Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Potensi Konflik Horizontal Pilkada? Karya Demokrasi Barat Yang Nyata

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 25 Sep 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Utara menjelaskan bahwa Kalimantan Utara tergolong daerah rawan konflik dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Hal tersebut disampaikan oleh AKBP. Budi Rachmat, S.I.k, Kabid Humas Kepolisian Daerah Kalimantan Utara saat dikonfirmasi oleh awak media bahwa sesuai hasil survey Mabes Polri, tentang indeks kerawanaan pemilihan Kepala Daerah. Dalam hasil survey tersebut, terdapat lima Provinsi masuk klasifikasi rawan salah satunya Kalimantan Utara.

Kita nomor satu paling aman se Indonesia untuk Pilpres tahun lalu, sedangkan survey yang sekarang, indeks kerawanan Pilkada, kita adalah daerah yang rawan. Rawan itu bukan hanya daerah Provinsi Kaltara aja yah tapi ada beberapa daerah lain. Adapun pola pengamanan yang akan di lakukan Polda Kaltara nantinya akan di sesuaikan dengan kategori wilayah yang ada di Kaltara.  untuk pola pengamanan kita sesuai dengan prinsipnya daerahnya aman, rawan satu, rawan dua, itu sudah ada pola pengamanannya. (Lensa ID. com. 10/09/2020)

Pilkada sudah tidak lama lagi. Segala persiapan dan kebutahan telah dipersiapkan dengan matang. Meskipun badai pandemi yang terus menghantam manusia kian meningkat, namun perhatian pemerintah telah teralihkan untuk menyukseskan perhelatan pilkada. Untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam menangani wabah, maka pelaksanaan Pilkada dianjurkan agar tetap mematuhi prokes (protokol kesehatan) yang telah ditetapkan.

Saat pelaksanaan Pilkada nanti, diharapkan  mulai dari kampanye hingga hari pencoblosan, tidak ada penyelenggara yang menerobos prokes tersebut. Dengan menetapkan aturan demikian, pemerintah menganggap bahwa pelaksanaan Pilkada di tengah pandemi bisa terlaksana dengan aman dan terhindar dari covid-19. Whatever! Bagi pemerintah, pilkada tidak dapat ditunda.

Namun, ternyata bukan cuma wabah yang jadi ancaman bagi pelaksanaan pilkada. Tetapi juga ada potensi konflik horizontal di daerah yang siap menyambut saat Pilkada. Seperti yang dilansir dari lensa id di atas, bahwa beberapa provinsi berpotensi terjadi konflik horizontal yang bahkan selalu menganga dan siap meletus kapan saja. Bukankah ini sangat berbahaya bagi stabilitas internal negeri? Lalu, upaya apakah yang telah disiapkan pemerintah untuk mengantisipasinya? Ataukah dibiarkan begitu saja?

Potensi konflik horizontal tidak hanya dimiliki satu daerah saja, seperti Kalimantan Utara. Tetapi juga di beberapa daerah lain. Hal tersebut disebabkan karena kondisi masyarakat yang majemuk baik dari segi suku, ras, dan agama. Pada saat kemajemukan tersebut tidak diatur dengan satu aturan yang mampu menundukkannya, maka potensi konflik akan muncul ke permukaan. Ikatan yang mengatur kemajemukan yang dipakai di Indonesia hanyalah ikatan-ikatan semu yang sewaktu – waktu bisa dipancing meledak. Ikatan semu itu seperti kesukuan dan keturunan yang sifatnya temporal dan tidak memiliki ikatan yang kuat.

Ketika isu kesukuan dimainkan dalam pilkada, maka potensi konflik horizontal bisa terjadi. Sebab, para calon kandidat pemimpin daerah yang maju, biasanya bergandengan dengan yang sesuku, seagama, atau sekampung halaman. Ketika salah satu isu ini dinaikkan, bukankah akan ada pihak yang merasa dikucilkan?

Sebut saja di Kalimantan Utara yang merupakan salah satu daerah rawan konflik saat Pilkada. Provinsi Kalimantan Utara adalah daerah yang banyak dihuni oleh pendatang dari Sulawesi. Beberapa suku dari pulau Sulawesi seperti Bugis telah memiliki jumlah yang banyak. Bahkan di beberapa daerah mencapai 50% dari penduduk asli setempat, yaitu suku Dayak. Sebab itut, konflik suku memang sangat rawan di daerah seperti ini dan juga daerah lain yang memiliki kondisi sosial masyarakat yang senada.

Belum lagi jika jika isu keturunan sesama dayak yang berbeda agama. Bisa memicu perang sesama warga negara Indonesia. Tentu rakyat secara umum di negeri ini tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun, ada pihak yang senang jika konflik terjadi dan bahkan bisa mendapatkan keuntungan dari kondisi konflik yang ada.

Mereka itulah yang disebut kaum kapitalis alias pemilik modal. Dengan menjadikan demokrasi sebagai kenderaan, maka pemilik modal bisa memainkan catur politik sesuaai prinsip untung-rugi. Setiap pemilik modal yang memberikan dukungan materil kepada salah satu kandidat pemimpin daerah, tentu akan melakukan segala cara agar kandidatnya menang, meskipun dengan menghalalkan segala cara. Jika dengan menyulut konflik horizontal dianggap akan membawa keuntungan baginya, maka why not?

Disamping itu, paham kebebasan berperilaku (ekspresi) dan berpendapat yang dijunjung demokrasi juga menjadi sihir utama untuk menyulut konflik horizontal. Setiap suku berhak mengajukan kebebasan, setiap agama berhak menyampaikan agamanya dengan cara apapun, setiap keturunan punya hak untuk memenangkan kompetisi apapun. Dengan cara demikianlah Pilkada dijalankan. Bukankah konflik horizontal sudah lama terjadi di negeri ini dan tak kunjung selesai? Padahal kemajemukan yang ada di Nusantara adalah rahmat dan berkah. Lalu, bagaimana agar kemajemukan tidak menyulut konflik dan tidak bisa ditunggangi oleh para kapitalis?

Sebagai negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, sejatinya tidak boleh lepas dari keyakinan rakyatnya yang menganut Islam. Sebab, pengaturan kemajemukan yang telah berhasil mendudukkan perkara ini adalah syariah Islam. Negara dengan aturan syariat Islam selama kurang lebih 13 abad yang membentang hampir 2/3 dunia telah berhasil mengatur kemajemukan dengan sempurna dan indah. Bukan hanya suku yang beragam, tetapi juga agama, ras, keturunan, bahkan tidak ada kasta apapun didalamnya. Aturan kemajemukan yang membuat minoritas merasa puas, dan mayoritas tidak merasa superioritas melainkan mengayomi dan melindungi.

Islam memandang bahwa kemajemukan adalah ketetapan Allah SWT dan diciptakan sebagai keindahan dunia. Dengan tujuan penciptaan Islam sebagai rahmatan lil alamin, tentu Allah SWT menciptakan aturan bagi manusia yang tepat untuk mendudukkan keberagaman yang Dia ciptakan. Bagaimana cara menghormati keberagaman agama, meletakkan keberagaman suku, dan juga memandang perbedaan ras agar manusia dapat merasakan betapa Islam adalah agama yang haq dan benar-benar diturunkan oleh Pencipta langit dan bumi ini, yaitu Allah SWT.

Islam tidak pernah menolak keberagaman. Bahkan aturan Islamlah yang telah terbukti berhasil mengatur keberagaman tersebut. Jadi, tidak benar jika ada yang menyebutkan bahwa syariah Islam adalah ancaman keberagaman atau bahaya bagi negeri yang majemuk. Pernyataan tersebut tidak berdasar dan tidak terbukti.

Justru sebaliknya, sistem demokrasi kapitalis telah terbukti nyata menyulut konflik horizontal yang berkepanjangan bahkan dimanfaatkan. Dan sejatinya, konflik horizontal tersebut adalah hasil karya demokrasi barat kapitalis.

Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk menghentikan potensi konflik tersebut selain mencampakkan demokrasi barat kapitalis dan menggantinya dengan syariat Islam. Dengan demikian, negeri ini akan merasakan rahmat dan berkah dengan kemajemukan yang ada. Wallahu a’lam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atika Harap Kemenkumham Atensi Kasus Penganiaya Anak SD

    Atika Harap Kemenkumham Atensi Kasus Penganiaya Anak SD

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tabiat oknum sipir LP Kelas IIB Natal juga menuai kecaman dari Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utammi Nasution. Perbuatan oknum sipir yang diduga melakukan kekerasan terhadap anak usia sekolah dasar jadi sorotan banyak kalangan dalam dua hari ini. Atika menyatakan perbuatan oknum itu tak bisa dibenarkan. “Tidak ada yg bisa […]

  • API, BARANG BUKTI DAN BAYANGAN HITAM KRIMINALITAS DI MADINA (Bagian 1)

    API, BARANG BUKTI DAN BAYANGAN HITAM KRIMINALITAS DI MADINA (Bagian 1)

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Barang Bukti Musnah, Akar Kejahatan Terus Menjalar?     Oleh: Tim Mandailing Epcentrum   Baru- baru ini, Kajari Madina melaksanakan pembakaran banyak barang bukti. Katanya, semuanya tanpa sisa. Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali publik menyaksikan pemusnahan barang bukti. Tumpukan ganja dibakar. Sabu dimusnahkan. Rokok ilegal dihancurkan. Kamera menyala. Pejabat berdiri rapi. Lalu publik […]

  • DPKAD Palas Sosialisasi Dana Hibah dan Bansos

    DPKAD Palas Sosialisasi Dana Hibah dan Bansos

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas – Dinas Pendapatan Keuangan dan Asset Daerah (DPKAD) Kabupaten Padang Lawas (Palas), menggelar sosialisasi dana hibah dan Bantuan Sosial (Bansos), diikuti 120 peserta dari kalangan Ormas, OKP, LSM dan Unsur SKPD se-Palas, berlangsung di Aula Hotel Barumun Sibuhuan, Senin (15/12). Kepala DPKAD Palas Budi Hutari Siregar MAp menyampaikan, kegiatan ini merujuk Permendagri nomor : […]

  • Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-; Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Mandailing Natal (AMP2M) bersama Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) berdemonstrasi ke kantor Pemkab dan DPRD Madina, Kamis (28/10). Mereka meminta pejabat terkait bertanggung jawab atas defisit anggaran tahun 2010 yang berjumlah Rp19,7 miliar, dan mendesak Pejabat (Pj) Bupati Aspan Batubara dan DPRD membentuk tim auditor defisit anggaran tersebut. […]

  • Kinerja Polisi Sumut Memprihatinkan

    Kinerja Polisi Sumut Memprihatinkan

    • calendar_month Minggu, 26 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banyaknya kasus kekerasan dan perampokan di Sumatera Utara akhir-akhir ini, dinilai akibat kelalaian dan melemahnya kinerja Kepolisian Sumut. Hal itu disampaikan Ketua Keluarga Besar Mahasiswa Mandailing Natal (KB Mahsiswa Madina) Musliadi Nasution SPdI melalui telepon, Ahad (26/09/2010). Dikatakan, pihaknya sangat prihatin melihat kinerja Kepolisian Sumut karena masih banyak kasus yang belum bisa dituntaskan yang terjadi […]

  • Tim Gordang Sambila Nilai Saipullah Nasution Zolimi Tim Pemenangannya Saat Pilkada. Somasi pun Melayang

    Tim Gordang Sambila Nilai Saipullah Nasution Zolimi Tim Pemenangannya Saat Pilkada. Somasi pun Melayang

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Tim Gordang Sambilan diketahui tim sayap pemenangan paslon Saipullah Nasution- Atika Azmi Utammi saat Pemilihan Kepala Daerah lewat membuat somasi ke Saipullah Nasution yang saat ini menjabat Bupati Mandailing Natal. Somasi ini dilakukan karena menurut mereka, Saipullah Nasution ingkar dan diduga mendzolimi timnya. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Tim Gordang Sambilan, […]

expand_less