Selasa, 21 Apr 2026
light_mode

TOR-TOR MANDAILING

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 25 Nov 2017
  • print Cetak

Tor-tor Naposo Bulung dan Askolani Nasution

Oleh : ASKOLANI NASUTION

 

Tor-tor Mandailing tiba-tiba menjadi ikon seni tari penting dalam proses pernikahan Boby Nasution dan Kahiyang Ayu. Tentu karena begitu massif pemberitaan di berbagai media. Momen itu sekaligus mengundang rasa ingin tahu publik tentang berbagai entitas budaya Mandailing yang disuguhkan dalam proses pernikahan, termasuk Tor-Tor.

Sebagai salah satu seni tari tradisional Mandailing, Tor-Tor diyakni merupakan kesenian purba yang melekat pada berbagai proses adat Mandailing, baik dalam siriaon (peristiwa menggembirakan) maupun siluluton (musibah). Pada masa awal pertumbuhan kebudayaan Mandailing, dan itu diyakini jauh sebelum periode Islam, Tor-tor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan sistem kepercayaan klasik, yakni Si Pelebegu. Hal itu dikaitkan dengan ungkapan “somba do mula ni Tor-tor” (Tor-tor asal mulanya adalah prosesi sembah).

Dengan begitu, Tarian Tor-Tor memang bagian dari prosesi penyembahan kepada roh-roh leluluhur (dalam kosa kata Mandailing disebut dengan begu). Tentu karena roh-roh leluhur diyakini masih memiliki kekuatan sinkretis, gaib dan magis, terhadap berbagai sisi kehidupan keseharian masyarakat adat Mandailing. Roh-roh tersebut diyakini bersemayam di tempat yang disebut na borgo-borgo, baik di bawah pohon besar, di hutan, di gua-gua, dan lain-lain. Bahkan hingga di masa modern, sinkretisme itu masih amat mempengaruhi pola pikir masyarakat adat. Mereka diyakini bisa membawa bala, wabah penyakit, dan lain-lain.  Karena itu ada istilah penyakit na hona tampar, na nionjapkon ni naso nida, dan lain-lain.

Banyak versi tentang makna kata yang melekat pada Tor-tor. Dalam tataran linguistik misalnya, tidak jelas apakah Tor-tor merupakan kata dasar (Hata Bona) atau kata ulang (Hata na Marulak) dari kata Tor [Gunung]. Itu berkaitan dengan ungkapan “Tor tu tor do na marsitatapan”.  Karena itu, Edi Nasution, etno-musikolog, menyebut bahwa Tor-tor adalah bentuk pendek dari Tor tu Tor. Dan itu memang tampak dari perfromance penari Tor-tor yang penari bagian depan (na di ayapi) dan di belakang (na mangayapi) seperti membentuk persfektif jajaran perbukitan.  Apalagi saat menari, para penari Tor-tor tampak membuat gerakan naik-turun seperti visualisasi perbukitan.

Visualisasi naik-turun itu karena para penari menekuk kaki mereka mengikuti irama gondang (gendang) dengan kedua belah tangan seperti orang sedang menyembah (marsomba). Gendang yang bersahutan membentuk ritme yang sedemikian rupa dan menentuka pola gerakan penari. Gendang pembentuk irama tersebut bisa terdiri dari gondang dua, gondang topap, gondang tunggu-tunggu dua, atau gondang boru. Pola gerakan tangan dan kaki diselaraskan dengan bunyi Ogung Dadaboru (Gong betina) ketukan pertama dan ogung jantan (gong jantan) pada ketukan ketiga.

Barisan depan penari Tor-Tor (na diayapi) ditempati oleh kelompok kekerabatan yang posisi sosialnya lebih dihormati oleh mereka yang menempati barisan dibelakangnya (na mangayapi).  Dalam Tor-Tor Haroan Boru (pesta pernikahan) misalnya, posisi depan ditempati oleh pihak Mora dari pihak yang melaksanakan pernikahan (Suhut). Jika yang barisan depan ditempati Mora, maka barisan belakang adalah Suhut, yang dalam konteks hari itu itu berstatus sebagai Anakboru. Kalau yang di depan suhut (anak boru dari keluarga pengantin wanita), maka yang bagian belakang ditempati oleh anak boru dari suhut, atau anak boru ni anak boru dari Mora.

Tentu saja, sebuah tor-tor jangan hendaknya ditampilkan dalam seremonial saja. Apalagi harus menunggu adanya moment “horja godang” ala pernikahan Bobby – Kahiyang. Sebagai sebuah budaya yang usianya ratusan tahun, memiliki banyak dimensi budaya, bukan sekedar pemujaan terhadap roh leluhur. Berbagai gerak-gerik tor-tor, sebagaimana layaknya seni tari, melambangkan metafora perlindungan kepada orang yang dihormati, layaknya Anak Boru menghormati Mora, dan seterusnya. Tor-tor juga memvisualkan harmoni gerak yang indah, baik melalui tangan, kaki, dan badan.

Dalam dimensi kekinian, Tor-tor harus diletakkan pada tatanan itu, bukan lagi atas persembahan kepada roh leluhur sebagaimana pada tradisi purba. Persembahan dalam konteks kekinian harus dimaknai sebagai penghormatan kepada orang yang kita hargai, baik secara sosial maupun secara kekerabatan. Dengan melapaskan makna purba dari tarian Tor-tor, seni tradisi ini bisa lebih aktual. (Askolani Nasution adalah budayawan tinggal di Siabu, Mandailing Natal)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banyak PNS ‘Lari’ dari Taput

    Banyak PNS ‘Lari’ dari Taput

    • calendar_month Sabtu, 27 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TARUTUNG-Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tapanuli Utara (Taput), Jasa Sitompul, menyampaikan kritik atas banyaknya PNS setingkat eselon II dan III ‘lari’ dari Pemkab Taput dan memilih berkarir di daerah lain. Kondisi itu menyebabkan proses pembangunan terhambat, sebab PNS yang pindah umumnya para pejabat potensial dan layak menduduki jabatan strategis. Kepala Badan Kepegawaian […]

  • Dapil 5 Punya 4 Caleg Wartawan (bagian 1)

    Dapil 5 Punya 4 Caleg Wartawan (bagian 1)

    • calendar_month Kamis, 21 Feb 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Figur calon legislatif untuk DPRD Madina dari kalangan wartawan lebih banyak di Daerah Pemilihan Madina 5. Dibanding Dapil lain. Dapil 5 meliputi : Kecamatan Siabu Bukit Malintang, Naga Juang, Hutabargot, Panyabungan Utara. Warga di Dapil Madina 5 harusnya bersyukur punya calon legislatif dari figur-figur wartawan. Mengapa harus bersyukur? Ya, karena wartawan itu selama ini […]

  • Biaya Pembuatan KTP di Madina Mancapai Rp50.000

    Biaya Pembuatan KTP di Madina Mancapai Rp50.000

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal (Madina) merasa keberatan. Pasalnya, biaya pembuatan Kartu Keluarga (KK) disebut mencapai Rp20.000 dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Rp50.000. Mahalnya biaya pembuatan KK dan KTP tersebut terungkap saat puluhan massa tergabung dalam Barisan Muda Mandailing Natal (Madina) terdiri dari PC PMII Madina, Madina Institute, Pantai Barat Mandailing Foundation, PMP Madina, IMA […]

  • Caleg Yang Mendekam Dipenjara Raih Suara Terbanyak Pemilu di Madina

    Caleg Yang Mendekam Dipenjara Raih Suara Terbanyak Pemilu di Madina

    • calendar_month Rabu, 23 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ir Ali Makmur Nasutiona alias Jaganding menyabet suara terbanyak suara caleg pada Pemilu 2014 di Mandailing Natal (Madina). Berdasar rekapitulasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Madina, Senin dini hari (22/4/2014), suara Jaganding dari Partai Hanura di Dapil I sebanyak 5.244 suara. Perolehan Jaganding ini mengejutkan karena sejak bulan Pebruari lalu […]

  • Ketika Mahasiswa Angkat Bicara, Akankah Pemerintah Berlapang Dada?

    Ketika Mahasiswa Angkat Bicara, Akankah Pemerintah Berlapang Dada?

    • calendar_month Sabtu, 3 Jul 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Kalangan kampus kini kembali sedang menjadi sorotan. Pasca pemberitaan meme BEM UI yang bertuliskan The King of Lip Service.  Seperti diberitakan oleh gelora.co, Minggu (27/06/2021) bahwa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Leon Alvinda Putra telah memberikan penjelasan terkait hal tersebut. Penjelasan tersebut disampaikan Ketua […]

  • Demokrat Sarankan Calon Wakil Bupati Harus Orang Dekat Bupati

    Demokrat Sarankan Calon Wakil Bupati Harus Orang Dekat Bupati

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Fraksi Demokrat DPRD Mandailing Natal (Madina), H. Binsar Nasution menyarankan kepada Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution agar mengusulkan calon wakil bupati dari kalangan orang-orang dekat serta yang telah berjasa mengantarkan pasangan Hidayat Batubara dan Dahlan Hasan Nasution memenangi Pilkada pada 2010 lalu. “Mungkin semua orang di Madina ini sudah tahu […]

expand_less