Minggu, 1 Mar 2026
light_mode

Tentang Etek Do Mulo Ni Gondang

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 5 Des 2013
  • print Cetak

Oleh: Edi Nasution

Dari atas dan lereng bukit-bukit yang terdapat di Mandailing, semenjak dulu hingga pada masa sekarang ini masih sering kita dengar sesuatu bunyi yang berirama mempesona dan menggelitik jiwa, yang pada gilirannya dapat memikat perhatian kita.

Suara apakah gerangan? Siapakah yang membunyikannya? Pertanda apakah gerangan? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang melintas di dalam benak kita. Bunyi itu ternyata berasal dari hasil kreatifitas manusia yang sedang memainkan alat musik (emic view) yang terbuat dari bambu yang kita kenal dengan nama etek atau otuk.
.
Alat musik tersebut terbuat dari satu setengah ruas bambu (bulu soma) yang banyak ditemukan dalam hutan yang terdapat di bukit-bukit itu. Bambu yang dijadikan alat musik ini mempunyai diameter kurang lebih 18 cm dan pada bagian tengah tabung (tube) bambu dibuat lubang berbentuk empat persegi panjang, yang lebarnya 4 cm dan begitu pula panjangnya kurang lebih 35 cm.

Tube (tabung) bambu terdiri dari satu ruas dan kedua bongkolnya tetap dibiarkan utuh. Kurang lebih setengah ruas yang sisa ke samping dibentuk seperti huruf ’U’ dengan membuang bagian tengahnya. Bahagian bambu yang sisa pada sebelah atas dan bawah mempunyai lebar kurang lebih 4 cm. Dan yang lebih umum, di mana pada sebelah ruas lainnya dibentuk pula hal yang serupa, akan tetapi hanya untuk bagian atas saja, yang panjangnya sekitar 20 cm dan lebarnya kurang lebih 4 cm juga. Umumnya lapisan luar (kulit bambu) tidak dibuang, tapi ada juga alat musik etek yang semua bagian luar bambu yang dibuang, dan kemudian dibubuhi cat pewarna atau tidak dicat sama sekali.

Irama
Alat musik ini dimainkan secara horizontal yang melintang di hadapan musisinya dan agak miring karena diletakkan dilekukan pergelangan kaki kanan atau kiri (tergantung kebiasaan musisinya).

Etek dimainkan dengan ’stik’ yang terbuat dari bambu yang diraut bulat, di mana stik untuk irama konstan (2 buah) mempunyai diameter kurang lebih 1 cm dan panjangnya kira-kira 30 cm, sedangkan stik untuk ritmik peningkah (improvisasi) yang satu buah berdiameter kurang lebih 11/2 cm dan panjangnya 30 cm. Irama ritmik konstan dimainkan pada bagian yang berbentuk ’U’ dengan dua buah stik, sedangkan untuk irama peningkah pada tabung (tube) sebelah atas.

Sama halnya dengan cara meletakkan etek pada lekukan kaki sebelah kiri atau kanan, maka sebagai konsekuensinya akan merubah posisi irama konstan dan peningkah pada kedua tangan. Apabila etek diletakkan di lekukan kaki sebelah kanan, maka tangan kanan berfungsi sebagai pembawa irama konstan dengan dua buah stik, dimana stik yang terbawah akan mengetuk bagian dalam bentuk ‘U’ (bergerak ke atas dan ke bawah), sedangkan stik yang satu lagi hanya mengetuk bagian luar dari sebelah atas bentuk ‘U’ tersebut; seiring dengan itu, stik yang dipegang oleh tangan kiri sibuk pula memainkan ritmik peningkah.

Begitu pula sebaliknya apabila etek diletakkan di lekukan pergelangan kaki kiri, maka irama konstan terdapat di tangan kiri dan irama peningkah pada tangan kanan. Khusus mengenai teknik ini, menurut beberapa musisi etek, teknik yang umum dipakai adalah dengan ritmik konstan di tangan kanan dan ritmik peningkah di tangan kiri. Begitupun, ada pula yang mengatakan bahwa justru sebaliknyalah yang paling baik dalam memainkan instrument etek.

Seperti halnya cara memainkan etek yang telah disinggung di atas, dimana etek diletakkan dilekukan pergelangan kaki yang bertumpu kepada tumit kaki, sementara kaki yang satu ini dengan sendirinya membentuk sudut tumpul dan kaki yang satu lagi terlipat ke arah dalam. Begitu pula dengan tangan kanan (boleh juga tangan kiri) yang memegang dua buah stik untuk memainkan ritmik konstan, dimana satu buah stik diselipkan di antara jari tengah dan jari telunjuk, sementara stik yang satu lagi diletakkan di antara jari telunjuk dan ibu jari dan kemudian tangan yang memegang kedua stik itu dikepal. Tangan lain yang memainkan ritmik peningkah dengan sebuah stik yang digenggam.

Dapat ditambahkan bahwa pada sisi ruas lain umumnya dibuat pula bagian bambu yang lebih pula (seperti telah disinggung di atas), dan bagian ini biasanya dimainkan oleh orang lain dengan ritmik konstan dan variasi, dengan memakai stik yang sama besar dan bentuknya sama dengan stik peningkah.

Repertoar
alat musikal yang oleh masyarakat Mandailing dinamakan etek atau otuk ini, penamaannya yang demikian itu dikarenakan produk bunyi yang dihasilkannya ketika sedang dimainkan (tek … tek … tek … dan tuk … tuk … tuk …). Etek atau otuk ini dapat diklasifikasikan kepada slit drum, yang dimainkan pada saat seseorang menjaga ladangnya untuk mengusir rasa sepi, dan dapat juga dipergunakan untuk menghalau hama tanaman di ladang, misalnya seperti monyet, kera, tupai dan lain-lain. Biasanya etek ini dapat dijumpai di setiap sopo (gubuk) di ladang dan seringkali dimainkan pada siang hari.

Tidak jarang, antara sesama peladang di lereng-lereng bukit itu memainkan etek secara bersahut-sahutan, layaknya suatu alat komunikasi sesama mereka. Seseorang yang memainkannya mungkin bermaksud mengetahui apakah temannya sudah berada di ladangnya atau tidak. Apabila temannya itu ternyata berada di ladangnya, tentu ia akan membalas panggilan kawannya itu lewat permainan etek pula.

Bertolak dari apa yang dapat diamati melalui permainan etek pada masa sekarang ini, dalam seni pertunjukan etek dapat dimainkan hampir keseluruhan repertoar gondang yang terdapat di Mandailing antara lain seperti gondang moncak, porang, roba na mosok, udan potir dan sebagainya.

Dalam hubungan ini, banyak orang-orang tua di Mandailing mengungkapkan suatu istilah: etek do mulo ni gondang. Begitupun, apa yang disajikan dalam tulisan ini sangat dirasakan keterbatasannya dalam beberapa segi. Untuk itu marilah secara bersama-sama kita perbaiki. (sumber: Blog etek do mulo ni gondang/pernah dimuat dalam Harian Waspada tahun 1991)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Madina Evaluasi ETPD

    Pemkab Madina Evaluasi ETPD

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mandailing Natal menggelar rapat evaluasi Roadmap dan Rencana Aksi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD)  di Aula Bupati, Jum’at (5/10/2024) Rapat yang dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sibolga, Andri Darmawan, dan Asisten Pemerintahan, Drs. Sahnan Pasaribu, ini bertujuan untuk meningkatkan capaian Indeks Kematangan Transaksi Pemerintah Daerah (IKTPD). […]

  • Paca Kerusuhan, Danrem Persatukan Warga Pardomuan dan Sihepeng

    Paca Kerusuhan, Danrem Persatukan Warga Pardomuan dan Sihepeng

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPANULI SELATAN (Mandailing Online) – Pemkab Tapsel, Pemkab Madina, tokoh masyarakat Desa Parmouan (Aek Badak Siture) dan Desa Sihepeng melakukan  pertemuan, pasca kerusuhan. Pertemuan yang dimediasi Danrem 023/KS Kolonel Inf Richard TH Tampubolon yang juga dihairi unsur Polres Tapsel dan Polres Madina itu dilaksanakan di Ranto Natas, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanili Selatan, Rabu (21/9). […]

  • Carut Marut Negeri Akibat Sombong Kepada PenciptaNya

    Carut Marut Negeri Akibat Sombong Kepada PenciptaNya

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Essay : Siti Khadijah Sihombing   Tidakkah kamu merasakan kerusakan negeri ini? Taukah kamu bahwa negeri ini telah rusak? Sudah tampak jelas duhai saudara semuanya, kerusakan ini telah nampak di depan mata, baik di kota sampai pelosok desa. Tak ada kesejahteraan dan kebahagiaan lagi yang dirasakan umat. Umat hari ini dipaksa untuk tunduk dan patuh […]

  • Dibangun Tahun 2009, Jembatan ke Desa Adangkahan Tak Selesai

    Dibangun Tahun 2009, Jembatan ke Desa Adangkahan Tak Selesai

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Jembatan yang menghubungkan jalan negara ke Desa Adangkahan. Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina) tak pernah difungsikan sejak dibangun tahun 2009 lalu. Pasalnya, jembatan itu tak pernah diselesaikan hingga kini. Padahal hanya jembatan ini satu-satunya penghubung ke desa itu. Alhasil, jembatan itu mubazir hingga kini, dan penduduk desa tetap harus […]

  • Pendidikan Harus Tanamkan Budaya Anti Korupsi

    Pendidikan Harus Tanamkan Budaya Anti Korupsi

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    YOKYAKARTA :Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Chandra Hamzah mengatakan dunia pendidikan harus berperan tanamkan budaya anti korupsi. “Efektivitas penegakan hukum tidak hanya ditentukan oleh aparatnya, tetapi juga ditentukan oleh produk hukum dan budaya masyarakat untuk mematuhi hukum. Dunia pendidikan berperan untuk mengajarkan budaya patuh hukum,” katanya saat menjadi pembicara seminar nasional `Peran Korupsi terhadap Dehumanisasi Pendidikan […]

  • Dua Tahun Belajar di Bawah Pohon Sawit

    Dua Tahun Belajar di Bawah Pohon Sawit

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PALAS – Kabupaten Padang Lawas memang identik dengan kelapa sawit. Tapi, bukan berarti kondisi yang wajar pula, proses belajar mengajar dilakukan di bawah pohon kelapa sawit. Itulah yang berlangsung selama dua tahun terakhir di Desa Gunung Tua, Kecamatan Sosa. Namun, siapa sangka, dengan kondisi tempat terbuka dan memungkinkan terkendala hujan, sejauh ini belum pernah proses […]

expand_less