Jumat, 30 Okt 2026
light_mode

Karut-Marut Dana Desa (Bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 12 Mei 2020
  • print Cetak

Catatan : Askolani Nasution
Budayawan/Sutradara

 

Ketika Musyawarah Desa, pendamping desa duduk diam di depan, membiarkan masyarakat bertikai soal bangunan yang urgen dan tidak urgen.

Karena banyak pendamping desa yang tidak memadai kapabilitasnya untuk memberi solusi, mana program desa yang berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan bersama, mana yang tidak.

Karena masyarakat juga tidak cukup kreatif untuk mengusulkan program pengembangan masyarakat yang sungguh-sungguh signifikan dengan peningkatan ekonomi bersama. Tentu saja tidak kreatif, karena kelas menengahnya malas menghadiri rapat begituan. Karena bikin darah naik saja. Termasuk saya.

Dalam kondisi rapat deadlock, harusnya pendamping desa berpendapat, membuka pemikiran kreatif. Tapi rata-rata pendamping desa tidak memiliki kecakapan itu. Tentu tidak semua, tapi kebanyakan begitu.

Ada pendamping desa yang melihat orang ramai saja gemetaran, konon lagi mau ngomong. Ada yang mengaku tidak sesuai jurusannya. Tidak sesuai mengapa jadi pendamping? Akhirnya, ujung-ujungnya semua program jatuh ke fisik. Dengan dana yang nauzubillahi min zalik.

Padahal, ketika musyawarah desa rampung, pendamping desa ini yang idealnya merumuskan kegiatan itu dalam bentuk “fix”, termasuk rincian dana dan bahan. Tetapi karena dia tak paham jabaran program, dan tidak menguasai teknis, maka diserahkanlah kepada pendamping kecamatan untuk membuat teknisnya. Tentu saja desa harus membayar jasa tambahan itu. Dan hasilnya aneh-aneh. Dek jalan misalnya, hanya dihitung sebelah, sebelah lain lupa. Kepala desanya bingung.

Ada dek jalan yang ketebalannya nauzubillahi minzalik di RAB. Macam-macam. Sehingga terjadilah pengerasan jalan sepanjang 350 meter misalnya, dananya sampai 550 juta. Padahal dengan dana sebesar itu, harusnya bukan lagi pengerasan jalan, tetapi hotmix. Bayangkan untuk gapura desa bisa ratusan juta. MCK bisa ratusan. Pos Kamling bisa puluhan juta, dll. Yang salah siapa? Pendamping Kecamatan! Karena mereka yang membuat RAB-nya. Dan kepala desa sangat tahu untuk pihak kecamatan. Pembagian SHU. Agar DD mereka lempang.

Makin focus ke fisik, keuntungan makin besar. Karena pasir dan semen, misalnya, satuan harganya berdasarkan satuan harga kabupaten. Angka itu jauh di atas harga ril pasar di toko bangunan. Jadi ketika bangunan selesai, masih ada stok semen dan pasir di toko bangunan. Bisa puluhan zak semen, bahkan ratusan. Setelah kuitansi dibuat, bahan-bahan itu diganti dengan uang sesuai harganya. Itu menjadi keuntungan bagi kepala desa.

Belum lagi jumlah pekerja yang dilebihkan, tentu sambil memasukan nama-nama fiktif. Belum lagi jumlah upah yang jauh selisihnya antara upah ril desa dengan upah yang ditetapkan berdasarkan UMR kabupaten.

Tukang-tukang itu tidak peduli. Karena protes berarti tidak dipakai lagi dalam tahun berikutnya. Itu artinya ancaman sumber mata pencaharian bagi buruh-buruh miskin itu. Begitu setiap tahun.

Tentu saja, semua sudah diprediksi biaya publikasi untuk pers. Karena itu kepala desa “jarang di rumah suka pergi” (JARUM SUPER). Pagi-pagi mereka keluar rumah, makan di luar, pulang tengah malam. Mereka kumpul beberapa orang, lalu jalan ke mana-mana.

Berapa sebenarnya keuntungan dana desa setiap tahun? Bisa 10, minimal 8 persen. Namanya juga proyek! Itu angka yang mudah diperoleh. Makin “cakap” kepala desanya, makin banyak SHU.

Makanya, kepala desa yang tidak tahan pegang duit, segera beli mobil, dll. Biar tidak ketara, lalu di simpan di tempat lain. Atau membeli asset-aset lain di luar kampung. Itu biasa. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Tentu tetap ada kepala desa yang di jalur lurus. Mungkin di kampung Anda.

Jadi, jangan heran, bertahun-tahun ada DD, tetapi masyarakat tetap miskin. Dan siapa peduli, karena semua dapat bagian SHU. Para bandit, cukong, mereka yang punya stempel, bla…bla…bla. Kita tahulah itu! Semua khusuk berjamaah. (bersambung)

Askolani Nasution adalah budayawan dan sutradara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sungai Parlampungan  dan Batang Natal Terus Digarap Pelaku Tambang Emas Ilegal

    Sungai Parlampungan dan Batang Natal Terus Digarap Pelaku Tambang Emas Ilegal

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Batangnatal ( Mandailing Online )- Daerah aliran sungai ( DAS ) di wilayah Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) nampaknya tidak ada yang selamat dibuat para pelaku tambang emas ilegal.  Mereka terus merusak ekosistem sungai dan sekitarnya. Sungai parlampungan yang berada di desa aek baru jae saat ini menjadi lahan subur pelaku […]

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 1)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 1)

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Askolani Nasution PRAKATA Mengidentifikasi tipikal Mandailing membutuhkan kajian yang komprehensif. Amat naif jika hanya menggeneralisir begitu saja bahwa Mandailing hanya sebatas teritorial saja, tanpa acuan-acuan yang signifikan. Apalagi kita meyakini bahwa filsafat, norma, dan budaya—yang sering digunakan untuk pengelompokan sosial—bukanlah satuan-satuan yang berdiri sendiri tanpa pengaruh dari identitas suku lain. Studi sastra banyak […]

  • Anak Madina Ipong Brothers Ikut Seleksi IMB 2 ke Jakarta

    Anak Madina Ipong Brothers Ikut Seleksi IMB 2 ke Jakarta

    • calendar_month Selasa, 2 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Anak-anak Madina Ipong Brothers akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seleksi terahkir setelah lulus seleksi di Medan dalamajang bergengsi Indonesia Mencari Bakat 2 (IMB 2) yang di adakan di Jakarta dan akan di gelar beberapa hari lagi di saluran televise swasta TransTV. Masyarakat Sumatera Utara umumnya dan Kabupaten Madina Khususnya di minta untuk mendukung Ipong […]

  • Mudahkan Warga, Dukcapil Madina Lakukan Pelayanan Kepengurusan Adminduk dan E -KTP di Kantor Camat

    Mudahkan Warga, Dukcapil Madina Lakukan Pelayanan Kepengurusan Adminduk dan E -KTP di Kantor Camat

    • calendar_month Rabu, 4 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Sejak pagi tadi Rabu 4/10/2023, Kantor Camat Panyabungan didatangi kaum muda, mereka hendak melakukan pengurusan documen kependudukan. Memang hari ini Kantor Dukcapil Mandailing Natal ( Madina ) sedang melakukan ekselerasi perekaman keliling  seluruh Kecamatan di Madina untuk memudahkan kepengurusan dokumen kependudukan mulai dari E- KTP sampai pada urusan yang berhubungan dengan kependudukan. […]

  • Minimarket Dekat Pasar Akan Ditertibkan

    Minimarket Dekat Pasar Akan Ditertibkan

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hatta juga memantau harga bahan pokok di pasar tradisional. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengunjungi pasar tradisional Pasalaran, Plered, Kabupaten Cirebon. Dalam kunjungan tersebut, Hatta meminta agar minimarket yang letaknya berdekatan dengan pasar tradisional dapat ditertibkan. Penertiban minimarket yang berdekatan dengan pasar tradisional itu akan dikoordinasikan dengan Menteri Perdagangan. Hal itu dimaksudkan agar toko tradisional […]

  • Oknum Brimob Letuskan Tembakan

    Oknum Brimob Letuskan Tembakan

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LUBUK PAKAM- Sedikitnya 6 anggota Brimob yang ditugaskan di PTPN 3 Kebun Sei Putih, meletuskan senjata ke arah penggarap di Dusun 4 Desa Galang Barat Kecamatan Galang, Selasa (8/3) sekitar pukul 12.00 WIB. Insiden itu terjadi saat warga menanam ubi di lahan sengketa seluas 345,56 hektar di lahan PTPN 3 tersebut. Pendi, warga penggarap mengutarakan […]

expand_less