Rabu, 8 Jul 2026
light_mode

BISNIS MEDIA DAN IDEOLOGI

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat di Gerep Institute

Ketika Ruang Publik Bernegosiasi dengan Pasar

“Tidak ada media yang hidup tanpa biaya. Tetapi tidak semua media rela menjual kepercayaannya untuk membayar biaya hidupnya.”

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam memahami media adalah menganggap bahwa ruang redaksi merupakan pusat dari seluruh kehidupan sebuah perusahaan pers.

Padahal, sebelum sebuah berita lahir, ada keputusan-keputusan yang jauh lebih mendasar yang telah lebih dahulu diambil.

Keputusan tentang model bisnis. Tentang sumber pendapatan. Tentang investasi. Arah perusahaan.

Keputusan-keputusan itulah yang, secara perlahan, membentuk karakter sebuah media.

Seorang wartawan boleh saja memiliki idealisme yang tinggi. Seorang pemimpin redaksi boleh saja memegang teguh etika jurnalistik. Namun ketika perusahaan tempat mereka bekerja menghadapi tekanan ekonomi yang berat, idealisme itu sering kali harus berhadapan dengan pertanyaan yang sangat sederhana:
“Besok perusahaan ini masih bisa menggaji karyawan atau tidak?”

Pertanyaan itu tidak pernah diajarkan dalam sekolah jurnalistik. Tetapi, justru itulah pertanyaan yang setiap hari menghantui banyak perusahaan media.

***

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa membicarakan media sebagai institusi sosial. Kita memuji perannya sebagai penyampai informasi. Pengawas kekuasaan. Pilar demokrasi.

Semua itu benar.

Namun, ada satu kenyataan yang sering kita lupakan. Media juga adalah perusahaan. Memiliki pegawai. Bayar listrik. Sewa kantor. Beli peralatan.

Perlu mengembangkan teknologi. Dan tak lupa bayar pajak.

Dan, di era digital, ia harus bersaing dengan platform global yang menguasai perhatian publik tanpa harus memproduksi berita.

Di sinilah dilema itu bermula.

Sebagai institusi sosial, media dituntut berpihak kepada kepentingan publik. Sebagai perusahaan, media dituntut menjaga keberlanjutan usaha. Kedua tuntutan itu tidak selalu berjalan searah.

Kadang mereka saling menguatkan. Tak jarang pula saling bertabrakan.

***

Di banyak daerah, termasuk Mandailing Natal, dilema itu terasa lebih nyata. Pasar pembaca relatif kecil. Belanja iklan swasta belum berkembang optimal. Sementara biaya operasional terus meningkat.

Dalam kondisi seperti ini, setiap kontrak iklan menjadi penting. Setiap advertorial menjadi berarti. Setiap kerja sama menjadi penopang keberlangsungan perusahaan.

Pertanyaannya bukan apakah hal itu salah. Tidak. Media memang membutuhkan pendapatan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika sumber pendapatan mulai menentukan arah pemberitaan.

Di titik itulah fungsi sosial mulai bernegosiasi dengan kepentingan ekonomi. Dan tidak semua media mampu menjaga jarak yang sehat di antara keduanya.

***

Di sinilah ideologi masuk, bukan pertama-tama sebagai paham politik, tetapi sebagai cara pandang terhadap dunia.

Setiap media memiliki nilai. Ada yang menempatkan kepentingan publik sebagai orientasi utama. Sebagian lebih menekankan pertumbuhan bisnis. Dan, sebagian yang lain lahir dari semangat perjuangan sosial.

Lalu, ada pula yang tumbuh dari kedekatan dengan kelompok politik atau kepentingan ekonomi tertentu.

Jelas, tidak ada media yang benar-benar hadir dalam ruang hampa nilai.

Yang membuat berbeda adalah apakah nilai itu dikelola secara jujur dan transparan, atau justru disembunyikan di balik klaim objektivitas yang semu.

Objektivitas bukan berarti media mengabaikan nilai. Tapi, media mesti memiliki disiplin untuk tidak membiarkan nilai-nilai itu mengalahkan fakta.

***

Dalam ilmu komunikasi, pembahasan tentang media tidak pernah bisa dipisahkan dari ekonomi politik. Tokoh seperti Vincent Mosco mengingatkan bahwa produksi informasi selalu terkait dengan kepemilikan, distribusi sumber daya, dan relasi kekuasaan.

Namun di era digital, persoalannya menjadi lebih rumit. Media tidak lagi hanya berhadapan dengan pemerintah atau pemasang iklan. Ia juga berhadapan dengan algoritma.

Judul yang lebih provokatif sering lebih mudah menjangkau pembaca. Konten yang memancing emosi lebih cepat menyebar. Kecepatan sering mengalahkan kedalaman.

Dalam situasi seperti itu, tekanan terhadap media tidak lagi datang dari satu arah. Ada yang datang dari pasar. Dari teknologi. Politik. Bahkan dari perilaku audiens itu sendiri.

***

Karena itu, menurut saya, tantangan terbesar media kontemporer bukan memilih antara idealisme atau bisnis.

Pilihan seperti itu terlalu sederhana.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjaga keseimbangan. Media harus memperoleh keuntungan agar tetap hidup. Tetapi keuntungan tidak boleh menjadi penentu tunggal arah institusi.

Media harus memiliki nilai. Tetapi, nilai tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan fakta.

Media harus mengikuti perkembangan teknologi. Tetapi, teknologi tidak boleh mengambil alih tanggung jawab etik redaksi.

Keseimbangan itulah yang membedakan media sebagai institusi dengan media sebagai komoditas.

***

Dalam konteks inilah organisasi perusahaan pers seperti SPS, AMSI, SMSI, dan JMSI memegang peran strategis.

Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada peningkatan kompetensi wartawan melalui UKW. Padahal masa depan media juga ditentukan oleh kualitas perusahaan pers sebagai organisasi.

Problemnya, bagaimana perusahaan membangun tata kelola. Bagaimana menjaga independensi redaksi? Mulai dari mengembangkan model bisnis yang sehat, menyiapkan regenerasi kepemimpinan dan bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi perusahaan tidak dibayar dengan menurunnya kepercayaan publik?

Agenda-agenda inilah yang menurut saya akan menjadi tantangan besar organisasi perusahaan pers pada dekade mendatang.

***

Mandailing Natal dapat menjadi cermin kecil dari persoalan yang lebih besar.

Di satu sisi, masyarakat membutuhkan media yang kuat untuk mengawal pembangunan, mengawasi tata kelola sumber daya alam, dan menjaga ruang dialog publik.

Di sisi lain, media lokal harus bertahan di tengah pasar yang terbatas dan kompetisi digital yang semakin keras.

Karena itu, membangun media lokal tidak cukup hanya dengan memperbanyak pelatihan jurnalistik.

Yang tidak kalah penting adalah membangun perusahaan media yang sehat. Sebab, wartawan bekerja di dalam institusi. Dan kualitas institusi pada akhirnya akan menentukan sejauh mana kompetensi wartawan dapat berkembang menjadi karya jurnalistik yang benar-benar berpihak kepada kepentingan publik.

***

Barangkali sudah saatnya kita mengubah cara memandang perusahaan pers. Ia bukan sekadar mesin pencetak berita. Bukan pula sekadar entitas bisnis. Melainkan juga institusi yang setiap hari menegosiasikan tiga kepentingan sekaligus:
1. Kepentingan ekonomi.
2. Kepentingan ideologi, dan
3. Kepentingan publik.

Jika salah satunya terlalu dominan, media kehilangan keseimbangannya. Dan, jika ketiganya dikelola dengan bijaksana, media tidak hanya bertahan sebagai perusahaan. Bisa tumbuh menjadi institusi yang dipercaya.

Pada akhirnya, dalam industri media, kepercayaan itu selalu lebih bernilai daripada keuntungan jangka pendek.

Memang, keuntungan dapat menjaga perusahaan tetap beroperasi. Tetapi, hanya kepercayaan yang dapat membuatnya tetap dihormati. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkada Langsung Tak Menjamin Kedaulatan Rakyat

    Pilkada Langsung Tak Menjamin Kedaulatan Rakyat

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Sri Edi Swasono Demokrasi adalah Kerakyatan. Demokrasi adalah ‘Daulat Rakyat’, bukan ‘Daulat Tuan­ku’, dan bukan pula ‘Daulat Pasar’. Pemerintahan demokratis adalah pemerin­tahan cap rakyat, bukan cap tuanku, bukan cap pemodal, bukan pula cap partai ataupun cap teknokrat, bukan pula cap penguasa atau pun cap proletar. Kedaulatan rakyat tidak identik dengan pemilihan langsung yang diricuhkan saat ini. Pemilihan langsung hanya ‘secuil kecil’ dari wujud dan […]

  • Penghentian Operasional Tambang Emas Martabe Perburuk Citra RI

    Penghentian Operasional Tambang Emas Martabe Perburuk Citra RI

    • calendar_month Sabtu, 6 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO)-Penghentian sementara operasional tambang Martabe di Tapanuli Selatan, Sumut, merupakan sebuah kerugian besar bagi Indonesia. Terutama bagi citra Indonesia di mata dunia internasional. Bahwa ternyata iklim investasi di negara ini masih tidak kondusif, hanya karena tarik ulur antara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, terkait masalah pemasangan pipa pembuangan sisa limbah […]

  • Saham OTP Geotermal Jatuh Ke Tangan KS Orka

    Saham OTP Geotermal Jatuh Ke Tangan KS Orka

    • calendar_month Sabtu, 7 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Perjalanan akuisisi saham PT SMGP akhirnya kandas di tangan KS Orka Renewables Pte Ltd. Perusahaan asal singapura ini berhasil menjadi yang terdepan diantara pesaing – pesaingnya seperti Medco dan Star Energy yang santer dikaitkan dengan takeover OTP belakangan ini. Seperti dilansir dari laman Tata Power dan Origin Energy yang dikutip Sorikmarapinews, KS Orka telah meng-akuisisi […]

  • Madina Hasilkan 72 Ton Sampah, Bupati: Harus Dikelola Secara Profesional

    Madina Hasilkan 72 Ton Sampah, Bupati: Harus Dikelola Secara Profesional

    • calendar_month Rabu, 16 Apr 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setidaknya 72 ton sampah dihasilkan tiap hari di berbagai kawasan di Mandailing Natal (Madina), Sumut. Bupati Madina H. Saipullah Nasution mengatakan, jumlah tersebut cukup banyak, dan tidak sebanding dengan armada yang dimiliki Pemkab Madina untuk mengangkut sampah. “Pemkab Madina hanya memiliki 13 truk pengangkut sampah, dikalikan dua kali angkut dalan sehari […]

  • Bupati Madina Serahkan Seluruh Gajinya kepada Petugas Kebersihan

    Bupati Madina Serahkan Seluruh Gajinya kepada Petugas Kebersihan

    • calendar_month Rabu, 1 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal, Jakfar Sukhairi Nasution menyerahkan seluruh gajinya bulan ini kepada para petugas kebersihan. Gaji itu diserahkannya secara langsung, Rabu (1/9/2021) di lapangan parkir perkantoran Pemkab Madina. Ini adalah gaji perdana Jakfar Sukhairi Nasution pasca dilantik menjadi bupati akhir Juli. Petugas kebersihan itu meliputi tukang sapu, pekerja, sopir, penjaga TPA […]

  • Potensi Pemuda Rantau yang Diabaikan Pemda Madina

    Potensi Pemuda Rantau yang Diabaikan Pemda Madina

    • calendar_month Minggu, 18 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nanda Sri Wahyuni Pulungan Anak muda adalah aset negara. Kita percaya bahwa anak muda masih mempunyai banyak energi, ide-ide segar dan mau belajar. Mereka berani mengambil resiko dan tidak ragu mencoba hal-hal baru. Sudah saatnya, Mandailing Natal membuka mata, pikiran dan hati seluas-luasnya bahwa selamanya bumi Gordang Sambilan tidak akan pernah berkembang jika […]

expand_less