Jumat, 2 Okt 2026
light_mode

Anomali Empat Koma: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution *

 

Waktu iseng berselancar di situs resmi BPS Provinsi Sumatera Utara tempo hari, terpampang data yang bikin miris. Di sana, dalam rilis angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2025 yang keluar per 26 Februari 2026, tertera angka telanjang yang bikin hati bertanya serius: Kenapa Madina cuma “nangkring” di angka 4,7500 [BPS Sumut, 2026].

Bagi saya pribadi, angka ini jelas bukan sekadar statistik dingin di atas meja kerja para birokrat. Ini  adalah wajah kita yang sebenarnya di saat usia kemerdekaan mendekati angka 81 pada tahun ini.

Coba saja kita sandingkan secara jantan dengan Kabupaten Toba. Di panggung hukum tata negara kita, Madina dan Toba ini sepasang “saudara kembar” yang lahir dari rahim regulasi yang sama yakni Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998. Lahir bareng, tapi nasibnya kok bisa bumi-langit? Di usia birokrasi yang persis sama, Toba melesat dua kali lipat lebih tinggi di angka 10,7800. Sementara kita di Madina masih saja tertatih-tatih di angka empat koma.

Tidak perlu kambing hitam untuk urusan ini dan jangan menyalahkan kendala geografis untuk menjawab ini. Dalih bentang alam ekstrem ini langsung gugur di medan logika. Topografi Toba dan Madina itu “beti”—beda tipis. Sama-sama dibelah bukit terjal Bukit Barisan, sama-sama punya pedalaman yang sulit ditembus, dan perkampungan yang tersebar berjauhan. Kalau Toba yang topografinya setara bisa tembus angka dua digit, kenapa manajerial kita di Madina masih jalan di tempat?

Ini ironi yang memilukan. Tanah yang melahirkan Sati Nasution—sang pionir literasi modern nusantara yang kita kenal sebagai Willem Iskander—justru kehabisan napas mengejar saudara kembarnya sendiri. Kita kalah telak memang tapi bukan berarti kalah untuk selamanya.

Kemarau Buku di Rahim Sang Pelopor

Jangan juga menuduh masyarakat yang malas membaca. Itu bukan problem solving. Lihatlah data objektif mata terbuka tanpa kacamata. Tengok saja laporan berkala BPS Sumatera Utara terkait Tingkat Kegemaran Membaca (TGM). Pada tahun 2024, modal kultural membaca masyarakat Madina sudah berada di angka 56,23. Bahkan, di pembaruan rilis BPS Februari 2026, skor TGM kita melompat lagi ke angka 59,69.

Dua angka kronologis ini berteriak lantang: warga Madina itu pengen membaca. Masyarakat Madina itu suka membaca. Masalahnya bukan di hilir (kemauan warga), melainkan di sektor hulu (fasilitas struktural) yang mungkin sudah sumbat atau macet total. Warga rindu baca buku, tapi pasokannya mungkin mampet dan macet.

Syarif Bando dalam bukunya, Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan: Pemikiran dan Aksi Literasi Syarif Bando (2023) [Bando, 2023], pernah menyindir keras bahwa urusan literasi tidak akan pernah beres kalau dinas terkait cuma rajin bikin spanduk seruan membaca di jalan-jalan protokol, sementara pasokan buku berkualitas dibiarkan seret. Kondisi menyedihkan ini pula yang dipotret oleh Nirwan Ahmad Arzuka dalam buku Pustaka Bergerak: Jaringan Kemanusiaan untuk Menembus Kemarau Buku (2019) [Arzuka, 2019].

Di Madina, “kemarau buku” itu bukan fiksi, tapi realitas yang menindas. Silakan kelilingi 377 desa di Madina, lalu hitung pakai jari berapa banyak perpustakaan desa yang benar-benar hidup dan bernyawa serta punya koleksi buku baru? Buku-buku bermutu justru sengaja tidak dibeli atau bahkan tertumpuk rapi di gudang. Perpustakaan desa ataupun perpustakaan pemerintah menjadi sunyi senyap  ibarat kompleks pemakaman, sementara anak-anak di pesisir Natal atau pedalaman Muara Batang Gadis “kelaparan” bahan bacaan.

Menampar Ego Spasial: Belajar dari Inklusi Sosial Toba

Lalu, apa resep rahasia Toba sampai bisa melompat sejauh itu? Sederhana saja: mereka tidak malas bekerja. Toba mengeksekusi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) bukan sebagai formalitas laporan SPJ, tapi sebagai gerakan nyata. Perpustakaan di sana dipaksa bertransformasi dari tempat pinjam buku menjadi ruang hidup masyarakat marginal.

Pemerintah Kabupaten Toba menggelontorkan komputer, internet, dan fasilitas pelatihan ke perpustakaan desa-desa terpencil. Hasilnya, perpustakaan desa di sana berubah jadi pusat pelatihan komputer gratis buat pemuda, tempat ibu-ibu belajar keterampilan UMKM, hingga kelas daring bagi petani lokal, tempat anak muda berdiskusi ria. Efeknya instan: kunjungan warga meroket, ekosistem literasi hidup, dan angka IPLM mereka pun melesat.

Kalau mau blak-blakan, coba sesekali kita intip potret di Madina. Perpustakaan masih dianggap institusi buangan atau sekadar pelengkap struktural yang kaku. Kita tidak akan pernah melihat lompatan angka IPLM jika stakeholder terkait masih asyik dengan rutinitas administratif yang purba, tanpa pernah punya nyali membuka ruang inklusi sosial bagi masyarakat bawah.

Tahun 1862, Sati Nasution membangun Kweekschool di Tanobato justru untuk menghancurkan ego spasial dan kasta kolonial (no color line division). Dia membuka pintu bagi anak petani biasa untuk melek aksara, yang esensinya sama persis dengan program inklusi sosial modern. Sayangnya, potret tata kelola literasi Madina hari ini justru terang-terangan mengkhianati warisan Tanobato.

Menggandeng Generasi Baru, Meruntuhkan Pola Pikir Kolonial

Harus diakui secara jujur dan mohon maaf jika terdengar kasar: kita ini sebagian besar adalah generasi kolonial. Ini fakta empiris. Pikiran kita masih terkotak-kotak oleh sekat birokrasi, kaku, serba formalitas, dan lambat dalam mengambil tindakan. Masalahnya, hari ini kita dipaksa hidup di tengah badai zaman disrupsi. Sebuah era di mana teknologi informasi bergerak eksponensial dalam dekap Revolusi Industri 4.0, dan saat yang sama, dunia sudah berada di ambang Society 5.0—sebuah fase super cerdas yang sebagian pemikir menyebutnya sebagai “Revolusi Hijau 5.0”, tempat teknologi berpusat untuk memanusiakan manusia dan menjaga harmoni ekologi.

Dua gelombang peradaban ini adalah tantangan yang kejam sekaligus peluang emas bagi Madina. Tantangannya jelas: kalau birokrasi kita masih berpola pikir abad ke-19, kita akan selamanya tergilas dan angka literasi kita cuma mentok jadi bahan gunjingan. Tapi di balik itu, ada peluang besar. Kita tidak perlu lagi mengulang siklus pembangunan fisik konvensional yang memakan waktu puluhan tahun untuk mencerdaskan warga. Lompatan teknologi digital memotong kompas itu semua, asal kita tahu cara menggunakannya. Namun untuk beradaptasi ke sana, pikiran kolonial kita rasanya sudah terlalu berkarat dan sulit diandalkan.

Disinilah kunci kemenangannya: kita harus tahu diri dan segera memulai kemitraan dan sinergi dengan anak-anak muda kreatif di hilir. Ketidakmampuan generasi tua jangan sampai menyandera masa depan daerah. Munculnya gerakan mandiri seperti Komunitas Mandala dan kelompok anak muda kreatif sejenisnya adalah bukti nyata bahwa modal sosial kita melimpah. Mereka adalah Generasi Z yang sangat adaptif dengan ekosistem digital, disusul oleh adik-adik mereka, Generasi Alpha, yang sejak lahir hidupnya sudah berdampingan dengan kecerdasan buatan. Bagi mereka, teknologi bukan barang menakutkan, melainkan ruang bernapas yang penuh kesejukan.

Melihat kegigihan dan kelihaian anak-anak muda penuh talenta ini, ingatan saya terlempar melompati lorong waktu, langsung tertuju pada sosok Sati Nasution itu sendiri. Kita sering lupa, di usianya yang masih sangat belia—usia di mana remaja zaman sekarang mungkin masih asyik bermain—Sati sudah punya nyali raksasa untuk menyeberangi samudra dan menginjakkan kakinya di Belanda demi menjemput kiblat peradaban. Spirit mendobrak keterbatasan zaman dan menembus batas teritorial itulah yang hari ini merekah kembali di dada anak-anak muda kreatif Panyabungan. Ketika potensi kreativitas, inovasi, dan ruang dialektika anak muda ini dirangkul, diruntuhkan ego sektoralnya, lalu disinergikan oleh kekuasaan, kemenangan literasi Madina sudah berada di depan mata.

Maka, ruang-ruang terbuka publik seperti Alun-Alun Kota Panyabungan harus dimaksimalkan total. Jangan biarkan alun-alun cuma jadi tempat nongkrong kosong tanpa makna atau hanya tempat anak muda memadu kisah cintanya dengan modal bakwan dan teh botol. Kita harus membanjiri ruang terbuka tersebut dengan ragam kegiatan kreatif yang bermuara kepada peningkatan ilmu pengetahuan (saintifik) kepada publik. Jalankan sains jalanan (street science), bedah teknologi populer, pameran inovasi digital anak muda, hingga diskusi sains, bahasa, budaya, agama hingga teknologi yang dikemas santai namun berbobot. Sersan (serius tapi santai) demikan mereka menyebutnya.

Coba tengok bagaimana kota-kota besar di Indonesia memenangkan pertempuran peradaban ini. Taman-taman kota di Bandung, Surabaya, hingga ruang terbuka di Jakarta telah disulap total dari sekadar lahan hijau pasif menjadi episentrum kegiatan publik yang inklusif, termasuk di dalamnya menjadi motor penggerak utama pengembangan dan peningkatan literasi masyarakat. Di sana, ruang terbuka adalah laboratorium sosial tempat teori sains bertemu dengan realitas masyarakat. Pemerintah daerah di kota besar tidak gengsi menurunkan ego demi membangun kemitraan strategis dengan jaringan muda.

Anak-anak muda kreatif ini punya tangan-tangan “dingin”. Di era disrupsi, mereka tidak butuh anggaran pengadaan mobil dinas perpustakaan miliaran rupiah untuk menggerakkan ribuan kilometer wilayah Madina. Cukup dengan sebaris tagar (hashtag) yang tajam serta sebuah tagline gerakan yang diusung secara konsisten di media sosial, mereka mampu meruntuhkan dinding kemarau buku, memetakan distribusi bacaan secara mandiri, dan menarik perhatian donasi literatur nasional. Menyinergikan kelincahan jemari Generasi Z dan Alpha dengan program inklusi sosial berbasis anggaran milik pemerintah adalah satu-satunya peta jalan rasional untuk keluar dari jebakan angka empat koma itu.

Membongkar Tragedi Kebosanan

Jujur saja, isi ruang baca formal yang disediakan di instansi pemerintah begitu juga yang di pusat pendidikan termasuk yang di desa sekalipun terasa sangat luar biasa menjemukan. Sastrawan Taufik Ismail dalam kritik tajamnya melalui buku Tragedi Nol Buku: Sastra, Pendidikan, dan Karakter Bangsa (2018) [Ismail, 2018], menyebut rendahnya daya kritis generasi muda berakar dari absennya kewajiban membaca karya sastra di bangku sekolah.

Jadikan membaca itu kesenangan. Jadikan ia sesuatu yang membahagiakan, sesuatu yang membuat hati merasa riang gembira. Sati Nasution, ratusan tahun lalu menulis Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk bukan dengan bahasa yang kaku seperti Instruksi Presiden yang membuat mata mendadak merem saat membacanya, melainkan lewat bait puisi yang menyayat hati dan memantik kesadaran moral. Dia memakai bahasa Mandailing, merangkul kearifan lokal Dalihan Na Tolu, membuat teks menjadi begitu dekat dengan denyut nadi masyarakat.

Saatnya untuk berbenah, kapitalisasi modal TGM kita yang sudah menyentuh 59,69 itu harus diserahkan jalurnya kepada anak-anak muda kreatif itu dengan metode kerjasama dan kemitraan. Ubah cara kampanye kuno dinas. Biarkan komunitas pemuda kreatif lainnya mengemas program inklusi sosial dengan nilai budaya: hidupkan festival sastra lokal, buat kompetisi storytelling digital berbasis tradisi tutur, menggalakkan budaya kembali, menggelar pementasan, pameran, membuat kelompok diskusi jalanan, menggalakkan gemar membaca, membuat drama, teatrikal, puisi dan memenuhi alun-alun kota dengan buku-buku terapan serta sains populer yang fungsional bagi kemajuan berpikir masyarakat.

Sudahi Romantisme Sejarah

Pada akhir kalimat, angka 4,7500 dari BPS itu harusnya jadi alarm keras yang membangunkan Madina dari tidur panjangnya. Kita ini sudah terlalu lama merasa menjadi orang pintar namun tidak mengetahui kemajuan peradaban. Setengah mabuk dan beromantisme dengan nama besar Willem Iskander. Namanya kita agungkan jadi nama jalan dan bangunan, tapi esensi pemikirannya malah kita kubur dalam-dalam.

Komparasi ilmiah dengan Kabupaten Toba membuktikan bahwa kesiapan regulasi yang lahir dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998 hanyalah macan kertas jika eksekusi program di lapangan masih setengah hati. Membedah filosofi Sati Nasution memaksa kita mengambil tindakan radikal: ratakan akses baca ke pelosok desa lewat inklusi sosial, membumikan bahan bacaan lewat kearifan lokal, jalankan kemitraan strategis dengan komunitas pemuda di era 4.0 dan 5.0, serta bungkus literasi ilmiah dengan estetika digital yang menggerakkan hati warga.

Sudah saatnya kita berhenti sekadar bangga pada masa lalu, dan mulai bekerja merebut kembali martabat Madina sebagai ibu kota literasi di Sumatera Utara. Sati Nasution saja bisa memulainya, berarti kita juga punya kesempatan yang sama untuk memulai sesuatu yang baru bagi pertumbuhan dan perkembangan peradaban dari literasi.  Insya Allah….

 

*Moechtar Nasution adalah Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

DAFTAR PUSTAKA

Arzuka, N. A. (2019). Pustaka Bergerak: Jaringan Kemanusiaan untuk Menembus Kemarau Buku. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama [Arzuka, 2019].

Bando, S. (2023). Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan: Pemikiran dan Aksi Literasi Syarif Bando. Jakarta: Perpusnas Press [Bando, 2023].

Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. (2025). Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Unsur Penyusunnya Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara, 2024. Dirilis via portal data resmi BPS Sumut [BPS Sumut, 2025].

Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. (2026). Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat dan Dimensi Penyusunnya Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara, 2025. Rilis data publik 26 Februari 2026 via bps.go.id [BPS Sumut, 2026].

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mandailing Natal. (2026). Buku Statistik Sektoral Kabupaten Mandailing Natal Capaian Kompilasi Perangkat Daerah. Panyabungan: Diskominfo Kab. Madina.

Ismail, T. (2018). Tragedi Nol Buku: Sastra, Pendidikan, dan Karakter Bangsa. Jakarta: Horizon [Ismail, 2018].

Republik Indonesia. (1998). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal. Lembaran Negara Republik Indonesia [RI, 1998].

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepala Daerah Tetap Berwenang Promosi dan Mutasi PNS

    Kepala Daerah Tetap Berwenang Promosi dan Mutasi PNS

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Rencana Pelimpahan ke Sekda Dibatalkan JAKARTA, – Pemerintah akhirnya merevisi draf rancangan undang-undang aparatur sipil negara (RUU ASN). Pada draf awal, wewenang kepala daerah untuk mengangkat dan memutasi dipangkas. Tetapi setelah dikoreksi, wewenang itu tetap dipertahankan dengan sedikit pembaruan sistem. Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi (Wamen PAN-RB) Eko Prasojo menuturkan, memang […]

  • Selesai Bimtek, Dana Desa di Madina Kembali “Disedot” Untuk Kegiatan Life Skill

    Selesai Bimtek, Dana Desa di Madina Kembali “Disedot” Untuk Kegiatan Life Skill

    • calendar_month Kamis, 5 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Selesai Pelaksanaan Bimbingan Teknis( Bimtek ) aparat desa tahun 2023, kali ini dana desa kembali “disedot”untuk kegiatan Life Skill padahal Dana Desa melalui Menteri Keuangan Republik Indonesia menekankan agar penggunaan Dana Desa Tahun 2023 fokus ke beberapa kegiatan yang menjadi penekanan pemerintah diantaranya penanganan kemiskinan ekstrim serta penguatan ketahanan pangan. […]

  • Peduli Gerakan Hemat Energi Melalui Earth Hour

    Peduli Gerakan Hemat Energi Melalui Earth Hour

    • calendar_month Senin, 27 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Medan (Mandailing Online) – Seluruh karyawan AGN dan AGP di unit-unit usaha di seluruh pelosok Indonesia kembali membuktikan komitmennya mengubah gaya hidup hemat energi pada peringatan Earth Hour 2017. Kegiatan ini dimulai dengan pemadaman listrik serentak di seluruh unit usaha Artha Graha selama satu jam, dari pukul 20:30 – 21:30 WIB (25/3/2017) dan diiringi paduan […]

  • PIPANISASI DISTRIBUSI BBM MENYUSURI JALAN TOL

    PIPANISASI DISTRIBUSI BBM MENYUSURI JALAN TOL

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SEBAGAI SOLUSI EFISIENSI DISTRIBUSI BBM   Oleh: Rahmad Daulay*   PROLOG Antrian BBM pasca banjir bandang di Sumatra kembali memperlihatkan rapuhnya rantai distribusi BBM ketika daerah dilanda bencana alam. Banjir yang merendam jalan utama merusak jembatan dan menghambat mobilitas membuat suplai BBM dari terminal ke SPBU tersendat. Situasi ini menyebabkan masyarakat terpaksa mengantri berjam-jam hanya […]

  • Ivan Batubara Gagas Bengkel Mujahid Ekonomi di Madina

    Ivan Batubara Gagas Bengkel Mujahid Ekonomi di Madina

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Kadin Sumut, Ivan Iskandar Batubara menggagas pendirian Bengel Mujahid Ekonomi dalam upaya pengembangan ekonomi di Mandailing Natal (Madina). Bengkel Mujahid ini berfungsi mencetak pengusaha-pengusaha yang memiliki jiwa tarung yang tinggi, bermartabat serta menjadi pengusaha pembayar zakat baru. Itu dikatakan Ivan dalam Rapat Kerja Kadin Sumut dan Kadin Madina Dalam […]

  • Paluta Terima 122 CPNS Formasi Didominasi Guru

    Paluta Terima 122 CPNS Formasi Didominasi Guru

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PALUTA, – Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara (Pemkab Paluta) melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD), akhirnya secara resmi membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Ada 122 formasi yang diterima tahun 2013 ini. Dari 122 formasi itu, rinciannya terdiri dari tenaga guru 67 orang, tenaga kesehatan 42 orang dan tenaga teknis sebanyak 13 orang. “Sesuai dengan […]

expand_less