Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode

Mengapa Perkampungan Mandailing Banyak Ditemukan di Muara Dua Sungai

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 19 Jan 2022
  • print Cetak

Pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak di Kuala Lumpur. Masa 1800-an kawasan ini bernama Muara Bustak ketika dibuka kaum Mandailing dipimpin Sutan Naposo Lubis atau Sutan Puasa. (Foto: My Metro/ Ihsan Md Ismail Isnin)

Keluarga Sutan Naposo mendiami  Sungai Kelang dan menemui titik tempat pertemuan 2 sungai yang merupakan tempat yang ideal bagi orang-orang Mandailing untuk membuka penempatan baru.

Tempat tersebut merupakan tempat pertemuan Sungai Kelang dan Sungai Gombak (kini berada di Kuala Lumpur, Malaysia). Kawasan begini dipanggil ‘muara’ dalam bahasa Mandailing. Jika kita tinjau dan kaji kembali, orang-orang Mandailing Julu sering memilih tempat pertemuan 2 sungai sebagai penempatan mereka.

‘Pala marsuo dohot hamu muara na patontang, di sima hamu mian, magabe, mauli, martua markaratan ma hamu sogot.’ Begitulah kata-kata Namora Pande Bosi, yang merupakan nenek-moyang kepada marga Lubis. (137) – Mangaraja Lelo Lubis (66) – Muhammad Arbain Lubis

Terjemahan kalimat Pande Bosi itu kurang lebih: Bila bertemu dengan muara yang menjadi tempat pertemuan dua sungai (muara na patontang), maka di situlah kamu berkampung. Semoga kamu dan anak-cucu kamu kelak menjadi orang yang berguna dan mendapat rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa.’

Begitulah pesanan nenek-moyang orang-orang Mandailing Julu sebagai bekal dalam menempuh perjalanan baru yang jauh dan kehidupan baru yang tidak menentu. Kata-kata tersebut lebih merupakan kata-kata perpisahan yang mengharukan yang dianggap oleh orang-orang Mandailing sebagai petua atau amanat kehidupan.

Ini selaras dengan tabiat orang-orang Mandailing yang sangat gemar membuka penempatan baru di kawasan pertemuan 2 sungai.

Secara turun-temurun, orang-orang Mandailing percaya di tempat pertemuan 2 sungai itu terdapat 4 hal positif:

a. punca rezeki yang mewah;

b. pelbagai jenis ikan yang bermain di situ;

c. banyak bahan-bahan galian seperti emas dan bijih timah yang mendak di dalam dasarnya;

d. menjadi tempat pertemuan pedagang-pedagang dan penduduk-penduduk kampung kerana sungai pada masa dahulu menjadi jalan pengangkutan yang utama.

The rivers and streams were the critical geographic features in the nineteenth century. They acted as avenues of communication; they were a means of transport; they provided water for wet-rice growing and tin-mining; and they were the sites of alluvial tin and gold.’ (6) – Tugby.

Ini terbukti di mana banyak kampung-kampung Mandailing di Tanah Semenanjung Melayu banyak pemukiman dibuka di tempat pertemuan 2 sungai, antara lain:

a. Kuala Lumpur atau Muara Bustak yang terletak di antara Sungai Kelang dan Sungai Gombak.

b. Kampung Changkat Piatu yang terletak di antara Sungai Pinji dan Sungai Kinta.

c. Kampung Gombak yang asalnya terletak di antara Sungai Mulia dan Sungai Gombak.

d. Kampung Ampang (Kuala Ampang) yang terletak di antara Sungai Ampang dan Sungai Kelang

e. Kampung Damar Sara (kini Damansara) yang dibina di antara Sungai Damar Sara dan Sungai Kelang.

f. Kampung Sungai Chincin yang terletak di antara Sungai Chincin dan Sungai Gombak.

g. Kampung Ulu Slim yang asal yang terletak di antara Sungai Gelinting dan Sungai Slim.

Malahan di Tanah Besar Sumatera juga terdapat banyak kampung-kampung orang-orang Mandailing yang dibuka di tempat pertemuan 2 sungai seperti:

a. Panyabungan yang diapit muara Aek Pohon dan muara Aek Mata yang dua-duanya bermuara ke Aek Batang Gadis.

b. Kota Nopan (Muara Patontangan) yang terletak di antara Aek Singengu dan Aek Singagir.

c. Muara Pungkut (Huta Pungkut atau Muara Pardomuan) di tempat pertemuan Aek Batang Gadis dan Aek Batang Pungkut.

d. Muara Soma di tempat pertemuan Aek Soma dan Aek Batang Natal.

e. Muara Parlampungan di tempat pertemuan Aek Parlampungan dan Aek Batang Natal.

f. Huta Raja di tempat pertemuan Aek Batang Bangko dan Aek Batang Rantau.

Memandangkan pada masa itu tempat pertemuan Sungai Kelang dan Sungai Gombak masih belum didiami orang, maka keluarga Sutan Naposo mengambil keputusan untuk membuka penempatan baru di situ.

Adalah menjadi kelaziman bagi golongan bangsawan dan anak-anak raja Mandailing untuk mencari dan membuka penempatan baru mereka sendiri. Mengikut adat orang-orang Mandailing, hanya anak sulung dan anak bongsu sahaja yang berhak menerima warisan pusaka termasuklah menjadi pemilik kampung warisan mereka. Manakala putera-putera yang tengah biasanya akan keluar merantau dari kampung asal mereka untuk membuka perkampungan baru atau ‘harajaon’ dalam bahasa Mandailing.

Sumber: Dikutip dari sebagian artikel Marwan Dalimunthe berjudul “LAHIRNYA RAJA-RAJA (HARAJAON) DI-MANDAILING”  di Apakabarsidimpuan.com

Marwan Dalimunthe

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Laporkan LHKPN, Anggota DPRD Terpilih Terancam Tertunda Dilantik

    Tak Laporkan LHKPN, Anggota DPRD Terpilih Terancam Tertunda Dilantik

    • calendar_month Selasa, 16 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online: Dari 40 Orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Periode 2024 – 2029 Kabupaten Natal yang terpilih, hari ini Selasa, (16/07) baru 14 orang yang menyerahkan berkas Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Madina. Hal itu dikatakan Muhammad Yasir selaku Divisi Tekhnis Penyelenggara KPU Madina. “Sampai dengan hari […]

  • Sepeda Motor Milik Pegawai Bapeda Madina Dimaling di Depan Kantor

    Sepeda Motor Milik Pegawai Bapeda Madina Dimaling di Depan Kantor

    • calendar_month Selasa, 15 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Sepeda motor milik Pegawai di Bapeda Pemkab Mandailing Natal ( Madina ) yang diparkir di sekitar Kantor dimaling orang tak dikenal. Kejadian diperkirakan pukul 11.05 siang tadi selasa 15/8/2023. Putra Kurniawan pemilik sepeda motor mengaku mengetahui sepeda motor nya hilang saat hendak jam istirahat siang. ” saya tadi hendak pulang […]

  • Bentrok, Anggota OKP Kena Tikam

    Bentrok, Anggota OKP Kena Tikam

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    8 Luka-luka, 3 Kritis BINJAI- Bentrok dua kubu Organisasi Kepemudaan (OKP) yang sama terjadi di Kota Binjai, Minggu (3/4) sekitar pukul 10.30 WIB. Akibat kejadian ini, delapan orang luka-luka dan tiga diantaranya kritis. Dari delapan orang yang luka-luka, lima diantaranya kelompok OKP yang diserang yakni, Usman, Syamsul, Joni, Martin Bangun, dan Syahrijal. Sementara, tiga orang […]

  • Warga KPM Rela Antri Berjam Jam Demi Jatah Beras 10 kg

    Warga KPM Rela Antri Berjam Jam Demi Jatah Beras 10 kg

    • calendar_month Selasa, 26 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Keluarga Penerima Manfaat ( KPM ) di Kota Panyabungan rela antri berjam jam demi jatah beras premium di Kantor Pos Panyabungan Selasa 26/9/2023. Setiap KPM akan dapat jatah 10 kg beras jenis premium dari Pemerintah yang disalurkan lewat Kantor Pos. Ada 5 Kecamatan warga KPM yang akan dilayani Kantor Pos […]

  • Sidang Adat Raja-Raja Mandailing Berlangsung Sukses

    Sidang Adat Raja-Raja Mandailing Berlangsung Sukses

    • calendar_month Senin, 21 Feb 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Sidang Adat oleh Raja-Raja Panusunan dari Mandailing Godang dan Mandailing Julu berlangsung hari Senin (21/2/2022). Lokasi sidang bertempat di komplek SMA Negeri Tambangan, Mandailing Natal (Madina). Sidang Adat ini menyangkut esensi nilai sastra yang terkandung dalam ansambel Gordang Sambilan. Gordang Sambilan merupakan kesenian etnis Mandailing di Sumatera, Indonesia yang membutuhkan pelestarian dan pelindungan. Oleh […]

  • Operasional Penggorengan Aspal Dihentikan Sementara

    Operasional Penggorengan Aspal Dihentikan Sementara

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Penggorengan aspal milik Dinas Bina Marga Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di Kelurahan Kayu Jati, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), diprotes warga setempat, Jumat (06/05/2011). Camat Panyabungan Kota Sahnan Batubara MM akhirnya mengambil kebijakan menghentikan sementara operasional penggorengan aspal. (Ist)

expand_less