Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

TOR-TOR MANDAILING

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 25 Nov 2017
  • print Cetak

Tor-tor Naposo Bulung dan Askolani Nasution

Oleh : ASKOLANI NASUTION

 

Tor-tor Mandailing tiba-tiba menjadi ikon seni tari penting dalam proses pernikahan Boby Nasution dan Kahiyang Ayu. Tentu karena begitu massif pemberitaan di berbagai media. Momen itu sekaligus mengundang rasa ingin tahu publik tentang berbagai entitas budaya Mandailing yang disuguhkan dalam proses pernikahan, termasuk Tor-Tor.

Sebagai salah satu seni tari tradisional Mandailing, Tor-Tor diyakni merupakan kesenian purba yang melekat pada berbagai proses adat Mandailing, baik dalam siriaon (peristiwa menggembirakan) maupun siluluton (musibah). Pada masa awal pertumbuhan kebudayaan Mandailing, dan itu diyakini jauh sebelum periode Islam, Tor-tor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan sistem kepercayaan klasik, yakni Si Pelebegu. Hal itu dikaitkan dengan ungkapan “somba do mula ni Tor-tor” (Tor-tor asal mulanya adalah prosesi sembah).

Dengan begitu, Tarian Tor-Tor memang bagian dari prosesi penyembahan kepada roh-roh leluluhur (dalam kosa kata Mandailing disebut dengan begu). Tentu karena roh-roh leluhur diyakini masih memiliki kekuatan sinkretis, gaib dan magis, terhadap berbagai sisi kehidupan keseharian masyarakat adat Mandailing. Roh-roh tersebut diyakini bersemayam di tempat yang disebut na borgo-borgo, baik di bawah pohon besar, di hutan, di gua-gua, dan lain-lain. Bahkan hingga di masa modern, sinkretisme itu masih amat mempengaruhi pola pikir masyarakat adat. Mereka diyakini bisa membawa bala, wabah penyakit, dan lain-lain.  Karena itu ada istilah penyakit na hona tampar, na nionjapkon ni naso nida, dan lain-lain.

Banyak versi tentang makna kata yang melekat pada Tor-tor. Dalam tataran linguistik misalnya, tidak jelas apakah Tor-tor merupakan kata dasar (Hata Bona) atau kata ulang (Hata na Marulak) dari kata Tor [Gunung]. Itu berkaitan dengan ungkapan “Tor tu tor do na marsitatapan”.  Karena itu, Edi Nasution, etno-musikolog, menyebut bahwa Tor-tor adalah bentuk pendek dari Tor tu Tor. Dan itu memang tampak dari perfromance penari Tor-tor yang penari bagian depan (na di ayapi) dan di belakang (na mangayapi) seperti membentuk persfektif jajaran perbukitan.  Apalagi saat menari, para penari Tor-tor tampak membuat gerakan naik-turun seperti visualisasi perbukitan.

Visualisasi naik-turun itu karena para penari menekuk kaki mereka mengikuti irama gondang (gendang) dengan kedua belah tangan seperti orang sedang menyembah (marsomba). Gendang yang bersahutan membentuk ritme yang sedemikian rupa dan menentuka pola gerakan penari. Gendang pembentuk irama tersebut bisa terdiri dari gondang dua, gondang topap, gondang tunggu-tunggu dua, atau gondang boru. Pola gerakan tangan dan kaki diselaraskan dengan bunyi Ogung Dadaboru (Gong betina) ketukan pertama dan ogung jantan (gong jantan) pada ketukan ketiga.

Barisan depan penari Tor-Tor (na diayapi) ditempati oleh kelompok kekerabatan yang posisi sosialnya lebih dihormati oleh mereka yang menempati barisan dibelakangnya (na mangayapi).  Dalam Tor-Tor Haroan Boru (pesta pernikahan) misalnya, posisi depan ditempati oleh pihak Mora dari pihak yang melaksanakan pernikahan (Suhut). Jika yang barisan depan ditempati Mora, maka barisan belakang adalah Suhut, yang dalam konteks hari itu itu berstatus sebagai Anakboru. Kalau yang di depan suhut (anak boru dari keluarga pengantin wanita), maka yang bagian belakang ditempati oleh anak boru dari suhut, atau anak boru ni anak boru dari Mora.

Tentu saja, sebuah tor-tor jangan hendaknya ditampilkan dalam seremonial saja. Apalagi harus menunggu adanya moment “horja godang” ala pernikahan Bobby – Kahiyang. Sebagai sebuah budaya yang usianya ratusan tahun, memiliki banyak dimensi budaya, bukan sekedar pemujaan terhadap roh leluhur. Berbagai gerak-gerik tor-tor, sebagaimana layaknya seni tari, melambangkan metafora perlindungan kepada orang yang dihormati, layaknya Anak Boru menghormati Mora, dan seterusnya. Tor-tor juga memvisualkan harmoni gerak yang indah, baik melalui tangan, kaki, dan badan.

Dalam dimensi kekinian, Tor-tor harus diletakkan pada tatanan itu, bukan lagi atas persembahan kepada roh leluhur sebagaimana pada tradisi purba. Persembahan dalam konteks kekinian harus dimaknai sebagai penghormatan kepada orang yang kita hargai, baik secara sosial maupun secara kekerabatan. Dengan melapaskan makna purba dari tarian Tor-tor, seni tradisi ini bisa lebih aktual. (Askolani Nasution adalah budayawan tinggal di Siabu, Mandailing Natal)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • RKLA Resmi Hadir di Madina

    RKLA Resmi Hadir di Madina

    • calendar_month Rabu, 2 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rumah Komunikasi Lintas Agama (RKLA) secara resmi hadir di Mandailing Natal (Madina). Peresmian organisasi yang bergerak di bidang kerukunan umat beragama dan sosial ini langsung dihadiri oleh Ketua Umum Hajjah Bunda Indah. Peresmian yang diselenggarakan di gedung serbaguna Parbangunan, Rabu (2/2) turut dihadiri Bupati H. M. Ja’far Sukhairi Nasution, Kapolres Reza, […]

  • Wabub Aceh Tenggara Silaturrahmi ke Madina

    Wabub Aceh Tenggara Silaturrahmi ke Madina

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Aceh Tenggara (Agara) H. Ali Basrah bersilaturrahmi ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sekaligus saling tukar informasi pembangunan daerah, Jum’at (17/10/2014). Rombongan diterima langsung oleh Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution di ruang kerjanya. Dalam acara silaturrahmi tersebut bupati Madina memaparkan perkembangan Kabupaten Mandailing Natal dan kebijakan-kebijakan yang dilakukan […]

  • DPD GERRAK PPRI Madina Syukuran Kemenangan Presiden Prabowo Subianto

    DPD GERRAK PPRI Madina Syukuran Kemenangan Presiden Prabowo Subianto

    • calendar_month Sabtu, 9 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kelompok Gerakan Relawan Rakyat Pendukung Prabowo Presiden RI 2024 (GERRAK PPRI 2024) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Madina selenggarakan pesta rakyat sekaligus syukuran atas dilantiknya Prabowo Subianto jadi Presiden RI Ke 8 pada 20 Oktober 2024 lalu. Ketua DPD GERRAK PPRI Muhammad Tohir Nasution mengatakan. kegiatan syukuran dan pesta rakyat ini dilaksanakan […]

  • Patogar se Madina Pilih Harun-Ichwan untuk Pilkada Madina

    Patogar se Madina Pilih Harun-Ichwan untuk Pilkada Madina

    • calendar_month Sabtu, 2 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ) – Parsadaan Toga Siregar (Patogar) se Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengelar acara pengajian rutin bulanan dan mengundang Calon Bupati nomor urut 01 Harun Mustafa Nasution. Acara pengajian yang berlangsung di Pandopo Rumah Sakit Umum Permata Madina itu dihadiri ratusan warga marga Siregar dan Anak Boru, Bere dan Kahanggi dari seluruh […]

  • SBY Siapkan Reshuffle Kabinet

    SBY Siapkan Reshuffle Kabinet

    • calendar_month Selasa, 1 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga menegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengadakan pertemuan tertutup dengan sejumlah pihak terkait reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II di kediamannya Cikeas, Senin (28/02/2011), kemarin. “Saya dengar seperti itu (SBY bicarakan reshuffle),” kata Daniel kepada pers di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (01/03/2011). Dengan […]

  • Korban Pelecehan Seks di Timur Tengah, Puluhan Anak TKW Dibuang

    Korban Pelecehan Seks di Timur Tengah, Puluhan Anak TKW Dibuang

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, Banyak tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di Arab Saudi menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual, juga melakukan hubungan gelap dengan majikan. Mereka harus menanggung aib, mengandung anak hasil perbuatan haram. Saat mereka pulang ke Indonesia, TKW yang bermasalah itu menjadi kebingungan dengan anak yang dibawanya. Apalagi, ada dari mereka yang telah mempunyai suami […]

expand_less