Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Hutan Mangrove di Sumut Kian Kritis

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Nov 2019
  • print Cetak

 

Ketua IKAPERTA, Ikhwan Ab di lahan mangrove Kecamatan Natal, Mandailing Natal

Hutan mangrove di Sumut kian kritis. Hanya tersisa 50 persen.

Pemusnahan hutan mangrove atau hutan bakau terjadi akibat alih fungsi ke perkebunan sawit oleh perusahaan-perusahaan kapitalis dan illegal loging.

Berbagai undang-undang (UU) pun dinilai tak mempan menghempang pemusnahan mangrove. UU terkait hutan mangrove yakni UU No 41/1999 tentang Kehutanan, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, dan UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Birokrat dan pengusaha yang ditengarai “main mata” menyebabkan pemusnahan hutan mangrove mulus.

Lantas berapa persenkah sisa hutan mangrove di Mandailing Natal di tengah gencarnya pembukaan lahan sawit di Pantai Barat Mandailing Natal? Perlu dilakukan pendataan.

Pemkab Mandailing Natal harus menyeriusi kian kritisnya hutan mangrove. Sikap serius menyelamatkan mangrove di Pantai Barat Kabupaten Mandailing Natal mutlak ditegakkan sebelum semuanya terlambat.

Sebelum Walhi dan Greenpeace turun tangan.

Berikut artikel Reza Perdana di media Trubus edisi 11/2/2019 menggambarkan kondisi mangrove di Sumut :

Ahli hutan mangrove dari Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal mengatakan, kondisi hutan mangrove di kawasan Sumut semakin kritis. Setiap tahun, luas lahan mengalami defisit atau berkurang akibat kerusakan yang disebabkan penebangan liar (ilegal logging) dan alih fungsi atau konversi.

Diungkapkannya, secara umum kondisinya memang semakin memprihatinkan. Meskipun ada upaya rehabilitasi atau perbaikan terhadap hutan mangrove, tapi tidak mengurangi jumlah kerusakan yang terjadi.

“Nah, laju kerusakannya lebih besar dibanding upaya perbaikan terhadap hutan mangrove saat ini,” katanya, Senin (11/2).

Onrizal menyebut, dari riset yang dilakukannya pada 2018 dibandingkan dengan beberapa tahun silam, ternyata keberadaan atau lahan hutan bakau di Sumut hanya tersisa sekitar 50 persen. Trennya terus mengalami penurunan walau ada perbaikan.

Kerusakan hutan mangrove yang terjadi, diakibatkan penebangan liar dan pengalihan lahan menjadi tambak ataupun perkebunan kelapa sawit. Dari data penelitian, pada 2002 hingga sekarang paling banyak kerusakan akibat pengalihan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

“Bahkan, sejumlah lahan hutan bakau yang dirubah menjadi tambak kini beralih fungsi ke perkebunan kelapa sawit,” sebutnya.

Onrizal, yang lulus dari Fakultas Kehutanan IPB pada 1997 silam, banyak meneliti mangrove di berbagai lokasi. Diterangkannya, kawasan pesisir timur Sumut, termasuk Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) hampir merata kerusakan lahan hutan mangrove yang beralih fungsi.

Dampak yang ditimbulkan dari berkurangnya lahan hutan mangrove adalah banjir rob. Kemudian, berkurangnya populasi ikan dan udang atau biota perairan. Sebab, hutan mangrove menjadi tempat kehidupan mereka.

Meengenai bagaimana kondisi hutan mangrove di Medan, Onrizal menyatakan tidak jauh berbeda secara umum. Lahan hutan tersebut yang sebagian besar berada di kawasan Medan Utara (Sicanang, Belawan) telah dikonversi.

“Hutan mangrove banyak berada di luar kawasan perhutanan, namun fungsinya bukan berdasarkan apakah di luar atau di dalam. Fungsi keberadaan itu mampu membawa dampak positif,” terangnya.

Onrizal menuturkan, keberadaan hutan mangrove mampu mengantisipasi bencana alam baik lokal maupun pemanasan global atau perubahan iklim. Dari hasil riset, keberadaan lahan mangrove mampu menyimpan karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) jauh lebih besar dibandingkan hutan daratan umumnya.

“Rata-rata perbandingan karbon yang disimpan di dalam tanah bisa 5 kali lipat,” tuturnya.

Onrizal menegaskan, kalau lahan mangrove dialihfungsikan, maka tentu melepaskan karbon dan metana atau gas rumah kaca ke udara. Makanya, keberadaan hutan mangrove harus terus ditingkatkan jumlahnya.

“Supaya untuk mengantisipasi pemanasan global,” tegasnya.

Sumber : Trubus.id /NN/Thomas Aquinus

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dana Beasiswa Minim, IMMAN Kecewa

    Dana Beasiswa Minim, IMMAN Kecewa

    • calendar_month Rabu, 18 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PADANGSIDEMPUAN (Mandailing Online) – Organisasi mahasiswa menyatakan kecewa menyikapi minimnya dana Beasiswa Miskin Berperatasi di RAPBD Madina TA 2020. Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IMMAN) Padangsidempuan dalam rilis pers yang dikirim kepada Mandailing Online, Rabu (18/12/2019) mendesak DPRD Madina berjuang menaikkan dana beasiswa itu di pembahasan RAPBD sebelum ditetapkan menjadi APBD. Pada Selasa kemarin, […]

  • Sengketa lahan di Paluta ricuh

    Sengketa lahan di Paluta ricuh

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    GUNUNGTUA – Terkait sengketa lahan yang terjadi antara warga dengan PT Wonorejo Perdana di Ujung Gading, Kecamatan Simangambat Kabupaten Padanglawas Utara yang tak kunjung tuntas berujung kemarahan massa. Satu unit alat berat milik perusahaan PT Wonorejo Perdana dibakar massa, setelah buldozer tersebut melakukan perusakan lahan sawit masyarakat sehingga warga mengamuk. Dari peristiwa itu, empat warga […]

  • Ini 15 Kepala Daerah di Sumut yang Dilantik

    Ini 15 Kepala Daerah di Sumut yang Dilantik

    • calendar_month Kamis, 18 Feb 2016
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      Jakarta – Sebanyak 15 kepala daerah terpilih di Sumatera Utara menjalani prosesi pelantikan di Lapangan Merdeka, Medan. Pelantikan dilakukan oleh Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi. Acara pelantikan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, Rabu (17/2/2016). Kabiro Otda Pemprov Sumut Jimmy Pasaribu lebih dulu membacakan SK Mendagri Tjahjo Kumolo tentang pengangkatan 15 kepala daerah yang […]

  • FPBB: Jalan Di Panyabungan Barat Banyak Yang Rusak

    FPBB: Jalan Di Panyabungan Barat Banyak Yang Rusak

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) : Forum Peduli Panyabungan Barat (FPPB) menyoroti banyaknya kerusakan badan jalan yang rusak berlobang-lobang di Panyabungan Barat, Mandailing Natal, terutama dari titik  Desa Sirambas hingga Longat. Jalan yang rusak juga ditemukan di titik Desa Huta Tonga sampai ke Desa Runding. Kondisi ini berdampak tingginya kost arus barang dan hasil pertanian […]

  • Pabahat Sobar Angkang

    Pabahat Sobar Angkang

    • calendar_month Minggu, 2 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Najuguk tondo manungkol isang sajo doma boto udai pala potang-potang diginjang karosi otang di barando ni bagasi, songon namardangolma idaon, ipangkulingkon pe inda ibegesa be manombo, mabiar doboto iba manompang malang orang alus, bo tarik cilek udai tualak namamolus dijolo bagasi, arana nagartipan balik-balik kaporeh niudai, nabisa dei udai jungkir balik diaong-aong, ning bayoma sian […]

  • Peduli Gerakan Hemat Energi Melalui Earth Hour

    Peduli Gerakan Hemat Energi Melalui Earth Hour

    • calendar_month Senin, 27 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Medan (Mandailing Online) – Seluruh karyawan AGN dan AGP di unit-unit usaha di seluruh pelosok Indonesia kembali membuktikan komitmennya mengubah gaya hidup hemat energi pada peringatan Earth Hour 2017. Kegiatan ini dimulai dengan pemadaman listrik serentak di seluruh unit usaha Artha Graha selama satu jam, dari pukul 20:30 – 21:30 WIB (25/3/2017) dan diiringi paduan […]

expand_less