Senin, 14 Sep 2026
light_mode

Haji Dari Mandailing Era 1800-an

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 10 Jun 2022
  • print Cetak

Catatan: Askolani Nasution

Hari itu tahun 1884. Snouck Horgronje, ahli Islam berkebangsaan Belanda, sedang singgah di Konsulat Belanda di Jeddah. Ia melihat 13 orang jemaah haji dari Mandailing di depan konsulat. Lalu dipotretnya.

Mereka, para jemaah haji itu sedang melengkapi berkas untuk melanjutkan studi di Mekah. Zaman itu, memang orang pergi haji tidak sebatas menunaikan rukun Islam kelima. Banyak juga yang sekalian tinggal di Mekah. Mendalami ilmu agama tentu.

Selain itu, banyak juga yang karena kehabisan duit untuk pulang. Ongkos haji yang sebenarnya hanya f.125, bisa bengkak sampai f.500. Karena banyak cukong pemberangkatan haji yang memeras para jemaah dengan berbagai pungutan.

Beberapa jemaah juga ada yang dicopet barang dan uangnya di kapal. Mereka selama perjalanan berbulan-bulan di atas kapal laut, hanya tidur di antara muatan kapal. Tanpa alas dan bantal. Dalam kondisi begitu, banyak yang dicopet.

Belum lagi penyakit kolera yang belum ada obatnya waktu itu. Singgah di Singapura dan India sebelum ke Yaman dan Jeddah, mereka rentan berbagai penyakit. Kolera terutama. Banyak yang mati dalam perjalanan.

Ada juga yang karena tak punya uang pulang, mereka mencari pinjaman di Jeddah. Sudah ada cukong yang siap menalangi. Sebagai gantinya mereka harus jadi kuli kebun dulu di berbagai perusahaan perkebunan di luar negeri, sampai lunas hutangnya. Ada yang sampai 10 tahun, baru boleh pulang.

Karena itu, di masa dahulu, naik haji itu pertaruhan hidup. Keluarga yang melepasnya sudah iklas untuk tidak bertemu lagi saat kerabatnya pergi haji. Belum lagi pemalsuan gelar haji, karena banyak yang tidak sampai ke Mekah oleh perusahaan perjalanan haji.

Dalam buku “Ngada Niambang” yang terbit di masa kolonial, dikisahkan bagaimana jemaah haji dari Huta Siantar akhirnya tidak pernah kembali karena meninggal dalam kapal laut.

Mengapa orang tetap ingin naik haji? Itu pertanyaan penting pemerintah kolonial. Kata Snouck Horgronje, tidak semata-mata sebatas menunaikan rukun Islam. Ada yang bahkan ingin meninggal di Mekah. Karena Mekah tanah yang dimuliakan.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 21 Desember, Bupati Terima Penghargaan Citra Pelayanan Publik 2010

    21 Desember, Bupati Terima Penghargaan Citra Pelayanan Publik 2010

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPSEL- Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M Pasaribu direncanakan akan menerima penghargaan Citra Pelayanan Publik Tahun 2010 dari Gubernur Sumut di aula Martabe Kantor Gubsu, Medan, Selasa (21/12). Ini berdasarkan Keputusan Gubsu No. 188.44/310/KPTS/2010 tentang penetapan unit kerja atau Kantor Pelayanan Publik sebagai calon penerima piala citra pelayanan publik dan penerima penghargaan citra pelayanan publik tingkat […]

  • Ari Rayo 1980

    Ari Rayo 1980

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan kecil: Askolani Nasution Rabu, 13 Agustus 1980 Subuh terdengar nyaring takbir di mesjid. Bertalu-talu dengan suara bedug. Anak-anak berebut memukulinya dengan dua stik rotan yang sudah disiapkan. “Allohu Akbar Walillahilhamdi….” Tanpa dibangunkan, aku langsung duduk. Tentu saja, sejak semalaman tak nyenyak tidur karena menunggu hari raya. Tikar pandan sudah digelar. Karung-karung berisi beras juga […]

  • Runway Bandara Bukit Malintang 2,5 Km

    Runway Bandara Bukit Malintang 2,5 Km

    • calendar_month Jumat, 5 Jan 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Foto lokasi bandara Mandailing Natal di Bukit Malintang dalam tahap konstruksi lahan. Bandara ini direncanakan memiliki runway sepanjang 2,5 kilometer. Total lahan bandara seluas 100,49 hektar, terdiri dari hibah lahan dari Pemprov  Sumut seluas 24,87 hektare, sedangkan sisanya merupakan lahan masyarakat, yaitu 75,62 hektar yang kini masih tahap proses pembebasan. Foto ini diproduksi dari udara […]

  • 3.000 Massa Demo ke DPRD Minta Bupati Turun

    3.000 Massa Demo ke DPRD Minta Bupati Turun

    • calendar_month Kamis, 17 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 3.000 massa yang dipimpin Aliansi Ulama-Masyarakat-Pemuda-Mahasiswa melakukan unjukrasa ke DPRD Madina, Kamis (17/1) meminta agar Bupati Madina Hidayat Batubara diturunkan dari jabatannya. Massa tiba di gedung dewan sekira pukul 11.00 WIB dengan mengendarai angkutan kota, sepeda motor dan mobil pribadi. Dihalaman gedung mereka memampangkan spanduk dan poster yang umumnya bertulis […]

  • Wakil Bupati Kembali Minta Dikoresi

    Wakil Bupati Kembali Minta Dikoresi

    • calendar_month Rabu, 12 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution meminta kepada masyarakat terutama para ulama untuk tidak segan-segan menegur dan memperingati dirinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Permintaan itu merupakan kesekian kalinya disampiakan wakil bupati kepada masyarakat dalam acara-acara pidato sambutan di sejumlah acara di Madina. Pernyataan kali ini diutarakan Dahlan Hasan dalam […]

  • Uning-uningan ni Ompunta (1)

    Uning-uningan ni Ompunta (1)

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Edi Nasution Orang Mandailing menyebut musik tradisional mereka dengan ungkapan “uninguningan di ompunta na parjolo sundut i”. Artinya, seni musik dari para leluhur, yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi musik yang cukup terkenal dari Mandailing adalah seni pertunjukan gordang sambilan dan gondang boru (*1 yang dimainkan pada berbagai upacara adat dan ritual. Pada horja siriaon […]

expand_less