Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Pertumbuhan Transportasi di Mandailing Masa Kolonial

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 2 Jun 2022
  • print Cetak

Jalan Pos di Mandailing tahun 1890. Arsip Leiden, Belanda (Madina Madani/Basyral Hamidi Harahap)

 

Oleh: Askolani Nasution
Budayawan

Tanggal 15 Desember 1847, Belanda menggalakkan kebijakan tanaman kopi di kawasan Mandailing Angkola. Asisten Residen A.P. Godon melibatkan pemerintahan raja-raja tradisional untuk memobilisasi budi daya kopi secara massal.

Pemerintah kolonial memaksa setiap penduduk untuk menanam kopi dan hasilnya wajib dijual kepada Belanda dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetapi sampai pertengahan tahun 1849, penduduk menolak menjual kopinya kepada pemerintah kolonial. Sebab, harga kopi di lingkungan pedagang Cina jauh lebih tinggi.

Ulu dan Pakantan menjadi kawasan penting. Selain karena pusat penanaman kopi, kawasan itu juga menjadi pusat misionaris kristen. Bahkan tahun 1833, agama Kristen sudah diperkenalkan di Pakantan. Karena itu, gereja tertua di kawasan Mandailing Angkola berada di Pakantan. J.C. Schoggers ditunjuk sebagai penguasa Oeloe an Pakanten. Ia kemudian digantikan oleh W. van der Valck pada bulan Januari 1854.

Tahun 1854, di berbagai wilayah Mandailing Angkola juga merebak korban harimau. Terjadi kepanikan sosial karena seringnya jatuh korban. Akhir tahun 1854, dua orang dokter lulusan STOVIA asal Mandailing, Asta (dari Salambue) dan Angan, dipulangkan ke Mandailing untuk mengelola rumah sakit. Keduanya adalah senior Willem Iskander yang pertama memperoleh pendidikan modern di Mandailing.

Rumah sakit itu, selain untuk korban harimau, juga diperuntukkan untuk berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Pada saat itu misalnya, penyakit infeksi menjadi hal yang urgen. Banyak kematian yang ditimbulkan oleh penyakit itu. Selain itu, juga pertolongan pertama terhadap kelahiran yang menyebabkan tingginya kematian ibu dan anak. Tenaga kesehatan yang ada pada waktu itu, hanya cukup untuk melayani orang-orang Eropah yang tinggal di kawasan Mandailing.

Askolani Nasution

Bulan Juli tahun 1855 Gubernur Militer Pantai Barat Sumatera berkunjung ke Mandailing. Ia melaporkan betapa Mandailing amat berbudaya. Kemajuannya di bidang pertanian dan pertumbuhan jalan-jalan baru amat membanggakan. Asisten Residen Mandailing Angkola, A.P. Godon memang harus diakui banyak memajukan Mandailing, terutama sarana transportasi ke wilayah-wilayah terisolir, membuka pendidikan bagi bumi putra, dan layanan kesehatan. Sarana-sarana modern itu dulu tidak dikenal sebelum masuknya kolonialisme Belanda.

Hingga tahun 1862, kopi masih menjadi masalah penting. Bahkan menyebabkan gejolak sosial. Terutama karena penduduk dipaksa untuk membawa sendiri hasil panen kopinya ke Natal. Kuli panggul berontak karena berbulan-bulan mereka tidak pulang ke rumah. Beberapa kuli panggul membuang sendiri kopi panggulannya ke sungai Batang Natal. Selain karena buruknya sarana transportasi, mereka juga tidak diberi upah.

Hal itu menimbulkan gejolak sosial dan penentangan terhadap raja-raja tradisional yang memobilisasi mereka. Karena itu, A.P. Godon merencanakan jalan pos ke Natal.

Jembatan Batang Gadis, Panyabungan, dibangun dengan konstruksi kayu dan beratap ijuk. Sebelumnya, jembatan itu hanya dihubungkan dengan rambin yang tidak bisa dilewati pedati. Setelah 180 hari bekerja, jembatan itu selesai dibangun dan dapat dilewati pedati.

Pada saat itu, jembatan Batang Toru hanya berupa rambin yang tidak bisa dilewati pedati. Baru pada tahun 1880, jembatan Batang Toru dapat dilewati pedati. Karena itu, ekspor kopi Mandailing dikirim ke Pantai Barat Natal.

Jalan pos Panyabungan-Natal dibuat lebar dan bagus. Sebanyak 2.650 orang laki-laki dipaksa membuka jalur transportasi itu. Kerja paksa pembukaan jalan menelan banyak korban karena penyakit dan kekurangan makan. Para pekerja itu terdiri dari 100 orang laki-laki setiap huta.

Dengan selesainya Jalan Pos Panyabungan-Natal, Tano Bato tumbuh menjadi kota transit penting menuju Natal. Selain menjadi tempat bermukim orang Eropah, di kota itu juga terdapat rumah-rumah penginapan. Tentu juga menjadi pusat pembibitan kopi untuk kawasan Mandailing.

Pembukaan jalan baru menjadi prioritas kolonialisme Belanda. Selain untuk mendukung distribusi kopi, juga untuk menyatukan Residen Tapanuli. Rute Panyabungan-Natal saja tidak memadai. Rute menuju Air Bangis juga dibangun mulai dari Muara Sipongi.

Rute menuju Padangsidimpuan, Sipirok hingga kawasan Toba juga menjadi prioritas. Rute itu diperlukan karena kawasan Tapanuli Bagian Utara dijadikan sebagai pusat pengembangan kristenisasi yang sebelumnya gagal di wilayah Mandailing. Padangsidimpuan disiapkan sebagai pusat pemerintahan baru menggantikan Panyabungan.

Selain itu juga rute menuju Padang Lawas dan Sibolga. Rute menuju Padang Lawas diperlukan untuk memelihara keamanan di kawasan itu setelah ditinggalkan Paderi.

Sementara itu, Sibolga akan disiapkan menjadi pelabuhan utama dan tentu sebagai ibu kota Residen Tapanuli. Untuk kelancaran transportasi ke Sibolga, jembatan Batang Toru harus bisa dilewati pedati. Apalagi kemudian kawasan Batang Toru akan dijadikan sebagai kawasan perkebunan.

Penetapan jalur arteri politik dan ekonomi itu dikuatkan melalui Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Keputusan nomor 22 itu ditetapkan tanggal 21 November 1862. Beberapa pembangunan jalur transportasi yang ditetapkan dalam keputusan itu adalah ruas jalan:

1) Kotta Nopan – Laroe
2) Laroe – Fort Elout (Panyabungan)
3) Fort Elout (Panyabungan) – Siaboe
4) Siaboe – Soeroematingi
5) Soeroematingi – Sigalangan
6) Sigalangan – Padang Sidempoean
7) Padang Sidempoean – Panabassan
8) Panabassan – Batang Taro
9) Batang Taro – Loemoet
10) Loemoet – Parbirahan
11) Parbirahan  Toeka
12) Toeka – Sibogha

Poros transportasi itu tentu bukan rute baru. Sejak masa perdagangan garam, rute itu sudah dikenal sebagai titik-titik persinggahan pengendara berkuda. Rata-rata berjarak antara 10 sampai 20 km, atau satu etape dalam menggunakan kuda.

(Penggalan dari buku saya “Sejarah dan Kebudayaan Mandailing”, 2022)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Potensi Pemuda Rantau yang Diabaikan Pemda Madina

    Potensi Pemuda Rantau yang Diabaikan Pemda Madina

    • calendar_month Minggu, 18 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nanda Sri Wahyuni Pulungan Anak muda adalah aset negara. Kita percaya bahwa anak muda masih mempunyai banyak energi, ide-ide segar dan mau belajar. Mereka berani mengambil resiko dan tidak ragu mencoba hal-hal baru. Sudah saatnya, Mandailing Natal membuka mata, pikiran dan hati seluas-luasnya bahwa selamanya bumi Gordang Sambilan tidak akan pernah berkembang jika […]

  • Madina Mulai Budidayakan Kepiting Bakau dan Lobster

    Madina Mulai Budidayakan Kepiting Bakau dan Lobster

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA – Himpunan Pemuda Kreatif Kecamatan Batahan dan PTPN IV Unit Batang Laping Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal, bekerja sama mengembangkan budidaya kepiting bakau dan lobster di Kabupaten Madina. “Kerja sama ini merupakan sebagian dari upaya perusahaan dalam menyejahterakan masyarakat,” sebut Manajer PTPN IV Unit Batang Laping, Kasman, Rabu (25/1) “Ini adalah kepedulian kita terhadap […]

  • Penyuluh Pertanian Harus Punya Jaringan Pasar

    Penyuluh Pertanian Harus Punya Jaringan Pasar

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Penyuluh pertanian di era milenial harus fasih teknologi dan melek IT. Bahkan, penyuluh yang mendampingi petani juga diharapkan punya jaringan dengan pengusaha dan pasar, yang akan memudahkan petani untuk menjual hasil panennya. Saat ini bukan era atau zaman Bimas seperti dulu. Artinya, zamanya sudah modern, pasarnya sudah global. Karena itu, untuk mempercepat dan memudahkan pembangunan […]

  • Pelaku Ilegal Maining Asal Sumbar Diduga Jadi Biangkerok Kerusakan Kawasan TNBG di Madina

    Pelaku Ilegal Maining Asal Sumbar Diduga Jadi Biangkerok Kerusakan Kawasan TNBG di Madina

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online):Dari pengamatan melalui citra satelit google map, terlihat dengan jelas beberapa bukaan yang kuat dugaan adalah aktivitas operasi tambang emas ilegal di kawasan hutan konservasi Balai Taman Nasional Batang Gadis di Kabupaten Mandailing Natal. Kerusakan kawasan hutan taman nasional batang gadis ( TNBG ) di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), Sumatera […]

  • Korpri Madina Ikuti Munas IX Secara Virtual

    Korpri Madina Ikuti Munas IX Secara Virtual

    • calendar_month Sabtu, 29 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengikuti musyawarah nasional yang diselenggarakan auditorium BPSDM Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Selatan, Jumat-Sabtu (28-29/1). Mengingat masih dalam situasi pandemi Covid-19, Munas ini dilaksanakan dengan metode hibrid. Korpri Madina yang hadir secara virtual tetap memberikan kontribusi berupa pemikiran baik ide atau gagasan terkait […]

  • Festival Mandailing Sukses di Perak, Malaysia

    Festival Mandailing Sukses di Perak, Malaysia

    • calendar_month Kamis, 20 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NEGERI PERAK, MALAYSIA (Mandailing Online) – Etnis Mandailing di Malaysia menggelar Festival Mandailing di Kampung Sungai Bil, Slim River, Negeri Perak, Malaysia, Rabu (19/7/2017). Festival sehari itu dilaksanakan atas gagasan kerajaan negeri Perak dan dibantu oleh Ikatan Mandailing Malaysia-Indonesia (IMAMI). Sekitar 300 masyarakat Mandailing turut menghadiri festival itu. Festival Mandailing ini diresmikan Menteri Besar […]

expand_less