Senin, 20 Apr 2026
light_mode

Ramadhan  Bulan Taat, Kok Malah Maksiat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
  • print Cetak

Oleh: Hj. Nuryati Apsari, S.Hut,M.M
Aktivis Muslimah Peduli Generasi

Tak terasa kita berada hampir dipertengahan bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Dimana ada satu malam di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan yakni Lailatul Qadar.

Ramadhan juga memiliki keistimewaan-keistimewaan yang lain yaitu merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dalam surah Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)……”.

Selain itu juga Ramadhan adalah bulan pengampunan dosa, dan salah satu cara untuk menghapus dosa adalah dengan menjalankan ibadah puasa. Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Ramadhan juga merupakan bulan yang bertabur dengan pahala berlipat ganda. Segala amalan dan ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan akan Allah lipatgandakan pahalanya. Sebagai salah satu contoh ibadah umrah, Rasulullah bersabda: “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan Haji”. (HR.Bukhari Dan Muslim).

Ma syaa Allah, betapa mulia dan agungnya bulan Ramadhan. Dengan berbagai keistimewaan Ramadhan tersebut, sejatinya Ramadhan tahun ini kita lalui dengan bersungguh-sungguh melakukan segala aktivitas dan amal ibadah yang akan menghantarkan kita untuk meraih derajat takwa.

Namun tidak demikian halnya bagi enam remaja yang kedapatan tengah pesta minuman keras (miras) di kawasan RT 35 Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara.
Dilansir dari Kaltim Post.com. Pesta miras itu mereka lakukan usai shalat tarawih Rabu (5/3) malam hingga dini hari. Mereka diamankan personel Bhabinkamtibmas. “Sudah banyak laporan dari masyarakat terkait aktivitas para pemuda ini,” ungkap Aiptu Wempi.

Warga yang resah dan merasa terganggu karena tengah beribadah Ramadhan menginformasikan petugas.

“Kami tindaklanjuti dan patroli, rupanya benar, mereka minum miras oplosan,” ujar Kasi Humas Polresta Balikpapan Ipda Sangidun. Mereka dibawa ke markas Polsek Balikpapan Utara untuk dilakukan pembinaan. “Kami data serta mengingatkan para pemuda dan remaja tersebut tentang pentingnya menjaga diri dan lingkungan selama Ramadhan,” jelasnya.

Selain itu, pembinaan ini juga bertujuan untuk menghindari perilaku yang tidak baik dan dapat merusak kondusifitas masyarakat. “Kami panggil juga orangtuanya agar lebih memberikan perhatian dan pengawasan pada anak-anak mereka,” tuturnya. Dengan pembinaan ini, diharapkan para pemuda dan remaja tersebut dapat menjadi lebih sadar dan bertanggung jawab dalam menjaga diri dan lingkungan.

Buah Kehidupan Sekuler

Perilaku enam remaja tersebut telah mencederai bulan Ramadhan yang suci. Lemahnya keimanan sehingga mereka tetap melakukan aktivitas yang haram di saat sebagian besar umat Islam tengah sibuk memperbanyak amal ibadah di bulan puasa ini. Puasa tidak mampu mencegah mereka berbuat maksiat, ibadah puasa di siang hari namun pada malam hari mereka justru  berbuat semaunya. Inilah buah kehidupan sekuler. Sekularisme, paham yang menginginkan pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga ketika aturan agama diabaikan, merekapun merasa bebas melakukan apa saja walaupun itu hal yang diharamkan oleh Allah.

Upaya pembinaan berupa nasehat dan sanksi fisik sifatnya hanya formalitas semata, tidak mampu mencegah perilaku maksiat itu terulang kembali apalagi selama pengaruh sekuler masih mendominasi kehidupan hari ini yang menjadi akar masalah kerusakan generasi di negeri ini.

Kehidupan sekuler melahirkan pola hidup hedonistik, permisif, dan liberal. Standar hidup tidak lagi berpegang teguh pada agama (baca: Islam). Alhasil, generasi makin jauh dari nilai ketaatan kepada Penciptanya, yakni Allah Taala.

Di sisi lain, sekuler turut memengaruhi pola penyusunan kurikulum. Dalam sistem pendidikan hari ini, output pendidikan dan tujuan pendidikan tidak sinkron. Dalam salah satu poin UU Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berilmu.

Pertanyaannya, dengan model kurikulum sekuler yang diterapkan saat ini, adakah tujuan itu tercapai sehingga lahir generasi bermartabat, bertakwa, dan berakhlak mulia? Sementara itu, porsi Islam dalam struktur kurikulum pendidikan sekuler begitu minim. Meski bertabur lembaga pendidikan Islam sebagai solusi alternatif, hal ini bukan jaminan tidak akan terjadi perilaku negatif generasi. Ini karena yang tengah dihadapi orang tua, guru, dan lembaga pendidikan ialah arus sekularisasi di semua lini kehidupan.

Islam Solusi Tuntas

Perilaku buruk generasi yang meresahkan ini tentu butuh solusi tuntas tidak hanya sekedar pembinaan. Dan Islam adalah satu-satunya solusi yang tepat dan tuntas. Islam memiliki sejumlah mekanisme menyeluruh untuk mewujudkan generasi berkepribadian mulia.

Di antaranya penerapan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan ini, seluruh mata pelajaran akan berkesinambungan dengan peningkatan keimanan seorang hamba kepada Allah Taala. Setiap ilmu harus senantiasa dikaitkan dengan basis akidah Islam yang membuat seluruh peserta didik makin taat kepada Allah Taala. Sehingga dengan banyaknya keutamaan di bulan Ramadhan merekapun akan semakin giat mengisinya dengan amalan ibadah seperti memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengikuti kajian-kajian ilmu. Hal seperti itu akan menambah keimanan dan ketakwaan mereka secara individu.

Tidak cukup hanya ketakwaan individu, dibutuhkan juga suasana lingkungan dan masyarakat yang kondusif.  Suasana yang dibangun adalah masyarakat yang terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar sehingga tidak akan membiarkan begitu saja ketika kemaksiatan terjadi di tengah-tengah kehidupan mereka.
Dan yang berikutnya, perlunya aturan negara yang menerapkan hukum Islam dan menegakkan sanksi tegas bagi pelaku kemaksiatan dan kejahatan. Sistem sanksi akan berlaku sebagai upaya kuratif ketika berbagai upaya preventif masih dilanggar. Efek nyata penerapan sistem sanksi dalam Islam ialah membuat pelaku jera sehingga ia tidak akan pernah berpikir untuk mengulangi kejahatannya. Setiap pelaku kejahatan yang sudah terkategori akil balig dan mukalaf bisa diterapkan sanksi Islam atasnya, termasuk jika pelakunya adalah remaja.

Dengan begitu akan terwujud generasi beriman dan bertakwa yang gemar melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Wallaahu a’lam bishshawab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPU di Tiga Daerah Merasa “Serba Salah”

    KPU di Tiga Daerah Merasa “Serba Salah”

    • calendar_month Jumat, 15 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan – Komisi Pemilihan Umum di tiga daerah di Sumatera Utara, yakni Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi dan Kabupaten Mandailing Natal merasa “serba salah” dalam menyelengarakan proses pilkada ulang sebagaimana ditetapkan Mahkamah Konstitusi. Di satu sisi, kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut Irham Buana Nasution dalam pertemuan dengan Komisi II DPR RI di […]

  • Jalan Tambangan rusak parah

    Jalan Tambangan rusak parah

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Warga Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing atau tepatnya desa di seberang Batang Gadis mengharapkan perbaikan jalan ke desa mereka. Pasalnya jalan ke desa tersebut rusak parah. Selain itu, ada beberapa titik yang anjlok sehingga menyulitkan bagi pengguna jalan. Hal itu dikatakan M Sanusi, 50, pagi ini.Menurutnya, jalan kabupaten ke daerah tersebut kondisinya saat ini […]

  • Rawan Longsor, Kementerian PUPR Bangun Tembok Penahan di Jalinsum Morsip

    Rawan Longsor, Kementerian PUPR Bangun Tembok Penahan di Jalinsum Morsip

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Jalan Nasional di titik Desa Tanjung Alai, Dusun Pintu Angin, Kecamatan Muara Sipongi (Morsip) Kabupaten Mandailing Natal sedang berlangsung pembangunan tembok penahan longsor tebing. Pembiayaan proyek ini berasal dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Titik ini termasuk rawan longsor,  dan beberapa ruas […]

  • BLT BBM Jangan Sampai Salah Sasaran Apalagi Dimanipulasi

    BLT BBM Jangan Sampai Salah Sasaran Apalagi Dimanipulasi

    • calendar_month Jumat, 23 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Halvionata Auzora Siregar Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh / Kader HMI Cabang Lhokseumawe   Setelah kenaikan harga BBM seperti pertalite, pertamax dan solar pemerintah pusat telah menganggarkan dana 12,4 triliun rupiah untuk masyarakat kurang mampu dalam skema Bantuan Langsung Tunai (BLT) Bahan sebesar Rp300.000 atau Rp600.000 per kepala rumah tangga. Ini menjadi sorotan. Baru-baru […]

  • Harun Mustafa Nasution di Do’a kan Mudir Ma’had Darul Ulum Muaramais Jadi Bupati Madina

    Harun Mustafa Nasution di Do’a kan Mudir Ma’had Darul Ulum Muaramais Jadi Bupati Madina

    • calendar_month Rabu, 16 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Muaramais ( Mandailing Online) : Calon Bupati Mandailing Natal ( Madina) Harun Mustafa Nasution beserta mudir pondok pesantren mustafawiyah purba baru H. Mustafa Bakri Nasution kunjungi Mudir Ma’had Darul Ulum Muaramais Syeh H. Mawardi Lubis yang sedang terbaring sakit. Rabu 16/10/2024. Dalam kunjungan itu, Harun Mustafa Nasution pun di Do’a kan agar dimudahkan mendapatkan keinginan […]

  • Bupati Madina Intruksikan 12 Kecamatan Hentikan Praktek Tambang Emas Ilegal

    Bupati Madina Intruksikan 12 Kecamatan Hentikan Praktek Tambang Emas Ilegal

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): Pasca tewasnya  3 penambang emas ilegal sebulan terakhir, Bupati Madina Saipullah Nasution melalui Kadis Kominfo Ashar Paras Muda Nasution mengintruksikan kepada Camat di 12 Kecamatan untuk memastikan bahwa kegiatan penambangan tidak beroperasi lagi. ” Bupati Madina meminta kepada Camat di 12 Kecamatan untuk memastikan bahwa kegiatan penambangan tidak beroperasi lagi […]

expand_less