Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

'Saudara Tua' kembali melirik Indonesia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
  • print Cetak

Oleh: Ahmad Djauhar

Saudara Tua itu kembali merangkul Saudara Muda dengan pelbagai janji dan keseriusan untuk memajukan ekonomi negeri yang pernah dijajahnya. Komitmen bagi megaproyek baru senilai US$52,9 miliar sekitar Rp500 triliun menjadi bukti keseriusan Pemerintah Jepang, sang Saudara Tua, untuk mendukung penuh pengembangan koridor ekonomi baru di sepanjang Pesisir Timur Sumatra (East Sumatra-ES) hingga Barat Laut Jawa (North West Java-NWJ).

Tidak hanya berhenti di situ. Komitmen Jepang mendukung pengembangan ekonomi Indonesia akan terus ditingkatkan seiring dengan kesepakatan mewujudkan program ambisius pembangunan enam koridor pengembangan ekonomi baru di Indonesia.

Ini program berjangka sangat panjang, karena hasilnya baru dapat dinikmati pada periode 2030-2050. Masih lama, memang, tetapi jika fondasinya tidak diletakkan dari sekarang, kapan lagi.

Di atas kertas, pembangunan keenam koridor ekonomi baru itu memang sangat dibutuhkan Indonesia untuk dapat menjadi pemain dunia di bidang ekonomi.

Dengan potensi kekayaan alam yang luar biasa, dunia memerlukan Indonesia sebagai pemasok komoditas strategis. Persoalannya adalah minimnya infrastruktur yang menjadikan harga komoditas unggulan Indonesia tidak kompetitif.

Untuk diproses di dalam negeri, investor yang umumnya kelas kakap merasa enggan karena menganggap tidak menguntungkan apabila mendirikan fasilitas pemrosesan di Indonesia. Satu-satunya jalan adalah dengan menjualnya dalam bentuk mentah, yang tentu saja harganya akan sangat murah, mengingat nilai tambah bagi setiap komoditas tersebut amat rendah.

Itulah alasan mengapa negeri ini memerlukan sistem konektivitas nasional yang lebih baik. Membanjirnya aneka produk dari negeri lain ke pasar domestik adalah bukti nyata akibat lemahnya sistem konektivitas nasional. Simak, misalnya, fenomena meruyaknya buah jeruk impor. Bila didatangkan ke Jawa, harga jeruk dari Fujian, China, jauh lebih murah ketimbang jeruk yang ditanam oleh petani di Pontianak, Kalimantan Barat.

“Perbaikan sistem konektivitas nasional tidak dapat ditawar-tawar lagi,” ujar Menko Perekonomian Hatta Radjasa menjelang pembicaraan Ekonomi Indonesia-Jepang di Tokyo 12-16 Oktober.

Pembangunan sistem konektivitas semata dipandang tidak menyelesaikan masalah, karena itu harus diikuti dengan upaya menghidupkan berbagai sentra ekonomi yang selain kaya akan potensi sumber daya alam, juga memiliki magnitude penggerakan ekonomi berskala massal.

Enam koridor

Jadilah konsep koridor ekonomi yang terbagi dalam enam koridor dan tiga fase yang diberi titel Indonesia Economic Development Corridors (IEDC). (Lihat tabel)

Nah, konsep inilah yang kemudian dijual a.l. ke Saudara Tua. Pertimbangannya adalah, menurut Muhammad Lutfi, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Jepang, Negeri Sakura memiliki kepentingan strategis untuk melindungi investasinya di Indonesia.

Beberapa fakta yang melatarbelakangi kerja sama baru ini relevan dengan strategi tersebut. Total akumulasi investasi Jepang di Indonesia selama dua dekade terakhir menduduki peringkat tertinggi, sebanyak 1.907 proyek dengan nilai US$21,6 miliar, jauh di atas Singapura (1.224 proyek, US$17,37 miliar), Inggris (555 proyek, US$8,81 miliar), dan AS (446 proyek, US$7,53 miliar).

Selain itu, Indonesia merupakan pemasok LNG terbesar bagi Jepang, meliputi 20% kebutuhan domestik negeri itu. Indonesia juga pemasok kedua terbesar batu bara ke Jepang setelah Australia. Jadi, kedua bangsa memiliki kepentingan strategis untuk tetap melanjutkan kerja sama, dan hal itu terlihat jelas dari perhatian pemerintah maupun kalangan dunia usaha Jepang.

Contoh sederhana, selama proses dialog kedua negara 12-16 Oktober, Indonesia mengirimkan sejumlah delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Menko Perekonomian M. Hatta Radjasa. Anggota delegasi itu a.l. Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri ESDM Darwin Z. Saleh, Kepala BKPM Gita Wirjawan, Wakil Menhub Bambang Susantono, serta Ketua Kadin Indonesia Suryo B. Sulisto yang disertai sejumlah pelaku usaha nasional. Tak ketinggalan tentu saja Dubes Muhammad Lutfi.

Sedangkan dari Jepang hadir Wakil Senior Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Tadahiro Matsushita, Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Turisme (MLIT) Sumio Mabuchi, serta Ketua Keidanren Hiromasa Yonekura.

Fase pertama

Walhasil, dari pembicaraan tersebut, Jepang dan Indonesia menyepakati kerja sama fase pertama megaproyek baru senilai US$52,9 miliar untuk menyiapkan pengembangan infrastruktur pada koridor ekonomi Sumatra Timur-Barat Laut Jawa (ESNWJ).

Tidak semua kebutuhan dana investasi megaproyek itu berasal dari kocek Pemerintah Jepang, tapi kedua negara sepakat memberikan kesempatan bagi masyarakat maupun dunia usaha ikut membiayai proyek itu dengan skema public private partnership.

Rencana implementasi megaproyek tersebut merupakan bagian dari penyiapan enam koridor pengembangan ekonomi Indonesia (IEDC) yang mencakup sebagian besar wilayah Indonesia, terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan sistem konektivitas nasional. Keempat koridor ekonomi yang akan dikembangkan berikutnya adalah Kalimantan dan Sulawesi Barat (masuk dalam fase kedua), serta Jatim-Bali-Nusa Tenggara, dan koridor Papua (fase ketiga).

Di atas kertas, megaproyek baru bernilai ratusan miliar atau bahkan triliunan dolar AS tersebut cukup kompleks untuk diwujudkan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah program tersebut dapat berkesinambungan, mengingat di negeri ini terdapat pemeo bahwa ganti pemerintahan, berganti pula strategi kebijakan. Rupanya, pemerintah sudah menyiapkan jawabannya.

Menko Hatta Radjasa yakin bahwa siapa pun yang akan memimpin Indonesia pasca-SBY, “dia pasti akan membutuhkan cetak biru ini…Terlebih lagi, rancangan tersebut sudah dijadikan agenda nasional jangka panjang.”

Dalam kesempatan sarapan pagi di Imperial Hotel-hotel langganan petinggi Indonesia jika menyelenggarakan program kenegaraan di Tokyo-Hatta juga berargumen bahwa melihat nilai strategis dan kepentingan jangka panjang program tersebut, Pemerintah Jepang akan senantiasa mendukung.

Menurut M. Lutfi, dukungan kuat Jepang terjadi karena Jepang menyadari kerja sama mereka dengan China akhir-akhir ini surut karena persoalan politik. “Demikian halnya dengan Thailand yang situasi politiknya kurang kondusif, menjadikan mereka lebih memilih Indonesia. Hal itu tampak dari perubahan peringkat investasi Jepang di Indonesia yang memasuki angka biru,” ujarnya.

Pendapat Lutfi diperkuat oleh Takashi Nakayama, Presdir Japan External Trade Organization (Jetro). Menurut dia, selain konsumsi domestik maupun produk domestik bruto Indonesia yang cenderung naik, populasi kelompok usia kerja yang sangat besar, dua kali populasi anak-anak dan lanjut usia, merupakan indikasi pasar yang sehat. Peluang terjadinya peningkatan pendapatan, tuturnya, sangat besar.

Guna mempercepat pelaksanaan IEDC, kedua pemerintah sepakat mengutamakan empat program prioritas yaitu, pertama, kerja sama sektor ketenagalistrikan, kedua, alih teknologi untuk mendorong pengurangan emisi gas rumah hijau, ketiga, mengenalkan inisiatif komunitas pintar, dan keempat, mempercepat pelaksanaan program yang tercakup dalam rencana pengembangan Metropolitan Priority Area senilai US$7 miliar.

Regional hub

Tak pelak lagi, melalui program MPA Jakarta akan disulap sebagai regional hub. Untuk itu beberapa kendala besar harus dibenahi terlebih dahulu, misalnya percepatan pengembangan infrastruktur dan meningkatkan iklim investasi.

Paket proyek pertama dalam program MPA terdiri dari pembangunan pelabuhan baru, akses jalan, peningkatan kawasan industri di Jakarta Timur, dan penambahan pasokan energi (listrik dan gas).

Adapun paket kedua berupa sistem transportasi massal yang lebih efisien, terutama yang memberikan kontribusi langsung bagi kebutuhan logistik industri agar dapat lebih efisien. Termasuk di dalamnya, ungkap Hatta, “kita harus bicara pembangunan MRT [mass rapid transit] dan double double-track untuk kereta api di Jabodetabek.”

Paket proyek ketiga, berupa pengembangan baru bandar udara mengingat kapasitas bandara di Jakarta dan sekitarnya sudah kelebihan beban.

“Sedangkan paket proyek keempat dan kelima masing-masing adalah sistem pemasokan air industri dan manajemen limbah. Kedua paket terakhir ini adalah bukti konkret untuk mewujudkan program green industry,” ujar Hatta.

Melihat besarnya skala proyek MPA tersebut, lanjutnya, akan berimplikasi pada ketersediaan dana untuk pembiayaan dan swasta melalui program public private partnership tentu diharapkan ikut mengambil peran besar.

Program IEDC dengan MPA sebagai proyek prioritasnya itu semestinya dijalankan dengan konsisten dan berkesinambungan. Dibutuhkan ketegasan, kecepatan, dan keberanian dalam pengambilan keputusan untuk membereskan sejumlah agenda, baik dari sisi ekonomi maupun politik, untuk mewujudkan rancangan besar menuju percepatan kesejahteraan bangsa. Beranikah Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono mewujudkannya? (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis.com

Tags
  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengusaha Penggilingan Padi Sebut Harga Gabah di Madina Normal

    Pengusaha Penggilingan Padi Sebut Harga Gabah di Madina Normal

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Pengusaha penggilingan Padi di Kabupaten Mandailing Natal bicara harga gabah. Dari Januari 2025 sampai hari ini belum ada kenaikan, namun dipastikan tak ada penurunan harga. Stok gabah dan beras di awal tahun melimpah. Diketahui Tahun 2025 ini Harga Gabah Basah (HGB) stak di harga Rp.5.600 perkilonya, sementara Harga Gabah Kering […]

  • Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Jembatan gantung yang melintasi Sungai Batang Gadis, di Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), ambruk. Penyebabnya luapan air Sungai Batang Gadis di akhir tahun 2011 lalu. Akibatnya, warga di lima desa di seberang sungai kesulitan beraktivitas seperti sekolah dan bekerja. Jembatan gantung sepanjang 110 meter dengan lebar sekitar satu meter […]

  • Tatanan Sosial Yang Buruk, Menyuburkan HIV Pada Remaja

    Tatanan Sosial Yang Buruk, Menyuburkan HIV Pada Remaja

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Hadi Kartini
    • 0Komentar

    Oleh: Hadi Kartini   Direktorat Jendral Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan telah melakukan supervisi program HIV di Kabupaten Sidoarjo sebagai tindak lanjut atas tingginya perhatian masyarakat terhadap pemberitaan kasus HIV pada anak dan remaja. Sebelumnya beredar vidio viral di medsos yang menyatakan sebanyak 522 pelajar di Kabupaten Sidoarjo terpapar HIV-AIDS. Meningkatnya jumlah kasus HIV di kalangan […]

  • Merak Turun, Gilimanuk Bludak

    Merak Turun, Gilimanuk Bludak

    • calendar_month Selasa, 6 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    JAKARTA, – Pelabuhan Merak di Provinsi Banten macet parah sepanjang akhir pekan kemarin. Sebab, jumlah penumpang melonjak di atas perkiraan. PT ASDP Indonesia Ferry, BUMN yang melayani penyeberangan di lintasan Merak-Bakauheni (Lampung) memperkirakan kenaikan penumpang sekitar enam persen. Tapi faktanya jauh di atas itu. Sekretaris Perusahaan ASDP Chrinstine Hutabarat mengatakan, sepanjang H-7 hingga H-4 lebaran, […]

  • Dicekal, Syamsul Arifin mau coba kabur?

    Dicekal, Syamsul Arifin mau coba kabur?

    • calendar_month Rabu, 13 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Syamsul Arifin, Senin (11/10) kemarin, tidak menghadiri panggilan pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Langkat TA 2000-2007 sebesar Rp102,7 miliar. Ketidak hadiran itu karena Syamsul Arifin ada rapat paripurna dengan DPRD Sumut terkait penyampaian nota keuangan RAPBD Sumut TA 2011. Isu beredar mantan Bupati Langkat itu akan […]

  • Komunitas Madina Kreatif Madani Dukung Sahata di Pilkada Madina

    Komunitas Madina Kreatif Madani Dukung Sahata di Pilkada Madina

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komunitas Madina Kreatif Madani mendukung penuh pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Madina nomor urut 2, H. Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution di Pilkada serentak 2024. Dukungan itu disampaikan oleh Ketua Komunitas Madina Kreatif Madani, Muhammad Ja’par Nasution, SKM di Panyabungan, Senin (4/11/2024). Ja’par menilai Paslon Saipullah-Atika […]

expand_less