Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

Sutan Puasa dan Kuala Lumpur (2-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 15 Agt 2013
  • print Cetak

Oleh: Abdur-Razzaq Lubis
(Pengamat etnis Mandailing tinggal di Malaysia)

Penabalan Yah Ah Loy
Sutan Puasa dan Raja Asal adalah “sahabat baik” dan “sahabat karib” dan rakan perkongsian Yap Ah Loy. Apabila Yap Ah Loy dipilih menjadi Kapitan Cina Kuala Lumpur yang ketiga, Sutan Puasa memberi sokongannya. Istiadat keramaian yang meriah telah diadakan untuk mengiktiraf perlantikan Yap Ah Loy, dan upcara penabalannya disempurnakan oleh Raja Mahdi, seorang raja Bugis.

Sewaktu Yap Ah Loy ‘ditabalkan’, Sutan Puasa dan Raja Asal diberi tempat yang istimewa. Penabalan itu berlaku pada June 1869. To’ Guru yang mengajar Raja Asal “ilmu kebal” telah meramalkan bahwa genap seratus tahun dari hari keramaian itu maka satu pergaduhan besar-besaran akan berlaku di Kuala Lumpur. Ini membayangkan trajedi 13 Mei 1969.

Di babak-babak akhir Perang Kelang, persahabatan dan perkongsian mereka terungkai kerana Yap Ah Loy menyokong Tunku Kudin manakala Sutan Puasa dan Raja Asal menyebelahi Raja Mahdi.

Kuala Lumpur, sebuah kampung pada 1860an, hangus dijilat api dalam peperangan itu, dan hanya dibangunkan semula sesudah perang tamat.

Kubu Sutan Puasa di Bukit Nenas
Menurut Wan Muhammad Amin bin Wan Muhammad Sa’id, pengarang Pesaka Selangor, di penghujung Perang Kelang, “Orang2 Mandeleng serta ketua2 mereka seperti Raja Asal dan lain2 yang di-Kuala Lumpur itu sudah undor masok ka-negeri Perak, tetapi sa-tengah-nya ada juga lagi dudok di-Kuala Lumpur dalam kubu Bukit Nanas.”

Seorang ahli sejarah Inggeris berkata, “the traditional seat of Malay authority in Kuala Lumpur was a stockade, originally built in the 1860’s on Bukit Nenas, and known after the cicil war as ‘Sutan Puasa’s stockade’ from the Malay headman who had once occupied it.”

“Tampuk tradisional kekuasaan Melayu (baca Mandailing) di Kuala Lumpur adalah sebuah kubu, mulanya dibina pada 1860an di atas Bukit Nenas, dan dikenali sesudah perang saudara (di Selangor) sebagai ‘kubu Sutan Puasa’ sempena (nama) kepala Melayu yang pernah mendudukinya.”

Seperti kebanyakan ahli-ahli sejarah Barat mahupun tempatan, ahli sejarah Inggeris itu tidak tahu membezakan antara beratus-ratus suku pribumi di kepulauan Nusantara. Sutan Puasa yang bermarga Lubis itu bukan “kepala Melayu” tetapi kepala Mandailing.

Nama asal Bukit Nenas ialah Bukit Gombak. Menurut riwayat lisan orang-orang Mandailing, semasa Perang Kelang, nenas ditanah di atas bukit itu semacam dawai berduri bagi menghadapi kemaraan musuh.

Pedang Timan Yang Disegani
Sutan Puasa turut melarika diri sesudah Raja Mahdi kalah dan cuma kembali ke Kuala Lumpur sesudah Inggeris berkuasa. Dia terus menjadi pedagang timah di Kuala Lumpur.

Menurut Pasqual, seorang pegawai British yang bertemu dengan Sutan Puasa, pedagang-pedagan Mandailing dianggap amanah dan tidak mengurangkan timbangan dacing-dacing mereka, dan kerana itu pelombong-pelombong Tionghua lebih suka timah mereka disukat oleh Sutan Puasa daripada bangsa mereka sendiri.

The Malay tin dealers gave their customers a square deal and were noted for not tempering with their “daching” or weighing scale. As no tow dachings weighed alike, showing a difference of one per cent more or less on the heavy or light side, it was a common practice when a Chinese miner consigned his tin to a Chinese shop-keeper who was financing his mine from Kuala Lumpur, for the miner to stipulate that his tin be weighed in with the daching of Sutan Puasa or Thamby Dollah or any of the other Malay merchants he fancied.

“Peniaga Melayu (baca Mandailing) berurusan dengan pelanggan-pelanggan mereka dengan saksama dan terkenal kerana tidak memalsukan dacing mereka atau timbangan mereka. Lantaran timbangan dua dacing tidak sama, berbeda lebih kurang satu peratus, lebih berat atau lebih ringan, maka sudah menjadi kebiasaan bagi seorang pelombong Cina yang meletakkan timahnya kepada seorang pekedai Cina di Kuala Lumpr yang membiayai keliannya, untuk mensyaratkan supaya timahnya ditimbang oleh dacing Sutan Puasa atau Thamby Dollah atau sebarang saudagar Melayu (baca Mandailing) yang disenanginya.”

Old and infirm when I first made his acquaintance, the old warrior peaceably settled down in Ampang Street as a tin merchant, buying the tin produced by the Chinese miners. “Tua dan tidak berdaya bila saya (Pasqual) mula-mula mengenalinya, pendekar tua itu duduk aman di Jalan Ampang sebagai pedagang timah, membeli timah yang dikeluarkan oleh pelombong-pelombong Cina.”

He was somewhat reticent by nature and never talked about his exploits nor the hidden “gharone” of tin ingots which were buried away during the “prang Mahdi”, of which he owned several but could not locate their whereabouts…

“Sifatnya semacam berat mulut dan dia tidak pernah bercakap mengenai penglibatnnya (dalam Perang Kelang) atau mengenai harta karun bijih timah yang disembunyikan (ditanamkan) dalam Perang (Raja) Mahdi, ada beberapa kepunyaannya tetapi tidak dapat dikesan di mana…”

Khabar mengenai harta karun itu telah menyebabkan ramai orang mencarinya tetapi tidak berjaya.

Di akhir hayatnya, Sutan Puasa menetap di Kampung Rawa (Jalan Melayu sekarang) sebelum berpindah ke sebuah perkampungan Mandailing di Jalan Chow Kit.

Sutan Puasa yang dahulunya orang Mandailing yang terkaya sekali di Kuala Lumpur, menjadi miskin sesudah perang. Sementara bekas sahabat karib dan rakan perkongsiannya, Yap Ah Loy menjadi pelombong yang paling kaya dan berkuasa sekali di Kuala Lumpur.

Sutan Puasa menghembus nafasnya yang terakhir pada 1326 Hijrah (c. 1909 Masihi) di rumah sahabatnya, seorang lagi Kapitan Cina, dan dikebumikan di tanah perkuburan Islam di Jalan Ampang. Al-Fatihah.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Teroris RI bukan jaringan Osama

    Teroris RI bukan jaringan Osama

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Selama ini, aksi teror yang terjadi di Indonesia selalu dikaitkan dengan Al Qaidah miliknya Osama Bin Laden. Bahkan kematian Osama pun dikhawatirkan akan membuat jaringan teror di Indonesia kembali marak sebagai aksi balas dendam. Ketakutan ini dibantah mantan . “Tidak ada efek besar dari tewasnya Osama Bin Laden terhadap teroris di Indonesia,” kata […]

  • Polri: Kasus pers tak bisa langsung ke polisi

    Polri: Kasus pers tak bisa langsung ke polisi

    • calendar_month Senin, 13 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Mabes Polri-Dewan Pers sepakat dan sepaham bahwa seluruh kasus yang berkaitan dengan pers tidak bisa langsung dilaporkan ke polisi. “Ke depannya tak bisa ujug-ujug lagi masyarakat langsung lapor ke polisi. Harus dilaporkan ke Dewan Pers dan menjalankan mekanisme mediasi terlebih dahulu dan hak jawab,” kata Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, […]

  • Fakhrizal Efendi Nasution : Naposo Bulung Adalah Pagar Desa

    Fakhrizal Efendi Nasution : Naposo Bulung Adalah Pagar Desa

    • calendar_month Senin, 13 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN UTARA (Mandailing Online) – Anggota DPRD Sumut, H. Fakhrizal Efendi Nasution menyatakan bahwa Naposo Bulung merupakan pagar desa yang sangat potensial dalam pranata sosoal. Itu dikatakan Fakhrizal dalam pidato sambutannya di pelantikan Naposo Nauli Bulung Kelurahan Mompang Jae, Kecamatan Panyabungan Utara, Mandailing Natal, Minggu (12/8/2018). Politisi dari Partai Hanura ini diundang tokoh masyarakat menghadiri […]

  • Survey Terkini, Potensi PLTA Batang Gadis 150 MW

    Survey Terkini, Potensi PLTA Batang Gadis 150 MW

    • calendar_month Jumat, 19 Okt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Survey terhadap arus Sungai Batang Gadis yang dilakukan baru-baru ini memberikan gambaran arus sungai itu berpotensi menghasilkan arus listrik sebesar 150 MW dengan pola PLTA. Survey yang diprakarsai Kementerian ESDM sekitar 2 pekan lalu di Sungai Batang Gadis Kecamatan Siabu, Mandailing Natal memberikan gambaran potensi arus listrik 94 hingga 150 Mega […]

  • Jangan Jual Sawah dan Kerbau untuk Jadi CPNS

    Jangan Jual Sawah dan Kerbau untuk Jadi CPNS

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 1Komentar

    JAKARTA – Masih banyaknya warga peminat kursi CPNS yang termakan rayuan calo, membuat gemas Kepala Pusat Pengembangan Sistem Rekrutmen PNS Badan Kepegawaian Negara (BKN)  Aris Widiyanto. Dia mengingatkan, sistem rekrutmen CPNS saat ini sudah tidak bisa ditembus aksi suap menyuap yang melibatkan percaloan. “Dalam hal ini tidak mungkin ada calo atau penipu. Sehingga masyarakat di […]

  • Pengusaha Ternak Sapi di Madina Prediksi Harga Daging Sapi Naik Jelang Ramadhan 1445 H

    Pengusaha Ternak Sapi di Madina Prediksi Harga Daging Sapi Naik Jelang Ramadhan 1445 H

    • calendar_month Kamis, 29 Feb 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tri Utomo salah satu penjual sapi di Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal ( Madina ) memprediksi harga sapi kurban akan naik tahun ini baik harga daging kiloan maupung harga per ekor nya. Seperti biasa memang, satu hari jelang ramadhan, mengkonsumsi daging sapi atau diistilahkan “poken bante” menjadi tradisi di Kabupaten ini. […]

expand_less