Kamis, 15 Okt 2026
light_mode

Menelusuri Makam Tuanku Tambusai di Seremban, Malaysia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 22 Mar 2016
  • print Cetak
Makam Tuanku Tambusai berkolasi di komplek pemakaman Muslim di satu perbukitan Seremban, Malaysia

Makam Tuanku Tambusai berkolasi di komplek pemakaman Muslim di satu perbukitan Seremban, Malaysia

Catatan : Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Bukit itu bukan perbukitan besar, melainkan bentangan bukit kecil yang tidak terlalu tinggi. Diapit oleh Jl. Rasah dan Jl. Tok Ungku dan Sungai Batang Benar. Sebuah perbukitan di  Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Di atas bukit inilah berada makam Tuanku Tambusai, salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia yang wafat di luar negeri. Komplek pemakaman itu memiliki banyak makam.

Penelusuran makam Tuanku Tambusai ini merupakan liputan jurnal untuk Mandailing Online di kawasan Malaysia, termasuk liputan terhadap keberadaan kampung-kampung yang berbahasa Mandailing di negara jiran itu.

Saya dan rombongan terdiri dari Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan (warga Malaysia yang berprofesi redaktur di surat kabar Utusan Malaysia; Sulaiman Nasution (warga Malaysia yang  berprofesi pemandu perjalanan); Imam Syafrin (warga Malaysia, ayahnya melayu, ibunya boru Hasibuan, berprofesi konsultan listrik); Bayo Hasibuan dan istrinya (warga Palembang perantau asal tanah Mandailing).

Plang merek penunjuk arah menuju makam Tuanku Tambusai

Plang merek penunjuk arah menuju makam Tuanku Tambusai

Kami tiba di bukit itu pada hari Minggu 13 Maret 2016. Sebelumnya, pada November 2015 saya sudah diperlihatkan lokasi bukit itu oleh teman-teman di Malaysia ketika saya berkunjung kali pertama ke Negeri Sembilan, hanya saja ketika itu saya tak memiliki banyak waktu sehingga baru pada Maret 2016 saya memiliki rezeki waktu memasuki bukit itu.

Jalan masuk ke lokasi makam itu dari taman (komplek perumahan) Happy, karena bukit itu berada di belakang komplek perumahan tersebut. Kelebaran jalan aspal sangat menyamankan kenderaan roda empat yang kami tumpangi menuju komplek pemakaman meski jalannya agak mendaki. Jaraknya sekitar 200 meter dari komplek perumahan.

Makam Tuanku Tambuasi berbeda dengan makam lainnya, sebab makam Taunku Tambusai dikelilingi oleh pagar dengan hamparan lantai semen di kiri kanan makam.

Di depan makam itu terdapat satu prasasti berlambang Garuda, lambang Negara Republik Indonesia. Di bawah Garuda tertulis Tuanku Tambusai 1784 – 1882 Pahlawan Nasional Indonesia (Keputusan Presiden RI No.071/PK/1995) Mahaputra Adhi Pradana, Wafat dan Dimakamkan Di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Prasasti ini memperkuat keterangan warga setempat kepada saya yang menyatakan bahwa makam Tuanku Tambuasi itu dipelihara oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui duta besar di Malaysia.

Jalan Tok Ungku dan keberadaan Sungai Batang Benar yang mengapit perbukitan itu ternyata memiliki kaitan dengan Tuanku Tambusai.

Prasasti di luar pagar makam Tuanku Tambusai

Prasasti di luar pagar makam Tuanku Tambusai

Berdasar keterangan penduduk setempat, bahwa pada era 1800-an penduduk Semenanjung (sekarang Malaysia) memanggil Tuangku Tambusai dengan sebutan Tok Ungku. Itu sebabnya pemerintah Malaysia menabalkan ruas jalan di sebelah bentangan bukit itu dengan nama Jalan Tok Ungku sebagai penghormatan Pemerintah Malaysia kepada Tuanku Tambusai.

Sementara Sungai Batang Benar yang membentang di sisi kaki bukit, oleh keterangan penduduk setempat, juga memiliki kaitan dengan sejarah perjalanan Tuanku Tambuasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di kawasan Sumatera Timur.

Jalur Sungai Batang Benar ini, oleh cerita penduduk setempat, disebut sebagai jalur perjalanan yang ditempuh Tuanku Tambusai dan rombongannya. Sebab sungai ini memiliki muara ke sungai lainnya yang bermuara ke Selat Malaka di kawasan Malaka, titik garis pantai yang berhadapan dengan kawasan Dumai di Sumatera.

Jalur ini yang diyakini menjadi jalur Tuanku Tambusai, sebab kawasan Dalu-dalu, Tambusai dan  Padang Lawas merupakan kawasan yang dekat ke pantai Selat Malaka di titik Dumai dan Tanjung Balai. Apalagi pada masa 1800-an mobilisasi manusia masih memakai jalur sungai dan laut karena jalan darat belum seperti sekarang ini.

Mengapa makam Tuanku Tambusai berlokasi di Negeri Sembilan, juga diyakini memiliki kaitan dengan keberadaan kaum Mandailing dan Minang di kawasan itu. Sebab Negeri Sembilan merupakan negeri yang berada dibawah kekuasaan raja-raja Minang serta sejumlah pemukiman kaum Mandailing. Sebab, negeri tetangganya yakni Negeri Selangor adalah negeri yang dikuasai kaum Bugis. Apalagi setelah kekalahan kaum Mandailing di Muara Bustak (Kuala Lumpur) yang bertempur dengan gabungan kaum Bugis, Cina yang dimotori penjajah Inggeris telah menimbulkan kevakuman aktivitas kaum Mandailing di Muara Bustak.

Jalan Tok Ungku salah satu ruas jalan tak jauh dari perbukitan lokasi makam Tuanku Tambusai

Jalan Tok Ungku salah satu ruas jalan tak jauh dari perbukitan lokasi makam Tuanku Tambusai

Meski pemukiman kaum Mandailing juga ada di Negeri Perak dan Kedah, tetapi Tuanku Tambusai diyakini lebih memilih Negeri Sembilan sebagai basis pergerakan ketika mengundurkan diri Sumatera Timur pasca kekalahan perang dengan Belanda. Sebab Negeri Sembilan yang berada di bawah kekuasaan kaum Minang dan adanya beberapa pemukiman kaum Mandailing menyebabkan Tuanku Tambusai lebih menyatu di Negeri Sembilan ini.

Hipotesa itu berdasar darah dan lingkungan yang mengelilingi Tuanku Tambusai selama di Sumatera. Berdasar data Wikipedia dan catatan-catatan para sejarahwan, Tuanku Tambuasi itu berdarah Mandailing marga Harahap. Beliau lahir di Dalu-dalu dengan nama Muhammad Saleh. Dalu-dalu sekarang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Ayahnya berasal dari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam keturunan Mandailing bermarga Harahap; ibunya berasal dari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh.

Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol (Minang) dan Rao di Sumatera Barat. Disana ia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih. Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Di sini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya sangat tinggi untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam di tanah Mandailing.

Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan dan Imam Syafrin memperhatika makam Tuanku Tambusai

Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan dan Imam Syafrin memperhatika makam Tuanku Tambusai

Perjuangannya melawan penjajahan Belanda dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Mandailing dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.

Dahlan Batubara, Pemimpin Redaksi Mandailing Online di depan makam Tuanku Tambusai

Dahlan Batubara, Pemimpin Redaksi Mandailing Online di depan makam Tuanku Tambusai

Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Oleh Belanda ia digelari “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya. Ia mengungsi ke Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia. Beliau wafat pada tanggal 12 November 1882.

Karena jasa-jasanya menentang penjajahan Hindia-Belanda, pada tahun 1995 pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Judi togel ‘menggurita’ di Madina

    Judi togel ‘menggurita’ di Madina

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Penyakit masyarakat, seperti judi toto gelap (togel) dan kim mulai menggurita di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Malah untuk mendapatkan permainan haram itu sangat mudah diakses dalam dunia maya ataupun internet. “Saat ini keberadaan judi itu menjadi buah bibir masyarakat di Madina. Dan, apabila ini tidak segera diantisipasi pemerintah, maka dikhawatirkan akan merusak […]

  • MENIKAHKAN IDE INKLUSI DENGAN REM SPIRITUAL DALAM TINDAKAN

    MENIKAHKAN IDE INKLUSI DENGAN REM SPIRITUAL DALAM TINDAKAN

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Tanggapan atas Esai Ludfan Nasution Terhadap “Anomali Empat Angka: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madina”     Oleh: Moechtar Nasution Penggiat pada GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)   Esai Muhammad Ludfan Nasution, senior saya yang juga penggagas Mandailing Epicentrum dengan taglinenya “wadah pemikiran, pergerakan, dan motivasi kritis untuk […]

  • Terpisah Ratusan Tahun, Jejak Tiga Rumpun Keluarga Ditemukan

    Terpisah Ratusan Tahun, Jejak Tiga Rumpun Keluarga Ditemukan

    • calendar_month Senin, 28 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak tiga keluarga yang terpisah selama ratusan tahun telah berhasil ditemukan di Mandailing Natal. Tiga keluarga keturunan Mandailing di Malaysia di akhir tahun 2016 ini mencari kampung halaman leluhurnya di tanah Mandailing Julu dan Mandailing Godang yang sekarang masuk dalam peta administrasi Kabupaten Mandailing Natal. “Alhamdulillah, kampung ketiga keluarga itu telah […]

  • Gatot Lantik Bupati dan Wakil Bupati Karo

    Gatot Lantik Bupati dan Wakil Bupati Karo

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelayanan Buruk KABAJAHE- Dari hasil evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah tahun 2010, Kabupaten Karo berada di urutan ke-22 dari 25 kabupaten/kota se-Sumatera Utara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Diharapkan dengan kepala daerah yang baru ini, Karo dapat berbenah ke arah yang lebih baik. Demikian pesan Plt Gubernur Sumatera Utara, H Gatot Pudjonugroho ST pada acara pengambilan […]

  • Madina Terima Sertifikat Pendirian Koperasi Merah Putih

    Madina Terima Sertifikat Pendirian Koperasi Merah Putih

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menerima sertifikat pendirian Koperasi Desa Merah Putih (KMP) dari Kementerian Koperasi, di Aula Raja Inal Siregar, Medan, Rabu (30/4/2025). Penyerahan sertifikat sebagai apresiasi atas dukungan terhadap program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Selain Madina, ada tiga kabupaten lain yang menerima, yakni Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Deli Serdang, […]

  • Kemeriahan HUT Madina

    Kemeriahan HUT Madina

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Salah Satu Stand Pameran Pembangunan yang memeriahkan Hari ulang tahun kabupaten Madina yang ke 17. Telihat dalam foto Stand RSUD Panyabungan yang menjadi salah Satu Favorit pengunjung dengan Maket Master Plan Perencanaan Pengembangan RSUD Panyabungan.

expand_less