Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Lagi, Pemerintah Berulah Terhadap Ormas Islam!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 3 Jan 2021
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Langkah pemerintah menyatakan Front Pembela Islam (FPI) sebagai ormas terlarang memicu polemik. Prokontra pun mengemuka menyikapi pembubaran ormas yang dipimpin Habib Rizieq Shihab itu. Politikus Partai Demokrat, Rachland Nashidik menilai cara pemerintah “menggebuk” FPI membahayakan hak konstitusi warga negara Melalui Twitternya, Rachland mendilai pemerintah telah mengambil kewenangan hakim untuk mengadili dan memutuskan pelarangan FPI.

Oleh karena itu setelah FPI, lanjut dia, organisasi apa pun bisa dibubarkan sesuai dengan keinginan pemerintah. Rachland mengatakan bahwa cara pemerintah menggebuk FPI membahayakan hak konstitusional semua warga negara. Pemerintahan Jokowi mengambil ke tangannya sendiri kewenangan hakim untuk mengadili dan memutuskan.  Organisasi apa pun kini bisa dibubarkan dan dilarang bila tak sesuai selera penguasa. Hal tersebut ia sampaikan  melalui akun Twitternya, @RachlanNashidik, Kamis (31/12/2020). Sebelumnya, dalam salah satu cuitannya, Rachland berpendapat kebebasan berserikat adalah hak asasi manusia dan dijamin konstitusi. (sindonews.kamis, 31/12020)

Sangat disayangkan dengan keputusan pemerintah membubarkan Ormas Islam Front Pembela Islam (FPI). Keputusan super kilat tanpa melakukan proses hukum dan pengadilan. Pencabutan izin organisasi bersifat dadakan. Padahal, seharusnya ada prosedur yang harus dijalani demi mendapatkan bukti kebenaran terhadap tuduhan bagi terdakwa/tersangka.

Pencabutan izin Ormas Islam secara sepihak dan dadakan bukanlah baru pertama terjadi di rezim sekarang. FPI adalah Ormas Islam kedua setelah HTI korban pertama. Pasca disahkannya Perppu penggebuk yang berpotensi sewenang-wenang. Artinya, Ormas Islam lain yang beraktifitas sama dengan HTI maupun FPI, yaitu dakwah, tinggal menunggu waktu saja kena gebuk oleh rezim.

Wacana pembubaran Ormas FPI sudah ada sebelum rezim Jokowi. Karena Ormas ini dianggap ekstrem dan radikal. Aksi-aksi sweeping yang dilakukan oleh FPI terhadap aktifitas maksiat dianggap sangat menganggu para pemilik usaha maksiat tersebut. Seperti bar, kasino, rumah asusila, dan juga warung remang-remang. Apalagi aktifitas sweeping tersebut sangat gencar menjelang ramadhan.

Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan alasan yang dianggap legal menggebuk Ormas Islam seperti FPI. Termasuk melancarkan banyak fitnah dan informasi hoax. Seperti mengeluarkan jargon-jargon anti Pancasila, anti NKRI, membahayakan keamanan negara, dan banyak lagi.

Padahal, ormas Islam yang eksis di Indonesia apalagi FPI, faktanya banyak membantu pemerintah. Terlibat terjun bahu-membahu dalam menangani bencana nasional seperti tsunami,banjir,kebakaran, dan sebagainya. Tidak hanya sifatnya praktis, tapi juga preventif untuk menjaga masyarakat agar tidak terjerumus jatuh pada kerusakan yang lebih parah dengan dakwah. Mengajak masyarakat sama-sama mengoreksi penguasa jika salah dalam mengambil kebijakan yang berpotensi bisa mendzalimi rakyat. Lalu, dimana salah Ormas Islam?

Penguasa di rezim sekarang terlihat begitu bersyahwat untuk menggebuk siapapun yang bertentangan dengan kebijakannya. Bukan hanya Ormas Islam, individu perorangan pun tidak luput dari stick gebuk rezim. Pemerintah terus menunjukkan taringnya bagi siapapun baik Ormas maupun individu jika tidak menerima atau sejalan dengan kebijakannya.

Banyak sudah pengamat yang mengatakan bahwa rezim sekarang adalah rezim anti Islam. Karena terus berulah pada Ormas Islam yang dianggap menganggu dan berbahaya. Padahal, bahaya yang dimaksud adalah bahaya bagi eksistensi jabatan dan kebijakan mereka yang berkuasa. Sebab kekuasaan yang mereka genggam sekarang telah jauh disalahgunakan. Mulai dari korupsi yang merajalela, menciptakan politik dinasti, oligarki, hingga menggadaikan tanah negeri untuk asing atas nama investasi. Dan pemerintah merasa gerah jika ada kelompok atau krititik individu yang berani membongkar rencana jahat mereka untuk masyarakat dan bangsa ini.

Mungkin rezim tidak sadar, seperti yang disampaikan oleh Rachland Nasidik bahwa penggebukan terhadap Ormas Islam telah membahayakan konstitusi negara. Betapa tidak? Negara yang konon menjungjung hak asasi manusia dengan hukumnya yang humanis, ternyata tidak sesuai kenyataan di lapangan. Fakta menunjukan sebaliknya. Rezim yang ada sangat refresif dan dzalim.

Kejadian yang menimpa FPI hari ini dan HTI kemarin atau siapapun berikutnya, telah nyata menunjukkan bahwa sistem pemerintahan yang dibangun berdasarkan hukum buatan manusia akan tumpang tindih dan keadilan hanya mimpi. Sikap refresif, sewenang-wenang dan dzalim adalah kenyataan yang terlihat.

Semoga masyarakat menyadari bahwa rezim yang mengadopsi sekulerisme dan kapitalisme adalah rezim yang anti Islam dan prestasi yang bisa dibanggakan darinya hanyalah menggebuk Ormas Islam! Layakkah dibanggakan dan dipertahankan? Tentu jawabannya adalah tidak.

Saatnya masyarakat, khususnya kaum muslimin sebagai mayoritas menyadari bahwa, mempertahankan rezim dan sistem demokrasi kapitalis hanyalah memperpanjang umur kedzaliman terhadap Islam. Sejatinya tidak boleh lagi diam seperti setan bisu ketika semuanya telah terlihat jelas atas apa yang menimpa Islam dan kaum muslimin! Tidaklah negeri ini akan mendapat berkah dari Allah SWT jika kewajiban yang diperintahkan kepada manusia ditutup jalannya oleh penguasa.

Sudah waktunya Indonesia membuang sekulerisme dan mengadopsi sistem Islam demi perbaikan segala problemtika yang ada. Seperti janji Allah SWT bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Dan rahmat itu akan terlihat dan terasa jika syariat Islam ditegakkan secara kaffah. Wallahu a’lam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Film Mandailing “Madina & Mustafa” Dirilis Jelang Lebaran

    Film Mandailing “Madina & Mustafa” Dirilis Jelang Lebaran

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menjelang lebaran dua film Mandailing akan dirilis ke pasar. Yakni film “Senandung Willem” dan film “Madina & Mustafa”. Kedua film tersebut diproduksi dua pihak yang berbeda. Film “Madina & Mustafa” diproduksi oleh Willis Tinating Com & Kudel Baiya Ent & Film yang berbasis di Pidoli, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Sedangkan film […]

  • Pergantian Kepsek MAN Kase Raorao Salah Fatal

    Pergantian Kepsek MAN Kase Raorao Salah Fatal

    • calendar_month Kamis, 30 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Pemerhati Pendidikan Batang Natal, Marahalim Nasution menilai keputusan Kanwil Kemenag Sumut mengganti kepala sekolah MAN Kase Raorao merupakan kesalahan fatal. Itu dikatakan Marahalim, Kamis (30/6/2016) terkait penempatan kepala sekolah yang baru di MAN Kase Raorao, Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal menggantikan H. Irfansyah, SPd, MA. “Saya katakan bahwa keputusan Kanwil […]

  • Kejatisu sidik korupsi BNPB Padang Lawas

    Kejatisu sidik korupsi BNPB Padang Lawas

    • calendar_month Senin, 23 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Penyimpangan dana bantuan bencana daerah yang bersumber dari APBN tahun anggaran 2010 yang di alokasikan Bandan Nasional Panggulangan Bencana (BNPB) Kabupaten Padang Lawas sudah dilakukan penyidikan yang sebelumnya masih dalam penyelidikan. Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) / Humas Kejati Sumut, Marcos Simaremare kepada media, kemarin mengungkapkan, tim penyidik Kejati Sumut menemukan bukti […]

  • Ketua PDIP Medan dipolisikan

    Ketua PDIP Medan dipolisikan

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Merasa nama baiknya dicemarkan, seorang kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Zakir Husin alias Zakir, mengadukan Ketua DPC PDIP Medan, Henry Jhon Hutagalung ke Polresta Medan. Zakir tidak senang atas pernyataan Henry Jhon Hutagalung di media massa yang menuding dirinya mengedarkan narkoba dan dibeking polisi. Tidak hanya itu, Jhon juga menyurati Kapolda Sumut […]

  • Antisipasi Pelaku Teroris dan Perampokan, Polres Madina Razia Rumah-Rumah Kontrakan di Panyabungan

    Antisipasi Pelaku Teroris dan Perampokan, Polres Madina Razia Rumah-Rumah Kontrakan di Panyabungan

    • calendar_month Sabtu, 2 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Meminimalisir maraknya aksi terorisme dan perampokan di wilayah Sumut akhir akhir ini, Polres Madina razia ke sejumlah rumah kontrakan di sekitar Kota Panyabungan, Kamis (30/9), melibatkan aparat kepolisian bersenjata lengkap. Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan SIk kepada wartawan, Jumat (1/10) mengatakan razia polisi ke rumah-rumah kontrakan bertujuan mengantisipasi masuknya pelaku-pelaku teroris dan perampok […]

  • Syamsul Hilal Imbau Mantan Wali Kota Binjai Ali Umri Penuhi Panggilan Polda Sumut

    Syamsul Hilal Imbau Mantan Wali Kota Binjai Ali Umri Penuhi Panggilan Polda Sumut

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Mantan Wali Kota Binjai, Ali Umri, dinilai pengecut jika tidak berani memenuhi panggilan polisi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat olahraga dan operasional Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Binjai pada 2007. “Kenapa mesti takut? Kan dipanggil sebagai saksi.Kalau terus menghindar seperti ini, akan timbul dugaan masyarakat bahwa dia terlibat dalam kasus ini,”ujar anggota Komisi […]

expand_less