SIDIMPUAN EPISENTRUM TABAGSEL, GEJOLAK DAN BARA SEKAM (Bagian 1)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Ketika kota tua mulai dipenuhi perang persepsi, mutasi, dan koalisi senyap.
Padangsidimpuan sedang memasuki fase yang tidak sederhana.
Di permukaan, kota ini tampak biasa:
aktivitas berjalan, kantor pemerintahan tetap sibuk, dan elite masih saling tersenyum di acara resmi.
Tetapi di bawah permukaan, suhu politik mulai berubah.
Mutasi pejabat dibaca sebagai pemetaan loyalitas.
Media sosial berubah menjadi arena perang persepsi.
Elite lama mulai membaca arah pengaruh baru.
Sementara kelompok baru mencoba membangun orbit kekuasaannya sendiri.
Kota ini seperti bara dalam sekam:
tidak meledak, tetapi panasnya terus bekerja diam-diam.
Dan yang paling berbahaya dalam politik lokal memang bukan konflik terbuka, melainkan ketegangan yang dipelihara terlalu lama.
Di bawah kepemimpinan Letnan Dalimunthe, konsolidasi kekuasaan sedang berlangsung.
Tetapi Sidimpuan bukan ruang kosong. Kota ini penuh:
* jaringan lama,
* loyalitas birokrasi,
* pengaruh keluarga,
* simpul kontraktor,
* dan memori politik yang belum benar-benar selesai.
Akibatnya, kota ini terasa seperti sedang hidup di antara dua arus:
penguasa baru yang ingin membangun kendali, dan elite lama yang belum sepenuhnya rela kehilangan pengaruh.
Masalahnya:
kalau energi kota terus habis untuk konflik elite, maka Sidimpuan akan tetap sibuk mengelola ketegangan,
tanpa pernah benar-benar melompat ke masa depan.
Dan mungkin di situlah tragedinya:
kota yang kaya tokoh, justru terjebak dalam lingkar konflik yang itu-itu juga.(Bersambung)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

