Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Nasib Penangkar Kopi Luwak ‘Gelap’, Sehitam Kopinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 7 Nov 2010
  • print Cetak


Pemerintah boleh bangga dengan kehebatan Kopi Luwak Indonesia yang mampu ‘menghipnotis’ para pecinta kopi di seluruh dunia seperti di ajang World Expo Shanghai China 2010. Namun kondisi ini justru berlawanan dengan nasib para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat.

Setidaknya sepanjang tahun 2010 ini, para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat mengeluh sulitnya menjual produk kopi luwak-nya. Hal ini diakui oleh beberapa produsen kopi yang ditemui detikFinance di kawasan Way Mengaku Liwa beberapa waktu lalu.

Misalnya saja Sapri pemilik Ratu/Central Luwak yang mengaku saat ini kwintalan biji mentah (gelondongan) kopi luwaknya belum terjual padahal ia harus mendapatkan dana segar untuk memutar bisnis kopi luwaknya. Maklum saja, sekarang sudah bukan lagi musim kopi namun Sapri harus tetap memelihara puluhan ekor musang atau luwaknya dengan biaya pakan yang lumayan menguras kantong.

“Sekarang sebagian musang yang kurus-kurus kita lepaskan ke hutan, yang saya punya hanya tinggal 30 ekor,” katanya saat ditemui detikFinance di kediamannya, Lampung Barat, beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan permasalahan utama yang saat ini melilit para produsen kopi luwak di Liwa adalah masalah sertifikasi keaslian produk kopi yang belum jelas juntrungannya. Berbagai upaya oleh produsen untuk meminta bantuan pemerintah termasuk pemda Lampung Barat dan Lampung masih nihil alias belum mendapat respon. “Padahal kalau ada permintaan skala besar apalagi untuk ekspor. Pembeli mensyaratkan adanya sertifikasi standar internasional untuk memastikan keaslian kopi luwak,” jelas Sapri.

Menurut Sapri, kondisi semacam ini tidak jarang rencana order dalam jumlah besar harus gagal di tengah jalan, cuma gara-gara alasan tidak ada sertifikat yang menjamin keaslian kopi luwak.“Pemerintah yang diatas kita ini, selalu beralasan kami tidak berwenang. Mereka nggak kasih solusi soal sertifikasi ini,” tegas Sapri.

Dikatakannya saat ini gaung kopi luwak yang pesonanya sudah begitu luar biasa di masyarakat justru tak menyentuh kesinambungan bisnis kopi luwak di Liwa. Seharusnya, lanjut Sapri, dengan pamor kopi luwak yang sudah terkenal seantero dunia, para produsen bisa merasakan geliat penjualan produk mereka.

“Gaungnya kopi luwak ini memang besar, tapi untuk urusan kesinambungan permintaannya belum terlihat,” katanya. Sehingga kata dia sekarang ini para produsen untuk meyakinkan pembeli mengenai keaslian produk kopi luwaknya dengan cara membawa pembeli ke tempat penangkaran dan menyaksikan langsung proses produksinya.

“Akhirnya kalau mau nunjukin keaslian, ya pantat si luwak itu lah sebagai sertifikatnya,” ucapnya tertawa. Selain masalah sertifikat keaslian, para produsen kopi luwak juga sempat dihadapkan soal halal atau haram dari produk kopi luwak. Meski sekarang ini sudah terjawab sebagai produk halal, sebelumnya penjualan kopi luwak sempat merosot karena isu ini.

Bahkan masalah dikotomi antara kopi luwak hasil penangkaran dengan kopi luwak alam bebas masih saja terjadi. Menurutnya sebagai produsen kopi luwak, produk kopi luwak hasil penangkaran justru lebih terjamin kebersihannya.

Diragukan Kebersihannya

Sedangkan kopi luwak hasil pengumpulan kotoran luwak di alam bebas justru masih diragukan kebersihannya, maklum saja di alam bebas luwak biasanya memakan segala macam makanan termasuk bangkai-bangkai binatang. “Menurut kami kopi luwak liar rasanya tidak jelas. Para pengumpul petani yang misalnya seminggu hanya dapat 1 kg, lalu kalau ada permintaan 10 kg ya terpaksa nyadur (memalsukan),” katanya.

Sapri akhirnya berkesimpulan bahwa pasar kopi luwak saat ini benar-benar masih gelap dari sisi kontinyuitas pembeli skala besar, soal standar keaslian, termasuk perdebatan soal kualitas kopi luwak penangkaran dengan kopi luwak hasil penangkaran.

Bahkan soal harga pun mengalami hal yang sama, di Liwa sendiri harga kopi luwak dihargai sangat variatif, ada produsen yang menjual Rp 500.000 per Kg, ada juga Rp 600-800.000 per kg, atau bahkan ada yang sampai Rp 1 juta per Kg. “Jadi kopi luwak ini pasarnya gelap sehitam kopinya,” ujarnya tertawa.

Hal-hal semacam ini akhirnya berimbas pada para produsen kopi luwak skala kecil di Liwa yang memiliki penangkaran luwak dibawah 5 ekor. Tak jarang para produsen skala kecil ini menutup usahanya alias bangkrut dan menjual luwak-luwaknya ke produsen yang lebih besar termasuk dirinya. “Kalau tahun kemarin itu yang coba-coba (bisnis kopi luwak) saya hitung-hitung lebih dari 30 orang, sekarang gulung tikar, yang efektif hanya kami bertiga (Sapri, Gunawan dan Sukardi),” katanya.

Ia mengakui saat ini komoditas kopi luwak masih menjadi konsumsi kalangan tertentu saja karena harganya yang mahal, sehingga tak mengherankan dengan pangsanya kecil namun porsinya diperebutkan banyak produsen, hasilnya nasib produsen kopi luwak seperti sekarang ini.

Sama halnya dengan Sapri, Sukardi salah satu produsen kopi luwak terbesar di kawasan Liwa dengan bendera Kupi Musong mengatakan hampir setiap hari ada 3-5 orang tamu yang datang ke rumahnya yang tertarik dengan kopi luwak. Bahkan sudah banyak sekali sampel-sampel kopi luwaknya yang sudah ia kirim ke calon pembeli, namun lagi-lagi pembeli skala besar dengan itensitas kontinyu tak kunjung datang.

Sukardi juga mengaku masih belum bisa menjawab adanya fenomena bahwa begitu termasyurnya kopi luwak namun yang membeli dalam skala besar dan terus menerus masih nihil. Sukardi menuturkan ia menduga hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya spekulan kopi, yang menginginkan kopi luwak tetap eksklusif di pasaran.
“Kopi luwak ini masih langka, hanya daerah tertentu saja yang memiliki kopi luwak,” kata Sukardi.

Ia berharap ada upaya penelitian terhadap produk kopi luwak Lampung Barat terutama dari sisi kualitas bahkan khasiat obat yang selama ini belum diteliti secara ilmiah. Jika ini dilakukan akan semakin menambah kepercayaan pasar terhadap kopi luwak. “Misalnya lebih bagus mana kopi luwak kandang, atau kopi luwak hasil hutan, itu yang belum diuji,” katanya.

Sertifikasi Keaslian Kopi Luwak

Setali tiga uang dengan Sapri, ia juga mengharapkan agar pemerintah membuat sertifikasi keaslian kopi luwak. Dengan demikian hal ini bisa menjawab adanya keraguan pasar dan menjamin kelangsungan bisnis produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat.

“Sekarang ini saya bingung banyak orang mencari tapi nggak ada yang membeli dalam jumlah besar dan kontinyu,” katanya. Sukardi pun menuturkan ada saja kemungkinan yang terjadi dari masalah pemasaran kopi luwak saat ini. Maklum saja pemasaran kopi luwak masih terbatas dan rentan mengundang spekulan kopi luwak terutama dari para broker.

“Apa kualitasnya rendah? tapi sampai sekarang nggak ada yang komplain. Apa terlalu banyak broker, apa permainan orang kopi. Sekarang kan pemain kopi luwak banyak, biar ekslusif kopi dibuang di laut habis semua biar mahal lagi. Kan dari ceritanya pemain kopi nggak banyak,” katanya.

Namun terlepas dari itu semua, ia menambahkan saat ini kemampuan produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat bisa mencapai 2 ton kopi per bulan ditopang oleh 20-an produsen kopi luwak. Jika proses pemasaran berjalan dan ditopang oleh permintaan yang kontinyu, maka kopi luwak di Lampung Barat akan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri.

Sukardi yang memiliki 40 luwak di penangkaran rumahnya harus berpuas diri dengan hanya menjual ritelan kopi bubuk dengan omset hanya Rp 40 juta per bulan. Sementara produk kopi mentah dalam bentuk kotoran luwak (brenjelan) masih banyak tersisa hingga 3 kwintal sampai saat ini. “Untuk jualan kopi bubuk saya ada pembeli dari Taiwan yang rutin membeli 10 kg per minggu,” katanya.

Biaya Operasional yang Tinggi

Ia juga mengeluhkan biaya operasional pemeliharaan luwak yang tinggi, maklum saja saat ini sudah tak musim kopi. Sementara penjualan kopi setiap hari belum menentu.
“Pengeluaran untuk 40 ekor musang per harinya sangat besar termasuk makanannya dan perawatannya,” katanya.

Sukardi menuturkan peran pemerintah terutama pemerintah daerah masih sebatas membantu dari sisi promosi kopi luwak, dengan mengikutsertakan para produsen di ajang pameran. “Kalau pemasaran dan pemodalan belum,” katanya

Sukardi menuturkan dengan segala macam persoalannya, intinya saat ini produsen kopi luwak Lampung Barat masih kesulitan menjual produknya. Bahkan berimbas pada upaya banting harga dari para produsen kopi luwak agar tetap menjaga perputaran uangnya (cash flow). “Sekarang ini kita kasih harga mahal susah, kasih harga murah orang ragu dan mencibir,” katanya.

Seperti diketahui booming produksi kopi Luwak di Liwa Lampung Barat setidaknya sudah mulai ramai pada tahun 2007. Pada waktu itu kopi Luwak mulai dikembangkan secara intensif dengan pola penangkaran.

Kopi luwak itu sendiri telah dikenal pada zaman kolonial Belanda sampai era tahun 1950-an. Pada masa itu sudah diketahui bahwa Luwak merupakan binatang yang gemar memakan buah kopi yang sudah matang dan para petani sering memunguti kotoran buah kopi luwak di alam bebas. Petani memiliki keyakinan kopi-kopi tersebut merupakan biji kopi terbaik dan sudah melalui proses fermentasi di dalam lambung luwak secara alami sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas. (dtc)

Sumber : Analisa

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 3)

    Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 3)

    • calendar_month Selasa, 7 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: HARIS SUTAN LUBIS Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara   Dengan rasa kagum melihat keberanian dan kecekatan putra raja, kontelir akhirnya memberikan senjata itu sebagai hadiah. Dari cerita dapat dilihat betapa tanggung jawab merupakan sesuatu yang harus dijunjung tinggi apabila seseorang ditugaskan melakukan suatu pekerjaan. Di samping itu, cerita tersebut pun memberikan gambaran bahwa Willem […]

  • 8 Rumah di Ujung Marisi Kotanopan Habis Terbakar

    8 Rumah di Ujung Marisi Kotanopan Habis Terbakar

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Delapan unit rumah, satu unit mobil dan satu unit sepeda motor ludes terbakar di Desa Ujung Marisi, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina), Rabu (3/6) sekira pukul 11.30 Wib. Delapan  rumah yang habis terbakar diketahui milik Sofian (35), Sahbana (38), Sholahuddin (40), Ahmaniyah (45), Ridoan (35), Nurhayati (46), Hasan Basri ( […]

  • SK dan Gaji Honorer Segera Disalurkan

    SK dan Gaji Honorer Segera Disalurkan

    • calendar_month Senin, 25 Apr 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabar baik akhirnya datang menyelimuti honorer dan tenaga sukarela (TKS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) karena dalam beberapa hari SK dan gaji mereka akan segera disalurkan. Hal itu diketahui dari pernyataan Bupati H. M. Ja’far Sukhairi Nasution ketika dikonfirmasi wartawan pada Senin (25/4). “Pada prinsipnya semua kita tempatkan […]

  • Pembunuh Istri dan Mertua di Madina, Warga Medan Ditangkap di Labuhanbatu

    Pembunuh Istri dan Mertua di Madina, Warga Medan Ditangkap di Labuhanbatu

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    RANTAUPRAPAT: Personel Polres Labuhanbatu berhasil menangkap seorang tersangka yang diduga pelaku pembunuhan di dusun III desa Bintungan Bejangkar Baru Kec Batahan Kab Madina. Itu, berkat informasi yang dikirimkan pihak Polres Madina. Disebutkan, pelaku kejahatan yang disangkakan melanggar pasal 338 KUHP tersebut berhasil ditangkap di Dusun Sidorukun Simpang Pangkatan kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu, Selasa 19 April […]

  • Sengketa Pilkada Madina Kasus Pertama Yang Diputus PTTUN Medan

    Sengketa Pilkada Madina Kasus Pertama Yang Diputus PTTUN Medan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Dari 6 perkara Pilkada yang disidang Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Medan, Sengketa Pilkada Mandailing Natal (Madina) yang merupakan putusan perdana yang diselesaikan oleh majelis hakim. Demikian diungkap Humas PTTUN Medan, Nurman Sutrisno, SH, M.Hum, Jum’at (18/9) yang dilansir situs resmi PTTUN Medan, http://pttun-medan.go.id. Disebutkannya, sidang sengketa Pilkada Nomor Perkara […]

  • Lelang Mobil Dinas Bupati Madina Masih Dalam Proses

    Lelang Mobil Dinas Bupati Madina Masih Dalam Proses

    • calendar_month Senin, 27 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Keberadaan mobil dinas Toyota Land Cruiser warna hitam yang dipakai Bupati Mandailing Natal (Madina) yang lama Amru Daulay dipertanyakan keberadaannya apakah sudah dilelang atau tidak. Hasil konfirmasi beritasumut.com kepada Kepala Bidang Aset Dinas Keuangan dan Aset Ardani di Panyabungan, Senin (27/09/2010), mobil dinas Bupati Madina Land Cruiser hitam belum dilelang. Dijelaskan, menurut peraturan daerah, […]

expand_less