Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

SBY salah membuat kebijakan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 19 Jul 2012
  • print Cetak

sby

JAKARTA – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengevaluasi periode kedua kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

JK menilai, Presiden SBY telah membuat kebijakan yang tidak tepat membentuk sekretariat gabungan (setgab) parpol koalisi. “Sekarang ini pemerintah dengan sadar membuat oposisi, dengan sadar, karena membikin Setgab. Setgab itu ya partai pemerintah, di luar Setgab ialah oposisi,” kata JK.

JK menilai Setgab hanya sebagai alat yang semakin mempersulit pemerintah menetapkan kebijakan publik. Salah satunya kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pemerintah gagal menaikkan harga BBM bersubsidi tahun ini, sementara dalam pemerintahan periode lalu, pemerintah mampu menaikkan harga BBM subsidi 125 persen tanpa menimbulkan protes keras.

JK menuturkan bagaimana dia mampu melobi dan meyakinkan DPR agar mau menyetujui penaikan harga BBM tanpa haru membentuk setgab. “Yang pertama saya telepon adalah PDIP, boleh dicek pada saat pemerintah ingin menaikkan harga BBM 125 persen, tertinggi di dunia dan tertinggi di Indonesia, kenapa aman? Saya telepon Emir Moeis, saya loud speaker dalam rapat kabinet.”

“Kita mau naikkin BBM nih, tapi agak tinggi, tapi kalau tidak malah bahaya nantinya, ah naikkan aja bos katanya gitu, tinggi-tinggi juga tidak apa-apa. Bener nih? Jadi PDIP tidak marah yah? Ah tidak, tenang saja Bos. Beres kan? Beres,” kata JK menceritakan.

Lebih jauh JK menilai, pemerintah tidak perlu membawa persoalan kenaikan harga BBM subsidi ke parlemen. Menurut Jk, kenaikan harga tidak harus didebatkan di DPR. “Ini kan harga, DPR kan tidak bicara harga, tapi bicara anggaran, tentukan konsumsinya sekian, katakanlah Rp100 triliun, kan musti taat, terkecuali kalau anda katakan subsidi dinaikkan, kalo tidak semuanya naik, kalau gitu kan harus kita naikkan, lalu anda pun tidak boleh marah, karena ini tidak perlu persetujuan DPR,” kata JK.

Hal senada juga dilontarkan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Bachtiar Effendi.

Dikatakan, pengorganisasian partai-partai yang berkoalisi ke dalam sekretariat gabungan dimaksudkan agar kekuatan politik yang dominan mudah diorganisasi. Namun upaya ini gagal untuk mewujudkan kekuatan politik dominan yang bisa memerintah secara efektif.

“Alih-alih dimaksudkan untuk membangun agenda pemerintahan bersama, koalisi justru hanya ingin digunakan untuk mencari dukungan mayoritas di parlemen. Karena bertumpu pada sistem presidensial, tetap saja yang menjadi penentu kebijakan adalah presiden,” katanya.

Dalam sistem ini, kebijakan atau agenda pemerintahan tidak pernah menjadi sesuatu yang digagas, dirumuskan, dan dilaksanakan bersama oleh koalisi. Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) misalnya, tetap saja hal itu merupakan inisiatif presiden yang belum tentu disetujui atau didukung oleh partai-partai yang tergabung dalam koalisi.

Menurut Bachtiar, kesalahan paling elementer dari penggagas koalisi ini adalah bahwa sistem presidensial tidak mengenal koalisi. Pemerintahan presidensial hanya akan berjalan efektif jika jumlah partai terbatas—misal dua partai seperti di Amerika Serikat. Dengan jumlah partai yang sedikit itu, kemungkinan menghadirkan kekuatan politik yang dominan lebih besar.

Sebenarnya ide untuk membangun koalisi sebagaimana disinggung di atas bukanlah sesuatu yang serta merta jelek. Akan tetapi, koalisi mengesankan sesuatu yang dipaksakan secara maksimal sehingga menjadi sulit dikelola.

“Jika saja pemerintahan puas dengan koalisi mayoritas sederhana (50 persen plus), tidak bakal banyak partai yang bakal diajak bergabung. Dapat dipastikan, pilihan ini akan lebih mudah untuk dikekola,” kata Bachtiar.

Langkah seperti ini, membangun koalisi mayoritas sederhana di dalam sistem presidensial dengan banyak partai, mungkin saja bisa mengatasi diskordansi yang terjadi. Akan tetapi, hal itu harus dianggap sebagai jalan keluar yang bersifat sementara.

“Pembangunan politik hendaknya tetap diarahkan pada pengurangan jumlah partai, kecuali kita bersedia beralih pada sistem pemerintahan parlementer,” tuturnya.(kompas)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD dan Pemkab Madina Sepakati RPJMD

    DPRD dan Pemkab Madina Sepakati RPJMD

    • calendar_month Jumat, 5 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak DPRD dan Pemkab Madina menandatangani kesepakatan terhadap Rancangan Awal RPJMD 2021-2026. Kesepakatan dilakukan pada rapat paripurna di DPRD Madina, Jum’at (5/11/2021). Rapat paripurna dipimpin Wakil Ketua DPRD Madina, Harminsyah Batubara. Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution menandatangani nota kesepakan itu mewakili pemerintah daerah, dan dua pimpinan legislatif mewakili DPRD […]

  • Moral Penduduk Madina Kian Merosot

    Moral Penduduk Madina Kian Merosot

    • calendar_month Senin, 24 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Saat ini kondisi pengamalan keagamaan di Mandailing Natal (Madina) cukup memprihatinkan. Akhlak dan moral manusianya sudah jauh dari ajaran Islam yang haikiki. Ini terlihat dari minimnya warga yang memakmurkan masjid, pengajian pengajian yang dilaksanakan warga sudah jauh berkurang. Rasa persaudaraan dan silaturrahmi sudah mulai pupus dan maraknya pelanggaran agama baik yang […]

  • Petani Tapsel dan Kementan Kembangkan Bawang Merah

    Petani Tapsel dan Kementan Kembangkan Bawang Merah

    • calendar_month Selasa, 15 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      TAPSEL – Kementerian Pertanian RI menjalankan program pengembangan bawang merah di wilayah Tapsel, tahun anggaran 2019. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Ir. Bismark Muaratua, di Sipirok, Senin (14/10),  mengatakan pengembangan tahap awal bawang merah tersebut untuk 10 kelompok tani. Dengan rincian tiga kelompok tani di wilayah Kecamatan Angkola Muara Tais, dua di […]

  • Madina Enggan Menyuap Pusat Soal CPNS

    • calendar_month Rabu, 21 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabar merebak di Madina bahwa tidak ikutnya Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam penerimaan CPNS tahun 2013 ditengarai akibat Pemkab Madina enggan memberikan suap quota kepada departemen di Jakarta. Kabar itu menjadi salah satu topik pembicaraan di Panyabungan. Sementara itu, dalam beberapa pembicaraan tidak resmi dengan wartawan, sejumlah kalangan pejabat di Madina […]

  • Petani Madina Belum Seriusi Jangung

    Petani Madina Belum Seriusi Jangung

    • calendar_month Rabu, 17 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hingga kini petani di Madina (Mandailing Natal) belum serius menggeluti budidaya jagung. Padahal, trend industri dan pakan ternak yang meningkat telah memberi peluang makin tingginya pasaran jagung sebagai bahan baku. Ketua Perhimpunan Petani Jagung Indonesia (Hipjagin) Madina, Drs.Motinggo Buse Nasution kepada waratawan, Rabu (17/4) mengungkapkan animo petanoi terhadap budidaya jagung masih […]

  • Kenapa Tidak Ada Kata Fir’aun dalam Kisah Nabi Yusuf as?

    Kenapa Tidak Ada Kata Fir’aun dalam Kisah Nabi Yusuf as?

    • calendar_month Jumat, 18 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Banyak kisah yang disebut dalam Al-Quran. Kebanyakan adalah kisah para nabi. Di antaranya adalah Nabi Yusuf as. Namun kisah beliau tergolong istimewa karena dikhususkan dalam satu surat. Nama suratnya pun memakai nama pribadi beliau. Sebanyak 13 halaman mushaf hanya bercerita tentang beliau dari kecil hingga berkuasa di Mesir. Sebanyak 11 halaman khusus bercerita saat […]

expand_less