Minggu, 10 Mei 2026
light_mode

Lopo Kopi Dotek: Ruang Sosial Serasa Ngampus

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
  • print Cetak

 

Goresan Ringan: Ludfan Nasution
Jurnalis/pengamat, tinggal di Kotasiantar, Panyabungan

 

Di banyak tempat di Mandailing dan Tapanuli bagian selatan lainnya, lopo kopi (lepau/warung kopi) bukan sekadar tempat minum kopi. Ia adalah ruang sosial kecil tempat pikiran bertemu, beradu, lalu berpisah tanpa perlu diputuskan siapa yang benar.

Di sana kopi sering disajikan dalam bentuk yang khas: kental, pekat, pahit dan manis menyatu. Sebagian orang menyebutnya kopi dotek. Bubuk kopi yang agak banyak, air tidak terlalu longgar, gula secukupnya—hasilnya segelas kopi dengan tubuh yang tebal dan rasa yang berlapis.

Kopi seperti ini jarang diminum terburu-buru. Ia diseruput perlahan, memberi waktu bagi lidah dan pikiran untuk bekerja bersamaan.

Biasanya kopi dotek hadir pada dua momen: pagi sebelum kerja dimulai dan malam setelah aktivitas selesai. Pagi hari, ia seperti mesin penggerak pikiran. Malam hari, ia berubah fungsi menjadi teman rehat, teman cerita, dan kadang teman merenung.

Ludfan Nasution

Sering terjadi sebuah adegan sederhana: sisa pedas makan malam masih terasa di lidah, lalu masuk kopi dotek panas. Jika kebetulan ada rokok kesukaan, suasana itu bagi sebagian orang terasa seperti “syurga kecil dunia”.

Namun sebenarnya yang paling menarik dari lopo kopi bukanlah kopinya, melainkan percakapannya.

Topik-topik di meja kopi sering muncul dari hal sederhana. Seseorang melempar pertanyaan atau pendapat. Kadang tentang politik daerah, kadang tentang adat, kadang tentang ekonomi kampung, kadang pula sekadar soal kehidupan sehari-hari.

Yang menarik, topik-topik itu jarang sekali benar-benar selesai.

Satu orang memancing gagasan. Yang lain menimpali. Beberapa menit kemudian muncul bantahan. Suasana sempat memanas, lalu tiba-tiba berubah arah karena ada cerita baru atau orang baru datang. Diskusi pun berpindah.

Di lopo kopi, gagasan tidak selalu dicari kesimpulannya. Ia lebih sering dilemparkan untuk menguji pikiran kawan. Seperti batu kecil yang dilempar ke kolam, riaknya menyebar ke berbagai arah.

Justru karena tidak dituntaskan, gagasan itu sering terbawa pulang oleh masing-masing orang.

Mungkin malam itu topiknya tidak selesai. Tapi keesokan hari seseorang masih memikirkannya. Di situlah lopo kopi menjalankan fungsi yang sering tidak disadari: menanam benih pikiran dalam masyarakat.

Warung kopi semacam ini bisa disebut sebagai universitas rakyat yang paling sederhana. Tidak ada kurikulum, tidak ada dosen, tidak ada jadwal resmi. Yang ada hanya kopi, percakapan, dan pengalaman hidup yang saling dipertukarkan.

Kopi dotek sendiri seolah menjadi metafora kecil dari kehidupan sosial itu: pahit dan manis hadir bersamaan, kental dan tidak tergesa-gesa.

Di meja kopi, orang tidak selalu mencari kemenangan dalam debat. Yang lebih penting adalah menjaga percakapan tetap hidup.

Dan selama kopi masih mengepul di cangkir, percakapan seperti itu tampaknya akan terus ada—dengan atau tanpa kesimpulan.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suhu Bumi Memanas, Kita Wajib Was-was

    Suhu Bumi Memanas, Kita Wajib Was-was

    • calendar_month Kamis, 22 Jun 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ari Nurainun,SE Aktivis Muslimah, Pemerhati Kebijakan Publik Di negeri ini tak hanya suhu politik yang memanas, suhu di permukaan bumi juga memanas. Hal ini diungkapkan oleh Mardiono (54), petani sayur dari Kampung Baru, Kelurahan Teluk Bayur, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kenaikan suhu di Berau yang mencapai 0,95 derajat celsius dalam 16 […]

  • Di Madina, Ada Guru Tiga Bulan Tidak Masuk Mengajar

    Di Madina, Ada Guru Tiga Bulan Tidak Masuk Mengajar

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Komisi A DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menemukan oknum guru yang tidak masuk mengajar selama 3 bulan. Hal ini ditemukan Komisi A saat inspeksi mendadak (Sidak) ke SMU Negeri 1 Panyabungan, Kamis (10/03/2011). Kehadiran Anggota dewan langsung diterima Kepala SMAN 1 Panyabungan Suaidah Lubis di ruang kerjanya. Sementara perwakilan Komisi A yang melakukan sidak […]

  • HUTA DAN BANUA MANDAILING

    HUTA DAN BANUA MANDAILING

    • calendar_month Selasa, 8 Jan 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      OLEH : EDI NASUTION (in memorial) Dikutip dari sebagian artikel berjudul “Banua dan Alak Mandailing” di http://edi-nasution.blogspot.com   Wilayah pemukiman orang Mandailing disebut Luat atau Banua. Sedangkan kehidupan sosial budaya orang Mandailing berlangsung di dalam suatu huta yang memiliki satu kesatuan wilayah dengan batas-batas tertentu. Setiap huta berada dibawah sistem pemerintahan sendiri yang demokratis dan […]

  • Pameran Pembangunan HUT 17 tahun Madina

    Pameran Pembangunan HUT 17 tahun Madina

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Hari Pertama pameran pembangunan Ulang Tahun ke 17 Kabupaten Mandailing Natal, yang dimeriahkan SKPD dan Swasta yang berdomisili di kabupaten Madina. Tetap terlihat kemeriahan meskipun  di protes para pengunjung karena lokasi sekarang yang ada di Tapian Siri Siri sulit di akses pengunjung terutama yang datang secara rombongan. Terlalu jauh untuk jalan kaki, sementara kalau naik […]

  • Ngabalin Resmi Bermarga Nasution

    Ngabalin Resmi Bermarga Nasution

    • calendar_month Sabtu, 1 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ali Moectar Ngabalin resmi menyandang marga Nasution. Marga dari suku Mandailing di Sumatera Utara. Penabalan marga Nasution itu secara resmi ditabalkan oleh sejumlah raja di Kabupaten Mandailing Natal, berlangsung di pendopo rumah dinas Bupati Mandailing Natal, Jum’at malam (31/8/2018). Acara penabalan itu dihadiri Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution, tokoh masyarakat serta […]

  • PENDIRI KOTA KUALA LUMPUR

    PENDIRI KOTA KUALA LUMPUR

    • calendar_month Rabu, 18 Apr 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

        |Kontroversi tentang sejarah Kuala Lumpur sudah berlangsung lama | Abdur-Razaq Lubis melalui bukunya Sutan Puasa: Founder of Kuala Lumpur menyelesaikannya dengan data akurat | Pendiri Kuala Lumpur bukan Kapten Cina Ketiga Yap Ah Loy dan juga bukan Raja Abdullah keturunan bangsawan dari Bugis itu | Pendiri Kuala Lumpur adalah Sutan Puasa Lubis, seorang […]

expand_less