Revolusi Kreatif dari Jalanan
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak
(catatan untuk Yayasan Putra Putri Madina)

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)
Kabupaten Mandailing Natal hari ini berdiri di persimpangan jalan yang paradoks. Di satu sisi, bumi Gordang Sambilan ini adalah lumbung potensi raksasa yang belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya mulai dari keelokan lanskap alam, eksotisme Batang Gadis, jejak sejarah yang luhur, hingga komoditas premium seperti kopi Mandailing. Semua ini adalah modal kultural dan ekonomi yang luar biasa, namun sayangnya masih minim sentuhan. Di sisi lain, dewasa ini kita cukup miris melihat realitas generasi muda lokal yang kian terjebak dalam arus globalisasi yang serba instan. Konsep aktualisasi diri bergeser menjadi sekadar pemenuhan gaya hidup hedonis, mengejar tempat nongkrong dari kafe ke kafe, hingga perburuan semu label “healing”.
Di tengah lanskap sosial yang mencemaskan inilah, kehadiran Yayasan Putra Putri Mandailing Natal (YPPM) menjadi sebuah anomali yang menyegarkan sekaligus menajamkan kesadaran kita sebagai makhluk yang beradab dan berbudaya. Organisasi nirlaba berbasis kepemudaan sosial-budaya ini lebih memilih jalan sunyi untuk bergerak sebagai motor transformasi pemuda di daerah.
Menariknya, mereka mampu merawat konsistensi dalam napas panjang pengabdian yang nyata. Di era sekarang, dengan mudah kita menyaksikan begitu banyak organisasi pemuda yang tumbuh layaknya jamur di musim hujan, riuh saat deklarasi hari ini namun esok hari sudah mati dan dikubur oleh waktu. Banyak wadah kepemudaan terjebak pada euforia momentum seremonial belaka. Sebaliknya, YPPM merupakan potret kesungguhan sebuah ide besar yang dirawat dengan daya tahan luar biasa. Mereka membuktikan bahwa gerakan yang mereka usung bukan tentang siapa yang melompat paling tinggi di awal, melainkan tentang siapa yang memiliki napas paling panjang untuk bertahan menghadapi gelombang zaman.
Sikap ini lahir karena anak-anak muda di YPPM memilih untuk tetap “istiqomah” pada khittah perjuangan yang sejak awal mereka tempuh. Di tengah riuhnya panggung daerah yang kerap kali menyeret gerakan kepemudaan ke dalam pusaran kepentingan jangka pendek, YPPM sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada isu-isu pragmatis seperti politik praktis atau afiliasi kekuasaan. Bagi mereka, menjaga jarak dari panggung politik bukan berarti apatis, melainkan sebuah pilihan sadar untuk menjaga kemurnian gerakan. Ketika organisasi lain dengan mudah menggadaikan idealisme demi konsesi politik tertentu, YPPM justru menutup rapat pintu intervensi tersebut. Keistiqomahan inilah yang membuat fondasi organisasi mereka tidak goyah oleh pergantian rezim atau dinamika elite politik lokal. Mereka fokus pada satu tujuan makro yakni membangun manusianya, merawat budayanya, dan memandirikan daerahnya.
Harus diakui secara jujur, tidak banyak orang yang tertarik atau mampu menangkap urgensi dari gagasan besar yang mereka usung. Visi YPPM melompat jauh ke depan, sebuah lompatan berpikir yang mungkin hanya bisa dipahami oleh segelintir pribadi tertentu yakni mereka yang memiliki kepekaan mendalam terhadap arah peradaban masa depan. Di tengah masyarakat awam, barangkali hanya ada dua atau tiga orang yang benar-benar peduli dan mengerti ke mana arah gerakan ini bermuara.
Namun bagi YPPM, minimnya tepuk tangan dan apresiasi publik bukanlah sebuah tantangan yang patut diratapi. Ada hal-hal yang jauh lebih mendesak untuk dikerjakan ketimbang sibuk mencari pengakuan publik. Bahkan sekiranya di masa depan tidak ada lagi satu pun orang luar yang peduli, hal itu sama sekali tidak akan menyurutkan langkah mereka. YPPM memahami sebuah hukum sejarah bahwa para pembawa obor perubahan yang bergerak dalam keheningan dan kesunyian memang sudah ditakdirkan hanya berjumlah beberapa orang saja. Sejarah peradaban besar tidak pernah ditulis oleh kerumunan penonton yang bersorak di tribun, melainkan oleh segelintir manusia yang gigih bekerja di atas panggung realitas tanpa peduli dalam sepi atau ramai.
Anak-anak muda kreatif di dalam YPPM ini sama sekali tidak silau dengan gemerlap hedonisme populer kekinian, mereka secara sadar lebih memilih menginvestasikan masa muda mereka untuk tegaknya peradaban dan identitas budaya daerah. Investasi waktu dan energi yang mereka tanam hari ini nilainya jauh melampaui kepuasan semu kesenangan instan. Karakteristik pergerakan semacam ini sebenarnya sejalan dengan fenomena para tokoh muda nasional peraih Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mulai dari para pegiat literasi aksara kuno di Jawa hingga pelestari sastra lisan di pedalaman Kalimantan, mereka dipersatukan oleh satu kesadaran tingkat tinggi bahwa tanpa ada anak muda yang rela “merugi” mengorbankan waktu santainya demi tradisi, maka sebuah peradaban daerah tinggal menunggu waktu untuk runtuh. YPPM telah mentransformasikan kesadaran makro tersebut menjadi gerakan taktis di bumi Mandailing Natal.
Secara sosiologis, konsistensi jangka panjang yang diupayakan oleh YPPM mengafirmasi tesis para sosiolog budaya Indonesia mengenai pentingnya menyemai jangkar identitas lokal di tengah pusaran globalisasi. Keterlibatan aktif pemuda bukan lagi sekadar opsi pelestarian seni tradisional yang pasif, melainkan sebuah tameng budaya (cultural shield) agar generasi baru tidak mengalami amnesia sejarah terhadap tanah kelahirannya. Pemerintah boleh saja menyusun cetak biru pembangunan kebudayaan atau kepemudaan, namun pada akhirnya, efektivitas perubahan itu selalu bertumpu pada aktor lapangan yang membumi, istiqomah, dan konsisten seperti mereka.
Sisi paling memikat dari YPPM bukanlah megahnya panggung yang mereka dirikan, melainkan independensi dan etos kerja organik yang mereka tunjukkan. Ketika jamak kita temui organisasi kepemudaan yang menggantungkan napas dan hidup matinya pada kucuran dana hibah Pemerintah Daerah atau anggaran APBD, YPPM justru tidak mengkultuskan hal ini sebagai satu-satunya solusi. Faktanya, hampir seluruh rangkaian kegiatan berskala besar mereka tegak berdiri tanpa sepeser pun menyentuh pundi-pundi APBD.
Pertanyaan retorisnya bagaimana mungkin gerakan kepemudaan di daerah bisa bertahan, bahkan terus eksis dan merawat napas panjangnya tanpa sokongan dana birokrasi?
Jawabannya melampaui logika matematika anggaran yakni bermuara pada nilai spiritual yang kini kian langka. Ketulusan dan keikhlasan untuk mengabdi. Itu jawababannya. Nilai-nilai inilah yang melahirkan energi kolektif swadaya. Saat sebuah gerakan digerakkan oleh keikhlasan murni, keterbatasan finansial tidak menjelma menjadi tembok ratapan melainkan stimulan kreativitas.
Anak-anak muda di dalam yayasan ini rela menguras peluh secara swadaya, menggalang dana mandiri, hingga berpindah dari satu ruang publik ke ruang publik lainnya hanya untuk mendiskusikan gagasan kemajuan daerah. Mereka paham betul sebuah kebenaran sosiologis bahwa organisasi yang menggantungkan hidupnya pada APBD lambat laun akan kehilangan independensi ideologinya dan lekas mati untuk kemudian diziarahi kuburnya saat anggaran terhenti. Dengan bergerak tanpa APBD, mereka membuktikan bahwa eksistensi gerakan diukur dari besarnya dampak sosial bukan dari besarnya penyerapan anggaran.
Ketangguhan mental untuk membagi waktu, menjauhi godaan politik, dan merawat keikhlasan ini tercermin nyata dari figur ketuanya, Asliah. Ia menjelma menjadi bukti hidup (living proof) bagi para kadernya bahwa dedikasi sosial tidak harus mengorbankan masa depan pribadi. Di tengah kesibukan mengorganisasi gerakan swadaya, Asliah sukses menuntaskan pendidikan akademik dengan predikat lulusan terbaik Pascasarjana (S2) di UIN Syahada Padangsidimpuan. Ini adalah anti tesis bagi mitos lama yang menyebut organisasi sebagai perusak nilai akademik. Bagi YPPM, ruang kuliah adalah laboratorium teori, sedangkan organisasi adalah medan uji empiris.
Rekam jejak pergerakan mandiri ini sebenarnya telah teruji waktu. Publik tentu belum lupa pada peristiwa Minggu, 4 Juni 2023 silam, saat YPPM “menyulap” trotoar Jembatan Merah di Kecamatan Panyabungan Selatan menjadi panggung Fashion Street. Lewat peragaan busana etnik Mandailing yang dikemas modern, mereka tidak hanya memamerkan estetika lokal, tetapi secara genius merangkul remaja jalanan agar terhindar dari kenakalan remaja.
Konsistensi itu terus naik kelas hingga puncaknya pada Minggu, 5 Juli 2026 kemarin, lewat suksesnya gelaran Grand Final Pemilihan Putra Putri Madina 2026 di Aula Dinas Pariwisata Madina. Event yang menobatkan Ezra Beatrix (SMAN 1 Naga Juang) sebagai Putri Madina 2026 dan Widya Rizkia Putri (MAN 3 Madina) sebagai Juara III Putri Ekowisata ini sekaligus meruntuhkan stigma bahwa kontes duta daerah hanyalah ajang “ecek-ecel” belaka. Di bawah sorotan lampu yang didirikan dari hasil keringat swadaya tersebut, para finalis tampil matang dengan kemampuan komunikasi publik, kepekaan wawasan, serta kapasitas pemecahan masalah (problem-solving) yang riil.
Melalui jejak digitalnya, YPPM juga membuktikan diri sebagai organisasi yang multidimensional. Nilai budaya dirajut selaras dengan napas keagamaan melalui Pemilihan Putri Muslimah Madina. Begitu pula dengan kepekaan sosialnya yang selalu hadir di garis depan mulai dari agenda rutin berbagi takjil di bulan Ramadan hingga aksi galang donasi kemanusiaan bersama seniman lokal saat bencana banjir melanda daerah. Hebatnya, para kader ini tidak dibiarkan menjadi menara gading. Dulu, YPPM menerjunkan mereka langsung ke desa-desa untuk mengawal program pencegahan stunting hingga mendampingi pelaku UMKM lokal.
Pada akhirnya, apa yang dicontohkan oleh Yayasan Putra Putri Mandailing Natal adalah sebuah otokritik sekaligus teladan berharga bagi dunia kepemudaan kita hari ini. Mereka membuktikan bahwa kemajuan suatu daerah tidak melulu harus menunggu ketukan palu anggaran pemerintah, apalagi menunggangi momentum politik praktis. Melalui sinergi budaya, keteguhan akademik, dan gerakan kepedulian sosial yang independen, mereka telah menciptakan ekosistem merdeka tempat anak muda bisa bermimpi setinggi langit tanpa kehilangan pijakan pada tanah kelahirannya. Di tangan gerakan yang didorong ketulusan murni, keistiqomahan bersikap, dan napas panjang pengabdian dalam keheningan seperti YPPM, masa depan Mandailing Natal tidak sekadar dirawat agar tidak punah, tetapi sedang dituntun menuju gerbang kemandirian yang sejati.
Karena pada akhirnya, sejarah peradaban tidak pernah mencatat riuhnya kerumunan yang sekadar singgah lalu punah. Ia hanya mengingat cetak biru yang ditinggalkan oleh segelintir manusia tangguh yang memilih istiqomah memeluk sunyi, merawat akar, dan memerdekakan masa depan tanah kelahirannya dengan tangan mereka sendiri.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

