Senin, 20 Apr 2026
light_mode

Figur Sofwat Nasution di Mata Perantau

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 11 Jun 2020
  • print Cetak

Brigjend (Purn) M. Sofwat Nasution

“Jenderal Sofwat ini saya kenal baik dalam bersikap, kerap kali ia rela mengorbankan kebahagiaan dirinya demi meraih kebahagiaan bersama terutama demi menjaga kebahagiaan orang-orang sekelilingnya yang beliau sayangi”.

“Saya saksi mata betapa gelombang perjuangan yang dilalui jenderal ini penuh lika liku hidup dan cobaan yang luar biasa ia lalui dengan tabah setiap masalah dihadapinya”.

Dua ungkapan di atas adalah dua nukilan dari seluruh rangkaian penilaian Zulkifli Lubis terhadap sosok Brigjend (Purn) M. Sofwat Nasution.

Zulkifli Lubis adalah seorang jurnalis di Jakarta yang berasal dari Panyabungan. Dia jua termasuk salah satu pendiri Manindo Mart dan Koperasi Manindo yang berbasis di Kayujati, Panyabungan.

Zulkifli Lubis termasuk salah satu perantau Mandaililing yang sangat dekat dengan sosok Brigjend (Purn) M. Sofwat Nasution.

Sebagaimana pandangan perantau lainnya, Zulkifli juga memandang sosok Brigjend (Purn) M. Sofwat Nasution sebagai tokoh panutan.

Sofwat Nasution adalah figur yang baik hati, penyayang, penyabar, santun, sederhana, berwibawa, cerdas dan juga tegas.

Keputusan sang jenderal untuk maju di Pilkada Madina 2020 pun disambut haru dan bahagia para tokoh perantau Madina di Jakarta.

Berikut uraian Zulkifli Lubis secara lengkap, Kamis (11/6/2020).

Saya kenal baik dari kecil abanganda Brigjen (Pur) M. Sofwat Nasution.
Bagi kami di kampung beliau adalah idola se usia saya.

Betapa masyarakat Panyabungan menyambut gembira ria ketika beliau lolos masuk AKABRI dan selepas usai pendidikan masuk bergabung di satuan elit Kopassus kebanggaan negeri ini.

Tidak banyak putra terbaik bangsa ini terpilih bergabung di satuan elit Kopassus dan kalaupun ada terhitung jari apalagi berkarier cemerlang hingga jadi Brigjen adalah anugerah luar biasa buat kita masyarakat Panyabungan.

Mayoritas masyarakat Panyabungan memperbincangkan beliau sebagai putra daerah terbaik dan teladan buat kami adik-adik kelasnya di SMA Negeri Panyabungan masa itu.

Kota Panyabungan memiliki satu-satunya SMA Negeri ketika itu bisa menghantarkan siswa terbaiknya masuk menjadi perwira ke jajaran satuan elit Kopassus adalah menjadi buah bibir generasi muda se usia saya dan hingga kini hanya beliau satu-satunya putra terbaik Panyabungan yang mampu mengukir prestasi segemilang itu, tentu wajar kalau adik-adik kelasnya seperti saya meneladani beliau sebagai kakak kelas yang berprestasi luar biasa.

Saya menyaksikan perjuangan beliau semenjak sekolah di kampung tidak ditopang oleh fasilitas yang berkecukupan dan memadai seperti halnya anak-anak yang sekolah di kota besar berkecukupan dengan ketersediaan fasilitas maksimal.

Kami masa itu sekolah di kota kecil Panyabungan serba minim fasilitas dimana lampu listrik peneranganpun tidak punya, bahkan koran harian terbitpun kami baru bisa baca besok, terlambat satu hari sebab kota Panyabungan itu berada di paling selatan Sumut berbatasan dengan Sumbar, taman bacaan nyaris tak tersedia, informasi kita miskin, dukungan finansial sangat minim, hanya modal semangat dan daya tarunglah modal utama.

Masa itu kota Panyabungan termasuk satu ibu kota kecamatan tertinggal di banding dengan kota kecamatan di Pulau Jawa.

Walau fasilitas minim, remaja Sofwat selalu semangat belajarnya tinggi dan taat beribadah. Hidup ini mesti diperjuangkan meraih masa depan gemilang dan tidak mengenal menyerah dengan bekal apa adanya, penuh kesabaran menjalani gelombang hidup, siap tempur di medan mana saja, senantiasa berserah diri pada yang kuasa, segala rupa cobaan ia lalui dengan cemerlang (rura na sa rura na ipota-pota ma sa na bisa na mandalani dalan pardangolan na sude suada).

Zulkifli Lubis

Berbahasa Melayu-pun masih terbata-bata karena kita sehari-hari di kampung berbicara pakai bahasa daerah Mandailing yang sudah barang tentu betapa sulitnya orang daerah seperti kami dapat tampil gemilang bersaing dengan orang kota.

Anak kampung ini adalah petarung sejati, meniti hidup selepas SMA mencoba keberuntungannya mengadu nasib ke kota, coba masuk tes AKABRI dan ternyata lulus dan meniti karir sebagai perwira muda hingga perwira tinggi penuh pengabdian tulus ikhlas kepada negara sebagai prajurit sejati yang telah dibekali sejak di akmil sukses gemilang hingga finish purna bhakti.

Saya saksi mata betapa gelombang perjuangan yang dilalui jenderal ini penuh lika liku hidup dan cobaan yang luar biasa ia lalui dengan tabah, setiap masalah dihadapinya dengan sabar termasuk memikul tanggung jawabnya menggembleng adik-adiknya yang banyak di tinggal oleh kedua orang tua masih kecil-kecil dan ada beberapa yang masih anak yatim adalah konsekwensi keluarga besar. Mereka dengan penuh kasih sayang kakak beradek kompak jalani hidup penuh kebersamaan dan beliau tampil sebagai abang yang baik juga menjadi sudara yang arif bijaksana membangun harmonisasi persaudaraan yang akrab, saling menyayangi satu sama lainnya yang patut menjadi teladan.

Jenderal Sofwat adalah pria penyayang tapi sangat tegas (mungkin dampak kristalisasi milternya membumi dalam dirinya), hal ini dapat saya rasakan sendiri bergaul dengan beliau selama beberapa tahun terakhir ini mendampinginya sebagai sekretarisnya pada organisasi alumni yg sama-sama kami bina.

Beliau melangkah sangat cermat, tidak banyak bicara tapi banyak berbuat nyata.

Sikap intelijennya kental terasa dalam bersikap dan mengambil putusan berdasar basis intelektualnya sebagai seorang militer yang kerap bertugas sebagai intelijen selama ini. Orang-orang intelijen di kalangan militer adalah orang pilihan yang tingkat kecerdasannya diatas rata-rata. Biasanya orang intelijen sangat sulit dikelabui orang lain karena itu orang intelijen sering kali orbit jadi pemimpin.

Oleh sebab itu saya dapat katakan bagi masyarakat kabupaten Mandailing Natal adalah anugerah luar biasa memiliki seorang putra daerah terbaik Brigjen (pur) M Sofwat Nasution berkenan mengabdikan dirinya di sisa umurnya yang rela pulang kampung demi cintanya pada kampung halaman.

Ia wakafkan dirinya di masa purna bhaktinya untuk kampung halaman. Itu luar biasa dan patut disyukuri masyarakat Madina dan semestinya disambut gembira oleh rakyat Madina penuh barokah.

Jenderal Sofwat ini saya kenal baik dalam bersikap, kerap kali ia rela mengorbankan kebahagiaan dirinya demi meraih kebahagiaan bersama terutama demi menjaga kebahagiaan orang-orang sekelilingnya yang beliau sayangi, hal ini wujud dari tingginya dedikasi dan solidaritas menjaga kesetiaanya dibarengi dengan ketaatannya beribadah adalah mental pemimpin yang dirindukan.

Terlebih-lebih masyarakat Kabupaten Mandailing Natal yang telah tiga kali pilkada sejak kabupaten ini dimekarkan, tentu masyarakat menanti-nanti sosok pemimpin yang sayang pada rakyat, tentu Jenderal M Sofwat Nasution menurut hemat saya adalah sosok bakal pemimpin yang pas menuju Madina makmur Sejahtera.

Semoga rakyat Kabupaten Mandailing Natal yg berhak memilih kian cerdas memilih bupatinya agar kelak dirasakan loncatan kemajuan daerah ini.

Mari berpartisipasi gunakan hak pilih mu, ditangan mu masa depan mu menentukan siapa pimpinan mu yang sayang pada mu.

Jangan mau terpengaruh karena money politik yang berakibat tergadai masa depan daerah mu. Padahal kita menuju kejayaan dan kemakmuran bersama.

Hindari menerima suap karena penerima dan pemberi suap adalah dosa (haram hukumnya).***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 13 Desa di Ulu Pungkut  Tolak Tanda Batas Hutan Lindung

    13 Desa di Ulu Pungkut Tolak Tanda Batas Hutan Lindung

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ULU PUNGKUT (Mandailing Online) – Sebanyak 13 di Kecamatan Ulupungkut, Mandailing Natal (Madina) menolak pembuatan tanda batas hutan lindung di kawasan itu yang dilakukan pihak Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah I (BPKH W-I) Sumut. Alasan penolakan karena pihak BPKH tidak melakukan koordinasi dengan masyarakat 13 desa dalam program pemancangan batas hutan lindung. Tapal batas yang […]

  • Dibangun Tahun 2009, Jembatan ke Desa Adangkahan Tak Selesai

    Dibangun Tahun 2009, Jembatan ke Desa Adangkahan Tak Selesai

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Jembatan yang menghubungkan jalan negara ke Desa Adangkahan. Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina) tak pernah difungsikan sejak dibangun tahun 2009 lalu. Pasalnya, jembatan itu tak pernah diselesaikan hingga kini. Padahal hanya jembatan ini satu-satunya penghubung ke desa itu. Alhasil, jembatan itu mubazir hingga kini, dan penduduk desa tetap harus […]

  • Keluarga Miskin, Bayi Keluar Usus Belum Dioperasi

    Keluarga Miskin, Bayi Keluar Usus Belum Dioperasi

    • calendar_month Selasa, 19 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) : Seorang balita malang Rizky Wasiah di Desa Huraba II, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal mengalami kelainan sejak lahir, yakni usus keluar dari perut. Bayi usia 10 bulan dari pasangan Saiman Nasution dengan Nina Sari ini telah dibawa orang tuanya ke RSU Panyabungan, lalu ke RSU Pringadii Medan, tetapi biaya yang tak […]

  • MENGKRITISI PERATURAN PRESIDEN NOMOR 33 TAHUN 2020 

    MENGKRITISI PERATURAN PRESIDEN NOMOR 33 TAHUN 2020 

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TENTANG STANDAR HARGA SATUAN REGIONAL : SENTRALISASI FISKAL DAN KETIMPANGAN KEBIJAKAN ANGGARAN ANTAR DAERAH   Oleh : Rahmad Daulay, ST*   Indonesia sebagai negara kepulauan dengan karakteristik geografis, ekonomi, dan sosial yang sangat beragam memerlukan pendekatan kebijakan anggaran yang adaptif dan responsif terhadap dinamika wilayah. Dalam konteks tersebut, hadirnya Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2020 […]

  • NONA SI PENGEMIS CINTA TUAN

    NONA SI PENGEMIS CINTA TUAN

    • calendar_month Rabu, 6 Sep 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Karya: Rina Youlida Nurdina Mentari bersinar menukik ceria, tapi angin masih segar meraba Berhembus menyapu kulit serasa berirama, menyapa dengan lembut penuh aroma Sungguh pagi yang amat indahnya, di depan pintu gerbang saat tiba Berdiri Tuan yang rupawan menggoda, penuh pesona dengan senyum menawannya Menjulurkan tangan ramah hendak menyapa, apalah daya Nona yang terpesona Pada […]

  • Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 1)

    Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 1)

    • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: HARIS SUTAN LUBIS Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Abstract Willem Iskander is known as an educator and man of letters from South Tapanuli. He produced poem and prose in Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk in nineteenth century. His prose is differed from the prose form at that moment. The form of his prose is short […]

expand_less