Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Ramadhan  Bulan Taat, Kok Malah Maksiat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
  • print Cetak

Oleh: Hj. Nuryati Apsari, S.Hut,M.M
Aktivis Muslimah Peduli Generasi

Tak terasa kita berada hampir dipertengahan bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Dimana ada satu malam di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan yakni Lailatul Qadar.

Ramadhan juga memiliki keistimewaan-keistimewaan yang lain yaitu merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dalam surah Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)……”.

Selain itu juga Ramadhan adalah bulan pengampunan dosa, dan salah satu cara untuk menghapus dosa adalah dengan menjalankan ibadah puasa. Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Ramadhan juga merupakan bulan yang bertabur dengan pahala berlipat ganda. Segala amalan dan ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan akan Allah lipatgandakan pahalanya. Sebagai salah satu contoh ibadah umrah, Rasulullah bersabda: “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan Haji”. (HR.Bukhari Dan Muslim).

Ma syaa Allah, betapa mulia dan agungnya bulan Ramadhan. Dengan berbagai keistimewaan Ramadhan tersebut, sejatinya Ramadhan tahun ini kita lalui dengan bersungguh-sungguh melakukan segala aktivitas dan amal ibadah yang akan menghantarkan kita untuk meraih derajat takwa.

Namun tidak demikian halnya bagi enam remaja yang kedapatan tengah pesta minuman keras (miras) di kawasan RT 35 Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara.
Dilansir dari Kaltim Post.com. Pesta miras itu mereka lakukan usai shalat tarawih Rabu (5/3) malam hingga dini hari. Mereka diamankan personel Bhabinkamtibmas. “Sudah banyak laporan dari masyarakat terkait aktivitas para pemuda ini,” ungkap Aiptu Wempi.

Warga yang resah dan merasa terganggu karena tengah beribadah Ramadhan menginformasikan petugas.

“Kami tindaklanjuti dan patroli, rupanya benar, mereka minum miras oplosan,” ujar Kasi Humas Polresta Balikpapan Ipda Sangidun. Mereka dibawa ke markas Polsek Balikpapan Utara untuk dilakukan pembinaan. “Kami data serta mengingatkan para pemuda dan remaja tersebut tentang pentingnya menjaga diri dan lingkungan selama Ramadhan,” jelasnya.

Selain itu, pembinaan ini juga bertujuan untuk menghindari perilaku yang tidak baik dan dapat merusak kondusifitas masyarakat. “Kami panggil juga orangtuanya agar lebih memberikan perhatian dan pengawasan pada anak-anak mereka,” tuturnya. Dengan pembinaan ini, diharapkan para pemuda dan remaja tersebut dapat menjadi lebih sadar dan bertanggung jawab dalam menjaga diri dan lingkungan.

Buah Kehidupan Sekuler

Perilaku enam remaja tersebut telah mencederai bulan Ramadhan yang suci. Lemahnya keimanan sehingga mereka tetap melakukan aktivitas yang haram di saat sebagian besar umat Islam tengah sibuk memperbanyak amal ibadah di bulan puasa ini. Puasa tidak mampu mencegah mereka berbuat maksiat, ibadah puasa di siang hari namun pada malam hari mereka justru  berbuat semaunya. Inilah buah kehidupan sekuler. Sekularisme, paham yang menginginkan pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga ketika aturan agama diabaikan, merekapun merasa bebas melakukan apa saja walaupun itu hal yang diharamkan oleh Allah.

Upaya pembinaan berupa nasehat dan sanksi fisik sifatnya hanya formalitas semata, tidak mampu mencegah perilaku maksiat itu terulang kembali apalagi selama pengaruh sekuler masih mendominasi kehidupan hari ini yang menjadi akar masalah kerusakan generasi di negeri ini.

Kehidupan sekuler melahirkan pola hidup hedonistik, permisif, dan liberal. Standar hidup tidak lagi berpegang teguh pada agama (baca: Islam). Alhasil, generasi makin jauh dari nilai ketaatan kepada Penciptanya, yakni Allah Taala.

Di sisi lain, sekuler turut memengaruhi pola penyusunan kurikulum. Dalam sistem pendidikan hari ini, output pendidikan dan tujuan pendidikan tidak sinkron. Dalam salah satu poin UU Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berilmu.

Pertanyaannya, dengan model kurikulum sekuler yang diterapkan saat ini, adakah tujuan itu tercapai sehingga lahir generasi bermartabat, bertakwa, dan berakhlak mulia? Sementara itu, porsi Islam dalam struktur kurikulum pendidikan sekuler begitu minim. Meski bertabur lembaga pendidikan Islam sebagai solusi alternatif, hal ini bukan jaminan tidak akan terjadi perilaku negatif generasi. Ini karena yang tengah dihadapi orang tua, guru, dan lembaga pendidikan ialah arus sekularisasi di semua lini kehidupan.

Islam Solusi Tuntas

Perilaku buruk generasi yang meresahkan ini tentu butuh solusi tuntas tidak hanya sekedar pembinaan. Dan Islam adalah satu-satunya solusi yang tepat dan tuntas. Islam memiliki sejumlah mekanisme menyeluruh untuk mewujudkan generasi berkepribadian mulia.

Di antaranya penerapan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan ini, seluruh mata pelajaran akan berkesinambungan dengan peningkatan keimanan seorang hamba kepada Allah Taala. Setiap ilmu harus senantiasa dikaitkan dengan basis akidah Islam yang membuat seluruh peserta didik makin taat kepada Allah Taala. Sehingga dengan banyaknya keutamaan di bulan Ramadhan merekapun akan semakin giat mengisinya dengan amalan ibadah seperti memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengikuti kajian-kajian ilmu. Hal seperti itu akan menambah keimanan dan ketakwaan mereka secara individu.

Tidak cukup hanya ketakwaan individu, dibutuhkan juga suasana lingkungan dan masyarakat yang kondusif.  Suasana yang dibangun adalah masyarakat yang terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar sehingga tidak akan membiarkan begitu saja ketika kemaksiatan terjadi di tengah-tengah kehidupan mereka.
Dan yang berikutnya, perlunya aturan negara yang menerapkan hukum Islam dan menegakkan sanksi tegas bagi pelaku kemaksiatan dan kejahatan. Sistem sanksi akan berlaku sebagai upaya kuratif ketika berbagai upaya preventif masih dilanggar. Efek nyata penerapan sistem sanksi dalam Islam ialah membuat pelaku jera sehingga ia tidak akan pernah berpikir untuk mengulangi kejahatannya. Setiap pelaku kejahatan yang sudah terkategori akil balig dan mukalaf bisa diterapkan sanksi Islam atasnya, termasuk jika pelakunya adalah remaja.

Dengan begitu akan terwujud generasi beriman dan bertakwa yang gemar melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Wallaahu a’lam bishshawab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Partuturan di Dalam Masyarakat Mandailing

    Partuturan di Dalam Masyarakat Mandailing

    • calendar_month Sabtu, 22 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari sebuah budaya. Bahasa Mandailing merupakan identitas orang Mandailing yang dipelihara dan dikembangkan sebagai pengemban kebudayaan dan tata kemasyarakatan Mandailing. Asal bahasa Mandailing merupakan perkembangan dari Proto- Malayo-Polinesia yang selanjutnya diklasififikasikan ke dalam sub kelompok Malayo Polinesia Barat (Western Malayo-Polynesia) menurut Robert Blust. Fungsi bahasa Mandailing menurut […]

  • Pengakuan Ismed Harahap, Keluarga Honorer yang Mengaku Ditiduri Anggota DPRD

    Pengakuan Ismed Harahap, Keluarga Honorer yang Mengaku Ditiduri Anggota DPRD

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Widuri Diimingi Lulus CPNS MADINA; Pihak keluarga Widuri (nama samaran) membantah jika mereka ada melakukan pemerasan terhadap Djakfar S Nasution, anggota DPRD Madina. Sebaliknya, keluarga korban mengungkapkan, Djakfar pernah menjanjikan kepada Widuri akan diluluskan CPNS asalkan tidak memberitahukan kejadian asusila tersebut kepada orang lain. Hal itu dikatakan sepupu Widuri, Ismed Harahap (30), warga Sihepeng, Kecamatan […]

  • MUI Madina Himbau Solat Gerhana, Besok

    MUI Madina Himbau Solat Gerhana, Besok

    • calendar_month Selasa, 8 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mandailing Natal (Madina) mengimbau umat Islam untuk melakukan solat sunat gerhana matahari (kusyuf asy syams), besok. Himbauan itu diumumkan MUI Madina dalam surat himbauan Nomor A.007/DP-KII/07/SR/III/2016 tanggal 4 Maret 2016 ditandatangani Ketua MUI Madina, Drs. H.Syamsir dan Sekretaris Ahmad Asrin,S.Ag.MA terkait akan terjadinya gerhana matahari total di […]

  • Pelaku Tambang Emas Ilegal Mulai Garap Kawasan Perkebunan PT PSU di Natal

    Pelaku Tambang Emas Ilegal Mulai Garap Kawasan Perkebunan PT PSU di Natal

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online- Aktifitas tambang emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mulai merambah ke kawasan aset pemerintah. PT.Perkebunan Sumatera Utara ( PT.PSU ) kebun patiluban di Kecamatan Natal menjadi lahan subur bagi pelaku tambang Belasan alat berat jenis excavator milik penambang dilaporkan telah merubah perkebunan tersebut menjadi areal tambang emas ilegal. Meski Polisi […]

  • Wakil Ketua DPRD Palas Kunjungi Kampoeng Kaos Madina

    Wakil Ketua DPRD Palas Kunjungi Kampoeng Kaos Madina

    • calendar_month Kamis, 2 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KKM Serupa Perlu Didirikan di Palas   Panyabungan (MO)- Industri kaos yang berlatar semangat etnis dan budaya Mandailing yang dilakoni Kampoeng Kaos Madina (KKM), telah menarik simpati dari kalangan politisi di Kabupaten Padang Lawas (Palas). Wakil Ketua DPRD Palas, Ammar Makruf Lubis berkunjung ke base camp Kampoeng Kaos Madina, di Sipolu-polu, Panyabungan, Madina, Rabu […]

  • Pembangunan 8 Rumah Terbakar di  Ujung Marisi Tahap Pengerjaan

    Pembangunan 8 Rumah Terbakar di Ujung Marisi Tahap Pengerjaan

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Pembangunan 8 unit rumah yang habis terbakar di Desa Ujung Marisi, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) sedang tahap pengerjaan. Saat ini, keluarga korban kebakaran dan warga serta tukang sedang bahu membahu menyiapkan rumah tersebut dalam beberapa minggu kedepan. Pantuan di lapangan, hampir semua pertapakan rumah sudah selesai dikerjakan. Sebagian lagi […]

expand_less