Senin, 4 Mei 2026
light_mode

Pers di Daerah Tidak Mati, Tapi Banyak yang Bunuh Diri Pelan-Pelan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 4 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution*

 

Selamat Hari Kebebasan Pers. Saya sempat lupa, kemarin (3 Mei 2026) adalah hari kebebasan pers dunia. Banyak orang bicara tentang itu. Salah satunya, budayawan yang punya latar belakang jurnalistik, Askolani Nasution menurunkan artikel pendek: “Pers Kontekstual”.

Dia menggali fakta: “Kalau lembaga pers tidak ada, apakah langit akan runtuh? Ya, kalau itu sebelum era medsos. Sekarang? Siapa peduli. Selama konten berita hanya berorientasi update informasi, semua ada di medsos.”

Lalu, pers di banyak daerah, memperlihatkan kebebasan itu seperti formalitas saja — hidup di spanduk, mati di ruang redaksi.

Mari kita bicara apa adanya:
Di tingkat daerah, relasi antara pers dan kekuasaan bukan lagi sekadar kedekatan — ia sudah berubah jadi ketergantungan struktural.

Skemanya sederhana, semua orang tahu, tapi pura-pura tidak melihat:

APBD mengalir → jadi belanja publikasi → masuk ke kantong media → lalu kembali dalam bentuk pemberitaan yang “aman”.

Tidak perlu rapat gelap.
Tidak perlu konspirasi.
Cukup mekanisme anggaran dan sedikit “pengertian bersama”.

Seperti apa hasilnya?

Berita memang kehilangan daya gigit. Kritik berubah jadi klarifikasi. Investigasi berubah jadi liputan seremoni.

Headline diisi kegiatan pejabat dari pagi sampai sore — seolah-olah fungsi utama pers adalah mendokumentasikan rutinitas kekuasaan.

Dalam eskalasi seperti itu, bermunculan berita: “Bupati membuka….” “Wakil menghadiri….” “Kadis menyampaikan….” Dan lain-lain sejenis.

Dalam sehari, bisa saja tayang puluhan berita. Tapi, tidak satu pun yang benar-benar penting.

Ini bukan karena wartawan tidak mampu. Melainkan karena sistemnya memang tidak mengizinkan mereka untuk terlalu tajam.

Coba bayangkan dilema di ruang redaksi: hari ini menulis kritik keras, besok kontrak iklan dari dinas tertentu dipertimbangkan ulang (putus?).

Kalau hari ini membongkar proyek bermasalah, bulan depan kerja sama publikasi bisa “dievaluasi”.

Dalam situasi seperti ini, yang bekerja bukan lagi kode etik, tapi insting bertahan hidup.

Akhirnya, sensor tidak datang dari negara (Pemda). Pembatasan justru mencuat dari dalam diri redaksi sendiri. Kontrol internal seperti itu memang lebih halus, lebih rapi.

Tapi, sesungguhnya jauh lebih berbahaya.
Karena ketika pers mulai menyensor dirinya sendiri, para jurnalis tidak lagi perlu ditegur atau dibungkam.

Pers di daerah sudah jinak?

Lebih ironis lagi, praktik seperti ini sering dibungkus dengan istilah “kemitraan”. Seolah-olah pers dan pemerintah adalah dua pihak setara yang bekerja untuk kepentingan publik.

Padahal, faktanya?
Yang satu membayar, yang lain menyesuaikan. MoU?

Dan, bagaimana dengan publik, pemilik sesungguhnya dari pers itu?

Ditinggalkan di tengah informasi yang steril dari konflik dan miskin makna.

Betul sindiran seperti yang dilontarkan Askolani Nasution itu, tidak heran kalau masyarakat beralih ke media sosial. Bukan karena di sana lebih benar, tapi karena di sana masih ada keberanian untuk bicara.

Di sisi lain, media di daerah sibuk mengejar kuantitas: puluhan berita per hari, ringan, cepat, dangkal.

Klik naik, tapi martabat turun.

Jurnalisme berubah jadi industri konten. Dan konten terbaik bukan lagi yang paling penting — tapi yang paling aman dan paling laku.

Pertanyaannya sekarang: Masih adakah ruang untuk jurnalisme yang benar-benar independen di daerah?

Ada. Tapi sempit. Dan tidak nyaman.
Biasanya datang dari mereka yang tidak terlalu terikat, seperti: jurnalis freelance, media kecil atau individu yang masih cukup nekat untuk bertanya lebih jauh.
Risikonya jelas: akses bisa tertutup, relasi bisa renggang, bahkan bisa dianggap “tidak kooperatif”.

Tapi tanpa itu, pers hanya akan jadi perpanjangan tangan kekuasaan dengan wajah yang lebih rapi.

Kalau pola APBD–iklan–pemberitaan ini terus dibiarkan, maka kita tidak sedang merawat demokrasi lokal.

Kita sedang memelihara ilusi keterbukaan.
Dan dalam ilusi itu, semua tampak baik-baik saja — sampai suatu hari publik benar-benar berhenti percaya.

Saat itu tiba, yang runtuh bukan hanya media.

Yang runtuh adalah satu-satunya jembatan antara rakyat dan kebenaran.

Di sana, jantung pers memang masih berdetak. Tetapi, keadaan itu tampak seperti bunuh diri pelan-pelan.

Muhammad Ludfan Nasution adalah Jurnalis Freelance. Alumni Fakultas Komunikasi – Jurnalistik IISIP Jakarta.
(Jurnalis Freelance: Seseorang yang up kapasitas jurnalistik (liputan, verifikasi, menulis), tidak terikat kontrak tetap dengan satu media karena itu dapat mengirim karya ke banyak media dalam ranah berita dan opini).

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menyongsong Kehadiran Bandara Mandailing Natal

    Menyongsong Kehadiran Bandara Mandailing Natal

    • calendar_month Selasa, 4 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Zainuddin JR Lubis Praktisi Komunikasi Publik/Pemerhati Kab Madina Pembangunan Bandar Udara Mandailing Natal berlokasi di Kecamatan Bukit Malintang di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sumut akan dapat menarik perhatian terutama kalangan investor yang hendak menanamkan modal di Kabupaten ini. Kehadiran bandara itu sudah lama diidam-idamkan Pemkab Madina demikian dengan masyarakatnya. Apalagi bandara itu nantinya dapat memperpendek […]

  • Kemenag Tidak Terima Lowongan Pelamar Umum

    Kemenag Tidak Terima Lowongan Pelamar Umum

    • calendar_month Senin, 2 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Seluruhnya Diisi Oleh Tenaga Honorer JAKARTA, – Kementerian Agama (Kemenag) memastikan tidak menerima pendaftaran CPNS baru dari pelamar umum. Seluruh kuota CPNS baru yang mereka terima, dipakai untuk menuntaskan pengangkatan tenaga honorer kategori I maupun II. Kepala Pusat Informasi dan Humas (Pinmas) Kemenag Zubaidi mengatakan, dirinya sudah mendapatkan informasi tentang skema tes CPNS Kemenag langsung […]

  • Sejumlah Daerah Laporkan Kelangkaan BBM

    Sejumlah Daerah Laporkan Kelangkaan BBM

    • calendar_month Selasa, 5 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    P. Sidimpuan, Sejumlah daerah di Sumatera Utara menjerit. Soalnya, sepekan terakhir, Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dan premium mengalami kelangkaan di sejumlah Sentra Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Beberapa daerah di antaranya Kota Padangsidimpuan, Kabanjahe, Serdang Bedagai, dan Sidikalang. Di Sidimpuan, setiap menjelang sore ratusan kenderaan roda dua dan empat harus rela antre berjam-jam […]

  • Musda Momentum Kebangkitan

    Musda Momentum Kebangkitan

    • calendar_month Selasa, 28 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Bupati Mandailing Natal (Madina) Aspan Sofian Batubara didamping Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara Syah Afandin membuka secara resmi Musyawarah Daerah (Musda) IV PAN Kabupaten Madina di Hotel Internasional Payaloting, Panyabungan, Ahad (26/12/2010). Ketua Panitia Musda IV DPD PAN Madina Jakfar Siddik saat ditemui, menjelaskan kandidat Ketua DPD PAN Madina Periode 2010-2015 […]

  • Produksi Padi Meningkat di Huraba

    Produksi Padi Meningkat di Huraba

    • calendar_month Jumat, 12 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Upaya petani dan Pemkab Madina memperlancar pengairan air ke sawah-sawah di Desa Huraba, Kecamatan Siabu menuai hasil yang memuaskan. Pada panen yang berlangsung Maret-April ini, penghasilan sawah rata-rata 80 kaleng per lungguk. Kondisi itiu berbeda dengan musim panen sebelumnya, dimana para petani hanya menuai hasil rata-rata sekitar 50 kaleng per lungguk. […]

  • Ramadan dan Covid-19: Meneguhkan Iman dan Imun

    Ramadan dan Covid-19: Meneguhkan Iman dan Imun

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag   “Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.”(QS. Az-Zumar 39: Ayat 67). Ayat di atas menjadikan titik pangkal iman dan sikap […]

expand_less