Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

Siboru Deak Parujar dan Tanah Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 14 Jan 2019
  • print Cetak

Bindu

Oleh: Edi Nasution (in memorial)

*Dikutip dari artikel “Mandala Holing”

 

Meskipun kelompok etnik (suku-bangsa) Mandailing memiliki aksara tradisional yang disebut Surat Tulak-tulak, dan biasa digunakan untuk menuliskan kitab-kitab kuno yang dinamakan Pustaha, namun Pustaha itu umumnya bukan berisi tentang ‘cacatan sejarah’ orang Mandailing, melainkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang dipandang baik dan buruk, serta ramalan tentang mimpi (Z. Pangaduan Lubis, 1986: 43-44).

Salah satu sumber sejarah kuno yang menyebut-nyebut nama ‘Mandahiling (Mandailing) adalah kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada zaman Majapahit yaitu Negarakertagama.

Selain itu nama Mandailing (‘tano padang bakkil bandailing’) disebut-sebut juga di dalam sastra klasik Toba-tua, yaitu Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar (Batara Sangti, 1977: 278). Tonggo-tonggo tersebut berbunyi sebagai berikut:

Baen ma gondang ni Ompunta, Tuan Humara-Hiri, Si Humara Naboru, par-aji tamba-tua, par-aji pulung-pulungan; sinonduk ni Ompunta Sibaso Nabolon, na marsigantung ditali siubar, na meat di mombang boru”.

“Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siogung-ogung; parsirangan ni tano, pardomuan ni aek; Sian i ma dalan laho tu ginjang, partiatan ni Ompunta: Debata Natolu Suhu, Naopat Harajaon tu banua tonga on”.

Disi ma parangin-anginan ni Ompunta ‘Siboru Deakparujar’, sideak uti-utian, sigodang ujar-ujaran:

  1. Na manjadihon : ‘Gana na so boi tolonon, bulan naso boi oseon’
  2. Sian I ma mula ni : ‘Dung-dang’
  3. Mula ni  : ‘Sahala’
  4. Mula ni : ‘harajaon’
  5. Mula ni : ‘Gantang tarajuan, Hatian pamonari’
  6. Mula ni : ‘Pungga si sada iht’
  7. Mula ni : ‘Ninggala Sibola tali’
  8. Sian i ma : ‘Boli nii boru muli dohot si namot ni anak’
  9. Mula ni  : ‘Goar ni bao na so boi dohonon’
  10. Nunga disihataon i : ‘Di ninggor ni ruma, dipagohan di pinggol nia- debata’.”

Kalau Tonggo-tonggon Si Boru Deak Parujar tersebut dialih bahasakan secara bebas dan terbatas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tonggo-Tonggo Siboru Deakparujar

Palulah gendang dari Empu kita, Tuan Kumarakumari, Si Kumara perempuan, per-aji tambah tua, per-aji ramu-ramuan; suami dari Empu Kita Sibaso Nabolon, yang bergantung pada tali siubar, yang hinggap di mombang boru.

Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakil Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: ‘Dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada Empu Kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini.

Di situlah bertamasya Empu kita Siboru Deakparujar, yang banyak cerdik, yang banyak akal:

  1. Yang mengamanatkan : “Tidak boleh makan sumpah, tidak boleh mengingkari ikrar”
  2. Asal mula  : “Kepercayaan”
  3.   Asal mula : “Sahala”
  4. Asal mula : “Kerajaan”
  5.   Asal mula : “Gantang pengukuran, dacing kebenaran”
  6.   Asal mula :  “Batu-asahan satu seikat”
  7.   Asal mula :   “Bajak bagai pembelah tali”
  8. Di situlah asal mula: “Penerimaan beli atas perkahwinan anak perempuan dan pembayaran jujuran bagi perkahwinan anak lelaki”
  9.  Asal mula:  “Nama besan yang tak boleh disebut”
  10. Ini telah dinukilkan : “Pada kuda-kuda rumah asli, dipacakkan batu barani dan di kuping kuda dewata”.

Kita tidak mengetahui kapan Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar itu tercipta atau diciptakan. Yang kita ketahui ialah bahwa Siboru Deakparujar adalah tokoh mitologi dalam kebudayaan Toba. Menurut mitologi Toba, Siboru Deakparujar adalah puteri Debata Mulajadi Nabolon, yang dititahkannya turun dari ‘benua atas’ ke ‘benua tengah’ membawa sekepal tanah, untuk menempa bumi di atas lautan.

Namun dalam usahanya menempa bumi, Siboru Deakparujar mendapat gangguan dari Naga Padoha (Raja Padoha), tetapi akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu. Kemudian Debata Mulajadi Nabolon menitahkan Siraja Odap-odap turun ke bumi untuk menjadi suami Siboru Deakparujar.

Dari perkawinan Siboru Deakparujar dengan Siraja Odap-odap, lahirlah seorang putera yang bernama Siraja Ihatmanusia, dan seorang puteri yang bernama Siboru Ihatmanusia. Kedua bersaudara tersebut kawin dan kemudian mendapat tiga orang putera. Masing-masing Siraja Miok-miok, Patundal Nabegu dan Siraja Lapas-lapas. Dari keturunan Siraja Miok-miok kemudian hari lahirlah Siraja Batak, yang dipandang sebagai nenek moyang (leluhur) orang Batak.

Menurut Batara Sangti, tonggo-tonggo ialah doa yang disusun secara puitis dan diucapkan waktu sajian besar dan kecil (1977: 270). Dalam Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar jelas disebutkan bahwa “tanah bakil Mandailing tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu (suara gong yang merdu biasanya menarik perhatian dan dapat didengar sampai ke tempat yang jauh). Dari situlah (dari tanah Mandailing) jalan ke atas, ‘perturunan’ (tempat turun) dari Empu kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke ‘benua tengah’ (ke bumi -) ini”. Berdasarkan tonggo-tonggo (doa) tersebut, jelaslah bahwa sejak zaman dahulu kala (sejak adanya tokoh mitologi Siboru Deakparujar), orang Toba (Batak) telah mengakui kemasyhuran tanah Mandailing. Lebih penting dari itu, Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar dengan jelas menyebutkan pula bahwa tanah Mandailing merupakan tempat tangga jalan ke atas (kayangan), dan menjadi tempat turun Dewa (Debata Nan Tiga) ke ‘benua tengah’ (bumi) ini.

Selanjutnya tonggo-tonggo tersebut  menyatakan pula bahwa “di situlah” (di tanah Mandailing) bertamasya Siboru Deakparujar. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa kemungkinan sekali justru di tanah Mandailing itu pulalah Siboru Deakparujar turun dari kayangan. Sebab tonggo-tonggo-nya menyebutkan “dari situlah (dari tanah Mandailing) tangga jalan ke atas (kayangan)”.

Oleh karena itu, tidak tertutup pula kemungkinan bahwa di tanah Mandailing pulalah Siboru Deakparujar kawin dengan Siraja Odap-adap. Selanjutnya keturunan mereka lahir dan berkembang di tempat tersebut. Kemudian dapat dikemukakan hipotesis, bahwa setelah keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap berkembang di tanah Mandailing, generasi selanjutnya dari keturunan mereka, seperti misalnya Siraja Batak (keturunan generasi ke empat dari Siraja Miok-miok, atau generasi ke enam dari keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap) pindah ke tempat lain meninggalkan tanah Mandailing dan pergi ke tanah Toba.

Kemudian di tempat itu ia berkembang. Dengan kata lain, berdasarkan penafsiran terhadap Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar tersebut, nenek moyang Siraja Batak, mulai dari Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odap-adap sampai kepada Guru Tantan Debata, yaitu ayah dari Si Raja Batak sendiri, setelah besar kemudian meninggalkan tempat tersebut (Mandailing) dan pergi ke tempat lain yaitu tao Toba.

*(http://gondang.blogspot.com/2013/12/banua-mandailing.html)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 260 Sekolah di Sumut Terapkan Kurikulum 2013

    260 Sekolah di Sumut Terapkan Kurikulum 2013

    • calendar_month Selasa, 23 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, – Dinas Pendidikan Provinsi Sumut menegaskan hanya memediasi tempat dan berkoordinasi untuk mensukseskan penerapan kurikulum 2013. Sedangkan penentuan sekolah, termasuk guru-guru yang akan diterapkan lebih dahulu kurikulum serta sosialisasinya ditentukan langsung Kemendikbud RI. Untuk pelaksanaan pelatihan kurikulum 2013 dilaksanakan oleh LPMP dan P4TK. “Dinas hanya memediasi tempat serta berkoordinasi dengan kabupaten/kota. Sedangkan kegiatan langsung […]

  • Bupati Madina Mengaku Selalu Dapat Info Siapa Dibelakang Setiap Aksi Demo Perkebunan

    Bupati Madina Mengaku Selalu Dapat Info Siapa Dibelakang Setiap Aksi Demo Perkebunan

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online : Aneh, gelombang demo terkait perkebunan diwilayah  Pantai Barat, Mandailing Natal, Sumatera Utara muncul drastis disaat Bupati Saipullah Nasution menjadi Bupati. Dua pekan trakhir sejumlah aliansi mendatangi Kantor DPRD Madina dan Kantor Bupati. Mulai dari Masyarakat dari Kecamatan Natal, Batahan, Sinunukan dan Muara Batang gadis serta Rantobaek bahkan kalangan mahasiswa seolah agenda ini […]

  • Dinas Perdagangan Madina Raih PAD 116,47 Persen

    Dinas Perdagangan Madina Raih PAD 116,47 Persen

    • calendar_month Selasa, 7 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut merealisasikan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) di atas target. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Madina mencatat rekor perolehan PAD oleh Dinas Perdagangan Madina dari sektor Retribusi Pelayanan Pasar dan Kios  yang mencapai 116,47 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun 2024. “Itu meningkat signifikan […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 14)

    MARSIDAO-DAO (episode 14)

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Songonima alai na mar sidao-dao tu huta balian, golap-golap bontar mangalao, luas Magorib muse doma mulina. Madung sapoken apea gurison ngada niguris, mambaen sapa-sapa ni roa Jatorkis nampuna kabun. Nanisuruna ma Si Masnia dadaboru ni ia manyunggul Si Siti. Ima na dompak muli tingon tapian an, nanipaudur Si Masnia […]

  • Pesawat Wapres Dikawal Sukhoi

    Pesawat Wapres Dikawal Sukhoi

    • calendar_month Rabu, 10 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Manado – Pesawat BAe RJ 85 yang ditumpangi Wakil Presiden Boediono dalam perjalanan dari Bandara Hasanuddin Makassar menuju Manado sempat dikawal dua pesawat Sukhoi SU-27 sekitar 15 menit. Wartawan ANTARA yang menyertai perjalanan Wapres ke Manado, Rabu, melaporkan, sekitar 10 menit setelah pesawat yang ditumpangi Wapres Boediono mengudara, dua pesawat Sukhoi buatan Rusia mengawal dari […]

  • Putra Batang Natal Ketuai Forum Kajian dan Penulisan Hukum di Unimal, Aceh

    Putra Batang Natal Ketuai Forum Kajian dan Penulisan Hukum di Unimal, Aceh

    • calendar_month Jumat, 7 Okt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LHOKSEUMAWE (Mandailing Online) – Halvionata Auzora Siregar dipercaya menjadi ketua Forum Kajian dan Penulisan Hukum (FKPH) di Fakultas Hukum, Unimal. Dia adalah mahasiswa Fakultas Hukum semester 5 di Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam. Halvionata Auzora Siregar adalah putra Batang Natal, Mandailing Natal, Sumatera Utara, anak dari pasangan Halomoan Siregar dan Yanti […]

expand_less