Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

SATI NASUTION WILLEM ISKANDER, 1840-1876 (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 27 Agt 2012
  • print Cetak

Oleh Basyral Hamidy Harahap
(Diposting oleh: Erond L. Damanik, M.Si – Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan)

Baginda Mangaraja Enda, generasi III Dinasti Nasution, mempunyai tiga orang isteri yang melahirkan raja-raja Mandailing. Isteri pertama boru Lubis dari Roburan yang melahirkan putera mahkota Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar. Baginda Mangaraja Enda menobatkan Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menjadi raja di Hutasiantar dengan kedudukan yang sama dengan dirinya.

Isteri kedua, boru Hasibuan dari Lumbanbalian yang melahirkan empat orang putera yang kelak menjadi raja. Mereka adalah Sutan Panjalinan raja di Lumbandolok, Mangaraja Lobi raja di Gunung Manaon, Mangaraja Porkas raja di Manyabar dan Mangaraja Upar atau Mangaraja Sojuangon raja di Panyabungan Jae.

Isteri ketiga, boru Pulungan dari Hutabargot yang melahirkan dua orang putera, ialah: Mangaraja Somorong raja di Panyabungan Julu dan Mangaraja Sian raja di Panyabungan Tonga. Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menobatkan tiga orang puteranya menjadi raja, masing-masing Baginda Soalohon raja di Pidoli Lombang, Batara Guru raja di Gunungtua, dan Mangaraja Mandailing raja di Pidoli Dolok.

Penobatan tiga putera Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar itu dilakukan menyusul pemberontakan yang dilancarkan raja-raja di tiga daerah tersebut terhadap Baginda Mangaraja Enda. Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar berhasil memadamkan pemberontakan terhadap ayahandanya itu. Sementara itu raja-raja yang berontak eksodus bersama sebagian rakyatnya ke daerah pantai dan pedalaman Pasaman.

Ada tiga tokoh penting dalam generasi XI Dinasti Nasution. Pertama, Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, yang biasa disingkat menjadi Yang Dipertuan. Tokoh ini dikenal sebagai raja ulama yang namanya banyak disebutkan oleh Multatuli di dalam karyanya Max Havelaar. Belanda menjulukinya Primaat Mandailing. Yang Dipertuan membantu kompeni melawan pasukan Paderi. Tokoh inilah yang bekerjasama dengan Asisten Residen Mandailing Angkola, 1848-1857, Alexander Philippus Godon (1816-1899), merancang dan membangun mega proyek jalan ekonomi dari Panyabungan ke pelabuhan Natal sepanjang kl. 90 kilometer.

Kedua, Sutan Muhammad Natal, yang banyak disebut Multatuli di dalam Max Havelaar dengan nama Tuanku Natal, seorang raja Natal yang muda dan cerdas, sahabat karib Multuli ketika menjabat Kontrolir Natal (1842-1843). Ketiga, Sati gelar Sutan Iskandar ialah tokoh kita, Willem Iskander, yang lahir di Pidoli Lombang pada bulan Maret 1840.

Tuanku Natal dan Willem Iskander adalah cucu langsung dari Sutan Kumala Porang, raja Pidoli Lombang. Pada usia 13 tahun, 1853, Sati masuk sekolah rendah dua tahun yang didirikan Godon di Panyabungan. Begitu lulus, 1855, Sati diangkat menjadi guru di sekolahnya. Barangkali Willem Iskander lah guru formal termuda, 15 tahun, dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Pada saat yang sama ia juga diangkat oleh Godon menjadi juru tulis bumiputera (adjunct inlandsch schrijfer) di kantor Asisten Residen Mandailing Angkola di Panyabungan. Jabatan guru dan juru tulis itu dijabatnya dua tahun, menggantikan Haji Nawawi yang berasal dari Natal, sampai menjelang keberangkatannya ke Negeri Belanda bersama Godon, Februari 1857.

Salah satu penemuan saya tentang riwayat hidup Willem Iskander adalah Acte van bekenheid, ialah Surat Kenal sebagai pengganti Akte Kelahiran. Dokumen inilah antara lain yang saya pamerkan pada acara peringatan 100 tahun wafatnya Willem Iskander tanggal 8 Mei 1976 di Geliga Restaurant, Jln. Wahid Hasyim 77C, Jakarta Pusat.
Sejak itu masyarakat mengetahui tarikh kelahiran Willem Iskander, ialah pada bulan Maret 1840 di Pidoli Lombang, Mandailing Godang. Ibunya Si Anggur boru Lubis dari Rao-rao dan ayahnya Raja Tinating, Raja Pidoli Lombang.
Akte ini dibuat oleh sejumlah orang yang memberikan kesaksian tentang kelahiran Willem Iskander, ialah Arnoldus Johannes Pluggers amtenar di Onderafdeeling Groot Mandailing en Batang Natal, Johannes Hendrik Kloesman berusia 50 tahun amtenar yang berdiam di Tanobato, dan Philippus Brandon usia 40 tahun amtenar yang berdiam di Muarasoma.
Akte bertanggal 28 Februari tahun 1874 ini ditandatangani oleh tiga amtenar tersebut, kemudian dilegalisasi oleh Residen Tapanuli, H.D. Canne, di Sibolga. Seterusnya akte ini dilegalisasi lagi oleh Sekretaris.

Ministerie van Kolonien, Henney, di Den Haag pada tanggal 7 Juni tahun 1876. Nama Sati Nasution gelar Sutan Iskandar adalah nama yang dicantumkan di dalam teks Acte van Bekenheid. Nama Willem Iskander diberikan kepadanya ketika dia masuk Kristen di Arnhem pada tahun 1858, setahun sebelum ia belajar di Oefenschool di Amsterdam. Seterusnya, nama Willem Iskander dipakainya di dalam karyanya, surat-surat, beslit, piagam, surat nikah dll. Jadi adalah salah kalau orang menulis nama.

Kekeliruan informasi tentang Willem Iskander selama ini terdapat di dalam berbagai tulisan yang terbit di Indonesia, antara lain seperti yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Parlindungan di dalam bukunya Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833. Saya temukan juga kesalahan di dalam buku Pusaka Indonesia yang disusun oleh Tamar Djaja. Penulis ini menyebutkan, bahwa pujangga Muhammad Kasim adalah murid langsung Willem Iskander. Bagaimana mungkin? Muhammad Kasim lahir di Muarasipongi pada tahun 1886, sepuluh tahun setelah Willem Iskander wafat di Amsterdam 8 Mei 1876.

Lebih seru lagi tulisan Bismar Siregar yang dimuat oleh Harian Sinar Harapan edisi 31 Mei 1986. Tulisan bertajuk Sekedar Catatan Soal “Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk” sebagai reaksi terhadap tiga tulisan bersambung Dr. Daoed Joesoef gelar Iskandar Muda Nasution tentang tiga hal ialah: Willem Iskander, Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk dan tentang aktivitas saya meneliti Willem Iskander.

Tulisan Dr. Daoed Joesoef gelar Iskandar Muda Nasution yang dikomentari Bismar Siregar itu dimuat Harian Sinar Harapan dua minggu sebelumnya. Gelar Iskandar Muda Nasution itu ditabalkan oleh raja-raja adat Mandailing kepada Dr. Daoed Joesoef selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang sedang mengunjungi Tanobato di Mandailing pada tahun 1981.

Maksud kunjungannya adalah untuk melihat lokasi Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers yang didirikan oleh Willem Iskander pada tahun 1862. Dr. Daoed Joesoef tiga kali mengunjungi lokasi ini: Pertama, melihat bekas pertapakan sekolah guru itu pada tahun 1981. Kedua, meletakkan batu pertama pembangunan SMA Negeri Willem Iskander di lokasi itu pada tahun 1982. Ketiga, meresmikan SMA Negeri Willem Iskander itu pada tahun 1983.
Saya hadir pada tiga kali kunjungan itu sebagai rombongan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kami berdua adalah pengagum berat Willem Iskander. Barangkali itu sebabnya saya selalu diajak oleh Dr. Daoed Joesoef selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ikut dalam rombongannya, atas biaya negara dengan SK Staf Ahli Menteri.

Sepanjang yang saya ketahui, belum ada desa terpencil di pedalaman yang sampai tiga kali dikunjungi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sepanjang sejarah Negara Republik Indonesia, kecuali yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoef, di Tano Bato. Ini benar-benar kunjungan yang spektakuler.
Artikel pertama Dr. Daoed Joesoef bertajuk Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (I): Ditemukan Sebuah Buku Tua dimuat Harian Sinar Harapan 14 Mei 1986. Artikel kedua bertajuk Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (II): O, Mandailing Godang dimuat Harian Sinar Harapan 15 Mei 1986. Artikel ketiga bertajuk Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (III Habis): Meninggalnya Orang Jujur dimuat Harian Sinar Harapan 16 Mei 1986.

Artikel Bismar Siregar itu sudah saya jawab pada tanggal 6 Juni 1986. Sesuai pesan Samuael Pardede, Redaksi Harian Sinar Harapan, agar saya menulis setuntas mungkin di bawah tajuk Catatan Atas Bismar Siregar: Mayat Willem Iskander Tertembus Peluru.
Orang bertanya, apa gerangan isi artikel Bismar Siregar yang bertajuk Sekedar Catatan Soal “Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk” itu? Jawabannya ada pada buku saya Greget Tuanku Rao yang diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu di Depok, bulan September 2007 yang lalu. Ada lagi tulisan orang lain yang menyebutkan, bahwa Charles Adriaan van Ophuysen, ahli bahasa Melayu dan Mandailing yang terkenal namanya melalui nama Ejaan Van Ophuysen, adalah guru Willem Iskander.

Bagaimana mungkin? Charles Adriaan van Ophuysen itu lahir di Solok tahun 1854. Ia masih balita ketika Willem Iskander dan Asisten Residen Mandailing Angkola, Alexander Philippus Godon, meninggalkan Mandailing menuju Negeri Belanda pada bulan Februari 1857.
Ayah Charles Adriaan van Ophuysen, J.A.W. van Ophuysen adalah seorang amtenar legendaris di Pantai Barat Sumatera. Kariernya antara lain: Kontrolir Kelas Satu di Afdeeling XIII Kota dan IX Kota, 1852. Kontrolir Kelas Satu di Natal, Mandailing Natal, 1853, sepuluh tahun setelah Eduard Douwes Dekker (Multatuli) meninggalkan Natal. Assisten Residen Afdeeling XIII Kota dan IX Kota, 1855-1856. Asisten Residen Bengkulu, 1858-1861, merangkap Presiden Residentie-Raad dan Presiden Pangeran Raad.

Kelak Charles Adriaan van Ophuysen, yang ahli Bahasa Melayu dan Bahasa Mandailing itu, selama delapan tahun menjadi guru di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers di Padangsidimpuan, 1882-1890. Bahkan ia menjadi direktur sekolah guru yang didirikan tahun 1879 itu, antara 1885-1890. Pada tanggal 1 Juli 1893 ia diangkat sebagai Inspektur Pendidikan Bumiputera Pantai Barat Sumatera berkedudukan di Bukittinggi. Prof. Van Ophuysen wafat di Leiden tanggal 19 Februari 1917, dimakamkan di Begraafplaats Groenesteeg di Leiden dengan nomor makam 769.
Prof. Van Ophuysen bukan hanya ahli bahasa dan sastra Melayu dan Mandailing, tetapi ia juga tercatat sebagai kolektor tumbuhan. Ia memiliki 157 spesimen dengan nama tumbuhan bahasa daerah (1906). Pengetahuannya yang luas tentang berbagai ragam tumbuhan di Mandailing telah memantapkan karangannya tentang bahasa daun dalam Bahasa Mandailing. Ia menyebutkan bahwa Bahasa Mandailing adalah satu-satunya bahasa di dunia yang memiliki bahasa daun.(MO)(bersambung)….

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MENGGAGAS WAJIB BELAJAR 15 TAHUN

    MENGGAGAS WAJIB BELAJAR 15 TAHUN

    • calendar_month Senin, 19 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rahmad Daulay* Wajib Belajar 15 Tahun? Kenapa tidak. Utopis? Ya memang utopis. Tapi menurut saya realistis dengan syarat harus dilakukan dengan beberapa langkah progresif terukur dan sistematis. Dalam era digitalisasi sekarang ini yang dulunya tidak mungkin sekarang ini sudah menjadi mungkin terjadi. Semua pergerakan kebangsaan Indonesia harus merujuk kepada UUD 1945. Dalam bidang […]

  • Evakuasi Istri dan Anak dari Dapur

    Evakuasi Istri dan Anak dari Dapur

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rumah Ketua KPU Madina Dibakar MADINA- Rumah Ketua Komisi Pemilihan Umum Mandailing Natal Jefri Antoni SH dibakar orang tak dikenal, Kamis (3/2) subuh sekira pukul 04.00 WIB. Akibatnya, ruang tamu, pintu depan, dan seluruh perabotan serta lukisan di ruang tengah rumah, dilalap api. Alhamdulilah keluarga Jefri Antoni selamat. Jefri Antoni saat ditemui di rumahnya di […]

  • Baru 4 Kecamatan di Medan Terima Raskin Bulan Mei

    Baru 4 Kecamatan di Medan Terima Raskin Bulan Mei

    • calendar_month Kamis, 28 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Penyaluran raskin untuk bulan Mei 2011 telah dilaksanakan di empat kecamatan di Kota Medan yakni Kecamatan Medan Marelan, Medan Belawan, Medan Tuntungan dan Medan Helvetia. Menyusul kecamatan lainnya setelah melunasi tunggakan bulan April 2011. Hal ini diungkapkan Asisten Kessos Musaddad pada saat rapat evaluasi penyaluran raskin bulan April 2011 di Kantor Walikota Medan, Selasa […]

  • Pencipta Lagu Mandailing : Ini Pasal Bagi Pelanggar Hak Cipta

    Pencipta Lagu Mandailing : Ini Pasal Bagi Pelanggar Hak Cipta

    • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pencipta lagu Mandailing, Ahmad Nasyari Nasution sejauh ini belum menyatakan  akan membawa perusahaan rekaman inisial NP ke jalur hukum terkait dugaan pembajakan lagu. Meski begitu, seniman sepuh pencipta lagu-lagu Mandailing itu kepada wartawan di Panyabungan, kemarin menyatakan bahwa pihak NP patutnya menyadari konsekwensi hukum dari pelanggaran hak cipta. Baca : http://www.mandailingonline.com/pencipta-lagu-ahmad-nasyari-nasution-ditelikung-produser/ […]

  • Makna Kemenangan di Idul Fitri

    Makna Kemenangan di Idul Fitri

    • calendar_month Senin, 4 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ?: Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’, atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh kemenangan. Kedua, dari kata ‘minal […]

  • Cawabup Ichwan Husein Konsolidasi Pemenangan dengan Partai PBB

    Cawabup Ichwan Husein Konsolidasi Pemenangan dengan Partai PBB

    • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Usai melaksanakan sholad subuh di masjid Baitulrohmanirrohim di jalan Abri, Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan.Calon wakil bupati madina nomor urut 1 Muhammad Ichwan Husein menyempatkan diri bersilaturahmi denga Ketua Partai Bulan Bintang ( PBB ) Syahruddin ST ( Ucok Ocing ) bersama kader dan simpatisan serta tokoh masyarakat jalan Abri. […]

expand_less