Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Korupsi di Jajaran Menteri, Tabiat Demokrasi?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 16 Des 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sudah sejak awal ia mengingatkan kepada jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) untuk tidak melakukan korupsi. Hal itu dikatakan Presiden menyikapi penetapan tersangka Menteri Sosial Juliari Batubara oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dugaan kasus suap Bantua Sosial (Bansos). Tidak hanya itu Presiden juga mengaku telah berulangkali mengingatkan para pejabat baik itu di Pemerintah Pusat maupun daerah agar hati-hati menggunakan uang rakyat, baik itu yang ada di dalam APBN, APBD Provinsi, maupun APBD kabupaten atau kota.

Selain mengingatkan untuk menjauhi korupsi, Presiden juga mengingatkan kepada menterinya untuk menciptakan sistem yang menutup celah praktik korupsi. Oleh karenanya Presiden tidak akan melindungi siapapun yang melakukan korupsi. Sebelumnya Menteri Sosial Juliari P. Batubara; Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kemensos ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sementara dua unsur swasta yakni Ardian I. M. dan Harry Sidabuke dijerat sebagai tersangka pemberi suap. (tribunnews.com. 06/12/2020)

Jajaran kementerian kembali digemparkan kasus korupsi.  Kasus yang tiada akhir di negeri ini. Meskipun  Presiden sudah mencoba untuk mencegah perilaku criminal tersebut dengan memperingatkan. Namun kenapa korupsi tak kunjung henti? Sebab mengingantkan saja tidaklah cukup. Karena korupsi bukanlah disebabkan satu factor saja. Melainkan banyak hal.

Apalagi di Indonesia, hampir seluruh jajaran pemerintah pusat hingga ke daerah tidak bebas korupsi. Mereka yang ditangkap hanyalah sebagian kecil contoh saja. Sisanya? Bisa jadi adalah mafia-mafia besar pelaku korupsi yang tidak tersentuh hukum sama sekali. Lalu, apa faktor mendasar yang membuat korupsi menggurita? Tentu dengan memahaminya, korupsi bisa dilibas dengan tuntas.

Pertama, jika berangkat dari kasus Mensos yang sekarang sedang viral dan hangat tentu saja rakyat geram. Pasalnya, dana yang diperuntukkan membantu rakyat dalam menghadapi situasi pandemi justru dipangkas. Padahal, dana yang diterima/KK hanya Rp. 300.000. Kabarnya, Mensos memalak per KK sebesar Rp.10.000.  Mensos tentu saja tidak tergiur jika hanya  10.000. Namun bayangkan jika yang menerima dana itu jutaan rakyat, sudah berapa jumlahnya? Bukankah telah tertangkap barang bukti berjumlah puluhan Miliyar dari hasil korupsi bansos tersebut?

Kedua, bukanlah hal baru jika dana suatu program dicairkan lalu dikorupsi berjamaah.  Meskipun tetap ada satu orang yang menerima terbanyak, namun korupsi tidaklah dilakukan sendiri-sendiri.  Karena pada hakikatnya, pelaku tidak ingin terjerat seorang diri. Seperti kalimat yang sering dilontarkan pelaku kejahatan, “dosanya biar kita terima bersama”.  Dan hal itu juga menunjukkan, jika terjerat hukum, maka akan dihukum bebarengan. Setiap kasus korupsi dijajaran pemerintah selalu melibatkan lebih dari satu nama. Sudah terbukti bukan?

Ketiga, Mensos bersyahwat melakukan tindakan tak berhati nurani tersebut, sejatinya bukan tanpa tanpa alasan. Apalagi mengingat kondisi pandemi ini, banyak anggaran dialihkan hanya menangani covid-19. Bahkan dana-dana pembangunan yang tadinya lahan untuk bermain tender dan proyek, kini sedang macet disebabkan fokus untuk dana covid. Jelas saja pemasukan bagi sebagian kementerian maupun kedinasan tidak seperti biasa. So, ada yang cair, kenapa tidak dimanfaatkan sebagai ganti proyek? Hati nurani dan akal sehat pejabat yang melakukan suap dan korupsi sungguh nihil.

Keempat, jajaran kementerian sudah berulang kali terlibat korupsi dan penyuapan. Uniknya, pelaku terbanyak berasal dari kelompok partai yang sama dari pemilik suara terbanyak. Katakana saja peristiwa rantai korupsi kader demokrat di masa rezim SBY. Berapa kader-kader andalannya yang masuk buih? Kini, PDIP seolah-olah melanjutkan prestasi korupsi tersebut. Mensos juga dari PDIP bukan? Makanya, ketika ditanya soal hukuman mati bagi koruptor kepada PDIP, mereka tidak setuju dengan alasan harus  menjaga kehidupan. Lha? Kehidupan macam apa? Korup?  Seperti kata nitizen, kader PDIP akan punah.  Tentu saja, bukan cuma PDIP tetapi partai lain dan juga oknum-oknum non partai yang terlibat korupsi. 

Itulah sejatinya tabiat demokrasi. Sistem pemerintahan yang diadopsi Negara ini puluhan tahun tidak kunjung bersih dari korupsi. Demokrasi yang membawa kapitalisme adalah akar persoalan korupsi yang terus menggurita. Bagaimana tidak? Aturan yang memberi peluang adalah salah satu pintu masuknya pejabat terjebak korupsi. 

Selain itu, kadar keimanan dan ketaqwaan individu yang ada didalam pemerintahan sangat minim. Sebab hukum yang dijalankan bukanlah hukum Sang Maha Pembuat Hukum.  Tetapi hukum buatan muanusia yanag bisa diperjual-belikan dan dipermainkan. Hukum yang hanya berbicara bagi rakyat bawah, dan membisu bagi penguasa kecuali dengan alasan kepentingan tertentu. Seperti menjatuhkan lawan politik atau membungkam kebenaran yang ditutupi.

Jika melihat Negara-negara maju saat ini, mereka sangat tegas memperlakukan hukuman bagi koruptor. Ada yang dimiskinkan, dan ada juga yang digantung serta ditembak mati. Karena dengan demikian, pelaku kejahatan merampok uang Negara yang merupakan asset rakyat diharapkan akan takut. Ironisnya, tetap saja korupsi tidak pernah bersih dari Negara manapun di dunia ini. Karena meskipun hukumannya tegas, tidak menyentuh keimanannya.

Lain halnya dalam hukum Islam. Pelaku korupsi  dianggap criminal dan dosa besar. Meskipun bukan termasuk kasus pencurian, namun hukumannya sangat berat. Kepala Negara harus menjatuhkan hukuman ta’zir bagi koruptor seberat-beratnya. Andai hukuman mati diperlukan demi membuat jera pelakunya dan menuntaskannya, maka koruptor akan mendapatkannya.

Dengan diberlakukannya hukum Islam, pelaku korupsi kelak tidak akan dihukum di akhirat lagi. Karena sifat hukum Islam sebagai zawajir dan zawabir yang tidak dimiliki hukum-hukum lain buatan manusia di muka bumi ini, yaitu mampu mencegah dan menebus dosa pelaku kejahatan di dunia. Hasilnya, negara aman dari koruptor, suap, dan juga penyalahgunaan anggaran.

Tegaknya hukum yang tegas dan lugas yang menyentuh keimanan adalah kunci meminimalisir kejahatan pejabat Negara. Disamping harus didampingi kontrol masyarakat yang terus mengawasi kinerja pejabat dan melaporkan setiap pelanggarannya. Ditambah ketaqwaan individu –individu (amanah) para pejabat yang tinggi kepada Allah swt. Mereka yakin bahwa setipa perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawban di yaumil hisab.

Kesimpulannya, selama demokasi kapitalisme yang dijadikan asas memimpin negeri, maka kejahatan-kejahatan pejabat seperti korupsi dan suap tidak akan berhenti. Para pejabat dalam sistem demokrasi hanya memahami bahwa mereka berkuasa untuk meraih materi, karena terkadang mereka juga telah mengorbankan banyak materi untuk sampai kepada jabatannya. Modal yang dikeluarkan harus dikembalikan, bukan? Dan harus bisa meraih keuntungan. Jika ingin jujur, adakah pejabat yang tidak mau meraup keuntungan materi dari jabatannya hari ini?

Rakyat dianggap manusia kelas dua dan tidak layak mendapatkan santunan yang banyak dari Negara. Sehingga setiap bantuan terus disunat dan dibagi-bagi dijajarannya. Betapa negeri ini akan terus demikian hingga sistem busuk demokrasi kapitalis diganti. Jelas sudah bahwa korupsi adalah tabi’atnya demokrasi. Hanya dengan sistem Islam Indonesia mampu memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Wallahu a’alam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kuburan Godang Abad 8 di Pidoli

    Kuburan Godang Abad 8 di Pidoli

    • calendar_month Selasa, 16 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Di Desa Pidoli Lombang, Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut, ada makam besar. Perkiraan dibina abad 8 Masehi. Para arkeolog menyebutnya Makam Godang. Tetapi, warga Desa Pidoli menyebutnya Kuburan Godang (Kuburan Besar). Kuburan ini berlokasi di kawasan persawahan arah selatan pemukiman Pidoli Lombang. Dapat dijangkau melalui jalan tanah dengan kenderaan roda empat, sekitar 200 meter dari […]

  • Batu Tunggal Telan Korban Jiwa

    Batu Tunggal Telan Korban Jiwa

    • calendar_month Senin, 18 Feb 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Objek wisata Batu Tunggal menelan korban jiwa, Senin (18/2/2019). Seorang remaja bernama Muhammad Hilis (15) tenggelam saat mandi di objek pemandian Batu Tunggal yang berada di Kelurahan Simangambat, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal. Malam ini korban disemayamkan di rumah duka Desa Hutapuli. Desa Hutapuli bertetangga dengan Kelurahan Simangambat. Berdasar informasi yang diperolah […]

  • Sindi Angriani Nasution Raih Lulusan Terbaik Akbid Namira Madina

    Sindi Angriani Nasution Raih Lulusan Terbaik Akbid Namira Madina

    • calendar_month Jumat, 15 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sindi Angriani Nasution meraih predikat sebagai lulusan terbaik angkatan ke-8 Akademi Kebidanan Namira Madina. Dia dan lulusan lainnya diwisuda di Gedung Serba Guna, Panyabungan, Kamis (14/9/2017). Gadis berusia 21 tahun yang beralamat di Desa Gunung Tua Jae Kecamatan Panyabungan ini berhasil memperoleh IP 3,77. Putri dari Ahmad Yasin Nasution dan […]

  • Awas!!! Lobang Maut di Tambangan Jae

    Awas!!! Lobang Maut di Tambangan Jae

    • calendar_month Kamis, 2 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LOBANG MAUT – Satu unit angkutan pedesaan harus mengambil sisi pingir jalan untuk menghindar dari sebuah lobang yang dalam di jalur titik Desa Tambangan Jae, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal, Rabu (1/1/2014). Berdasar keterangan warga setempat, lobang ini sangat dalam sehingga jika pengemudi kederaan tak hati-hati di malam hari kenderaannya bisa terjungkal, malah dapat mengancam keselamatan […]

  • Dorong Pemulihan Ekonomi, Bank Sumut Diminta Genjot KUR

    Dorong Pemulihan Ekonomi, Bank Sumut Diminta Genjot KUR

    • calendar_month Kamis, 24 Mar 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Bank Sumut diminta menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai agenda kerja prioritas. Sebab, posisi KUR sangat penting dalam pemulihan ekonomi. Itu dikatakan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah saat membuka Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun 2021 dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Bank Sumut di […]

  • Inilah Rumus Kelulusan antara Nilai UN dan Nilai Sekolah

    Inilah Rumus Kelulusan antara Nilai UN dan Nilai Sekolah

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA — Pemerintah dan Badan Standar Pendidikan Nasional telah siap dengan formula baru penilaian kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Untuk itu, pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 hanya dilaksanakan satu kali pada bulan Mei 2011. Ujian nasional (UN) utama untuk SMA/SMK digelar pada minggu pertama Mei 2011, sedangkan untuk SMP pada minggu kedua Mei 2011. […]

expand_less