Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode

Ilusi Kemerdekaan Kurdi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 6 Okt 2017
  • print Cetak

Bendera Irak dan Kurdistan

 

Oleh: M. Ma’ruf
Direktur-Religious Democracy Institute

…….Kurdi sudah pasti tidak akan mendapatkan kemerdekaan sebagai negara normal, tapi kemungkinan besar malah akan menjadi daerah jajahan baru sebagai tempat pangkalan militer AS dan Israel untuk bermimpi menyerang Iran melalui tangan suku Kurdi…….

 

Eforia berita hasil referendum kemerdekaan Kurdi terus menghiasi media lokal dan Internasional. Komisi pemilihan mengatakan 92% dari 3,3 juta orang Kurdi dan non-Kurdi yang memberikan suara mereka mendukung pemisahan diri.

Arah berita begitu pelan, halus terancang dan rapi menyuarakan hati nurani suku Kurdi. Godaan syaraf kemanusiaan rasa keadilan mulai menghipnotis. Kebimbangan emosi publik dipermainkan. Antara menjaga integritas teritori Irak dan kelayakan suku Kurdi mendapatkan hak kemerdekaan, antara keterancaman wilayah Irak, Suriah, Iran, dan Turki berikut rembetan tuntutan kemerdekaan suku Kurdi di wilayah empat negara sekaligus.

Akankah Kurdi menjadi sebuah negara merdeka, rakyatnya makmur dan bebas dari penindasan baik kolonial maupun rezim lokal. Jawaban prediksi penulis adalah akan terjadi absurditas perang dan kemerdekaan ilusi.

Kenapa demikian, karena referendum Kurdi hanyalah implikasi runtutan sistematis dimulai dari skenario Arab Spring (pergantian rezim pro Barat), kondisi pasukan ISIS sebagai relawan Israel di wilayah Irak dan Suriah yang mulai habis, kejutan absurditas blokade Arab Saudi dkk terhadap Qatar, dan yang terbaru referendum Kurdi dapat dibaca sebagai fase pintu perang selanjutnya.

Referendum bagi kemerdekaan suku Kurdi disaat ujung perang melawan ISIS hampir tuntas, artinya estafet peran ISIS diganti oleh suku Kurdi. Referendum Kurdi artinya undangan perang terbuka, suku Kurdi siap tempur menungggu diserang empat negara sekaligus. Fenomena referendum Kurdi menjadi umpan maut bagi perang yang absurd.

Sementara, bagi Trumpt dan Netanyahu referendum Kurdi sesuai dengan plot skenario “New Midle East” yang dipersiapkan dengan baik dimulai dari invasi AS ke Irak 2003. Memecah wilayah di sekitar Israel menjadi negara-negara kecil berdasarkan etnis, mazhab  dan agama. Setelah sebelumnya ISIS sukses menjalankan misi prakondisi penghancuran image Islam dan perusakan infrastruktur Suriah dan Irak.

Tulisan berikut akan mengupas sisi absurditas Perang dan Ilusi Kemerdekaan.

Absurditas Perang

Sudah terang akan terjadi absurditas perang jika suku Kurdi demi mempunyai negara sendiri hanya mengandalkan hasil referendum meski diniatkan sebagai alat tekan dan bergaining terhadap pemerintahan Irak. Sudah pasti absurd jika elit  Kurdi  hanya mengandalkan dukungan militer dan politik Israel dan AS tanpa memperhatikan suara negara yang mengelilinginya dan dunia internasional.

Jika hanya mengandalkan dua elemen tersebut artinya jutaan  rakyat suku Kurdi berikut geografinya akan berpotensi diekploitasi habis-habisan oleh Israel dan AS.

Jumlah 30 juta rakyat Kurdi yang tersebar di Irak, Suriah, Turki dan Iran akan berpotensi menjadi relawan gratis bagi kepentingan Israel dan AS. Kecerobohan pemerintahan AS mengirimkan pasukanya ke Vietnam yang mengakibatkan korban masif militer AS dan hasil perang yang memalukan AS tentu tidak akan diulang.  Israel dan AS tidak perlu membangun koalisi Internasional untuk menginvasi empat negara tersebut.

AS dan Israel akan menjaga dan melindungi kepentingan nasionalnya, yakni menekan jumlah korban tentara AS dan Israel. Dengan kepastian tinggi, penguatan persenjataan militer Kurdi oleh AS dan kepahlawanan rakyat Kurdi setelah berhasil mengalahkan ISIS menjadi modal moral untuk berani menghadapi militer reguler di empat negara sekaligus (Irak, Iran, Turki dan Suriah). Tentu dengan upgrade persenjataan militer yang lebih mematikan oleh AS. Potensi suku Kurdi lebih ampuh untuk diekploitasi dibandingkan dengan ISIS, karena suku Kurdi lebih mengakar. Perang melawan suku Kurdi akan lebih lama dan melelahkan dibandingkan dengan perang melawan ISIS.

Setelah AS dan Israel sukses mengekploitasi masa pakai Turki menjadi panitia masuknya ISIS untuk menghancurkan Suriah, maka pangkalan AS (NATO) di Turki tidak menutup kemungkinan akan dipindah ke Kirkuk yang kaya minyak.  Trumpt akan berpikir dua hal, penguatan pangkalan militer baru dan keuntungan minyak. Sambil perang tidak lupa  menyedot minyak Kirkuk. Kekayaan minyak Kirkuk menjadi modal perang lebih efisien dibanding di masa ISIS yang harus menjual lewat Turki.

Secara militer, minyak gratis di Kirkuk akan mengongkosi pesawat, kendaraan milter dan tank. Dengan memakai wilayah Kurdi yang berbatasan di empat negara sekaligus, maka rudal-rudal bekas yang murah masa perang dunia 2 akan mudah menjangkau Tehran, Bagdad, Ankara dan Damaskus.

Inilah absurditas perang yang akan terjadi, korbanya tidak hanya  30 juta warga Kurdi, tapi juga suku Turki, Persia, Arab, Sunni, Syiah, Kristen dan Yazidi. Dunia akan segera menyaksikan, teater absurd ala Hollywood -bagaimana mungkin kekuatan anti ISIS yang semula satu fron, karena manisnya referendum berubah 180 derajat antar kawan menjadi saling bantai.

Ilusi Kemerdekaan

Akankah referendum Kurdi akan berbuah menjadi satu negara berbasis etnis layaknya sebuah negara merdeka, makmur dan damai? Jawabanya mustahil, jikapun terjadi, maka wilayah Kurdi akan menjadi barak militer AS persis di Afganistan. “Negara gagal Kurdi” tidak akan bisa melakukan kegiatan ekspor dan impor karena seluruh akses darat dan udara di tutup di empat wilayah perbatasan sekaligus. “Negara gagal Kurdi” juga tidak mempunyai akses laut untuk berhubungan dengan dunia luar. Negara Kurdi agar (self sufficient) butuh ekspor minyak keluar, atau membangun pipa minyak membentang melalui Syria dan Turki. Hingga sekarang saja atas permintaan Bagdad; Yordania, Mesir, UEA, Turki, Iran sudah mengentikan penerbangan ke Kurdistan.

Olehkarenanya momentum referendum kemerdekaan Kurdi-di saat riwayat ISIS hampir tamat adalah murni kecanggihan dan keberhasilan Israel memanipulasi rakyat Kurdi. Referendum adalah buah dari investasi bisnis dan politik militer Israel yang sudah terjalin lama. Jika ISIS di ekploitasi dengan janji “permen khilafah”,  maka suku Kurdi di ekploitasi dengan ilusi “permen negara merdeka”. Dengan demikian, sihir referendum Kurdi adalah tawaran permainan rolet ala Israel dengan tingkat bunuh diri 100% bagi suku Kurdi. Israel butuh patner dan legitimasi negara yang didirikan berdasarkan etnis seperti halnya Israel Jewish State.

Referendum Mengalahkan Rasionalitas

Sebenarnya, sedikit saja elit partai suku Kurdi berpikir rasional – tentu akan mudah lepas dari perangkap Israel. Kenapa suku Kurdi terlalu mudah terbuai dengan cinta palsu Israel karena mau mendukung kemerdekaanya. Bukankah puluhan tahun Israel masih menyiksa rakyat Palestina dan tidak mendukung kemerdekaan rakyat Palestina. Bukankah AS dan Israel masih menjajah Palestina, dan tiba-tiba sekarang begitu baik mendukung Kurdi untuk merdeka?. Sebuah fenomena absurd dan hipokrit.

Meski lewat pernyataan resmi, Deplu AS mendukung dialog Kurdi dengan pemerintah Irak, tapi sekaligus menyatakan hasil referendum Kurdi tidak akan mempengaruhi hubungan baik AS dengan suku Kurdi. Ingat, politik luar negri AS selalu bermuka dua, berperan seolah menjadi wasit (penengah) sekaligus mendukung militer Kurdi terang-terangan.

Walaupun dukungan Israel bagi kemerdekaan Kurdi begitu gamblang, tapi sangat disayangkan, banyak para penulis dan pengamat timur tengah terus saja mengeksploitasi sentimen kerinduan suku Kurdi untuk merdeka. Sementara mereka tidak menulis secara faktual dan langsung fokus pada sikap Israel sebagai bahan analisa.

Prediksi penulis-suku Kurdi sudah pasti tidak akan mendapatkan kemerdekaan sebagai negara normal, tapi kemungkinan besar malah akan menjadi daerah jajahan baru sebagai tempat pangkalan militer AS dan Israel untuk bermimpi menyerang Iran melalui tangan suku Kurdi.

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan Parstoday Indonesia.

Disadur dari : ParsTuday

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Legal Standing Penggugat Gubernur Sumut Belum Jelas

    • calendar_month Kamis, 22 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN, – Sidang gugatan citizen law suit terhadap Gubernur Sumut dan penyelenggara negara lainnya di tingkat provinsi dan pusat oleh 25 warga Kota Medan kembali ditunda setelah kuasa hukum warga tidak dapat menunjukkan keseluruhan bukti identitas resmi para penggugat. “Dari 25 warga yang menggugat mungkin tadi hanya ada delapan orang yang datang dan menunjukkan kartu […]

  • Oknum Polisi Itu Anggap Suara Imam Tarawih Ribut

    Oknum Polisi Itu Anggap Suara Imam Tarawih Ribut

    • calendar_month Senin, 22 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    SIDIMPUAN, – Astaga! Bripka Sawal Harahap (33), oknum polisi yang memukuli imam salat tarawih M Nabis Batubara (65), diduga melakukan aksinya karena menganggap suara sang imam terlalu ribut dan ia tidak suka. Hal ini disampaikan Sawal yang tercatat sebagai warga Kampung Darek, Gang Dame Kelurahan Wek VI, Kecamatan Psp Selatan, saat ditanya warga mengapa menganiaya […]

  • Gegara Takdiberi Uang, Seorang Anak Nekat Bakar Rumah Orangtua nya di Panyabungan

    Gegara Takdiberi Uang, Seorang Anak Nekat Bakar Rumah Orangtua nya di Panyabungan

    • calendar_month Minggu, 6 Apr 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seorang anak diduga dengan sengaja membakar rumah kediaman orang tuanya di Desa Panyabungan Jae, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Perbuatan itu dia lakukan lantaran tak diberi uang, Minggu (6/04/2025). Dugaan tersebut diperkuat dengan kesaksian Bakti, salah satu tetangga korban. Dia mengatakan sempat mendengar keributan antara Fajar (19 tahun) dengan Aisyah […]

  • Direktur RSU Tapsel Bantu Biaya Operasi Tumor Warga Madina

    Direktur RSU Tapsel Bantu Biaya Operasi Tumor Warga Madina

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Direktur RSU Tapanuli Selatan, drg M Firdaus Batubara membantu biaya warga Kabupaten Mandailing Natal, Ronggani Pulungan untuk dapat menempuh operasi tumor di Medan. Ini pukulan telak bagi Pemkab Mandailing Natal karena warganya yang menderita tumor justru tak mampu ditolongnya. Malam ini Ronggani didampingi suaminya sedang dalam perjalan menuju Medan. Drg Firdaus […]

  • Usai Imam Salat Jumat, Saipullah Dipeluk Para Tokoh Masyarakat

    Usai Imam Salat Jumat, Saipullah Dipeluk Para Tokoh Masyarakat

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Usai menjadi imam salat Jumat berjamaah di Masjid Misbah Hussudur, calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution, langsung dipeluk dan disalami tokoh-tokoh masyarakat (Tomas) Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, Madina, Jumat (15/11/2024). Sejumlah jamaah salat Jumat menilai Saipullah Nasution sebagai sosok yang paling pantas menjadi Bupati […]

  • Atika: Relasi Penting Untuk Berkembang

    Atika: Relasi Penting Untuk Berkembang

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      DELI SERDANG (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution menyatakan pentingnya menjaga relasi karena seringkali jalan rezeki datang dari jejaring yang terbentuk. Itu disampaikan Atika saat menghadiri wisuda magister, sarjana, dan sarjana terapan mahasiswa Institut Kesehatan Deli Husada di auditorium kampus tersebut, Jl. Besar No 77 Deli Tua, Kabupaten […]

expand_less