Senin, 2 Mar 2026
light_mode

Pertumbuhan Transportasi di Mandailing Masa Kolonial

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 2 Jun 2022
  • print Cetak

Jalan Pos di Mandailing tahun 1890. Arsip Leiden, Belanda (Madina Madani/Basyral Hamidi Harahap)

 

Oleh: Askolani Nasution
Budayawan

Tanggal 15 Desember 1847, Belanda menggalakkan kebijakan tanaman kopi di kawasan Mandailing Angkola. Asisten Residen A.P. Godon melibatkan pemerintahan raja-raja tradisional untuk memobilisasi budi daya kopi secara massal.

Pemerintah kolonial memaksa setiap penduduk untuk menanam kopi dan hasilnya wajib dijual kepada Belanda dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetapi sampai pertengahan tahun 1849, penduduk menolak menjual kopinya kepada pemerintah kolonial. Sebab, harga kopi di lingkungan pedagang Cina jauh lebih tinggi.

Ulu dan Pakantan menjadi kawasan penting. Selain karena pusat penanaman kopi, kawasan itu juga menjadi pusat misionaris kristen. Bahkan tahun 1833, agama Kristen sudah diperkenalkan di Pakantan. Karena itu, gereja tertua di kawasan Mandailing Angkola berada di Pakantan. J.C. Schoggers ditunjuk sebagai penguasa Oeloe an Pakanten. Ia kemudian digantikan oleh W. van der Valck pada bulan Januari 1854.

Tahun 1854, di berbagai wilayah Mandailing Angkola juga merebak korban harimau. Terjadi kepanikan sosial karena seringnya jatuh korban. Akhir tahun 1854, dua orang dokter lulusan STOVIA asal Mandailing, Asta (dari Salambue) dan Angan, dipulangkan ke Mandailing untuk mengelola rumah sakit. Keduanya adalah senior Willem Iskander yang pertama memperoleh pendidikan modern di Mandailing.

Rumah sakit itu, selain untuk korban harimau, juga diperuntukkan untuk berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Pada saat itu misalnya, penyakit infeksi menjadi hal yang urgen. Banyak kematian yang ditimbulkan oleh penyakit itu. Selain itu, juga pertolongan pertama terhadap kelahiran yang menyebabkan tingginya kematian ibu dan anak. Tenaga kesehatan yang ada pada waktu itu, hanya cukup untuk melayani orang-orang Eropah yang tinggal di kawasan Mandailing.

Askolani Nasution

Bulan Juli tahun 1855 Gubernur Militer Pantai Barat Sumatera berkunjung ke Mandailing. Ia melaporkan betapa Mandailing amat berbudaya. Kemajuannya di bidang pertanian dan pertumbuhan jalan-jalan baru amat membanggakan. Asisten Residen Mandailing Angkola, A.P. Godon memang harus diakui banyak memajukan Mandailing, terutama sarana transportasi ke wilayah-wilayah terisolir, membuka pendidikan bagi bumi putra, dan layanan kesehatan. Sarana-sarana modern itu dulu tidak dikenal sebelum masuknya kolonialisme Belanda.

Hingga tahun 1862, kopi masih menjadi masalah penting. Bahkan menyebabkan gejolak sosial. Terutama karena penduduk dipaksa untuk membawa sendiri hasil panen kopinya ke Natal. Kuli panggul berontak karena berbulan-bulan mereka tidak pulang ke rumah. Beberapa kuli panggul membuang sendiri kopi panggulannya ke sungai Batang Natal. Selain karena buruknya sarana transportasi, mereka juga tidak diberi upah.

Hal itu menimbulkan gejolak sosial dan penentangan terhadap raja-raja tradisional yang memobilisasi mereka. Karena itu, A.P. Godon merencanakan jalan pos ke Natal.

Jembatan Batang Gadis, Panyabungan, dibangun dengan konstruksi kayu dan beratap ijuk. Sebelumnya, jembatan itu hanya dihubungkan dengan rambin yang tidak bisa dilewati pedati. Setelah 180 hari bekerja, jembatan itu selesai dibangun dan dapat dilewati pedati.

Pada saat itu, jembatan Batang Toru hanya berupa rambin yang tidak bisa dilewati pedati. Baru pada tahun 1880, jembatan Batang Toru dapat dilewati pedati. Karena itu, ekspor kopi Mandailing dikirim ke Pantai Barat Natal.

Jalan pos Panyabungan-Natal dibuat lebar dan bagus. Sebanyak 2.650 orang laki-laki dipaksa membuka jalur transportasi itu. Kerja paksa pembukaan jalan menelan banyak korban karena penyakit dan kekurangan makan. Para pekerja itu terdiri dari 100 orang laki-laki setiap huta.

Dengan selesainya Jalan Pos Panyabungan-Natal, Tano Bato tumbuh menjadi kota transit penting menuju Natal. Selain menjadi tempat bermukim orang Eropah, di kota itu juga terdapat rumah-rumah penginapan. Tentu juga menjadi pusat pembibitan kopi untuk kawasan Mandailing.

Pembukaan jalan baru menjadi prioritas kolonialisme Belanda. Selain untuk mendukung distribusi kopi, juga untuk menyatukan Residen Tapanuli. Rute Panyabungan-Natal saja tidak memadai. Rute menuju Air Bangis juga dibangun mulai dari Muara Sipongi.

Rute menuju Padangsidimpuan, Sipirok hingga kawasan Toba juga menjadi prioritas. Rute itu diperlukan karena kawasan Tapanuli Bagian Utara dijadikan sebagai pusat pengembangan kristenisasi yang sebelumnya gagal di wilayah Mandailing. Padangsidimpuan disiapkan sebagai pusat pemerintahan baru menggantikan Panyabungan.

Selain itu juga rute menuju Padang Lawas dan Sibolga. Rute menuju Padang Lawas diperlukan untuk memelihara keamanan di kawasan itu setelah ditinggalkan Paderi.

Sementara itu, Sibolga akan disiapkan menjadi pelabuhan utama dan tentu sebagai ibu kota Residen Tapanuli. Untuk kelancaran transportasi ke Sibolga, jembatan Batang Toru harus bisa dilewati pedati. Apalagi kemudian kawasan Batang Toru akan dijadikan sebagai kawasan perkebunan.

Penetapan jalur arteri politik dan ekonomi itu dikuatkan melalui Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Keputusan nomor 22 itu ditetapkan tanggal 21 November 1862. Beberapa pembangunan jalur transportasi yang ditetapkan dalam keputusan itu adalah ruas jalan:

1) Kotta Nopan – Laroe
2) Laroe – Fort Elout (Panyabungan)
3) Fort Elout (Panyabungan) – Siaboe
4) Siaboe – Soeroematingi
5) Soeroematingi – Sigalangan
6) Sigalangan – Padang Sidempoean
7) Padang Sidempoean – Panabassan
8) Panabassan – Batang Taro
9) Batang Taro – Loemoet
10) Loemoet – Parbirahan
11) Parbirahan  Toeka
12) Toeka – Sibogha

Poros transportasi itu tentu bukan rute baru. Sejak masa perdagangan garam, rute itu sudah dikenal sebagai titik-titik persinggahan pengendara berkuda. Rata-rata berjarak antara 10 sampai 20 km, atau satu etape dalam menggunakan kuda.

(Penggalan dari buku saya “Sejarah dan Kebudayaan Mandailing”, 2022)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Madina Tampung Rp12 M untuk Pemungutan Suara Ulang

    Pemkab Madina Tampung Rp12 M untuk Pemungutan Suara Ulang

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) merencanakan menampung Rp.12 miliar dalam APBD Tahun 2011 untuk pelaksanaan pemungutan suara ulang Pilkada Madina yang dibatalkan MK beberapa waktu lalu. Demikian nota jawaban Pejabat Bupati Madina Ir.Aspan Sofian Batubara terhadap pandangan umum fraksi – fraksi babak pertama RAPBD Madina TA 2011 di hadapan sidang paripurna yang langsung dipimpin […]

  • BOLANG – Ornamen Tradisional Mandailing (bagian 3)

    BOLANG – Ornamen Tradisional Mandailing (bagian 3)

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Edi Nasution Berikut ini diterakan ornamen-ornamen yang terdapat pada tutup ari dari Sopo Godang dan Bagas Godang. 5. Bintang na Toras melambangkan pendiri huta Makna: Huta tersebut didirikan oleh Natoras yang sekaligus berkedudukan sebagai pimpinan pemerintahan dan pimpinan adat yang dilengkapi dengan Hulubalang, Bayo-bayo Nagodang, Datu, dan Sibaso. 6. Rudang melambangkan suatu Huta yang […]

  • Pasokan Menipis, Harga Cabe Merah di Madina Tembus Rp.70.000/Kg

    Pasokan Menipis, Harga Cabe Merah di Madina Tembus Rp.70.000/Kg

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga cabe merah di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) menembus angka 70.000 rupiah per kilo gram dari sebelumnya di kisaran 55.000. Sejumlah pedagang yang, Minggu dan Senin (9-10/11) menyatakan meroketnya harga cabe ini akibat pasokan cabe merah menurun. Penurunan pasokan cabe ini disebut akibat menipisnya pasokan dari Kabupaten Karo terkait erupsi gunung […]

  • Zubeir Lubis Kunjungi Pasar Sihepeng

    Zubeir Lubis Kunjungi Pasar Sihepeng

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Calon Wakil Bupati Madina, Ir. H. Zubeir Nasution melakukan kunjungan ke pasar Sihepeng, Kecamatan Siabu, Selasa (23/6/2020). Zubeir Lubis didampingi Mudir Ponpes Musthafawiyah, H. Musthofa Bakri Nasution dan rombongan. Masyarakat yang berada di pasar sangat antusias begitu melihat Zubeir Lubis dan rombongan memantau pasar itu. Bahkan beberapa kaum ibu dan pedagang […]

  • Tangkap Plt Bupati Tapteng

    Tangkap Plt Bupati Tapteng

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Puluhan massa dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Utara (IMM Sumut) melakukan aksi di depan markas Polda Sumut, Senin (2/1/2015) siang. Dalam aksinya, massa menuntut agar Kapolda Sumut, Irjend Pol Eko Hadi Sutedjo untuk segera menahan Plt Bupati Tapteng, Sukran Jamilan Tanjung. "Kedatangan kami meminta agar polisi segera menangkap Plt […]

  • Soal PT Sorik Mas Pemkab Madina Bisa Ambil Tambang Emas

    Soal PT Sorik Mas Pemkab Madina Bisa Ambil Tambang Emas

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan. Jika pemerintah pusat tidak memperpanjang izin eksplorasi dan izin pinjam pakai hutan bagi PT Sorik Mas Mining untuk melanjutkan operasionalnya, maka dimungkinkan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) untuk mengambil alih tambang emas perusahaan itu. “Jika izin tidak diperpanjang, ya bisa diambil alih Pemkab Madina saja,” jelas Wakil Ketua DPRD Propinsi Sumatera Utara […]

expand_less