Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (3-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
  • print Cetak
grup Gordang Sambilan dari Pidoli Dolok pada festival Gordang Sambilan di Panyabungan tahun 2012 (fotografer: Dahlan Batubara)

grup Gordang Sambilan dari Pidoli Dolok pada festival Gordang Sambilan di Panyabungan tahun 2012 (fotografer: Dahlan Batubara)

Oleh : Z. Pangaduan Lubis (in memoriam)

Peninggalan Masa Lalu dan Pelestariannya

Di Mandailing cukup banyak terdapat peninggalan masa lalu, namun terlihat kurang diperhatikan dan dirawat. Di kawasan Mandailing Godang, sekitar kota kecil bernama Panyabungan, terdapat peninggalan dari zaman pra-sejarah berupa menhir dan lumpang batu.

Peninggalan dari zaman Hindu-Buddha juga banyak terdapat di kawasan tersebut, seperti runtuhan candi Siwa di desa Simangambat dan batu linga di satu tempat yang bernama Padang Mardia di dekat kota kecil Panyabungan. Menurut Schnitger (1973:14) runtuhan candi Siwa tersebut berasal dari abad ke-8 atau ke-9. Di Desa Siabu juga terdapat runtuhan candi. Di tempat yang bernama Padang Mardia itu juga terdapat batu-batu besar berbentuk bundar menggambarkan bunga teratai. Mungkin batu tersebut merupakan sisa runtuhan bangunan candi zaman Buddha.

Di sekitar satu desa bernama Pidoli, terdapat tempat yang bernama Saba Biara (Sawah Biara). Di tempat tersebut, dalam keadaan tertanam beberapa meter dalam tanah terdapat banyak batu bata yang tersusun rapi. Karena tempat itu bernama Saba Biara; besar kemungkinan pada masa yang lalu di situ terdapat bangunan-bangunan biara Hindu. Di satu gunung yang bernama Sorik Marapi terdapat pilar batu yang pada permukaannya terukir tulisan dan catatan tahun 1294 Caka.

Peninggalan dari masa kolonial Belanda juga masih terdapat di beberapa tempat di Mandailing, yaitu berupa gedung-gedung sekolah yang dibangun kurang lebih satu abad yang lalu. Bangun-bangunan perkantoran Belanda yang dahulu terdapat di beberapa tempat di Mandailing pada umumnya sudah diruntuhkan dan diganti dengan bangunan baru.

Masa kolonial di Mandailing yang berlangsung kurang lebih satu abad telah membawa pengaruh arsitektur Eropa ke dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Di kota kecil yang bernama Kotanopan sampai sekarang masih banyak terdapat bangunan rumah penduduk yang bergaya arsitektur Eropa. Demikian juga halnya dengan bangunan hotel kecil dan pasanggerahan dari masa kolonial yang masih terdapat di kota kecil tersebut.

Pada masa kolonial Belanda, Kotanopan merupakan tempat kedudukan controleur Belanda dan merupakan pusat pendidikan di kawasan Mandailing Julu. Dan di tempat itulah pasukan militer Belanda membangun benteng pertahanan pertama kali ketika mereka mulai menduduki Mandailing pada awal 1830-an. Tapi bangunan benteng Belanda itu sudah lama diruntuhkan dan tak ada sisinya lagi.

Sampai 1960-an di Kotanopan masih berdiri bangunan besar yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk tempat tinggal controleur Belanda. Bangunan tersebut dikenal dengan nama Godung. Tapi kemudian bangunan kolonial itu diruntuhkan dan diganti dengan bangunan kantor camat. Di sebelahnya sampai sekarang masih berdiri bangunan gedung sekolah rakyat zaman kolonial dan masih tetap digunakan sebagai sekolah sampai sekarang.

Di sepanjang tepi jalan yang melintasi Kotanopan sampai sekarang masih terdapat banyak rumah penduduk yang dibangun dengan gaya arsitektur Eropa. Rumah-rumah tersebut pada umumnya kepunyaan orang-orang kaya dan terpelajar di masa kolonial. Dan sekarang ditempati oleh keturunan mereka. Adanya bangun-bangunan rumah yang bergaya Eropa itu menunjukkan bahwa gologan elit di Mandailing pada masa kolonial terbuka menerima pengaruh Belanda.

Masih banyaknya terdapat bangun-bangunan dengan gaya arsitektur Eropan (Belanda) di Kotanopan, membuat kota kecil tersebut sebagai satu-satunya tempat di Mandailing yang paling kaya dengan bangun-bangunan peninggalan masa kolonial. Dan keadaannya yang demikian itu diperkaya pula dengan peninggalan budaya tradisional Mandailing yang masih cukup banyak terdapat di berbagai desa yang terletak relatif tidak jauh dari Kotanopan. Peninggalan budaya tradisional Mandailing tersebut berupa bangun-bangunan rumah tradisional yang terbuat dari papan dan beratap ijuk yang sepenuhnya dibangun berdasarkan teknik arsitektur tradisional Mandailing. Dan rumah-rumah tersebut yang terdapat di beberapa desa tersebut masih ditempati oleh penduduk.

Selain itu di beberapa tempat yang merupakan kerajaan kecil di masa lalu dan terletak tidak begitu jauh dari Kotanopan masih terdapat bangunan bagas godang dan sopo godang yang telah banyak dibicarakan pada bagian yang terdahulu.

Untuk menjaga dan memelihara agar berbagai peninggalan budaya tersebut tidak punah dimakan waktu dan gelombang perubahan yang terus terjadi secara cepat, sangat diperlukan usaha-usaha untuk melestarikannya. Tetapi sayangnya, sejauh yang saya ketahui, selama ini hampir tidak ada usaha yang dilakukan oleh pihak mana pun untuk melestarikan peninggalan budaya tersebut, meski pun keadaannya sudah sangat terancam oleh usianya yang sudah tua.

Di samping tidak adanya usaha untuk melestarikan peninggalan budaya Mandailing tersebut, usaha untuk memanfaatkannya buat pengembangan pariwisata (tourism) di Mandailing juga tidak berkembang. Sampai saat ini baru siap satu biro perjalan (travel bureau) dari Medan yang sudah mencoba memanfaatkan peninggalan budaya di Mandailing untuk bisnis parawisata. Usaha itu dilakukannya dengan menbangun restoran dan penginapan kecil di satu tmpat yang terletak berdekatan dengan Desa Usor Tolang yang memunyai banyak rumah traditional Mandailing. Desa tersebut terletak hanya beberapa kilo meter saja dari Kotanopan yang telah disebutkan tadi.

Kalau kadang-kadang saya berbicara dengan orang lain mengenai peninggalan atau warisan budaya Mandailing yang kini terancam oleh kepunahan, orang lain kawan saya bicara sering sekali bertanya dengan rasa heran, mengapa hal itu bisa terjadi sedangkan orang Mandailing banyak yang kaya dan berpendidikan tinggi. Tentu saja sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan yang demikian itu. Tapi akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa kendala yang terutama menghambat usaha pelestarian warisan budaya Mandailing bukan ketiadaan dana (uang), tapi kurangnya kesadaran bahwa peninggalan warisan budaya Mandailing mempunyai nilai yang tinggi, namun demikian masih saja diabaikan.

Usaha untuk melestarikan warisan budaya Mandailing yang peninggalannya masih cukup banyak terdapat di Mandailing Julu masih belum berkembang. Tapi belakangan ini, di satu kawasan yang bernama Ulu Pungkut, tidak jauh dari Kotanopan, beberapa tokoh yang berasal dari tempat tersebut sudah mendirikan bangunan bagas godang dan sopo godang yang baru di desa asal mereka masing-masing. Saya tidak tahu dan tidak dapat memastikan apakah hal itu satu pertanda bahwa kesadaran untuk melestarikan warisan budaya etnisnya sudah mulai tumbuh di kalangan masyarkat Mandailing.

Kepustakaan : Said, H. Mohammad. tanpa tarikh. Soetan Koemala Boelan. Flora: tanpa penerbit.

Schnitger, F.M. 1937. The Archealogy of Hindoo Sumatra. Leiden: E.J. Bril.

Sumber: http://www.mandailing.org

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nelayan Madina Tidak Melaut Akibat Cuaca Badai

    Nelayan Madina Tidak Melaut Akibat Cuaca Badai

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Sudah lebih dari sepekan para nelayan di wilayah Pantai Barat Mandailing Natal (Madina) tidak melaut akibat cuaca buruk dan musim badai. “Sehingga banyak nelayan yang menggangur,” ungkap Hasmar, seorang nelayan di Kecamatan Muara Batang Gadis kepada waratawan, Minggu lalu (13/10/2013). Hasmar mengatakan, akibat situasi cuaca badai atau angin barat, […]

  • Kapolri Stop Kasus Rekening Gendut

    Kapolri Stop Kasus Rekening Gendut

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Desakan publik agar rekening tak wajar pejabat kepolisian dituntaskan penyidikannya ternyata tak terwujud. Sebaliknya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo menegaskan bahwa permasalahan itu sudah klir saat kepemimpinan Kapolri sebelumnya, yakni BHD. “Semua sudah dijelaskan oleh Pak Bambang, jadi tidak ada masalah lagi,” kata Kapolri menjawab pertanyaan wartawan dalam acara evaluasi kinerja Polri 2010 di Mabes […]

  • Kenapa DPRD Madina Enggan Membahas 11 Ranperda

    Kenapa DPRD Madina Enggan Membahas 11 Ranperda

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejak tanggal 27 Juni 2013 lalu, 11 Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) menyangkut kepentingan pembangunan dan hajat hidup rakyat Mandailing Natal (Madina) masih terkatung-katung nasibnya di DPRD Madina. Pasalnya, sampai saat ini Badan Legislasi (Baleg) DPRD Madina masih enggan untuk membahas Ranperda tersebut. “Informasi yang kita himpun digedung DPRD Madina menyebutkan enggannya […]

  • Percepat Pengusutan Kebakaran Pasar Hilir, Kapolres Madina Mendapat Apresiasi

    Percepat Pengusutan Kebakaran Pasar Hilir, Kapolres Madina Mendapat Apresiasi

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim Percepatan Pemeriksaan yang dibentuk Polres Madina dalam mengusut kasus penyebab kebakaran di Pasar Hilir, Panyabungan mendapat apresiasi. Pembentukan tim ini dinilai sebagai keseriusan Kapores Mandailing Natal (Madina), AKPB Rudy Rifani menegakkan supremasi hukum serta azas keadilan bagi para keluarga korban kebakaran. “PDI Perjuangan mengapresiasi langkah kapolres yang telah membentuk Tim […]

  • Gempa guncang Aceh, enam orang meninggal

    Gempa guncang Aceh, enam orang meninggal

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Gempa kuat yang mengguncang Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, menyebabkan paling tidak enam orang meninggal dan sekitar dua ratus orang lainnya luka-luka. Sutopo Purwo Nugroho, humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan laporan sementara menyebutkan korban meninggal di Bener Meriah lima orang, dua hilang dan 70 lainnya luka-luka. Sedangkan di Aceh Tengah, satu orang meninggal […]

  • Satu Unit Rumah Ludes Terbakar Di Tambangan

    Satu Unit Rumah Ludes Terbakar Di Tambangan

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Satu unit rumah semi permanen milik Basri (58) ludes terbakar di desa Angin Barat Lama, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal Madina. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (12/2/2014) sekitar pukul 11.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini, sementara kerugiaan diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Berdasar pengakuan sejumlah warga, penyebab kebakaran berasal […]

expand_less