Bisik-bisik Pengganti Sekda Medan Terkuak, Ada Indikasi Konsolidasi Politik 2029
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak
Oleh: Tim Mandailing Epicentrum*
Kota Medan mulai terasa bergerak. Belum gaduh di permukaan, namun suhu politik dan birokrasi perlahan naik menjelang penghujung masa jabatan Sekretaris Daerah Kota Medan, Wirya Alrahman, yang dikabarkan memasuki masa pensiun pada Juli 2026.
Di tengah suasana itu, muncul bisik-bisik yang makin sulit dibendung:
siapa pengganti sekda berikutnya?
Pertanyaan itu terdengar administratif. Tetapi di Medan, jabatan Sekda bukan sekadar urusan administrasi pemerintahan. Kursi itu adalah simpul kekuasaan birokrasi. Ia mengatur denyut organisasi, ritme anggaran, pergerakan ASN hingga arah komunikasi internal pemerintahan kota.
Karena itulah, kabar bahwa Wirya disebut-sebut mulai “menyiapkan pengganti” langsung memancing tafsir politik yang lebih luas.
Apalagi isu tersebut dibarengi narasi bahwa Wirya tidak ingin benar-benar meninggalkan panggung kekuasaan setelah pensiun. Ia bahkan mulai dikaitkan dengan kontestasi Pilkada Medan 2029.
Jika benar demikian, maka publik sedang menyaksikan satu fase penting:
transisi birokrasi yang mulai bersentuhan langsung dengan peta politik masa depan.
Sekda dan Mesin Pengaruh
Dalam praktik pemerintahan daerah, posisi sekda sering kali jauh lebih strategis daripada yang terlihat di permukaan.
Wali kota boleh menjadi wajah pemerintahan. Namun sekda adalah pengendali mesin.
Ia mengetahui:
- peta kekuatan OPD,
- dinamika pejabat,
- alur proyek,
- ritme anggaran,
- hingga karakter birokrasi sampai level bawah.
Karena itu, pergantian sekda hampir selalu menjadi momen sensitif.
Siapa yang duduk di posisi itu akan menentukan:
- apakah orbit lama tetap bertahan,
- atau lahir poros birokrasi baru.
Di titik inilah isu “pengganti sekda” berubah dari sekadar urusan jabatan menjadi pertarungan pengaruh jangka panjang.
Medan dan Aroma Konsolidasi
Narasi yang beredar juga menyebut dukungan dari Agus Andrianto, mantan petinggi Polri yang kini berada di lingkar kabinet nasional.
Penyebutan nama besar seperti itu bukan detail kecil.
Dalam politik lokal Sumatera Utara, dukungan elite nasional sering menjadi sinyal:
bahwa seorang aktor tidak sedang bermain sendirian.
Pesan psikologisnya kuat:
- kepada birokrasi,
- kepada elite politik,
- dan kepada lawan-lawan potensial.
Bahwa ada jaringan yang sedang dipelihara.
Ada pengaruh yang ingin dijaga tetap hidup setelah masa jabatan berakhir.
ASN Mulai Membaca Arah Angin
Yang paling cepat menangkap perubahan suasana biasanya bukan publik, melainkan birokrasi itu sendiri.
Ketika isu pergantian sekda mulai beredar, maka yang bergerak pertama kali adalah:
- loyalitas,
- komunikasi,
- kedekatan, dan
- kalkulasi internal para pejabat.
Sebagian mulai membaca: Siapa yang akan naik?
Sebagian lain mulai berhitung: Siapa yang harus didekati?
Dan sebagian lagi mulai waspada: Apakah akan terjadi pergeseran kekuatan besar di tubuh Pemko Medan.
Dalam situasi seperti ini, satu rumor kecil bisa menghasilkan efek besar. Karena, birokrasi selalu sensitif terhadap arah kekuasaan.
Medan Sedang Memanas
Barangkali inilah fase awal yang sedang terjadi di Medan hari ini:
belum meledak, tetapi mulai memanas.
Belum terbuka, tetapi bisik-bisiknya makin rapat. Dan ketika isu pengganti sekda mulai dikaitkan dengan Pilkada 2029, maka publik layak bertanya: Apakah ini murni transisi birokrasi,
atau justru awal konsolidasi politik jangka panjang?
Sebab di Medan, sejarah sering menunjukkan:
pertempuran besar biasanya tidak dimulai di panggung kampanye.
Pelan-pelan panas merambat.
Dari lorong birokrasi.
Dari meja kekuasaan.
Dan dari bisik-bisik yang awalnya dianggap angin lalu. ***
*)Wadah pemikiran, gerakan kritis dan motivasi untuk sinergi yang energik.
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)


