Kamis, 22 Okt 2026
light_mode

Kebakaran Hutan, Problem yang Mengancam Nyawa Rakyat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 29 Sep 2023
  • print Cetak

Oleh: Intan Marfuah
Aktivis Muslimah

Sebanyak 66 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur (Kaltim) oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan, sepanjang Jumat (18/8). (CNN Indonesia).
Terdeteksinya 66 titik panas di Kaltim tersebut diharapkan membuat pihak terkait melakukan penanganan agar tidak terjadi kebakaran hutan.

“Sebanyak 66 titik panas itu terpantau sepanjang Jumat (18/8) mulai pukul 01.00 hingga 24.00 WITA,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman – Sepinggan Balikpapan Diyan Novrida di Balikpapan, seperti dilansir Antara, Sabtu (19/8).

Titik panas adalah indikator kebakaran hutan atau lahan (karhutla) yang terdeteksi dari suatu lokasi dengan suhu relatif tinggi dibandingkan dengan suhu di sekitarnya.

Sebaran 66 titik panas di Kaltim itu, kata dia, telah diinformasikan kepada pihak terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

66 titik panas yang terpantau sepanjang Jumat, merupakan titik panas baru di lokasi berbeda. Sebanyak 66 titik panas ini tersebar di enam kabupaten yakni Paser (6), Kutai Barat (3), Kutai Timur (21), Kutai Kartanegara (27), Berau (1), dan Kabupaten Mahakam Ulu (8).

Diyan Novrida mengajak semua lapisan masyarakat untuk saling menjaga dan waspada dengan terdeteksinya 66 titik panas di Kaltim tersebut.

Masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, kemudian juga tidak melakukan pembakaran saat mengelola lahan.

“Rinciannya antara lain 21 titik di Kutai Timur tersebar pada tujuh kecamatan yakni Sangatta Utara (2), Bengalon(9), Busang(3), Kongbeng(1), Muara Bengkal (1), Rantau Pulung (3), dan Kecamatan Telen(2). Semua titik panas tersebut memiliki tingkat kepercayaan menengah,” jelas Diyan.

Saat ini sedang berlangsung musim kemarau yang menyebabkan banyak daun dan ranting mengering, sehingga sangat rawan terjadi karhutla.

Sebelumnya Rabu 16 Agustus, BMKG Balikpapan juga mendeteksi 97 titik panas di satu kota dan enam kabupaten yakni Kota Balikpapan satu titik, Kabupaten Paser 12, Kutai Barat lima titik, Kutai Timur 35, Kutai Kartanegara 34 titik, Berau sembilan titik, dan Kabupaten Mahakam Ulu ada satu titik panas. Namun, titik panas tersebut sudah padam, setelah diinformasikan ke pihak terkait dan langsung dilakukan penanganan. (CNN Indonesia, Sabtu,19-Agustus-2023)

Sebagaimana diketahui kebakaran hutan yang terjadi ini bukan pertama kalinya. Hampir setiap tahun kebakaran hutan melanda negeri ini.
Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai dari faktor alam hingga faktor ulah manusia yang sengaja membakar hutan untuk pembukaan lahan. Kebakaran hutan sangat membahayakan jiwa manusia, sebab asap yang dihasilkan bisa menimbulkan polusi udara.

Dampak lainnya adalah ancaman pemukiman warga. Selain itu, asap dari karhutla juga berpotensi membahayakan jalur penerbangan yang tentu berisiko terhadap keselamatan penumpang.

Permasalahan kebakaran hutan sejatinya tidak lepas dari buruknya penanganan lahan hutan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah.

Pasalnya selama ini pembukaan lahan hutan melalui pembakaran memang diperbolehkan jika memenuhi syarat yang di tetapkan UU. Di sisi lain negara juga gagal memberikan sanksi yang tegas pada pelaku pembakaran hutan secara liar.

Kebakaran hutan juga diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan ini, akibat gagalnya edukasi di tengah-tengah masyarakat. Semua ini tidak lepas dari ekonomi kapitalis yang memengaruhi negeri ini.
Dalam sistem ekonomi kapitalis, hutan dan lahan dipandang sebagai milik negara bukan milik rakyat.
Karena itu negara dipandang berwenang menyerahkan kepemilikannya kepada pihak swasta atau korporasi dalam mengelola dan memanfaatkan hutan dan lahan yang ada.
Tentu saja mindset korporasi sebagai pemilik modal adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa mengeluarkan modal yang besar.
Sementara aktivitas membakar hutan dalam pembukaan lahan adalah cara termudah dan sesuai target bisnis para korporat.

Karena itu akar persoalannya adalah kapitalisme yang telah membiarkan kaum kapitalis mengeruk untung dari kebakaran hutan.
Sementara negara hanya bertindak sebagai regulator yang memuluskan penguasaan lahan oleh para korporat melalui kebijakan negara.

Bencana kebakaran dan hutan hanya akan bisa diakhiri secara tuntas dengan sistem Islam.
Hutan memiliki fungsi ekologis dan hidrologis termasuk paru-paru dunia yang di butuhkan oleh puluhan juta jiwa.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara,yaitu padang rumput/hutan,air,dan api.” (THR. Abu Dawud)

Para ulama terdahulu sepakat bahwa air sungai, danau, laut, saluran irigasi, padang
rumput (hutan) adalah milik bersama dan tidak boleh dimiliki/dikuasai oleh seseorang atau hanya sekelompok orang.

Dengan demikian berserikatnya manusia dalam ketiga hal pada hadits tersebut bukan karena zatnya tetapi karena sifatnya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak(komunitas) dan jika tidak ada maka mereka akan berselisih atau terjadi masalah dalam mencarinya.

Oleh karena itu, Islam menetapkan negara adalah pihak paling bertanggung jawab menjaga kelestarian fungsi hutan.

Rasulullah Saw bersabda ,yang artinya: “Imam adalah ibarat penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalanya (rakyatnya).”
(THR. Muslim). Artinya apapun alasannya negara haram bertindak sebagai regulator bagi kepentingan korporasi dalam mengelola hutan.
Sebaliknya negara wajib bertanggung jawab langsung dan sepenuhnya dalam pengelolaan hutan termasuk pemulihan fungsi hutan yang sudah rusak serta antisipasi pemadaman bila terbakar.

Selain itu, penyerahan pengelolaan hutan pada pihak korporasi hingga berujung aktivitas pembakaran dan kerusakan fungsi hutan sumber bencana bagi jutaan orang adalah sesuatu yang di haramkan dalam Islam.

Islam juga tidak mengenal hak konsesi karena pemanfaatan secara istimewa (himmah) hanyalah pada negara, dengan tujuan kemaslahatan islam dan kaum muslimin.

Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Tidak ada himmah (hak pemanfaatan khusus) kecuali bagi Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Abu Daud).

Jika ternyata masih terjadi kebakaran hutan dan lahan maka wajib segera ditangani oleh pemerintah karena pemerintah wajib memperhatikan urusan rakyatnya dan memelihara kemaslahatan mereka.

Namun tentu saja hal ini didukung oleh pendidikan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam mewujudkan kelestarian hutan.
Semua ini hanya bisa diwujudkan penerapan syariah Islam secara menyeluruh di bawah institusi Khilafah islam.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aspan Ganti 16 Camat

    Aspan Ganti 16 Camat

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Pj Bupati Mandailing Natal Ir Aspan Sopian Batubara MM melantik 16 camat dengan Surat Keputusan Bupati Madina bernomor 821.2/031/K/2011 tentang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan struktural di lingkungan Pemkab. Pelantikan digelar di aula kantor Bupati Madina, kompleks perkantoran Paya Loting, Selasa (1/2). Pj Bupati Madina Ir H Aspan Sofian Batubara MM […]

  • Warga Kurang Mampu, Janda dan Lansia di Huta Lombang Lubis Terima Jatah BLT DD Tahap II

    Warga Kurang Mampu, Janda dan Lansia di Huta Lombang Lubis Terima Jatah BLT DD Tahap II

    • calendar_month Senin, 17 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Bantuan berupa uang tunai itu dibagikan kepada warga desa sesuai dengan yang terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). ada 46 warga Desa Huta Lombang Lubis Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang terdaftar dan hari ini senin 17/7/2023 menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap II tahun 2023. Abdul Haris Lubis […]

  • Karyawan PT RMM Unjuk Rasa di Halaman Kantor Bupati Madina

    Karyawan PT RMM Unjuk Rasa di Halaman Kantor Bupati Madina

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Ratusan karyawan dan karyawati kembali melakukan unjukrasa di halaman Kantor Bupati Madina, Jumat, (17/4). Pengunjuk rasa menuntut agar hak-hak para karyawan dan karyawati yang selama ini  telah dikangkangi oleh pihak perusahaan sebagaimana diatur pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan segera dikembalikan.  Para Pengunjuk rasa ini juga  menuntut penghentian mutasi dan PHK karyawan secara […]

  • 252 Anggota Koperasi Kuala Tunak Tabuyung Hadiri RAT, Pertanggungjawaban Diterima

    252 Anggota Koperasi Kuala Tunak Tabuyung Hadiri RAT, Pertanggungjawaban Diterima

    • calendar_month Minggu, 25 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    TABUYUNG ( Mandailing Online) : Rapat Anggota Tahunan (RAT) merupakan kewajiban setiap koperasi, karena merupakan wujud dari pertanggung jawaban pengurus dan pengawas kepada anggota atas kinerjanya. Dalam menjalankan kewajiban tersebut, Koperasi Kuala Tunak yang ada di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) Jum’at 23/8/2024 melaksanakan RAT. Ketua Koperasi Kuala Tunak […]

  • Kejati Periksa 20 Saksi Dugaan Korupsi Pemkab Batubara

    Kejati Periksa 20 Saksi Dugaan Korupsi Pemkab Batubara

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Tim penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) telah memeriksa sedikitnya 20 saksi terkait dugaan korupsi dana pembangunan kantor tujuh Satuan Kerja Prangkat Daerah (SKPD) senilai Rp6,7 miliar. “Sudah ada 20 saksi setingkat kepala dinas kita periksa, disamping sejumlah rekanan proyek,” kata Kasi Penerangan Hukum/Humas Kejati Sumut Edi Irsan Kurniwan Tarigan di Medan, Kamis […]

  • Birmingham Menyambut Para Mualaf

    Birmingham Menyambut Para Mualaf

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Menjadi mualaf berarti menjadi asing dan terkucil. Itulah yang sering dirasakan para mualaf karena terusir dari keluarga dan kehilangan teman-teman. Tapi, bagi mualaf di Kota Birmingham, Inggris, mereka tak perlu khawatir diasingkan. Mualaf Birmingham selalu mendapat tempat di tengah komunitas Muslim kota tersebut. Komunitas Muslim Birmingham sangat antusias dalam menyambut para mualaf dan mengajak mereka […]

expand_less