IKANAS Sumut Antara Panggung dan Manuver 90 Hari
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Hari ini (Ahad, 3 Mei 2016), DPD Ikatan Keluarga Nasution dohot Anakboruna (Ikanas) Sumatera Utara periode 2026-2031 menjalani prosesi pelantikan. Momentum ini kerap dianggap sebagai puncak kerja dan beban terbesar dalam berorganisasi.
Suasana tentu meriah. Heboh. Tamu penting dan undangan kehormatan menempati jejeran sopa di baris terdepan. Yang jauh pun merapat. Membludak. Banyak yang tak kebagian tempat duduk. Hingga aula besar terasa sesak.
Ada panggung yang megah. Susunan acara yang apik. Doa husyuk berkumandang. Tak lupa, hiburan gordang sambilan yang terasa segar penuh spirit pun menambah kesemarakan.
Ada kecenderungan yang berulang:
– kepemimpinan yang dianggap cukup dengan penampilan, termasuk dalam rapat-rapat persiapan dan pemasangan billboard acara untuk publikasi;
– Lampiran atau sambutan disusun rapi dan penuh semangat;
– gestur terlihat amat meyakinkan; dan
– agenda padat dan tingkat kehadiran undangan yang tinggi.
Padahal, di banyak organisasi, justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai: setelah panggung selesai, baru tampak siapa yang terus berjuang dan yang mana yang benar-benar bekerja.
Apakah Ikanas Sumut akan maju melejit ke depan? Stagnan atau mundur?
Riak Panggung Semarak
Masa-masa landai selesai. Masuk jalan yang mulai terjal. Kadang menukik. Habis turunan, tikungan. Apakah sang sopir cukup lihai, masih jadi pertanyaan banyak pihak.
Ibarat pasukan, apakah kepengurusan ini cukup solid untuk bersinergi? Bisa saling mengisi dan menggiring bola layaknya tim sepak bola? Lengkap, kompak dan berdampak?
Lebih dari itu, capaian akhir dari kepengurusan periode sebelumnya, termasuk pe-er yang belum tuntas, juga menjadi satu patokan penting. Tingkat keberhasilan dalam pembentukan DPC di Sumut, misalnya, merupakan titik awal kinerja kepengurusan yang baru.
Akselarasi tim baru ini berhadapan dengan beban untuk tidak hanya melanjutkan progres, tapi juga mestinya mampu melampai prestasi pengurus lama. Tanpa kepemimpinan, beban bawaan ini pasti bikin perjalanan justru melambat, tersendat atau terhenti.
Di depan, visi dan misi membentang. Tantangan program jelas makin berat. Ujian kegiatan makin ketat pekan ke pekan. Bulan ke tahun hingga satu periode.
Maka, Ikanas Sumut harus mengatasi dua beban berat, yaitu: 1) beban lama dan 2) beban baru. Salah-salah identifikasi masalah, bisa berakibat fatal. Bukankah keadaan ini sebenarnya sudah seperti di ujung tanduk?
Ketika riak jadi ombak, yang semarak pun bisa berantakan. Seperti mobil, yang dibutuhkan tak cuma kendali supir. Harus ada hitungan timing, skil.
Namun, sejatinya, penggerakan tidak terjadi karena kesan yang ditampilkan. Air beriak bukan karena kesemarakan yang ada di atasnya. Seperti semua organisasi, Ikanas Sumut hanya menggeliat gesit dengan keputusan yang tepat, tindakan cepat dan kerja kreatif yang konsisten.
Masalahnya, tidak semua pengurus yang sudah siap tampil pun, mampu memahami medan perjuangan nyata yang kompleks seperti itu.
Apalagi jika kepemimpinan yang muncul datang dari pengalaman yang masih tipis dan konsepsi organisasi yang kering.
Ketua Baru, Medan Baru
Ikanas bukan organisasi biasa. Ini adalah organisasi primordial yang senantiasa menampilkan medan baru dan tantangan berat.
Struktur formal, relasi kultural, tata nilai yang tidak selalu tertulis dan budaya organisasi yang tiba-tiba berubah dapat menjadikan jalan perjuangan yang makin terjal.
Ketika pemimpin belum cukup mengenal medan, dia cenderung:
– menyederhanakan persoalan yang kompleks, atau sebaliknya;
– ragu-ragu mengambil keputusan yang sebenarnya perlu segera.
Di posisi ini pun, kesalahan paling halus sering terjadi: bukan pada niat, tetapi pada cara membaca situasi menjawab problematika yang mencuat.
Hatobangan: Penjaga Arah dan Marwah
IKANAS memiliki kekuatan kultural yang tidak dimiliki kebanyakan organisasi, yaitu: unsur hatobangan.
Masalahnya, bukan karena peran ini menghambat. Justru yang sering terjadi adalah sebaliknya: mereka tidak dilibatkan secara utuh dalam menetapkan arah dan menjaga marwah organisasi, namun hanya diingat ketika pengurus harian butuh legitimasi.
Di titik ini, kepemimpinan diuji:
– apakah mampu membangun sinergi yang tulus, atau
– hanya menjadikan dimensi adat sebagai pelengkap seremoni.
Padahal, tanpa hubungan yang sehat dengan hatobangan, debut organisasi mudah goyah — meski terlihat berjalan normal.
Kolektivitas yang Rentan
Kepemimpinan kolektif di level DPD adalah kekuatan yang terhubung langsung dengan perintah DPP di atas dan tuntutan DPC di bawah.
Namun tanpa kejelasan peran, konsistensi dan disiplin pada partitur yang ada: Kolektivitas bisa berubah menjadi kebersamaan tanpa beban dan tanpa tujuan (hampa).
Semua boleh hadir. Semua berbicara. Namun tidak semua pengurus harian mau dan siap bergerak.
DPD dan Ilusi Aktivitas
Ada kalanya organisasi mengalami stagnasi. Rapat berjalan. Agenda tersusun. Dokumentasi tersedia. Bahkan publikasi boleh saja live di medsos.
Namun pertanyaan sederhana tetap relevan: Apa yang berubah dari kinerja dan capaian dalam memenuhi semua tuntutan organisasional?
Jika DPP dan DPC belum merasakan manfaat, maka yang terjadi bukan kemajuan — melainkan ilusi gerak.
Ujian Nyata: 90 Hari yang Menentukan
Organisasi tidak butuh waktu panjang untuk menunjukkan arah dan kinerja.
Mengacu dari kompleksitas pengorganisasian di atas, Ikanas Sumut dapat membuat hitungan 90 hari.
Maka, di 30 hari pertama, Ikanas Sumut sudah: 1) membaca, mempola dan merapikan; 2) melakukan validasi pengurus DPD dan anggota di seluruh DPC; 3) aktivasi kanal komunikasi yang hidup; dan 4) konsolidasi awal dengan hatobangan (arah & nilai perjuangan).
Selanjutnya, di 30 hari kedua, kekuatan nyata mulai terlihat. Organisasi mulai bekerja, setidaknya, untuk:
1) Memainkan program ekonomi sederhana berbasis anggota; 2) menjalankan program pendidikan (mentoring/beasiswa mikro); dan 3) Aktivasi nyata DPC dan divisi (Wanita IKANAS & Naposo Nauli Bulung Ikanas).
Manfaat organisasi mulai terasa.
Lalu, pada 30 hari ketiga, Ikanas Sumut semestinya sudah dapat membuktikan bahwa: 1) Mayoritas DPC memiliki program yang berjalan; 2) Laporan berbasis dampak, bukan kegiatan; dan 3) Pola kerja yang bisa direplikasi
Ikanas Sumut mulai menampakkan wajah kerja yang energik.
Manuver Elegan: Ukuran Kepemimpinan
Semua fakta dan gejala tidak membutuhkan gebrakan keras. Yang dibutuhkan adalah manuver elegan:
– Bergerak cepat tanpa gaduh;
– Melibatkan tanpa kehilangan arah,
– Menghormati tanpa kehilangan ketegasan.
Dan, di sinilah peran ketua menjadi penentu: bukan sebagai pusat perhatian, tetapi sebagai “penjaga ritme dan arah”.
Kembali ke Amanah
Pada akhirnya, DPD IKANAS Sumut tidak berdiri sendiri. Memikul amanah dari:
– DPP sebagai arah organisasi, dan
– keluarga besar IKANAS sebagai sumber legitimasi.
Amanah ini tidak meminta penampilan. Tapi menuntut kerja nyata. Terasa.
Penutup: Setelah Panggung Sepi
Ketika pelantikan usai, yang tersisa bukan tepuk tangan — melainkan tanggung jawab. IKANAS tidak membutuhkan pemimpin yang terlihat bergerak. IKANAS butuh pemimpin yang benar-benar menggerakkan.
Jika tidak, organisasi ini akan tetap besar di nama, namun perlahan kehilangan makna, peran dan legitimasi.
Selamat dan bersiaplah, Ketua dan segenap pengurus DPD Ikanas Sumut 2026-2031.***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

