Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode

BAHAYA MEMUSUHI DAN MENYAKITI ULAMA

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2020
  • print Cetak

ILUSTRASI – Ulama. (IST)

Ulama adalah sosok yang Allah SWT muliakan. Sudah sepantasnya kaum Muslim juga memuliakan ulama. Melindungi dan menjaga mereka. Tidak memperolok-olok apalagi menyakiti mereka.

Sayang, yang terjadi di Tanah Air, untuk kesekian kali terjadi serangan terhadap ulama dan tokoh Islam. Bukan saja diolok-olok. Bahkan nyawa mereka sampai terancam. Sebagian dari mereka ada yang dianiaya di rumah, di masjid, bahkan kini di tempat terbuka di tengah panggung dakwah. Sebagian luka-luka. Sebagian lagi bahkan dianiaya hingga wafat. Keadaan ini menggambarkan bahwa para ulama dan tokoh Islam belum bebas dari ancaman.

 

Kemuliaan Ulama

Maraknya ancaman terhadap para ulama dan tokoh Islam adalah sebuah ironi. Pasalnya, kita hidup di negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Setiap hari kita juga mendengar semakin banyak orang berani mengolok-olok ulama dan tokoh-tokoh Islam. Pelecehan tersebut terutama ditujukan pada ulama dan tokoh Islam yang giat melaksanakan amar makruf nahi mungkar.

Misalnya, baru-baru ini seorang elit parpol menghina keberadaan MUI dengan menyebut lembaga ulama itu selevel dengan LSM. Bahkan ada kalimat yang bertendensi menyamakan ulama dengan binatang. “Sama seperti LSM urusan hewan, apakah pengurusnya laler dan kecoa? Gak, kan?” tutur politisi tersebut lancang.

Mulut-mulut kotor mereka terhadap para ulama jauh berbeda dengan predikat yang Allah SWT berikan. Ulama dalam timbangan agama adalah sosok yang istimewa.

Pertama: Para ulama dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT beberapa tingkat di atas manusia lain:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (TQS al-Mujadilah [58]: 11).

Tidak ada manusia yang diberi kebaikan oleh Allah SWT melainkan para ulama. Sabda Nabi saw.:

مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُهُ فِي الدِّين

Siapa saja yang Allah kehendaki untuk mendapatkan kebaikan, Dia akan menjadikan dirinya faqih dalam agama (HR Muttafaq ‘alayhi).

Nabi saw. menyebutkan ketinggian derajat para ulama di dunia ini dibandingkan dengan segenap manusia. Sabda beliau saw:

إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ

Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk kepada orang yang berada di gelap malam, di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk (HR Ahmad).

Kedua: Para ulama disebut oleh Rasulullah saw. sebagai pewaris para nabi. Di tengah umat ini, tak ada satu pun yang layak disebut pewaris para nabi melainkan para ulama. Sabda Nabi saw:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sungguh ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak (HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Mengapa di dalam hadis ini disebut kata pewaris? Tidak menggunakan istilah yang lain?

Imam al-Munawi mengatakan, “Karena warisan itu berpindah kepada manusia yang paling dekat. Sosok manusia yang paling dekat dengan para nabi dalam urusan agama adalah para ulama yang berpaling dari dunia, menghadap akhirat dan kedudukan mereka terhadap umat adalah sebagai pengganti dari para nabi. Para ulama adalah orang yang memperoleh kebahagiaan dengan dua kebaikan: ilmu dan amal. Mereka pun mendapatkan dua keutamaan: kesempurnaan dan menyempurnakan.” (Al-Munawi, Faydh al-Qadir, 4/105).

Ketiga: Demikian besar derajat para ulama, Allah SWT berkenan memberi mereka kesempatan untuk memberikan syafaat pada Hari Kiamat. Sabda Nabi saw:

يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلاَثَةٌ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ

Akan memberi syafaat pada Hari Kiamat tiga golongan: para nabi, ulama, lalu para syuhada (HR Ibnu Majah).

Keempat: Karena keberadaan para ulama pula agama ini terpelihara dan umat akan terjaga dari berbagai kesesatan. Jika para ulama telah tiada, ilmu akan lenyap dan umat pun akan mudah tergelincir dalam kesesatan. Sabda Nabi saw:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ

Sungguh Allah SWT tidak mencabut ilmu dengan mencabut ilmu itu dari manusia. Namun, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama (HR al-Bukhari).

Demikian vital kehadiran dan peran ulama, kematian mereka adalah musibah berat bagi umat. Berpulangnya mereka tak bisa digantikan dengan mudah, bahkan oleh ribuan ahli ibadah sekalipun. Dalam mukadimah Kifayah al-Akhyar, dituliskan perkataan Umar bin al-Khaththab ra., “Kematian seribu ahli ibadah yang senantiasa bangun malam untuk shalat dan berpuasa pada siang hari lebih ringan dari kematian satu orang alim yang mengetahui apa yang Allah halalkan dan apa yang Dia haramkan.”

Inilah derajat agung yang hanya dimiliki para ulama.

 

Ulama Sejati

Tentu yang dimaksud dengan para ulama di sini bukan sekadar orang yang berilmu namun lancang kepada Allah SWT, memutarbalikkan hukum-hukum-Nya dan bersekutu dengan kezaliman. Ulama bukan semata mereka yang faqih fiddin (paham agama), tetapi pribadi-pribadi yang punya rasa takut paling tinggi kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sungguh di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama (TQS Fathir [28]: 28).

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Bukanlah yang dikatakan orang berilmu itu orang yang banyak hapal hadis. Akan tetapi, yang dinamakan orang berilmu adalah orang yang amat besar rasa takutnya (kepada Allah).”

Atas dasar inilah Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkomentar tentang ayat di atas, “Hal ini menunjukkan bahwa setiap yang takut kepada Allah, dialah orang alim. Ini adalah haq.” (Dari Kitab Majmu’ al-Fatawa, 7/539. Lihat juga: Tafsir al-Baydhawi, 4/418; Fath al-Qadir, 4/494).

 

Para ulama sejati ini disebut sebagai ulama akhirat.

Di sisi lain ada yang dinamakan ulama dunia. Ibn al-Jauzi dalam Shaid al-Khatir menyebutkan, “Perbedaan antara ulama dunia dan ulama akhirat adalah: ulama dunia haus kekuasaan di dalam dunia dan suka mendapatkan harta plus gila pujian. Sebaliknya, ulama akhirat tidak mendahulukan itu semua. Mereka sangat takut dan sangat menyayangi siapa saja yang diuji oleh dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shaid al-Khathir, hlm. 14).

Ulama yang menjual agama untuk sampah dunia berupa harta dan ketenaran, menjilat kekuasaan serta memutarbalikkan ayat-ayat Allah justru kelak akan didera kehinaan dan siksaan pada Hari Akhir. Allah SWT telah memperingatkan umat akan bahaya sikap condong pada kezaliman dan para pelakunya (Lihat: QS Hud [11]: 113).

Imam Sayyid bin al-Musayyib juga mengingatkan dengan keras tentang para ulama yang mendatangi penguasa dengan tujuan menjilat, “Jika engkau melihat seorang alim mengelilingi penguasa, hati-hatilah terhadap dirinya karena dia adalah seorang pencuri.”

 

Bahaya Memusuhi Ulama

Karena itu para ulama yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT, giat amar maruf nahi mungkar, berjuang untuk menegakkan agama-Nya wajib untuk diikuti dan pantang untuk dimusuhi apalagi dikriminalisasi. Dalam hadis qudsi Allah SWT menyatakan perang terhadap mereka yang mengganggu para wali-Nya:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah mengumumkan perang kepada dirinya.” (HR al-Bukhari).

Hadis ini menjelaskan betapa kerasnya pembelaan Allah SWT kepada para wali-Nya. Yang dimaksud dengan wali Allah adalah orang alim yang selalu taat dan ikhlas dalam beribadah. Imam Syafii menjelaskan, jika para ulama itu bukan wali-wali Allah, tentu tidak ada wali-Nya di muka bumi ini.

Tentang larangan menghina dan menyakiti ulama, Ikrimah, seorang tabi’in, berkata, “Janganlah kamu menyakiti seorang ulama. Siapa saja yang menyakiti ulama berarti dia telah menyakiti Rasulullah. Sebabnya, ulama berkedudukan sebagai pewaris ilmu para nabi untuk disampaikan kepada umat hingga Hari Kiamat nanti.”

Al-Hafizh Ibnu Asakir, dalam kitab Tabyin Kadzib al-Muftari, juga mengingatkan bahwa daging ulama itu ‘beracun’. Siapa saja yang menghina, memfitnah, apalagi menyakiti para ulama akan mendapat balasan keras dari Allah SWT. Kata Ibnu Asakir, “Tidaklah saya tahu seseorang yang menghina ulama kecuali akan mati dalam keadaan su’ul khatimah karena sungguh daging ulama itu ‘beracun’.”

Begitu keras ancaman Allah SWT dan Rasul-Nya terhadap orang-orang yang memfitnah, memusuhi termasuk mengkriminalisasi para ulama dan pejuang Islam. Apalagi jika tindakan mereka disertai dengan pelecehan dan penistaan terhadap ajaran Islam seperti menangkap mereka yang mendakwahkan seruan penegakan syariah dan Khilafah Islam, bahkan menyamakan ajaran kekhilafahan dengan ajaran komunis.

Alhasil, sudah sepatutnya kaum Muslim bersatu membela para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang mukhlis dan tegar menegakkan kalimatullah. Umat wajib melindungi dan membela mereka. Tidak memandang ormas atau kelompok manapun. Selama ia istiqamah dan ikhlas memperjuangkan agama Allah, sudah menjadi tanggung jawab umat untuk membela dan melindungi mereka. ***

 

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Orang-orang yang menyakiti kaum Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

(TQS al-Ahzab [33: 58). ***

 

Dicopy dari : Buletin Dakwah Kãffah Edisi 159

(30 Muharram 1442 H | 18 September 2020)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (3-selesai)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (3-selesai)

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Askolani Nasution   SASTRA ENTERTAINMENT Sastra dalam lirik lagu patut ditandai sebagai bentuk sastra. Tentu karena kita meyakini bahwa lirik lagu merupakan musikalisasi puisi. Hal ini menjadi penting karena pada saat sastra literer Mandailing meredup, musikalisasi puisi tersebut menguat perannya. Lirik lagu Mandailing bukan hanya ungkapan perasaan, tetapi beberapa penulis lagu ternyata mampu […]

  • Ikurung Mantong Manuk Tai Inda Ilehen Tuduonna

    Ikurung Mantong Manuk Tai Inda Ilehen Tuduonna

    • calendar_month Sabtu, 25 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Songonima boto natarjadi ikurung manuk tai inda ilehen tuduonna mangamburi boto sada-sada, romuse mantong boto namangoban tudukon, ripur sude manuki, hasidunganna lam-lam dai nisirai, iambangia leng manuk nia hapengani madung manuk nidongan , songon manuk naburnungon doma boto tondo-tondo markareput barimbing nai, ning amangtuai mantong, taldus doma tali nisarusur nia patunda tagina namarkombur dilopo Jarindangi. […]

  • APBD Perubahan 2025 Diajukan, PAD Naik, Transfer Turun

    APBD Perubahan 2025 Diajukan, PAD Naik, Transfer Turun

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) naik di APBD Perubahan tahun 2025. Di sisi lain transfer dari pemerintah pusat justru turun. Nota APBD Perubahan tahun anggaran 2025 diajukan pada rapat paripurna DPRD Madina, Kamis (18/9/2025). Paripurna dipimpin Ketua DPRD Madina Erwin Efendi Lubis. Dalam Pengantar Nota Keuangan APBD Perubahan yang […]

  • MA’RUF AMIN DATANG, KANTOR PEMKAB SEPI

    MA’RUF AMIN DATANG, KANTOR PEMKAB SEPI

    • calendar_month Senin, 11 Mar 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Catatan : Dahlan Batubara   Sebelum berangkat meliput tabligh akbar ke Pasir Putih, Lingkar Timur Panyabungan, saya sempatkan minum teh manis di warung kopi. Senin (11/3/2019). Tiga bulan terakhir Tabligh akbar lagi musim di Mandailing Natal. Tetapi, kali ini tabligh akbar-nya lebih wah. Karena hadir Ma’ruf Amin. Calon Wakil Presiden Indonesia. Saat minum kopi, […]

  • Dahlan Dilantik Sebagai Plt Bupati Madina

    Dahlan Dilantik Sebagai Plt Bupati Madina

    • calendar_month Senin, 28 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Madina Dahlan Nasution, resmi dilantik sebagai Plt Bupati Madina, menyusul Hidayat Batubara menjadi terdakwa di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan. Prosesi pelantikan Dahlan berlangsung di salah satu ruangan, rumah dinas Gubernur Sumut. Sebelumnya, direncanakan penyerahan SK Plt Dahlan, oleh Gatot Pujo Nugroho, berlangsung di lantai 10 kantor […]

  • Surung Panjaitan menangis di persidangan

    Surung Panjaitan menangis di persidangan

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Surung Panjaitan yang menjadi terdakwa kasus dugaan suap terhadap Bupati Madina Hidayat Batubara terlihat menangis dan mengakui kesalahannya saat disidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Medan. Kepada Majelis Hakim pengusaha tersebut berkeras bahwa dirinya tidak pernah menyatakan setuju menggarap proyek di RSUD Panyabungan yang ditawarkan oleh anak buah Bupati Madina. […]

expand_less