Sabtu, 6 Jun 2026
light_mode

Antara Pemenuhan Gizi, Kemiskinan dan Solusinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 25 Okt 2022
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt
Penulis, tinggal di Padangsidempuan

Seruan pengampu kebijakan agar masyarakat memenuhi kebutuhan gizi keluarga terus disuarakan. Melalui kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya pemenuhan gizi keluarga guna mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan, perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditunjang dengan pemenuhan gizi seimbang dengan nutrisi yang optimal.

Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu maka dikhawatirkan anak-anak mudah terserang penyakit sehingga daya tahan tubuhnya harus dijaga melalui asupan gizi seimbang,” katanya di Jakarta, Ahad (16/10/2022).

Dia menyebutkan, pemenuhan gizi keluarga perlu memperhatikan kandungan makronutrien, seperti karbohidrat, protein dan lemak, juga mikronutrien, seperti vitamin dan mineral serta air. (Republika.co.id, 16/10/22)

Sayangnya masih banyak penduduk di negeri ini tercatat dalam garis kemiskinan yang ekstrim. Misalnya yang terjadi pada kota Surabaya. Dilansir dari Liputan 6.com (16/10/22) Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya mencatat, sedikitnya 23.532 warga di wilayah setempat masuk dalam data kemiskinan ekstrem, yang diketahui dari hasil pencocokan data melalui administrasi kependudukan, yakni kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) dengan kondisi di lapangan.

Problem kekurangan gizi sangat erat kaitannya dengan kemiskinan masyarakat negeri ini. Alih-alih untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, untuk bertahan hidup pun tak ada jaminan yang menjanjikan. Semua masyarakat sepakat, jika punya keuangan yang cukup, pastilah kepala keluarga akan sangat-sangat memperhatikan kebutuhan gizi keluarga terutama anak-anaknya.

Seruan pemenuhan gizi oleh pengampu kebijakan, membuat masyarakat miskin sakit hati. Bagaimana tidak, bukannya tidak ingin memenuhi gizi generasi, namun tak ada daya upaya untuk memenuhinya. Kemiskinan masih menjadi teman karib yang sulit ditinggalkan.

Belum lagi dengan kenaikan harga bahan pokok yang terus melambung tinggi. Ditambah lagi tarif listrik dan BBM pun ikut merangkak naik. PHK di beberapa perusahaan pun sudah terjadi. Kalau sudah begini, masyarakat miskin akan terus tertatih-tatih untuk sekedar bertahan hidup.

Ditambah lagi problem ekonomi masyarakat pasca pandemi yang belum pulih. Membuat kepala keluarga kesulitan untuk memperoleh lapangan pekerjaan dengan upah yang layak. Beberapa kepala keluarga telah memiliki pekerjaan yang tetap, namun sayang itupun belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

Tak salah, jika seruan pemenuhan gizi di tengah kondisi masyarakat yang mencekik ini dapat disebut sebagai narasi tanpa empati. Sebab masyarakat tak mungkin mampu memenuhi pemenuhan kebutuhan gizi di tengah problem kemiskinan yang dihadapi.

Hal ini juga membuktikan ketidakpahaman pemerintah terhadap realita yang sedang dihadapi rakyat. Apalagi angka stunting masih sangat tinggi. Seyogianya pengampu kebijakan seharusnya peduli dan memberikan solusi untuk masyarakat.

Tidak terpenuhinya kebutuhan gizi keluarga dan anak dipicu oleh faktor kemiskinan. Hal ini karena dampak ekonomi kapitalisme yang bercokol di negeri ini. Sistem ini telah gagal menjamin kesejahteraan bagi masyarakat. Sistem ini memberikan amanat pengurusan urusan umat kepada swasta atau korporasi, yang seharusnya dalam hal ini dilakukan oleh negara atau pemerintah. Sehingga pelayanan pun diberikan sesuai harga yang dibayarkan.

Sistem ekonomi kapitalisme juga salah kaprah dalam memandang distribusi kebutuhan pokok rakyat. Sistem ini memandang bahwa distribusi merupakan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok rakyat sesuai dengan jumlah masyarakat. Tanpa mempertimbangkan apakah kebutuhan tersebut mampu dibeli dan dijangkau oleh masyarakat atau tidak. Padahal satu saja individu masyarakat yang tidak mampu membeli atau memenuhi kebutuhan pokoknya berarti negara telah gagal dalam melakukan distribusi dan menjamin kebutuhan pokok masyarakat, individu per individu.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan Islam. Indikator keadilan dan kesejahteraan sistem Islam adalah terjaminnya kebutuhan pokok individu per individu. Untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dalam sistem Islam akan menempuh dua cara yaitu dengan mekanisme langsung dan tidak langsung.

Mekanisme langsung yaitu memenuhi kebutuhan pokok berupa jasa. Sedangkan mekanisme tidak langsung dipenuhi melalui kebutuhan pokok berupa barang.

Mekanisme langsung ditempuh dengan mewajibkan negara memberikan pelayanan langsung berupa jasa secara gratis kepada seluruh rakyat negara Islam tanpa terkecuali. Seperti pelayanan kesehatan pendidikan dan keamanan. Karena ketiganya merupakan kebutuhan dasar rakyat. Negara juga wajib menyediakan fasilitas dengan berkualitas untuk menunjang pelayanan ini. Seperti pengadaan rumah sakit dan sekolah dengan segala infrastruktur yang berkualitas. Serta sarana perlindungan keamanan dengan segala perangkat hukumnya.

Mekanisme tidak langsung untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat yaitu ditempuh dengan cara menciptakan kondisi dan sarana yang menjamin kebutuhan pokok rakyat. Diantaranya yang pertama yaitu negara memberikan dan membuka lapangan pekerjaan dengan seluas-luasnya. Negara juga akan mempermudah akses lapangan pekerjaan guna memberikan kepastian bagi setiap kaum laki-laki untuk bekerja. Sehingga mereka dapat memenuhi dan menjamin gizi yang berkualitas bagi keluarganya.

Kedua, jika individu tersebut tidak sanggup atau tidak mampu untuk bekerja, misalnya karena faktor usia, sakit ataupun cacat. Maka ahli waris diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Jika tidak ada ahli waris yang mampu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya maka negara wajib memenuhinya dengan menggunakan kas Baitul Mal.

Beginilah cara sistem Islam dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Tidak hanya sekedar seruan tanpa memberikan solusi. Tidak hanya sekedar narasi tanpa empati.

Jika kebutuhan primer terpenuhi maka gizi keluarga dan anak tentu akan bisa tercukupi. Jika akses ekonomi dan pendidikan mudah maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat. Maka dari itu, setiap orang tua akan memahami tentang pengetahuan mengenai tata cara dalam memenuhi gizi dan nutrisi anak.

Demikianlah hanya sistem Islam dalam naungan negara Islam yang mampu menjamin gizi yang berkualitas bagi masyarakatnya, bagi setiap individu per individu.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dahlan Tunjuk Lima BUMN Bangun Transmisi di Sumatera

    Dahlan Tunjuk Lima BUMN Bangun Transmisi di Sumatera

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengutus BUMN Karya untuk membantu PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membangun transmisi dengan kapasitas 500 kilo volt. Selama ini diakui Dahlan bahwa PLN tak akan mampu mengatasi kebutuhan listrik sendirian. Karenanya, Dahlan menunjuk BUMN Karya untuk membantu mengatasi krisis listrik di Sumatera. BUMN Karya itu, […]

  • Pecatur Madina Kian Handal

    Pecatur Madina Kian Handal

    • calendar_month Jumat, 23 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para atlit catur Mandailing Natal (Madina) kian menujukkan kehandalannya. Satu medali emas dan satu perunggu berhasil disabet dua pecatur Madina dalam laga pada Porwilsu Wilayah 4 di Tarutung, Jum’at (23/5/2014). Peraih medali emas itu atas nama Marihot Sinaga yang tampil pada posisi pertama, medali perunggu atas nama Bode Tanjung berada di […]

  • KNPI Madina : Air Mata Rakyat Harus Dibayar dengan Penutupan PLTP

    KNPI Madina : Air Mata Rakyat Harus Dibayar dengan Penutupan PLTP

    • calendar_month Kamis, 4 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tragedi Sibanggor menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Kabupaten Mandailing Natal, khususnya warga Desa Sibanggor Julu dan Sibanggor Tonga, Kecamatan Puncak Sorik Marapi.  Tragedi keracunan zat H2S itu menewaskan 5 warga Sibanggor Julu dan puluhan lainnya dilarikan ke rumah sakit pada 25 Januari 2021 ketika pihak PT SMGP melakukan pembukaan sumur SMP-T02 […]

  • Pemda Imbau Warga Dukung Pelebaran Jalan, Walau Tak Ada Ganti Rugi

    Pemda Imbau Warga Dukung Pelebaran Jalan, Walau Tak Ada Ganti Rugi

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Warga Simpang Portibi, Lingkungan Satu, Kelurahan Pasar Gunung Tua, hingga Desa Sigama Siranggitgit, Kecamatan Padang Bolak yang tanahnya terkena pembangunan pelebaran jalan diminta mendukung pembangunan tersebut. Walaupun pemerintah tak memberikan ganti rugi. “Namun Pemkab Padang Lawas Utara mempunyai kebijakan, misalnya dalam bentuk  kompensasi bagi pagar dan bangunan yang kena dampak pelebaran. Semuanya akan dilakukan perbaikan,” […]

  • Anggota DPRD Sumut, Jamaluddin Hasibuan Ambil Formulir Demokrat

    Anggota DPRD Sumut, Jamaluddin Hasibuan Ambil Formulir Demokrat

    • calendar_month Jumat, 10 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Anggota DPRD Sumatera Utara dari Partai Demokrat (PD), Jamaluddin Hasibuan, Rabu (8/2) sekitar pukul 18.00 WIB, mengambil formulir pendaftaran bakal calon (balon) wali kota, ke kantor DPC PD Kota Padangsidimpuan. Jamaluddin datang didampingi Wakil Ketua DPRD Tapsel dari PD Hasbin Sitompul, dan diterima Ketua Tim Penjaringan Yul Asmara Pane dan Sekretaris Aziz Nasution, di kantor […]

  • Harga Sembako di Padangsidimpuan Naik

    Harga Sembako di Padangsidimpuan Naik

    • calendar_month Jumat, 27 Nov 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    P Sidimpuan – Harga sebahagian sembilan bahan pokok (sembako) seperti gula, minyak goreng dan beras di Kota Padangsidimpuan mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat masyarakat mengeluh. Menurut sejumlah ibu rumah tangga di Kota Padangsidimpuan harga beras jenis IR-64 Rp 10.500/kg, padahal sebelumnya Rp 9.500/kg dan beras kuku balam Rp 11.500/kg dari sebelumnya Rp 10.500/kg di tingkat […]

expand_less