Senin, 6 Jul 2026
light_mode

Tambang Rakyat: Jalan Keluar dan PAD Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

Aktifitas penambangan biji emas (ilistrasi)

 

 

Di Mandailing Natal, realitas tambang rakyat hari ini tidak berdiri dalam ruang sederhana “legal vs ilegal”. Ia sudah menjadi ekosistem ekonomi yang kompleks: ada rakyat yang bekerja di lapangan, ada rantai pembeli, ada jalur distribusi, dan ada negara yang sering datang terlambat dalam mengatur irama.

Di satu sisi, tambang menjadi penyangga ekonomi rumah tangga di tengah keterbatasan lapangan kerja formal.

Di sisi lain, ia meninggalkan jejak masalah klasik: ketidakpastian hukum, kebocoran nilai ekonomi, konflik lahan, dan potensi kerusakan lingkungan yang tidak tertangani sistematis.

Pertanyaannya kemudian menjadi jauh lebih besar dari sekadar penertiban:
Apakah tambang rakyat di Madina akan terus menjadi ekonomi “bertahan hidup”, atau bisa ditransformasikan menjadi sumber kesejahteraan daerah dan peningkatan PAD yang nyata?

Realitas yang Tidak Bisa Diabaikan

Ada tiga lapisan realitas yang hari ini berjalan bersamaan:
1. Realitas ekonomi rakyat
Penambang kecil bekerja dengan modal terbatas, bergantung pada hasil harian, dan sangat sensitif terhadap harga jual di tingkat tengkulak.
2. Realitas pasar gelap
Rantai pembelian sering tidak transparan, harga tidak seragam, dan nilai tambah sebagian besar “lari” keluar sistem lokal.
3. Realitas negara
Negara hadir melalui regulasi, tetapi sering tidak cukup cepat membangun sistem ekonomi alternatif yang bisa langsung menggantikan ekonomi informal yang sudah hidup.
Hasilnya adalah situasi paradoks:
tambang hidup, tetapi nilai ekonominya bocor; rakyat bekerja, tetapi daerah belum tentu menikmati hasil maksimalnya.

Pertanyaan Besar yang Harus Diajukan

Jika tambang rakyat memang sudah menjadi realitas ekonomi di Madina, maka pertanyaan kuncinya bukan lagi “boleh atau tidak”, melainkan:
Bagaimana mengubah ekonomi tambang rakyat dari ekonomi bocor menjadi ekonomi yang tercatat, terkelola, dan berkontribusi langsung ke PAD?
Dan lebih jauh lagi:
Siapa yang sebenarnya menikmati nilai tambah terbesar dari emas yang keluar dari tanah Madina hari ini?

Kerangka Solusi: Ekosistem Tambang Rakyat Terkelola (Bukan Sekadar Legalisasi)

Solusi tidak cukup berhenti pada izin. Yang dibutuhkan adalah arsitektur ekonomi baru yang terdiri dari tiga lapis:

LAPIS 1: LEGALITAS SEDERHANA DAN WILAYAH KERJA JELAS

• Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang benar-benar operasional
• Izin berbasis kelompok (koperasi tambang rakyat)
• Penyederhanaan akses legal agar rakyat tidak tersingkir dari sistem formal
Intinya:
legalitas harus menjadi pintu masuk, bukan tembok penghalang

LAPIS 2: KOPERASI SEBAGAI MESIN EKONOMI RAKYAT

Koperasi tidak boleh berhenti sebagai administrasi, tetapi harus menjadi:
• pengatur produksi
• pengumpul hasil tambang
• pengendali standar kerja dan keselamatan
• jembatan ke pasar resmi
Dengan struktur:
• 1 koperasi = 1 wilayah tambang
• 10–30 penambang per unit kecil
• pencatatan produksi berbasis digital sederhana.

LAPIS 3: PASAR RESMI DAN OFF-TAKER TERKONTROL

• koperasi hanya menjual ke pembeli berizin
• sistem pembayaran cepat (1–2 hari)
• harga mengikuti formula transparan berbasis pasar global
• wajib ada jejak asal (traceability)
Di sini nilai ekonomi mulai “terkunci” di dalam sistem lokal.

Dimensi Ekonomi: Berapa Pendapatan Rakyat Bisa Naik?

Dalam sistem sekarang (tidak terstruktur), kebocoran nilai biasanya besar di tingkat tengkulak dan rantai distribusi.
Jika sistem ditata:
Skenario konservatif:
• pendapatan penambang naik 10–25%
karena potongan tengkulak berkurang
Skenario menengah:
• naik 25–40%
karena harga lebih transparan + efisiensi rantai
Skenario ideal (terstruktur penuh):
• naik hingga 50%
karena:
– harga stabil
– akses pasar langsung
– biaya transaksi turun.
Namun yang lebih penting:
pendapatan menjadi stabil, bukan fluktuatif liar seperti sekarang.

Implikasi terhadap PAD

Ini bagian yang sering hilang dalam diskusi publik.
Saat ini, banyak nilai ekonomi tambang rakyat:
• tidak tercatat penuh
• tidak masuk basis pajak optimal
• bocor di rantai informal
Jika sistem koperasi + off-taker legal berjalan:
Sumber PAD potensial:

1. retribusi produksi (berbasis volume legal)
2. pajak usaha koperasi tambang
3. izin operasi dan administrasi wilayah
4. efek turunan (logistik, transportasi, jasa)

Proyeksi Realistis (Bertahap):

• Tahap awal: PAD naik 5–10% dari sektor tambang rakyat yang terlegalisasi
• Tahap menengah: 10–20% kontribusi sektor tambang terhadap PAD sektor sumber daya
• Tahap matang: tambang rakyat menjadi salah satu pilar PAD non-APBD utama
Catatan penting:
PAD tidak akan naik jika sistem masih bocor ke ekonomi ilegal.

Titik Kritis: Siapa Pengendali Nilai Tambah?

Pertanyaan paling menentukan bukan hanya soal produksi, tetapi:
apakah nilai tambah emas berhenti di tangan rakyat dan daerah, atau terus mengalir ke luar sistem lokal?
Tanpa sistem ekonomi terstruktur:
• rakyat hanya jadi produsen bahan mentah
• daerah hanya jadi lokasi eksploitasi
• nilai tambah berpindah ke luar

Dengan sistem terkelola:
• rakyat menjadi pelaku ekonomi formal
• daerah menjadi pusat nilai tambah
• PAD menjadi lebih realistis dan terukur.

Penutup: Jalan Tengah yang Tidak Boleh Ditunda

Tambang rakyat di Madina bukan lagi isu pinggiran. Ia sudah menjadi bagian dari struktur ekonomi lokal.
Pilihan yang tersisa bukan antara “membiarkan” atau “menutup”, tetapi:
membangun sistem yang membuat ekonomi tambang rakyat bekerja untuk rakyat dan daerah, bukan untuk kebocoran ekonomi.
Dan di titik inilah ukuran keberhasilan kebijakan tidak lagi sekadar “berapa tambang ditertibkan”, tetapi:
Berapa pendapatan rakyat naik, dan berapa PAD yang benar-benar bisa masuk ke Kas Daerah secara sah dan berkelanjutan? ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Film “Senandung Willem” Menyingkap Willem Iskander Yang “Hilang”

    Film “Senandung Willem” Menyingkap Willem Iskander Yang “Hilang”

    • calendar_month Senin, 17 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Wawancara Dengan Sutradara Askolani Nasution Di sela-sela pengambilan gambar film “Senandung Willem” yang diproduksi Tympanum Novem Films bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal, Holik Nasution Mandailing Online menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, penulis skenario sekaligus sutradara film tersebut, Minggu (16/6/2013). Berikut petikan wawancara tersebut. Apa yang membuat Anda tertarik mengangkat kisah Willem Iskander […]

  • Aceh Terkorup Kedua, Gubernur: Pejabat Korupsi Seharusnya Malu

    Aceh Terkorup Kedua, Gubernur: Pejabat Korupsi Seharusnya Malu

    • calendar_month Selasa, 27 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BANDA ACEH, (MO) – Aceh yang dinobatkan sebagai provinsi terkorup nomor dua di Indonesia membuat Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah merasa sangat terpukul. Karena itu ia bertekad untuk membersihkan pejabat Aceh dari korupsi agar Aceh bisa lebih baik ke depan. “Pejabat yang korupsi di Aceh seharusnya malu kepada rakyat dan Allah. Apalagi Aceh Serambi Mekkah […]

  • Dikecam Fans, Villas-Boas Masih Santai

    Dikecam Fans, Villas-Boas Masih Santai

    • calendar_month Minggu, 12 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Manajer Chelsea, Andre Villas-Boas (AVB) enggan menanggapi kritikan keras suporter Chelsea terkait menurunnya performa The Blues musim ini. Chelsea baru saja dipermalukan Everton 0-2 pada laga lanjutan Premier League, Sabtu 11 Februari 2012. Mantan pelatih FC Porto tersebut mengakui kekalahan itu jadi salah satu penampilan terburuk Chelsea selama ia menjabat manajer The Blues. “Kami seperti […]

  • Dana APBD Binjai Diduga Bobol Rp8 Miliar Tiap Tahun

    Dana APBD Binjai Diduga Bobol Rp8 Miliar Tiap Tahun

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Ketua Komisi A DPRD Kota Binjai Muhammad Yusuf angkat bicara soal dugaan penyelewengan gaji 1.574 pegawai honor di lingkungan Pemko Binjai Tahun 2007-2009. Yusuf meminta honorer yang merasa dirugikan, segera melapor dan membuat pengaduan. Permintaan tersebut disampaikan M Yusuf saat dihubungi via telepon, Rabu (02/03/2011). “Alokasi Rp8 miliar yang diambil dari dana APBD Kota […]

  • Sumteng Berpotensi Segera Direalisasikan

    Sumteng Berpotensi Segera Direalisasikan

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Ketua PB GP Ansor yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nusron Wahid, menyebutkan pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara berpotensi segera direalisasikan. Sebab, isu tersebut akan dibahas di rapat parlemen secepatnya. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Koordinator Daerah GP Ansor se-Tabagsel, Ir Pandapotan Siregar dan Ketua GP Ansor Madina, Samsul Bahri Lubis SAg, […]

  • Puluhan Tanaman Kelapa Sawit Ditumbang Warga

    Puluhan Tanaman Kelapa Sawit Ditumbang Warga

    • calendar_month Senin, 6 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Labuhanbatu. Puluhan batang tanaman kelapa sawit milik PT Smart Tbk Padang Halaban berlokasi di Desa Kampung Baru Sidomukti, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) ditebang ratusan warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Padang Halaban Sekitarnya (KTPHS), Minggu (5/2). Aksi penebangan pohon kelapa sawit ini merupakan bentuk protes warga terhadap pemerintah yang dinilai tidak mampu […]

expand_less