Minggu, 6 Sep 2026
light_mode

Panyabungan Ibu Kota Kabupaten (3-habis)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 16 Okt 2015
  • print Cetak

 

Terbuka dan Egaliter

Oleh: Basyral Hamidi Harahap
Sejarahwan Mandailing

Land Hunter

Istilah land hunter, pemburu tanah, yang ditulis oleh DR. Michel Van Langenberg dalam North Sumatra Under the Dutch Colonial Rule: Asfects of Structural Change yang dimuat dalam Review of Indonesian and Malaysian Affairs, vol.II no.1-2, 1997, dikutip oleh Prof. Dr. Usman Pelly dalam disertasinya, menunjukkan bahwa orang Mandailing terjun sebagai Land Hunter, pemburu tanah, ketika Kecamatan Deli Serdang dimasukkan ke dalam Kota Medan. (Pelly, 1994:100).

Perilaku sebagai land hunter itu juga terjadi di Panyabungan ketika sudah ada kabar bahwa Panyabungan akan menjadi Ibukota Mandailing Natal. Maka harga tanah pun meningkat lebih-lebih di wilayah Dalan Lidang yang hampir menyamai harga tanah di Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa naluri bisnis membenarkan Panyabungan sebagai kota yang akan maju pesat.

Keadaan ini merupakan hambatan tersendiri dalam perkembangan kota Panyabungan pada masa yang akan datang. Penulis yakin bahwa kebijakan membangun komplek perkantoran Kabupaten Mandailing Natal di Paya Loting di luar Dalan Lidang adalah merupakan reaksi terhadap land hunter itu.

Kehidupan Politik

Kehidupan politik masyarakat Mandailing Godang yang berpusat di Panyabungan sejak dahulu menunjukkan sikap egalitarian. Hal itu dibuktikan oleh beberapa hasil pemilu, misalnya pemilu 1997 menunjukkan perolehan suara Golkar sebagai kontestan pemilu terkuat dan berkuasa, hanya berhasil meraih 51% suara, sedangkan di Kotanopan Golkar meraih 71% suara. Hal itu merupakan indikator sikap kedemokratisan lebih kuat di Panyabungan ketimbang di Kotanopan.

Kecendrungan serupa itu pada pemilu 1977 pernah penulis diskusikan dengan Adam Malik pada November 1981 dalam rangka penulis menyiapkan makalah The Political Trends of Suoth Tapanuli and its Reflektion in the General Elections (1995,1971,and 1977) yang akan penulis bacakan pada International Interdisciplinary Symposium on Cultures and Societes of North Sumatera di Universitas Hamburg, Jerman bulan November 1981.

Perolehan suara Golkar di Mandailing Godang itu penulis pertanyakan kepada Adam Malik, karena pada pemilu 1977 Golkar boleh dikatakan kalah di daerah itu. Padahal Adam Malik sendiri selaku tokoh puncak Golkar sudah berkampanye di Mandailing pada tahun 1977 itu. Adam Malik menjawab:

‘’Itu adalah bukti tingginya kesadaran politik pada masyarakat Mandailing. Mereka semakin demokratis. Mereka memilih kontestan yang dikehendakinya secara sadar dan bebas.”

Jika analisis Adam Malik itu dikaitkan dengan perolehan suara Golkar 51% di Panyabungan dan 71% di Kotanopan, maka kesimpulannya ialah: masyarakat Panyabungan lebih egaliter, lebih mudah menerima perubahan, lebih bebas, lebih terbuka, dan lebih demokratis.

Sehingga Panyabungan khususnya, Mandailing Godang pada umumnya, merupakan daerah yang subur bagi semua kontestan pemilu. Prilaku politik seperti ini sangat dibutuhkan dalam pembangunan politik pada era reformasi sekarang ini.

Urbanisasi dan Industrialisasi

Perpindahan penduduk desa ke Panyabungan sebagai ibukota pemerintahan kabupaten secara berduyun-duyun tidaklah mengkhawatirkan. Pasalnya, kecendrungan global yang mengarah pada pertumbuhan kota-kota secara simultan membawa pertumbuhan desa-desa di sekitar kota menjadi satelit kota.

Penulis menyaksikan hal seperti itu di Jepang. Dimana hasil pertanian di desa-desa satelit kota dijual di kota dengan harga yang tinggi. Sehingga petani sayur-mayur dan buah-buahan memperoleh penghasilan yang besar.

Dapat diperkirakan, bahwa urbanisasi ke Panyabungan akan tertahan oleh kemudahan transportasi yang menghubungkan kota dan pedesaan. Sehingga orang yang bekerja di kota Panyabungan lebih tertarik tinggal di desa-desa sekitar, karena memiliki banyak keuntungan.

Sejumlah keuntungn tinggal di desa ialah: biaya hidup lebih murah, rumah tidak perlu di sewa, masih dapat melakukan aktivitas keseharian sebagai petani, waktu tempuh desa ke kota relatif pendek, dan lain-lain.

Hal itu dipermudah lagi oleh sarana telekomunikasi melalui wartel. Keadaan itu dapat dinikmati para pedagang, pegawai negri dan swasta, pelajar dan mahasiswa. Tidak terkecuali para petani sayur-mayur yang tinggal di perdesaan memperoleh kesempatan menjual hasil pertaniannya di pasar Panyabungan seperti yang setiap hari disaksikan di sekitar mesjid raya Al Qurro Wal Huffazh.

Petani menjual sendiri hasil pertaniannya di pasar itu, usai berjualan mereka kembali ke desanya. Sehingga Panyabungan tidak akan penuh sesak. Lagipula sedang terjadi proses perubahan sifat dan suasana desa ke suasana kota. Panyabungan masih dipandang bagai kampung sendiri.

Industrialisasi di Panyabungan sekitarnya memerlukan studi kelayakan yang mendalam yang bukan hanya menyangkut modal, tanah dan tenaga kerja, tetapi juga kajian mendalam harus dilakukan tentang kesiapan mental tenaga kerja untuk bekerja menurut aturan-aturan yang ketat. Tata ruang kota Panyabungan harus mengantisipasi pertumbuhan industri tanpa mengorbankan tanah-tanah pertanian produktif.

Kanal Ala Amsterdam

Menarik sekali gagasan Bupati Amru Daulay, S.H. dalam obrolan dengan DR. Adnan Buyung Nasution dan penulis pada saat jeda sarasehan silaturrahmi tanggal 21 Februari 2004 di Jakarta. Bupati Amru Daulay S.H. menyampaikan gagasannya menata kota Panyabungan menjadi kota medern antara lain meniru kota Amsterdam yang memiliki banyak Kanal.

Keberadaan sungai Batang Gadis menjadi inspirasi untuk membangun kanal-kanal mengitari kota dan memanfaatkannya sebagai sarana pariwisata dan olah raga air. Gagasan yang futuristis ini bukanlah sesuatu yang mustahil.

Sikap dan prilaku masyarakat di desa ini yang terbuka pada perubahan, suka menerima pendatang yang mampu berdaptasi sebagai warga sejati, merupakan modal pembangunan masa depan kota ini. Kehadiran para pendatang sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan masyarakat modern, sehingga sifat-sifat negatif seperti gutgut dengan sendirinya akan dikikis oleh perikehidupan serba objektif yang saling memiliki ketergantungan. (dikutip dari buku “Madina Madani”)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 30 Persen Ekspor Pepaya Runding Hancur Gegara Kerusakan Jalur Longat-Runding

    30 Persen Ekspor Pepaya Runding Hancur Gegara Kerusakan Jalur Longat-Runding

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Petani pepaya di kawasan Desa Runding, Panyabungan Barat berharap Pemkab Madina merehabilitasi badan jalan jalur Longat-Runding yang rusak parah. Kerusakan badan jalan itu menyebabkan buah pepaya untuk pengiriman ekspor rusak sekitar 30 persen. “Rata-rata sekitar 30 persen buah pepaya yang dikirim rusak dalam perjalanan akibat kondisi jalan,” ungkap Azwar petan […]

  • Polres Madina Temukan 3 Ha Ladang Ganja

    Polres Madina Temukan 3 Ha Ladang Ganja

    • calendar_month Jumat, 8 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sita 2 Senjata Api dari Tersangka Pemilik Kebun PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kebun ganja seluas sekitar 3 hektar kembali ditemukan di perbukitan Tor Sihite, Panyabungan Timur, Mandailing Natal, Jum’at (8/4/1016). Ladang itu ditemukan tim Polres Madina pukul 06.00 Wib yang melakukan penyisiran di perbukitan itu. Jumlah batang tanaman ganja yang ditemukan sebanyak sekitar 5.000 batang […]

  • Rhoma Irama klaim dirinya capres RI

    Rhoma Irama klaim dirinya capres RI

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    GARUT, – Pesona si raja dangdut Rhoma Irama diakui masih menyedot perhatian masyarakat di Indonesia. Di Garut, Jawa Barat, tadi malam, ribuan warga rela berdesak-desakan di Alun-alun untuk mengikuti Tabligh Akbar PKB bersama Rhoma Irama dan Cak Imin. Rhoma dengan penuh percaya diri kembali melontarkan pencalonan dirinya sebagai presiden dari partai yang didirikan Gus Dur […]

  • Tambang Emas Ilegal di Desa Rantobi Terus Beroperasi. Surat Edaran Larangan Nambang Tak Digubris Mafia Tambang

    Tambang Emas Ilegal di Desa Rantobi Terus Beroperasi. Surat Edaran Larangan Nambang Tak Digubris Mafia Tambang

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Batangnatal -Mandailing Online : hari ini, aktifitas tambang emas di aliran sungai batang natal tepatnya di dusun batumarsaong desa Rantobi, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) terus beroperasi. Tambang emas ilegal ini sendiri mengatasnamakan pembangunan masjid dan lapangan bola. Meski ilegal dan menghalalkan segala cara, namun Polsek Batang Natal nampaknya tutup mata. […]

  • Syariat Islam Dituding Menormalisasi KDRT?

    Syariat Islam Dituding Menormalisasi KDRT?

    • calendar_month Jumat, 11 Feb 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ummu Taqiyya Akhir-akhir ini viral potongan ceramah seorang ustadzah fenomenal yang dianggap membolehkan kekerasan dalam rumah tangga, sehingga masyarakat awam menganggap tindakan tersebut dibolehkan dalam islam. Padahal perlu dipahami sebelumnya bahwa konteks yang dibahas dalam ceramah tersebut adalah kisah tentang istri yang menutupi aib suaminya yang bertindak kasar terhadap istrinya, bukan berarti ustadzah tersebut […]

  • Ada Tiang Listrik Milik PLN Ditengah Pembangunan Jalan bernilai 1,5 M di Desa Pagur

    Ada Tiang Listrik Milik PLN Ditengah Pembangunan Jalan bernilai 1,5 M di Desa Pagur

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ditengah gencarnya niat baik Pemda Madina dalam menuntaskan proyek infrastruktur jalan, ada saja yang kurang mendukung. Aneh nya itu dari  perusahaan pemerintah sendiri. Di Kecamatan Panyabungan Timur, tepatnya di Desa Pagur Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) Pemkab lewat dinas PUPR nya sedang melakukan pengaspalan jalan dengan nama pekerjaan paket proyek […]

expand_less