Rabu, 9 Sep 2026
light_mode

Atika dan Realitas Birokrasi, Peluang dan Kendala

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 22 Jul 2021
  • print Cetak

Pasangan Sukhairi-Atika

Oleh: Askolani Nasution

Setelah melewati perjalanan yang tidak mudah, akhirnya  M Ja’far Sukhairi Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal. Saya membayangkan saja apa yang ada dalam pikiran beliau. Terutama Atika.

Saya yakin, ada moment ketika Atika merenung. Duduk, mungkin sambil senyum, karena tiba-tiba berada di jalur pemerintahan. Padahal baru beberapa waktu yang lalu beliau ada di Australia, mungkin duduk di perpustakaan kampus, ada di sebuah coffe house sambil membuat studi analisis keuangan, ada di taman kota, ber-say-hallo dengan para bule yang berpapasan dengan bahasa Inggris cas-cus, atau ada di sebuah kantor perusahaan multinasional sambil mengkalkulasi break event point.

“My Way”, begitu mungkin bisiknya menirukan lagu Frank Sinatra itu. Ia yang dulu hidup dalam dunia serba rasional, terukur, efisiensi, atau bebas protokoler; lalu tiba-tiba berada di jalur birokrasi yang kaku dan aneh untuk mereka yang sepanjang hidup ada di jalur akademis, Barat lagi. Beliau harus taat aturan kapan boleh batuk, kapan berbasa-basi, kapan setengah tertawa meskipun tidak benar-benar lucu, kapan bla-bla.

Itu berat. Tapi menjadi kemestian baru. Dulu, mantan dosen saya seorang profesor. Tiba-tiba diangkat menjadi kadis pendidikan sebuah kota. Hanya satu tahun, ia langsung mengeluh. “Saya berhenti menjadi diri saya selama setahun ini,” katanya. Lalu balik lagi ke kampus.

Itu yang terberat di dunia birokrasi. Karena kita harus menjadi orang lain, yaitu orang yang dibentuk untuk diinginkan semua orang.

Bahkan orang teater seperti saya, yang melatih orang lain terampil berpura-pura, juga tak tahan. Iya. Karena dalam tidur pun kita tetap menjadi orang lain, bukan orang yang kita inginkan. Dengkur misalnya tiba-tiba menjadi aib, padahal itu tanda merdeka.

Nah di dunia baru itu seorang Atika mencemplungkan diri. Menenggelamkan diri tepatnya.

Coba kita kilas balik ke latar akademisnya. Lulus dari Magister of Finance UNSW, Australia, yang sangat bergengsi, karena universitas itu peringkat 45 dunia. Ia bergulat dengan segala kerumitan bisnis, dengan cara berpikir yang amat rasional, tiba-tiba harus berhadapan dengan berbagai kerawitan kekuasaan, politik praktis, dan seterusnya.

Saya yakin beliau banyak membaca soal konsep politik ekonomi makro. Karena politik dan ekonomi seperti mata uang logam, bersisihan.

Saya yakin beliau matang soal inflasi, pertumbuhan ekonomi, PDRB, neraca keuangan, investasi, modal, dan seterusnya. Konon lagi ekonomi pembangunan, pasti beliau sangat matang.

Saya yakin juga beliau amat paham soal realitas ekonomi pembangunan di kawasan Asia Tenggara, apalagi di dunia Barat. Semua latar akademiknya amat membantu memahami potensi ekonomi dan keterbatasan daerah ini.

Saya yakin beliau setidaknya juga sudah punya peta dasar tentang itu semua, karena sudah melihat kontekstualitas Mandailing Natal selama kunjungannya ke berbagai daerah.

Beliau melihat potensi, melihat keterbatasan ekonomi ummat, melihat kemiskinan, potensi PAD, atau kemungkinan peta investasi. Orang semuda beliau, dengan latar akademik yang matang, tentu sudah mampu menjabarkan, membuat formula, dan solusi yang aplikatif atas semua kesemrautan ekonomi daerah.

Dan ini, Mandailing Natal itu seperti piring kecil dalam jamuan makan. Ada banyak menu yang harus dicoba dan berjejal dalam piring kecil itu. Ada politik yang tidak rasional, ada pola-pola penganggaran yang tidak efektif dan efisien, ada sisi-sisi yang macet, dan berbagai distorsi lain untuk sebuah akselerasi pembangunan ekonomi daerah (berpotensi tapi tertinggl). Bahkan ada bandit-bandit yang cerdas memainkan konsep fait accompli, menjebak dan memaksa orang untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Harus menjaga bandul politis, memelihara dukungan yang terus menerus, sambil harus juga melaju di jalur prioritas; ah, itu butuh energi yang luar biasa. Diperlukan dukungan dan pengertian yang luar biasa dari segenap ummat juga.

Untung, saya yakin Atika sudah punya sikap yang teguh untuk menginfaqkan dirinya bagi Mandailing Natal. Bahasa klasiknya sebutlah membangun kampung halaman. Apalagi kalau jalannya dimudahkan dengan pemberian ruang yang lebih luas untuk mencoba konsep-konsep baru misalnya; ada dukungan kaum milineal dan perempuan, dan sedikit rendah hati dari DPRD untuk membuka hati terhadap hal yang berbeda.

Jangan dulu selalu berpikir politis. Jangan dulu berpikir siapa makan menu apa. Sudah 22 tahun Mandailing Natal, masa begini-begini saja, masa jargon-jargon saja macam pepesan kosong? Gagah di motto tapi miskin kreativitas.

Semoga bupati dan wakil bupati baru mampu menguatkan harga diri kita kembali.

Askolani Nasuton adalah budayawan, sutradara dan juga birokrat. Pernah menjabat Kabag Humas DPRD Madina; Kabag Risalah dan Persidangan di DPRD Madina; Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Madina. Kini masih non job.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jakfar Sukhairi Daftar ke PPP

    Jakfar Sukhairi Daftar ke PPP

    • calendar_month Rabu, 27 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bakal Calon Bupati Madina, HM Jakfar Sukhairi Nasution hari ini selain mendaftar di PKB Madina, juga di PPP. Dengan demikian Jakfar Sukhairi sudah mendaftar di 6 partai politik. Yakni PDIP, Gerindra, Berkarya, Demokrat, PKB dan PPP. Jakfar Sukhairi yang saat ini mejabat wakil bupati Madina mendaftar di sekretriat DPC Partai […]

  • Bupati dan Wabup Pimpin ASN Gotong Royong Bersihkan Pasar Panyabungan

    Bupati dan Wabup Pimpin ASN Gotong Royong Bersihkan Pasar Panyabungan

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi memipim rombongan ASN gotong royong membersihkan pasar lama Panyabungan, Sabtu (3/5/2025). Ketua DPRD Madina Erwin Efendi Lubis turut mendampingi kegiatan itu. Gotong royong ini merupakan kampanye kebersihan lungkungan menuju kota Panyabungan yang bersih secara umum. Seluruh petugas kebersihan […]

  • Lahan PT GPL Kurang, Masyarakat Sinunukan Meradang

    Lahan PT GPL Kurang, Masyarakat Sinunukan Meradang

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Masyarakat Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), meradang. Kebun plasma kelapa sawit yang dijanjikan PT Gruti Pratama Lestari (GPL), hingga kini tak kunjung terealisasi. Warga meradang, anggota dewan tak tinggal diam. Komisi II DPRD Madina lantas memanggil pihak perkebunan, kenapa kebun plasma untuk masyarakat tak kunjung direalisasikan. Pada pertemuan di Kantor DPRD Madina, Panyabungan, […]

  • Atika Sidak di Beberapa Instansi Layanan Publik

    Atika Sidak di Beberapa Instansi Layanan Publik

    • calendar_month Rabu, 5 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina), Sumut, Atika Azmi Utammi Nasution melakukan speksi mendadak (sidak) di sejumlah instasi di Madina, Selasa (4/2/2025). Beberapa instansi itu bersentuhan langsung dengan masyarakat dalam hal layanan pemerintah daerah, yakni Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, DPMPTSP, dan Puskesmas Panyabungan Jae. Atika menyebut, sidak ini bagian dari pengawasan […]

  • Ketika Cinta Ditolak, Iman Ditabrak?

    Ketika Cinta Ditolak, Iman Ditabrak?

    • calendar_month Selasa, 11 Mei 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Cinta ditolak, dukun bertindak! Begitulah kalimat yang dulu sempat popular bagi pejuang cinta yang menabrak akal sehatnya demi mengejar atau juga melampiaskan sakit hati pada lawan jenisnya. Namun saat ini, dukun tidak lagi diminati. Karena mungkin, kerjanya terlalu bertele-tele apalagi jika sampai merogok kocek yang hingga kendor. […]

  • Penempatan di Madina Guru Pincang

    Penempatan di Madina Guru Pincang

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – PDI Perjuangan Panyabungan Barat mendesak Dinas Pendidikan untuk segera melakukan pemeratan dalam penempatan guru untuk SD di Kecamatan Panyabungan Barat. Saat ini, rata-rata SD hanya memiliki tiga orang guru kelas atau guru tetap. Sedangkan sisanya, termasuk guru honor. Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Panyabungan Barat Hosman Hasibuan mengatakan kepada wartawan […]

expand_less