Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

Siboru Deak Parujar dan Tanah Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 14 Jan 2019
  • print Cetak

Bindu

Oleh: Edi Nasution (in memorial)

*Dikutip dari artikel “Mandala Holing”

 

Meskipun kelompok etnik (suku-bangsa) Mandailing memiliki aksara tradisional yang disebut Surat Tulak-tulak, dan biasa digunakan untuk menuliskan kitab-kitab kuno yang dinamakan Pustaha, namun Pustaha itu umumnya bukan berisi tentang ‘cacatan sejarah’ orang Mandailing, melainkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang dipandang baik dan buruk, serta ramalan tentang mimpi (Z. Pangaduan Lubis, 1986: 43-44).

Salah satu sumber sejarah kuno yang menyebut-nyebut nama ‘Mandahiling (Mandailing) adalah kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada zaman Majapahit yaitu Negarakertagama.

Selain itu nama Mandailing (‘tano padang bakkil bandailing’) disebut-sebut juga di dalam sastra klasik Toba-tua, yaitu Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar (Batara Sangti, 1977: 278). Tonggo-tonggo tersebut berbunyi sebagai berikut:

Baen ma gondang ni Ompunta, Tuan Humara-Hiri, Si Humara Naboru, par-aji tamba-tua, par-aji pulung-pulungan; sinonduk ni Ompunta Sibaso Nabolon, na marsigantung ditali siubar, na meat di mombang boru”.

“Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siogung-ogung; parsirangan ni tano, pardomuan ni aek; Sian i ma dalan laho tu ginjang, partiatan ni Ompunta: Debata Natolu Suhu, Naopat Harajaon tu banua tonga on”.

Disi ma parangin-anginan ni Ompunta ‘Siboru Deakparujar’, sideak uti-utian, sigodang ujar-ujaran:

  1. Na manjadihon : ‘Gana na so boi tolonon, bulan naso boi oseon’
  2. Sian I ma mula ni : ‘Dung-dang’
  3. Mula ni  : ‘Sahala’
  4. Mula ni : ‘harajaon’
  5. Mula ni : ‘Gantang tarajuan, Hatian pamonari’
  6. Mula ni : ‘Pungga si sada iht’
  7. Mula ni : ‘Ninggala Sibola tali’
  8. Sian i ma : ‘Boli nii boru muli dohot si namot ni anak’
  9. Mula ni  : ‘Goar ni bao na so boi dohonon’
  10. Nunga disihataon i : ‘Di ninggor ni ruma, dipagohan di pinggol nia- debata’.”

Kalau Tonggo-tonggon Si Boru Deak Parujar tersebut dialih bahasakan secara bebas dan terbatas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tonggo-Tonggo Siboru Deakparujar

Palulah gendang dari Empu kita, Tuan Kumarakumari, Si Kumara perempuan, per-aji tambah tua, per-aji ramu-ramuan; suami dari Empu Kita Sibaso Nabolon, yang bergantung pada tali siubar, yang hinggap di mombang boru.

Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakil Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: ‘Dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada Empu Kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini.

Di situlah bertamasya Empu kita Siboru Deakparujar, yang banyak cerdik, yang banyak akal:

  1. Yang mengamanatkan : “Tidak boleh makan sumpah, tidak boleh mengingkari ikrar”
  2. Asal mula  : “Kepercayaan”
  3.   Asal mula : “Sahala”
  4. Asal mula : “Kerajaan”
  5.   Asal mula : “Gantang pengukuran, dacing kebenaran”
  6.   Asal mula :  “Batu-asahan satu seikat”
  7.   Asal mula :   “Bajak bagai pembelah tali”
  8. Di situlah asal mula: “Penerimaan beli atas perkahwinan anak perempuan dan pembayaran jujuran bagi perkahwinan anak lelaki”
  9.  Asal mula:  “Nama besan yang tak boleh disebut”
  10. Ini telah dinukilkan : “Pada kuda-kuda rumah asli, dipacakkan batu barani dan di kuping kuda dewata”.

Kita tidak mengetahui kapan Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar itu tercipta atau diciptakan. Yang kita ketahui ialah bahwa Siboru Deakparujar adalah tokoh mitologi dalam kebudayaan Toba. Menurut mitologi Toba, Siboru Deakparujar adalah puteri Debata Mulajadi Nabolon, yang dititahkannya turun dari ‘benua atas’ ke ‘benua tengah’ membawa sekepal tanah, untuk menempa bumi di atas lautan.

Namun dalam usahanya menempa bumi, Siboru Deakparujar mendapat gangguan dari Naga Padoha (Raja Padoha), tetapi akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu. Kemudian Debata Mulajadi Nabolon menitahkan Siraja Odap-odap turun ke bumi untuk menjadi suami Siboru Deakparujar.

Dari perkawinan Siboru Deakparujar dengan Siraja Odap-odap, lahirlah seorang putera yang bernama Siraja Ihatmanusia, dan seorang puteri yang bernama Siboru Ihatmanusia. Kedua bersaudara tersebut kawin dan kemudian mendapat tiga orang putera. Masing-masing Siraja Miok-miok, Patundal Nabegu dan Siraja Lapas-lapas. Dari keturunan Siraja Miok-miok kemudian hari lahirlah Siraja Batak, yang dipandang sebagai nenek moyang (leluhur) orang Batak.

Menurut Batara Sangti, tonggo-tonggo ialah doa yang disusun secara puitis dan diucapkan waktu sajian besar dan kecil (1977: 270). Dalam Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar jelas disebutkan bahwa “tanah bakil Mandailing tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu (suara gong yang merdu biasanya menarik perhatian dan dapat didengar sampai ke tempat yang jauh). Dari situlah (dari tanah Mandailing) jalan ke atas, ‘perturunan’ (tempat turun) dari Empu kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke ‘benua tengah’ (ke bumi -) ini”. Berdasarkan tonggo-tonggo (doa) tersebut, jelaslah bahwa sejak zaman dahulu kala (sejak adanya tokoh mitologi Siboru Deakparujar), orang Toba (Batak) telah mengakui kemasyhuran tanah Mandailing. Lebih penting dari itu, Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar dengan jelas menyebutkan pula bahwa tanah Mandailing merupakan tempat tangga jalan ke atas (kayangan), dan menjadi tempat turun Dewa (Debata Nan Tiga) ke ‘benua tengah’ (bumi) ini.

Selanjutnya tonggo-tonggo tersebut  menyatakan pula bahwa “di situlah” (di tanah Mandailing) bertamasya Siboru Deakparujar. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa kemungkinan sekali justru di tanah Mandailing itu pulalah Siboru Deakparujar turun dari kayangan. Sebab tonggo-tonggo-nya menyebutkan “dari situlah (dari tanah Mandailing) tangga jalan ke atas (kayangan)”.

Oleh karena itu, tidak tertutup pula kemungkinan bahwa di tanah Mandailing pulalah Siboru Deakparujar kawin dengan Siraja Odap-adap. Selanjutnya keturunan mereka lahir dan berkembang di tempat tersebut. Kemudian dapat dikemukakan hipotesis, bahwa setelah keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap berkembang di tanah Mandailing, generasi selanjutnya dari keturunan mereka, seperti misalnya Siraja Batak (keturunan generasi ke empat dari Siraja Miok-miok, atau generasi ke enam dari keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap) pindah ke tempat lain meninggalkan tanah Mandailing dan pergi ke tanah Toba.

Kemudian di tempat itu ia berkembang. Dengan kata lain, berdasarkan penafsiran terhadap Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar tersebut, nenek moyang Siraja Batak, mulai dari Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odap-adap sampai kepada Guru Tantan Debata, yaitu ayah dari Si Raja Batak sendiri, setelah besar kemudian meninggalkan tempat tersebut (Mandailing) dan pergi ke tempat lain yaitu tao Toba.

*(http://gondang.blogspot.com/2013/12/banua-mandailing.html)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Verifikasi Faktual Balon DPD di Madina

    • calendar_month Sabtu, 1 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN- (Mandailing Online) – KPU Mandailing Natal (Madina) mulai melakukan tahapan verifikasi faktual terhadap bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumut. Verifikasi ini untuk memastikan syarat dukungan KTP setiap balon DPD, setelah sebelumnya KPU Sumut sudah merampungkan verifikasi administrasi terhadap 27 balon DPD. Kewajibkan KPU Madina hanya menyalurkan, menyampaikan dan menginstruksikan kepada PPK (Panitia […]

  • 10,46% kosmetik di Sumut tak aman

    10,46% kosmetik di Sumut tak aman

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kaum wanita di Sumatera Utara diingatkan dalam menggunakan kosmetik. Pasalnya, kosmetik yang beredar di Sumut masih belum aman Dari hasil uji kosmetik tahun 2010 yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Sumut, sebanyak 10,46 persen kosmetik tidak memenuhi syarat kesehatan. Sebagian terbukti mengandung pewarna yang dilarang. Bahkan, masih ada yang mengandung […]

  • Dibalik Perjuangan Pembangunan Bandara Madina

    Dibalik Perjuangan Pembangunan Bandara Madina

    • calendar_month Rabu, 5 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )-  Setidaknya ada beberapa poin penting dibalik perjuangan pembangunan bandar udara Mandailing Natal yang saat ini proses pembangunannya sedang berjalan dan sesuai target Kementerian Perhubungan akan selesai progress nya di tahun 2023 dan akan beroperasi di awal tahun 2024 mendatang. Irwan Daulay salah seorang pengamat pembangunan dalam catatannya pada Redaksi Mandailing […]

  • Tak Berkategori

    Pasca Penangkapan Bupati, Daerah Harus Tetap Kondusif

    • calendar_month Kamis, 16 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasca penangkapan Bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara oleh KPK, masyarakat diminta tetap tenang dan menjaga kekondusifan daerah. “Saya menghimbau kepada PNS dan masyarakat Madina agar tetap tenang dan kondusif, laksanakan kegiatan sehari hari sebagai PNS sesuai tupoksi masing-masing sebagaimana biasanya,” kata Ketua Peradi Tabgsel, Ridwan Rangkuti,SH.MH, Kamis (16/5/2013). Ridwan juga […]

  • Etnis Mandailing Desak Pemerintah Cabut Batak Mandailing di Sensus Penduduk 2020

    Etnis Mandailing Desak Pemerintah Cabut Batak Mandailing di Sensus Penduduk 2020

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Pemuka-pemuka Mandailing lintas profesi menerbitkan penolakan identitas “Batak Mandailing” di Sensus Penduduk 2020 oleh BPS. Pemerintah Indonesia melalui BPS diminta mencabut label Batak Mandailing di lembaran sensus tersebut. Penolakan itu tertuang dalam Surat Keberatan tanggal 11 Pebruari 2020 dari Koalisi Masyarakat Mandailing Peduli Identitas ditujukan kepada pemerintah Indonesia khususnya Badan Pusat […]

  • Sepanjang tahun 2025 ada 33 TKA di Madina, Didominasi Warga China 

    Sepanjang tahun 2025 ada 33 TKA di Madina, Didominasi Warga China 

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengakuan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Mandailing Natal Hingga November 2025 Ada 33 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang diketahui melakukan pekerjaan di Perusahaan atau PT yang beroperasi di Madina. Data orang Asing bersumber dari pihak Imigrasi yang dilaporkan pada Disnaker dengan data yang fluktuatif. Kamis, (06/11/2025). “Kalo datanya memang sampai ke […]

expand_less