Minggu, 30 Agu 2026
light_mode

KEK, realistis dan ilutif

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 19 Nov 2020
  • print Cetak

 

Peta sebaran KEK yang diupdate Dewan Nasional KEK RI tanggal 17 Februari 2020

Siapapun pasti ingin ada KEK di wilayahnya.

Daerah manapun pasti ingin ada KEK di daerahnya.

Kapitalis macammanapun pasti ingin ada KEK di basis usahanya.

Rakyat manapun pasti setuju ada KEK di kabupaten mereka.

Harapan itu wajar. Keingingan itu alamiah.

Karena KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) akan menguntungkan dari sisi pengembangan ekonomi.

Tetapi, berkhayal dan berilusi justru tidak sehat. Apalagi menghayalkan yang sulit terwujud.

Bahayanya justru ketika kepala daerah berilusi. Lalu memaksa rakyat ikut berilusi.

Ketika pemaksaan itu terjadi, maka bukan saja si bupati yang tidak realistis, rakyat yang termakan ilusi pun akan terjebak pada emosi ilutif.

Lalu, ketika ada pihak yang memiliki rasionalitas dan berpandangan realistis maka akan dituduh tidak  mendukung KEK, tidak mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di sini, akan terjadi bentrok dua kubu : kubu ilutif versus kubu rasional.

Sesungguhnya, yang menetapkan layak tidaknya KEK di suatu kawasan itu adalah Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia. Dewan ini berada di bawah komando Menko Perekonomian.

Daerah dibolehkan mengusulkan daerahnya untuk dijadikan KEK. Tetapi Dewan KEK lah yang menentukan “ya” atau “tidak” KEK di daerah itu.

Bagaimana Dewan Nasional KEK menentukan “ya” atau “tidak” itu?

Setidaknya ada dua unsur yang memberi masukan kepada Dewan Nasional KEK.

Pertama, unsur akademisi. Unsur ini adalah lembaga kajian yang di dalamnya diisi banyak ahli yang melakukan rangkaian penelitian, kajian, survey dan study kelayakan terhadap kawasan-kawasan di Indonesia tentang layak tidaknya dijadikan KEK.

Kedua, unsur bisnis. Unsur ini adalah kalangan pelaku usaha atau investor-investor. Kalangan inilah kelak yang akan menjalankan aktivitas industri dan aktivitas perdagangan di kawasan KEK. Karena esensi utama KEK adalah fasilitas yang disediakan kepada para pelaku usaha.

Artinya, Pemerintah Indonesia tidak akan mendirikan KEK di suatu kawasan jika investor tak mau berinvestasi di KEK itu.

Oleh karena itu, KEK tak bisa ditetapkan semudah membalik goreng pisang.

KEK tak semudah mengolah tipu-tipu administrasi. Karena KEK berhubungan dengan kalangan pelaku dunia usaha. Bisnis itu matematis.

Pelaku bisnis melihat kelayakan KEK itu dari sudut hitung matematis dan memutuskan secara realistis.

Dan Dewan KEK juga wajib melihat KEK dari sudut hitung matematis dan memutuskan secara realistis.

Dan, dari sisi letak geografis tentunya pemerintah Indonesia telah mengkaji jalur perdagangan secara realistis pula.

Sudut pandang realistis pemerintah itu adalah jalur pelayaran Selat Malaka yang berada di Pantai Timur Sumatera.

Di situs resmi kek.go.id  pada sub item Letak Geografis disebutkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki koneksi langsung dengan pasar terbesar dunia dengan Selat Malaka sebagai jalur laut paling aktif di dunia dan menjadi rute utama pelayaran global.

Apakah Batahan di Mandailing Natal (Madina) yang berada di pantai barat layak dijadikan KEK? Tentu Dewan Nasional KEK yang akan menjawabnya.

Saya pernah membayangkan siapapun bupati Madina hasil Pilkada 2020 bisa menyampaikan hal-hal yang realistis itu kepada rakyat. Agar rakyat di Pantai Barat Madina bisa menerima wacana KEK itu secara realistis pula.

NELAYAN

Saya juga membayangkan seandainya Pemkab Madina tidak menutup mata terhadap realita nelayan di Pantai Barat.

Bahwa daratan Pantai Barat itu sudah dikuasai para kapitalis yang memperoleh konsesi lahan untuk perkebunan sawit.

Rakyat asli Pantai Barat sudah bagaikan penonton di tanah sendiri.

Untunglah laut pantai barat tak masuk dalam kekuasaan para kapitalis. Sehingga nelayan masih bebas di wilayah sendiri.

Tetapi, kapal dan fasilitas tangkap ikan masih sederhana. Pun tak didukung fasilitas lainnya seperti pabrik es balok, TPI dan lainnya.

Nelayan di Pantai Barat seolah dibiarkan sendirian karena minim langkah penguatan.

Kondisi itu menyebabkan rakyat nelayan sulit menuju sejahtera. Padahal peluang itu ada sebagaimana nelayan Australia yang hidup makmur.

Seandainya pemimpin daerah memiliki kemampuan dan kemauan yang keras menguatkan nelayan, niscaya rakyat nelayan bisa makmur.

Asalkan ada political will dari pemimpim daerah maka mensejahterakan nelayan itu adalah program realistis yang mudah terrealisasi dalam beberapa tahun anggaran.

Karena penguatan nelayan itu lebih mudah ketimbang menunggu KEK.

Untuk posisi ini, saya melihat Atika Azmi Utammi Nasution,B.AppFin,MFin sangat realistis melihat perioritas pengembangan ekonomi rakyat di Pantai Barat. (Dahlan Batubara)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abu Tholut Ditangkap dengan Senjata FN di Rumah Istrinya

    Abu Tholut Ditangkap dengan Senjata FN di Rumah Istrinya

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Abu Tholut alias Mustofa ditangkap Densus 88 Antiteror Polri sekitar pukul 08.00 WIB. “Ditangkap di kamar di rumah,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Djihartono saat dihubungi, Jumat (10/12/2010). Abu Tholut, lanjut Djihartono, ditangkap tanpa perlawanan sekitar pukul 08.30 WIB. Dia ditangkap setelah Densus 88 memburu dan mengintainya sejak lama. Abu […]

  • Kades Hutatinggi Akui Kasih Fee ke Oknum Untuk Memuluskan Pencairan Dana Pembangunan MCK Masjid Nurul Iman

    Kades Hutatinggi Akui Kasih Fee ke Oknum Untuk Memuluskan Pencairan Dana Pembangunan MCK Masjid Nurul Iman

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): terkait pembangunan mandi cuci kakus ( MCK ) masjid Nurul Iman di Desa Hutatinggi, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Madina. Kepala Desa Muhammad Taufik, mengungkapkan pengakuan mengejutkan. Ia mengaku dana bantuan pembangunan MCK itu tidak sepenuhnya digunakan untuk pembangunan MCK. ” untuk memuluskan pencairan dana pembangunan MCK Masjid senilai Rp.400.000.000 itu, […]

  • Bupati: Pelaksanaan CPNS Fair

    Bupati: Pelaksanaan CPNS Fair

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bupati Tapanuli Selatan, H Syahrul M Pasaribu berharap pengumuman kelulusan ujian CPNS Daerah Kabupaten Tapsel Tahun 2010 bisa diterima oleh semua pihak. “Ini kita laksanakan secara fair, berdasarkan kemampuan. Karena sebelumnya sudah saya tegaskan, kalau ada yang meminta tolong termasuk saya jangan diladeni,” ujar Bupati Syahrul sebelum hasil ujian CPNS dibuka bersama-sama disaksikan Ketua DPRD […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 7)

    MARSIDAO-DAO (episode 7)

    • calendar_month Selasa, 1 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Novel Mandailing Naisuratkon : Dahlan Batubara Apea na tingon Mandailing pe inda sarupo dohot apea na tingon Siantar. Harana apea na tingon Mandailing antong apea seling do bahatan, ngada sadia bahat apea kulasi, pala na tingon Siantar apea kulasi bahatan. Hum deges do gota ni apea seling umpado gota ni kulasi, harana gota ni […]

  • Sarmadi Hasibuan Jadi Kades Ingin Desa Aek Nabara Bangkit Dari Ketertinggalan

    Sarmadi Hasibuan Jadi Kades Ingin Desa Aek Nabara Bangkit Dari Ketertinggalan

    • calendar_month Kamis, 24 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Berawal dari rasa iba melihat kampung halamnnya Desa Aek Nabara, Kecamatan Panyabungan Timur, Mandailing Natal ( Madina ) tertinggal dari desa lain yang ada disekitarnya, Sarmadi Hasibun nekat mencalonkan diri menjadi Kepala Desa. Alhasil pada 21/8/2023 kemaren, Sarmadi Hasibuan berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Desa Aek Nabara. Pada Mandailing Online Kamis […]

  • Wabup Atika Ikuti Rakor Penurunan Stunting

    Wabup Atika Ikuti Rakor Penurunan Stunting

    • calendar_month Rabu, 7 Des 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution menghadiri Rapat Koordinasi dan Evaluasi Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Rapat yang dihadiri para wakil bupati dan wakil wali kota dari 33 kabupaten/kota di Sumut ini berlangsung di Medan, Selasa (6/12). Rapat ini kembali membahas upaya pencapaian target penurunan […]

expand_less