Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

MANDAILING BUKAN BATAK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 23 Okt 2014
  • print Cetak

 

Pada “Konvensyen Sejarah dan Budaya Negeri Perak Darul Ridzuan” di Dewan Jubli, Politeknik Ungku Omar, Ipoh, Perak, Malaysia, 29 September 2001 lalu, sejarawan Malaysia Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa Mandailing bukan Batak.

Dalam makalah bertajuk “Sejarah kedatangan orang-orang Mandailing ke semenanjung tanah Melayu”, Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa pendapat tersebut telah didukung oleh sarjana Belanda, Jerman dan Indonesia. Mereka adalah Prof. Dr. G.A. Wilken Hoogleeraar Van Het Rijks dari Universitas Leiden, Dr. Van Deur Tuk, dan Dr. Jughun. Pendapat mereka didukung pula oleh Abdullah Lubis, Mangaraja Ihutan, Dada Muraxa, Pangaduan Lubis, dan Arbain Lubis.

Puncak kekeliruan mengenai “Mandailing bukan Batak” telah tercetus dari satu peristiwa pada tahun 1922 di Kayu Laut, Mandailing. Dalam peristiwa tersebut seorang kepala sekolah HIS bernama Todung Gunung Mulia yang bersekongkol dengan seorang kolonial tentara Belanda dari Sibolga untuk menguatkan orang Mandailing itu sebagai satu rumpun dengan orang Batak demi kepentingan agama dan politik serta pentadbiran (mengelola pemerintahan) bagi penjajah Belanda.

Usaha Todung dan kolonial Belanda tersebut berhasil mendapatkan tanda tangan 14 orang kepala Kuria di Mandailing (yang dari mulanya dilantik sebagai kepala Kuria oleh pihak pentadbiran Belanda) diatas surat pengakuan bahwa Mandailing itu adalah sebagian dari daerah Batak.

Pengakuan tersebut telah membawa arti bahwa tanah Mandailing tergolong dalam daerah tanah Batak dan dengan kemiripan budaya antara kedua etnik itu, maka Mandailing dengan mudah dikategorikan sebagai yang berasal dari suku Batak.

Dalam peristiwa ini, orang- orang Batak yang beragama Kristen sangat disenangi oleh Belanda, sehingga tercetuslah hasrat mereka untuk menonjolkan etnik Batak sebagai ibu rumpun bagi kaum-kaum yang mempunyai persamaan dalam beberapa aspek budaya di Sumatra Utara yang meliputi daerah Tapanuli Selatan, yaitu Mandailing.

Kenyataan ini juga seakan-akan menggambarkan missionaris Kristen telah berjaya mengkristenkan daerah Tapanuli lebih dari 60% penduduknya, padahal mereka gagal di Tapanuli Selatan dan Mandailing. Jika benar Mandailing itu Batak, kenapa perlu ada satu pengakuan (1922) di Kayu Laut sebagai pengakuan Mandailing bagian dari rumpun Batak?

 

AGENDA TERSELUBUNG

Jelas sekali Todung, missionaris Kristen, dan kolonial Belanda dari Sibolga itu mempunyai agenda terselubung untuk menjadikan daerah Mandailing sebagai daerah Batak sekaligus menjadikan Mandailing sebagai rumpun Batak yang kebanyakan telah menjadi Kristen.

Peristiwa ini  (yang merupakan satu penipuan oleh kaum Batak dengan Belanda) telah ditentang habis-habisan oleh masyarakat Mandailing hingga kemuka pengadilan Mahkamah Tinggi di Folks Road, Batavia pada tahun 1922. Seorang ahli antropologi yang sangat disegani, H. Van Wageningen dari Holland, telah memberi ulasan di Mahkamah mengenai bantahan orang-orang Mandailing itu.

Peristiwa penipuan Batak/ Belanda ini juga dikenal sebagai “Batak Maninggoring” dan telah berakhir dengan keputusan pengadilan di Folks Road yang menyatakan dengan jelas bahwa Mandailing asalnya bukan Batak dan bukan pula bagian dari daerah Batak, dan tidak pernah ditaklukan oleh orang Batak.

Ada juga peristiwa yang menyangkal anggapan Mandailing itu Batak. Kisah tanah wakaf bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan yang memperlihatkan tuntutan Batak Islam untuk dikebumikan ditanah wakaf khusus untuk orang-orang Mandailing. Perkara ini telah dibawa ke pengadilan Mahkamah Syariah Islam dan juga Mahkamah Raad Van Justice di Medan.

Keputusan kedua mahkamah itu menyatakan, orang- orang Batak meskipun beragama Islam tidak boleh dikebumikan di tanah wakaf yang dikhususkan untuk orang- orang Mandailing karena mereka tetap bukan orang Mandailing. Orang batak yang telah Islam dan tinggal di tanah Mandailing juga tidak benar dikebumikan di tanah wakaf Sungai Mati di Medan karena meraka bukan orang Madailing. (Abdul Wahid Lubis)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Simalungun Akan Menjadi Kabupaten Terkaya di Sumut

    Simalungun Akan Menjadi Kabupaten Terkaya di Sumut

    • calendar_month Senin, 2 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Gagasan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sei Mangke Kabupaten Simalungun merupakan ide brilian dari putra Sumatera Utara dan telah masuk dalam program nasional yaitu Master Plan Pembangunan Percepatan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sebentar lagi Simalungun akan menjadi sebuah kabupaten kayaraya dan terkaya di antara seluruh kabupaten yang ada di Sumut. Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan […]

  • Pasca Meninggalnya Satu Orang, Warga Pagur Divaksinasi

    Pasca Meninggalnya Satu Orang, Warga Pagur Divaksinasi

    • calendar_month Selasa, 22 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Puskesmas Gunung Baringin bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Madina melakukan vaksinasi terhadap warga Desa Pagur, Panyabungan Timur. Vaksinasi ini sebagai uapaya memutus sebaran bakteri Corynebacterium diphtheriae penyebab penyakit difteri yang menyerang salah satu warga dan telah meninggal dunia pekan lalu. Kepala Tata Usaha Puskesmas Gunung Baringin, Subari Ikhsan menjawab wartawan, Selasa […]

  • Kontektualitas PKI di Mandailing

    Kontektualitas PKI di Mandailing

    • calendar_month Senin, 11 Okt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan: Askolani Nasution Budayawan Di Tugu Perintis Kotanopan, ada tulisan tentang Pemberontakan Rakyat tahun 30-an. Tak banyak yang tahu kalau pemberontakan yang meluas di nyaris semua wilayah Hindia Belanda itu berkaitan dengan Pemberontakan Silungkang malam tahun baru 1927 di Sumatera Barat. Lalu menjalar ke berbagai wilayah, termasuk ke kawasan Mandailing. Ada tiga kelompok perjuangan penting […]

  • Jakfar Sukhairi : Jujur Ikhlas Kunci Utama Memimpin Madina

    Jakfar Sukhairi : Jujur Ikhlas Kunci Utama Memimpin Madina

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bakal calon bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution menyatakan kunci kepemimpinan di Madina adalah jujur dan ikhlas. Pemimpin yang nihil kejujuran dan keikhlasan tidak akan melahirkan kemakmuran bagi rakyat. Itu diungkapkannya menjawab wartawan usai menyampaikan visi misi di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di aula hotel Rindang, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Selasa […]

  • Dubes Paraguay untuk ASEAN Masuk Islam di Masjid Istiqlal

    Dubes Paraguay untuk ASEAN Masuk Islam di Masjid Istiqlal

    • calendar_month Jumat, 27 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    Duta Besar (Dubes) Republik Paraguay, Cecar Estebon Grillion memutuskan untuk menjadi muallaf dan memeluk Islam di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (27/9). Pengesahan muslim Cecar dengan pengucapan dua kalimat syahadat ini dilakukan usai shalat Jumat di hadapan ribuan jamaah dengan disaksikan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali. Pengucapan syahadat Cecar Estebon Grillion dibimbing langsung oleh Imam Besar […]

  • Sedimen Parit Panyabungan Harus Dikeruk 1 Meter

    Sedimen Parit Panyabungan Harus Dikeruk 1 Meter

    • calendar_month Selasa, 5 Sep 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sedimen parit di sepanjang pasar lama Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut butuh pengerukan setebal 1 meter. Itu pendapat sejumlah warga Panyabungan, Selasa pagi (5/9/2023) menyusul banjir di Jalan Willem Iskander setalah kota diguyur hujan. Padahal hujan baru sekitar 10 menit air tak muat di dalam parit. Pantauan Mandailing Online, air memenuhi jalan […]

expand_less