Sabtu, 11 Apr 2026
light_mode

Panyabungan Ibu Kota Kabupaten (3-habis)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 16 Okt 2015
  • print Cetak

 

Terbuka dan Egaliter

Oleh: Basyral Hamidi Harahap
Sejarahwan Mandailing

Land Hunter

Istilah land hunter, pemburu tanah, yang ditulis oleh DR. Michel Van Langenberg dalam North Sumatra Under the Dutch Colonial Rule: Asfects of Structural Change yang dimuat dalam Review of Indonesian and Malaysian Affairs, vol.II no.1-2, 1997, dikutip oleh Prof. Dr. Usman Pelly dalam disertasinya, menunjukkan bahwa orang Mandailing terjun sebagai Land Hunter, pemburu tanah, ketika Kecamatan Deli Serdang dimasukkan ke dalam Kota Medan. (Pelly, 1994:100).

Perilaku sebagai land hunter itu juga terjadi di Panyabungan ketika sudah ada kabar bahwa Panyabungan akan menjadi Ibukota Mandailing Natal. Maka harga tanah pun meningkat lebih-lebih di wilayah Dalan Lidang yang hampir menyamai harga tanah di Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa naluri bisnis membenarkan Panyabungan sebagai kota yang akan maju pesat.

Keadaan ini merupakan hambatan tersendiri dalam perkembangan kota Panyabungan pada masa yang akan datang. Penulis yakin bahwa kebijakan membangun komplek perkantoran Kabupaten Mandailing Natal di Paya Loting di luar Dalan Lidang adalah merupakan reaksi terhadap land hunter itu.

Kehidupan Politik

Kehidupan politik masyarakat Mandailing Godang yang berpusat di Panyabungan sejak dahulu menunjukkan sikap egalitarian. Hal itu dibuktikan oleh beberapa hasil pemilu, misalnya pemilu 1997 menunjukkan perolehan suara Golkar sebagai kontestan pemilu terkuat dan berkuasa, hanya berhasil meraih 51% suara, sedangkan di Kotanopan Golkar meraih 71% suara. Hal itu merupakan indikator sikap kedemokratisan lebih kuat di Panyabungan ketimbang di Kotanopan.

Kecendrungan serupa itu pada pemilu 1977 pernah penulis diskusikan dengan Adam Malik pada November 1981 dalam rangka penulis menyiapkan makalah The Political Trends of Suoth Tapanuli and its Reflektion in the General Elections (1995,1971,and 1977) yang akan penulis bacakan pada International Interdisciplinary Symposium on Cultures and Societes of North Sumatera di Universitas Hamburg, Jerman bulan November 1981.

Perolehan suara Golkar di Mandailing Godang itu penulis pertanyakan kepada Adam Malik, karena pada pemilu 1977 Golkar boleh dikatakan kalah di daerah itu. Padahal Adam Malik sendiri selaku tokoh puncak Golkar sudah berkampanye di Mandailing pada tahun 1977 itu. Adam Malik menjawab:

‘’Itu adalah bukti tingginya kesadaran politik pada masyarakat Mandailing. Mereka semakin demokratis. Mereka memilih kontestan yang dikehendakinya secara sadar dan bebas.”

Jika analisis Adam Malik itu dikaitkan dengan perolehan suara Golkar 51% di Panyabungan dan 71% di Kotanopan, maka kesimpulannya ialah: masyarakat Panyabungan lebih egaliter, lebih mudah menerima perubahan, lebih bebas, lebih terbuka, dan lebih demokratis.

Sehingga Panyabungan khususnya, Mandailing Godang pada umumnya, merupakan daerah yang subur bagi semua kontestan pemilu. Prilaku politik seperti ini sangat dibutuhkan dalam pembangunan politik pada era reformasi sekarang ini.

Urbanisasi dan Industrialisasi

Perpindahan penduduk desa ke Panyabungan sebagai ibukota pemerintahan kabupaten secara berduyun-duyun tidaklah mengkhawatirkan. Pasalnya, kecendrungan global yang mengarah pada pertumbuhan kota-kota secara simultan membawa pertumbuhan desa-desa di sekitar kota menjadi satelit kota.

Penulis menyaksikan hal seperti itu di Jepang. Dimana hasil pertanian di desa-desa satelit kota dijual di kota dengan harga yang tinggi. Sehingga petani sayur-mayur dan buah-buahan memperoleh penghasilan yang besar.

Dapat diperkirakan, bahwa urbanisasi ke Panyabungan akan tertahan oleh kemudahan transportasi yang menghubungkan kota dan pedesaan. Sehingga orang yang bekerja di kota Panyabungan lebih tertarik tinggal di desa-desa sekitar, karena memiliki banyak keuntungan.

Sejumlah keuntungn tinggal di desa ialah: biaya hidup lebih murah, rumah tidak perlu di sewa, masih dapat melakukan aktivitas keseharian sebagai petani, waktu tempuh desa ke kota relatif pendek, dan lain-lain.

Hal itu dipermudah lagi oleh sarana telekomunikasi melalui wartel. Keadaan itu dapat dinikmati para pedagang, pegawai negri dan swasta, pelajar dan mahasiswa. Tidak terkecuali para petani sayur-mayur yang tinggal di perdesaan memperoleh kesempatan menjual hasil pertaniannya di pasar Panyabungan seperti yang setiap hari disaksikan di sekitar mesjid raya Al Qurro Wal Huffazh.

Petani menjual sendiri hasil pertaniannya di pasar itu, usai berjualan mereka kembali ke desanya. Sehingga Panyabungan tidak akan penuh sesak. Lagipula sedang terjadi proses perubahan sifat dan suasana desa ke suasana kota. Panyabungan masih dipandang bagai kampung sendiri.

Industrialisasi di Panyabungan sekitarnya memerlukan studi kelayakan yang mendalam yang bukan hanya menyangkut modal, tanah dan tenaga kerja, tetapi juga kajian mendalam harus dilakukan tentang kesiapan mental tenaga kerja untuk bekerja menurut aturan-aturan yang ketat. Tata ruang kota Panyabungan harus mengantisipasi pertumbuhan industri tanpa mengorbankan tanah-tanah pertanian produktif.

Kanal Ala Amsterdam

Menarik sekali gagasan Bupati Amru Daulay, S.H. dalam obrolan dengan DR. Adnan Buyung Nasution dan penulis pada saat jeda sarasehan silaturrahmi tanggal 21 Februari 2004 di Jakarta. Bupati Amru Daulay S.H. menyampaikan gagasannya menata kota Panyabungan menjadi kota medern antara lain meniru kota Amsterdam yang memiliki banyak Kanal.

Keberadaan sungai Batang Gadis menjadi inspirasi untuk membangun kanal-kanal mengitari kota dan memanfaatkannya sebagai sarana pariwisata dan olah raga air. Gagasan yang futuristis ini bukanlah sesuatu yang mustahil.

Sikap dan prilaku masyarakat di desa ini yang terbuka pada perubahan, suka menerima pendatang yang mampu berdaptasi sebagai warga sejati, merupakan modal pembangunan masa depan kota ini. Kehadiran para pendatang sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan masyarakat modern, sehingga sifat-sifat negatif seperti gutgut dengan sendirinya akan dikikis oleh perikehidupan serba objektif yang saling memiliki ketergantungan. (dikutip dari buku “Madina Madani”)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • BNN Amankan Isteri Oknum TNI Edarkan Narkoba

    BNN Amankan Isteri Oknum TNI Edarkan Narkoba

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Medan – Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Utara mengamankan DD, isteri oknum Tentara Nasional Indonesia yang menjadi pengedar narkoba yang berpusat di kawasan Medan Marelan. Usai rapat dengar pendapat dengan DPRD Sumut di Medan, Senin, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumut Kombes Pol Rudi Tranggono mengatakan, tersangka diamankan pada Kamis (14/11) di rumahnya di Komplek […]

  • Wilayah Pantai Barat Memprihatinkan

    Wilayah Pantai Barat Memprihatinkan

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Jalan Rusak Seperti Kubangan Kerbau Warga Pantai Barat, Madina khususnya di Kecamatan Batahan dan Sinunuk berharap kepada pemerintah agar melaksanakan perbaikan jalan. Selama ini, jalan yang ada di daerah mereka memprihatinkan, berlubang-lubang di sana sini. Jalan penghubung kedua daerah sepanjang kurang lebih 18 kilometer telah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki, padahal kondisi badan jalan ibarat kubangan […]

  • Aneh! Direktur RSUD Panyabungan Mengaku Tak Tau Jumlah Pegawainyan yang Lolos PPPK Formasi 2023

    Aneh! Direktur RSUD Panyabungan Mengaku Tak Tau Jumlah Pegawainyan yang Lolos PPPK Formasi 2023

    • calendar_month Rabu, 17 Jan 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )-Aneh, Direktur RSUD Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) dr. Rusly Pulungan tidak tau berapa jumlah tenaga honor di RSUD yang lulus seleksi penerimaan Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja ( PPPK ) formasi Tahun 2023 lalu. ” sampai saat ini belum ada yang melapor siapa yang lulus dan tidak perihal […]

  • Gordang Sambilan Budaya Mandailing

    Gordang Sambilan Budaya Mandailing

    • calendar_month Rabu, 18 Sep 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masyarakat Mandailing terkenal dengan masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadikan berbeda dari suku–suku yang ada di Sumatera Utara. Salah satu kesenian khas suku Mandailing adalah Gordang Sambilan. Gordang artinya gendang atau bedug, sedangkan sambilan artinya sembilan. Jadi Gordang Sambilan merupakan gendang atau bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang […]

  • Trans Medan segera beroperasi

    Trans Medan segera beroperasi

    • calendar_month Kamis, 19 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan akan segera mengoperasikan sistem angkutan umum massal (Trans Medan) sebagai salah satu upaya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Selain itu akan diikuti dengan evaluasi terhadap pengaturan arah lalu lintas serta beberapa kebijakan lainnya. Demikian disampaikan Kadishub Medan Renward Parapat, di Balai Kota Medan, hari ini. “Semua ini […]

  • Pemkab Madina Lirik Aek Nalan Untuk Kebutuhan Air Bersih

    Pemkab Madina Lirik Aek Nalan Untuk Kebutuhan Air Bersih

    • calendar_month Selasa, 23 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anak sungai Aek Nalan yang mengalir di pegunungan kawasan Kecamatan Panyabungan Selatan untuk diproyeksikan mampu untuk kebutuhan air bersih di kota Panyabungan. Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution pun mengajak Satker APBN dan Dinas Tarukim Sumut, Kamis 18/10) lalu, meninjau langsung anak sungai tersebut untuk mendapat dukungan bagi pengelolaan […]

expand_less