Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Cedera Berat Pilkada Mandailing Natal

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
  • print Cetak


Oleh : Ali Sati Nasution

SUATU peristiwa menyedihkan yang tidak dinyana itu telah datang. Keputusan pihak paling berwenang dari pusat telah dimaklumatkan.

Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan pemungutan suara ulang di seluruh Mandailing Natal. Terkait masalah Pilkada Juni 2010 lalu.

“Telah terjadi pelanggaran terstuktur, sistematis dan massif yang terjadi di hampir seluruh Kabupaten Mandailing Natal,” kata Ketua Hakim Pleno Mahfud MD didampingi delapan hakim MK lainnya di Jakarta Selasa 6 Juli 2010.

Menurut hakim MK, dengan terjadinya pelanggaran tersebut, harus dilakukan pembatalan hasil penghitungan suara dan melakukan pemungutan suara ulang untuk memenuhi rasa keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatannya.

Dalam persidangan, MK mengabulkan dalil pemohon tentang adanya tim relawan yang tidak lazim dan tim kampanye pasangan calon terpilih tidak sah yang terungkap di persidangan dan tidak dibantah termohon (KPU) Mandailing Natal.

“Menurut mahkamah, dalil tersebut beralasan dan sangat terkait dengan praktik politik uang,” kata hakim MK. Politik uang ini dilakukan pasangan terpilih dengan modus membagikan Surat Keputusan relawan senilai Rp. 20 ribu, Rp.30 ribu dan Rp.100 ribu kepada masyarakat selama proses Pilkada Mandailing Natal.

Demi memenuhi ambisi menjadi raja kecil di daerah, di sekitarnya menyertai pemilik uang yang menghembuskan “ratusan milyar rupiah sudah disiapkan untuk kemenangan calon terpilih” adalah merupakan malapetaka dahsat yang dapat membius calon pemilih dan berupaya menutup mata anak rantau yang berasal dari daerah itu.

Konon, demi kemenangan calon terpilih, pemilik uang disekitar calon terpilih sudah melakukan “Safari Infaq Dadakan” membangun sejumlah rumah ibadah di daerah itu.

Ekses benturan kepentingan yang membuat cedera berat Pilkada Mandailing Natal yang harus diulang, tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit bersumber dari uanga rakyat. Lalu muncul tanda tanya, apakah praktik yang seperti diurai di atas muncul lagi dalam Pilkada lanjutan dengan trik baru yang lebih santun untuk memenuhi syahwat menjadi raja kecil di Madina, lima tahun ke depan. Padahal, apabila ditilik kembali ke belakang daerah Mandailing Natal adalah daerah beradat dan bermartabat.

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, sejak ratusan tahun yang lalu daerah ini adalah suatu negeri yang selalu dido’a kan para aulia Allah dan para ulama lainnya.

Kalimat doa singkat tapi sarat dengan makna itu terus memba hana hingga ke pelosok desa terpencil. Para malim kampung juga hapal betul untaian kalimat do’a itu yakni “Baldlatun Toyiba tun wa’rabbungafur” (negeri yang aman dan damai sejahtera).

Tersebutlah pelopor utama yang membangun daerah Mandailing Natal dengan karya nyata dan do’a yakni Sekh Mustafa Husein Nasution (1886-1957) dan juga pendiri Pesantren Musthafawiyah Purbabaru (1912).

Kiprahnya di bidang pendidi kan agama Islam, tidak perlu diragukan lagi, setelah pulang ke tanah air dari belasan tahun menimba ilmu di tanah suci Makkah.

Secara estapet do’a itu berlanjut dirutinkan para ulama lainnya seperti Sekh Abdul Halim Chatib (Purbabaru), Sekh Abdul Muthalib Lubis (Manyabar), Sekh Abdul Wahab Lubis (Muaramais) dan sejumlah ulama kharismatik lainnya di daerah ini.

Negeri kecil bersahaja ketika itu, Mandailing Natal kini telah menjadi satu kabupaten terpisah dari Tapanuli Selatan sesuai Undang-undang No. 12 tahun 1998 dengan ibukota kabupaten Panyabungan.

Sebagai suatu kabupaten, tentunya pemerintahan dan pembangunannya dikelola sesuai dengan undang-undang yang telah diprogramkan. Menyahuti aspirasai rakyat di alam demokrasi, setelah reformasi terlihat semakin membaik. Dalam mengelola pemerintahan, dipilihlah kepala daerah secara langsung (Pilkada) sesuai pula dengan Undang-undang.

Pilkada Mandailing Natal untuk memilih dan wakilnya dilaksanakan pada Juni 2010 lalu, semula disambut dengan gegap gempita. Perhelatan wahana demokrasi yang dilaksanakan sekali dalam lima tahun itu mencuatkan gairah calon pemilih mulai dari pusat ibukota kabupaten hingga ke dusun-dusun terpencil sudut pedesaan.

Kampanye Pilkada telah bergaung ditingkah suara rentak irama Gordang Sambilan sebagai alat kesenian Mandailing Natal yang diwarisi secara turun temurun itu.

Hampir seluruh elemen masyarakat sudah makhlum diiringi senyum dikulum menyambut pemilihan umum kepala daerah yang seluruh calon bupati mengumbar janji-janji semerbak wangi parfum yang seolah bersumber dari minyak zaitun.

Tidak sedikit terperdaya akan wangi yang dikemas seolah bersumber dari minyak zaitun itu. Para kelompok pemenangan masing-masing mengibarkan bendera di bawah panji-panji relawan pemenangan si pulan dan si pulan.

Tim sukses yang bernaung di bawah panji-panji relawan itu bergerak gesit, proaktif meyakinkan calon pemilih, seolah tidak mengenal waktu. Gairah kerjanya terlihat ektra rentak mengunjor-jor (jor-joran) yang dimungkinkan telah mendapat suntikan plus doping, tidak nampak di mata, tapi diketahui hati (inda ida mata, tai ida roha).

Pada tahun 80 an penulis pernah mendapat informasi edukatif, sikap istiqomah Sekh Abdul Wahab Lubis (Tuan Muaramais). Di suatu hari, seorang oknum aparat menjumpai beliau dan menyampaikan hajatnya minta dido’akan untuk hajat sesuatu.

Tuan Muaramais setelah melihat dari tabir tembus pandangnya lalu berkata ” hajat ananda saya sudah tahu, hajat dimaksud mari sama-sama kita do’akan,” ujarnya dengan senyum taqzim seorang ulama.

Sewaktu oknum aparat tadi hendak beranjak pulang, lalu mengeluarkan pemberian dari sakunya. Secara halus Tuan Muaramais menolak pemberian itu dan menyuruh supaya dibawa pulang.Kontan si oknum aparat tadi pucat pasi.

Setelah oknum aparat tadi berlalu, Tuan Muaramais sempat berujar ” maunya oknum yang seperti itu jangan menyelemak-peakkan kotorannya kepada kita.” Beberapa jemaah pengajian yang masih berada di rumah itu terkesima. Tuan Muaramais mengetahui dengan ilmunya, pemberian dari oknum tadi diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal.

Memakan makanan bersumber dari yang tidak halal, merupakan jalan setan memasuki peredaran darah di tubuh manusia. Akhirnya hatipun bergelimang kabut, bergeraklah raga menghalalkan segala cara. Penerima suap dan yang menyuap sama-sama besar dosanya.

Andainya masih ada ulama sekaliber Tuan Muaramais di musim semi Pilkada itu yang memberi tausiah kepada umat, tentunya apa telah menjadi semboyan Mandailing Natal Madina yang Madani akan cepat tercapai.***

Penulis adalah wartawan penerima Medali Kesetiaan PWI Sumut 2008.
Sumber : Analisa

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bangunan Sekolah SD di Aek Baru Julu Dihantam Banjir Bandang

    Bangunan Sekolah SD di Aek Baru Julu Dihantam Banjir Bandang

    • calendar_month Senin, 13 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    BATANG NATAL ( Mandailing Online )- Tidak hanya jembatan penghubung yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang di Desa Aek Baru Julu, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal, ( Madina ) Senin 13/11/2023. Sebuah gedung Sekolah juga menjadi sasaran derasnya arus sungai aek baru. Video yang diperoleh Mandailing Online, kondisi bangunan sekolah nyaris terbawa arus sungai, hanya […]

  • 5.712 PNS Tapsel Terima Tunjangan Beras

    5.712 PNS Tapsel Terima Tunjangan Beras

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TAPSEL – Hari Ini, Selasa (12/5), Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan mencairkan tunjangan beras Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dirapel per 1 Januari 2014 hingga April 2015. Hal tersebut sesuai dengan tindaklanjut dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor per-3/PB/2015 tentang perubahan atas kelima atas Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-67/PB/2010 tentang tunjangan […]

  • BPBD Hanya Datang untuk Foto-foto

    BPBD Hanya Datang untuk Foto-foto

    • calendar_month Jumat, 24 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    NATAL (Mandailing Online) – BPBD Mandailing Natal (Madina) dinilai setengah hati dalam melakukan pencarian korban hanyut di Natal. Bahkan BPBD disebut hanya datang untuk foto-foto. Demikian pengakuan Izhar Basri Batubara, kakak sulung Zein Bisri Batubara korban hanyut di sungai Batang Natal pada Minggu (19/12) pekan lalu. Meski demikian, Ishar tetap menyampaikan ucapan terima kasih atas […]

  • Perhitungan Seluruh Kecamatan Final, Saipulllah Atika Menang

    Perhitungan Seluruh Kecamatan Final, Saipulllah Atika Menang

    • calendar_month Minggu, 1 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pilkada Madina 2024 telah rampung alias final. Berdasarkan data yang dihimpun dari 23 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), perolehan suara antara OnMa dan SAHATA menggambarkan selisih suara yang tipis. Sementara perolehan suara Paslon Harun-Ichwan (OnMA) dari 801 TPS yang terdiri dari […]

  • Sofwat Mendaftar di Gerindra dan PKS

    Sofwat Mendaftar di Gerindra dan PKS

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bakal calon bupati Madina, Sofwat Nasution mendaftar ke Partai Gerindra dan PKS di Panyabungan, Jum’at (08/11/2019). Brigadir Jenderal TNI (Purn) M.Sofwat Nasution lebih dulu ke Gerindra baru menyusul ke Partai keadilan Sejahtera (PKS). Sofwat Nasution beserta rombongan tiba ke kantor DPC Partai Gerindra Madina sekitar pukul 10.30 Wib, dan disambut […]

  • Kinerja Kabupaten/Kota di Sumut, Psp Peringkat 66, Tapsel 205

    Kinerja Kabupaten/Kota di Sumut, Psp Peringkat 66, Tapsel 205

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Kinerja kabupaten/kota di wilayah Sumut mengecewakan. Untuk tingkat kabupaten misalnya, dari 344 kabupaten se-Indonesia, tidak satu pun kabupaten di Sumut yang masuk 10 besar. Terbaik di Sumut adalah Kabupaten Tapanuli Utara yang menduduki peringkat 48 dengan skor 2,5876. Menyusul kemudian Serdang Bedagai 63 (2,5639), Langkat 103 (2,4669), Samosir peringkat 107 (skor 2,4592), Deli Serdang […]

expand_less