Komplek Perkantoran Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Payaloting, Selasa (05/07/2011) sekitar pukul 12.30 WIB dan disambut Asisten Ekonomi dan […]

  • Termasuk Ivan Batubara, Perindo Terbitkan 50 Rekom Calon Kepala Daerah

    Termasuk Ivan Batubara, Perindo Terbitkan 50 Rekom Calon Kepala Daerah

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Partai Perindo memberikan surat rekomendasi untuk 50 bakal calon kepala daerah di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. “Ada 50 calon kepala daerah yang diberikan rekomendasi. Sebenarnya 60 yang sudah saya tanda tangan, tetapi sepuluhnya mendadak tidak sempat hadir,” kata Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo dalam acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) […]

  • Bukit Muhasabah Panyabungan Penyejuk Qolbu

    Bukit Muhasabah Panyabungan Penyejuk Qolbu

    • calendar_month Selasa, 22 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Bukit Muhasabah di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) sungguh menawan. Mengasah jiwa dan penyejuk qolbu, ketenangan, empati dan nilai-nilai estetika. Betapa tidak, di siang hari pengunjung dengan lugas disuguhi panorama hamparan kota Panyabungan yang memajang di arah barat, lalu lamat-lamat terlihat mozaik kawasan Panyabungan Utara hingga Panyabungan Barat dan Nagajuang. Di arah tenggara, Gunung Sorik […]

  • Arief Tampubolon Minta Kajari Madina Mundur Jika Dugaan Korupsi Smart Village Takterungkap

    Arief Tampubolon Minta Kajari Madina Mundur Jika Dugaan Korupsi Smart Village Takterungkap

    • calendar_month Senin, 2 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): Aktivis anti korupsi Sumatera Utara (Sumut), Arief Tampubolon menilai ada salah persepsi dari tim penyidik di Kejaksaan Negeri Kabupaten Mandailing Natal (Kejari Madina). Hal ini dikarenakan pelimpahan kasus dugaan korupsi dana desa Smart Village 2023 kembali dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut). Demikian ditegaskan Arief Tampubolon dalam siaran […]

  • Alat Kelengkapan DPRD Madina Cacat Hukum

    Alat Kelengkapan DPRD Madina Cacat Hukum

    • calendar_month Rabu, 17 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rangkaian pembahasan rancangan peraturan daerah di DPRD harus mengikuti aturan berdasar perundang-undangan dan peraturan yang ditetapkan, tidak boleh melanggarnya agar produk yang dihasilkan lembaga legislatif tidak cacat hukum. Semangat dan prinsip inilah yang dipertahankan sejumlah anggota DPRD Mandailing Natal (Madina) yang dikenal sebagai Kelompok 19 terdiri dari Fraksi Hanura, Fraksi Keadilan […]

  • Bentuk Rasa Syukur, SMSI Madina Berbagi Nasi Kotak

    Bentuk Rasa Syukur, SMSI Madina Berbagi Nasi Kotak

    • calendar_month Jumat, 15 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Sebagai bentuk rasa syukur setahun Serikat Media Siber Indonesia ( SMSI ) berdiri di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), pengurus bagikan nasi kotak kepada jamaah masjid usai sholad jum’at 15/9/2023. Pembagian nasi kotak ini dilakukan di dua Masjid yang berbeda yakni Mesjid Agung Nur Ala Nur dan Mesjid Raya Al Qurro’ […]

expand_less