Rabu, 26 Agu 2026
light_mode

Anomali Piala Dunia 2026

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
  • print Cetak

Oleh: Subuh Iskandar Batubara
Pegiat di GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

 

Piala Dunia adalah sihir, kata seorang kawan. Bayangkan! Lebih dari separuh populasi penduduk dunia bisa dijangkau olehnya. Dan lebih dari separuh jumlah itu pula bisa tersihir dan menunggu perhelatannya. Mereka yang sudah tersihir akan rela menahan tidur sampai larut malam, demi bisa menyaksikan tim kesayangan berlaga.

Tak peduli mereka ada gejala hipertensi, diabetes melitus atau orang dengan sistem imun lemah. Tak peduli esok hari mereka akan berangkat melakukan tugas yang teramat berat atau beresiko. Juga tak peduli rutinitas menyerahkan uang belanja untuk istri di rumah belum terpenuhi. Tak ada yang peduli. Pengaruh sihir itu begitu jumawa, seolah merambat, menembus batas ruang dan waktu.

Piala Dunia ini juga bisa meredakan (sejenak) konflik yang sedang membara. Lihat, ketika tim Nasional Iran dengan “genit’ menulis pesan terimakasih dan embel-embelnya–diwakili oleh kapten Taremi dan beberapa rekannya–lalu pesan itu ditinggal di ruang ganti stadion SoFi di Los Angeles, usai menjalani pertandingan fase grup.

Namun, sihir itu terhenti sejenak. Bak detak jantung yang tiba-tiba melambat. Ruwet, genting bahkan terkesan kritis. Waktunya, persis dinihari Selasa, tanggal 7 Juli. Bertempat di Marcedes-Benz stadium, Atlanta, negara bagian Georgia.

Kronologisnya, menit ke 57, Marwan Mattia–sang midfielder Mesir –kuasai bola. Coba direbut Lisandro Martinez, terjadi perebutan bola, Martinez terjatuh. Namun wasit tidak meniup pluit. Serangan terus berlanjut, Marwan melakukan solorun. Memasuki jantung pertahanan Argentina, berikan umpan matang ke Mostafa Zico dan… gol.

Tapi apa lacur. Wasit meninjau monitor, melakukan VAR (Video Assistant Referee). Jelas Lisandro Martinez jatuh, tapi wasit tidak meniup pluit kala insiden. Alih-alih menunjuk tengah lapangan, wasit Francois Letexier asal Prancis malah menganulir gol.

Dunia pun gempar. Komentar dan tudingan muncul di jagad maya. Netizen yang maha tahu memvonis, hasil pertandingan sudah diseting oleh Gianni Infantino, sang presiden FIFA.

Infantino Tumpul ke Atas

Tuduhan netizen memang tidak berdasar. Tapi juga, tidak tendensius.

Jauh sebelum Piala Dunia 2026. Gianni Infantino mengambil satu putusan yang tegas. Tepatnya pada tahun 2022, ketika FIFA mem-banned Rusia.

Rusia tidak boleh ikut agenda FIFA, karena mereka menyerang negara yang berdaulat.  Menginvasi Ukraina, membunuh warga tidak berdosa. Meruntuhkan warisan budaya juga situs serta bangunan bersejarah. Lalu mereka disanksi. Bukankah olahraga, apalagi sepakbola adalah katalisator perdamaian dunia ?

Lalu datanglah 2026. Tahun yang ditunggu begitu banyak orang. Karena di tahun ini akan dihelat kompetisi sepakbola paling akbar sejagat.

Di awal tahun, tepatnya di bulan Pebruari. Amerika yang didaulat jadi tuan rumah Piala Dunia 2026, malah berulah. Bersama sekutunya, mereka menyerang  beberapa kota. Menargetkan aset mliter Iran, membunuh para pemimpin dan peminpin tertinggi Iran. Duta besar Iran untuk PBB menyatakan, lebih dari 1500 orang sipil sudah terbunuh. Termasuk 175 orang anak tak berdosa di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab. Mendengarnya, terasa dada kita bak ditimpa benda berukuran sangat berat. Menyesakkan !

Serangan itu begitu cepat meningkat menjadi perang regional, dengan dampak luas terhadap rantai pasokan penting dan bantuan kemanusiaan. Penutupan Selat Hormuz—ekses dari perang tersebut—telah menyebabkan guncangan ekonomi secara global.

Di mana Infantino di saat dan pasca serangan Amerika ke Iran? Infantino memang berada tidak jauh-jauh amat dari Trump, presiden Amerika. Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Amerika Serikat dijadwalkan akan menyaksikan secara bersama final Piala Dunia 2026. Kemudian bersama pula membagikan trofi kepada pemeneang di New York/New jersey. Teranyar dan paling kontroversi, juga (mendengarnya) membuat perut kita terasa mual. Secara terbuka Trump meminta FIFA meninjau kartu merah pemain Amerika, Folarin Balogun.

Dan gilanya, revisi kartu merah sang pemain dilaksanakan. Berdemagogi menggunakan pasal 27 kode disiplin, FIFA kemudian menangguhkan hukuman dan larangan bermain untuk satu pertandingan.

Ibarat seorang koki yang sedang menyiapkan menu makanan. Pisau Infantino hanya tajam mencincang ke bawah. Tapi tumpul saat  dipergunakan untuk mengerat ke atas.

Semarak Piala Dunia di Madina

Sejenak kita lupakan Infantino dengan peran ambigunya. Karena, lambat laun semua akan mengalir dengan alami, melewati kanalnya masing-masing. Jika tiba saatnya, biarlah sejarah yang akan mengenang. Akan ada pertinggal sejarah yang berbau harum dan ada pula yang sebaliknya.

Mari kita ke kampung halaman tercinta, ke  Mandailing Natal. Di sini, semarak Piala Dunia ini juga begitu kental terasa. Slogan sepakbola gembira juga turut dirasakan masyarakat.

Di Alun-Alun kota Panyabungan, pemkab memasang layar lebar. Agar masyarakat bisa menikmati siaran langsung Piala Dunia. Pun, sampai ke pelosok Desa. Pasti ada warung kopi yang buka hingga larut malam, karena memutar televisi yang menyiarkan pertandingan sepakbola. Nobar atau nonton bareng adalah hiburan yang amat menarik di zaman yang serba efisiensi ini.

Harapan saya dan kita semua tentunya, spirit atau semangat Piala Dunia tidak hanya sampai di sini. Pemerintah harus hadir. Anak muda harus ada sarana untuk mengasah bakat berolahraga. Sarana yang punya daya tarik, sehingga mereka merasa menikmati dan menjadi kerasan. Dan pada akhirnya waktu untuk hal-hal yang sifatnya merugikan diri sendiri juga orang lain, semakin terminimalisir.

Piala Dunia adalah sihir, kata seorang kawan. Banyak kejadian di luar nalar. Maka untuk para pembaca, mari kita menikmatinya. ***

 

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (6)

    MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (6)

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    oleh : Z. Pangaduan Lubis Willem Iskandar Mencerdaskan Bangsanya Dalam perjalanan sejarah etnis Mandailing sepanjang abad ke-18 tokoh Willem Iskandar wajib dicatat. Karena jasanya sangat besar bagi etnis Mandailing dalam usaha untuk mencerdaskan bangsanya. Dan juga Willem Iskandar berjasa besar untuk mempelopori perkembangan pendidikan modern di Sumatera bagian Utara. Willem Iskandar adalah putera Mangaraja Tinating […]

  • Pengukuhan Pengurus Dekranasda Jangan Hanya Seremonial dan Kamuflase

    Pengukuhan Pengurus Dekranasda Jangan Hanya Seremonial dan Kamuflase

    • calendar_month Kamis, 10 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengukuhan pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) periode 2021-2024 diharapkan bukan hanya sebatas seremonial dan kamuflase. Hal itu disampaikan Bupati H. M. Ja’far Sukhairi Nasution saat memberikan arahan pada acara pengukuhan Dekranasda di aula kantor Bupati Madina, Kamis (10/2). “Jangan hanya seremonial dan kamuflase. Saya harap Dekranasda […]

  • Lurah Diduga Jual Raskin

    Lurah Diduga Jual Raskin

    • calendar_month Selasa, 28 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Indikasi penjualan beras miskin (Raskin) oleh oknum Lurah Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota, SB BSc, ke kios-kios di Jalan Halat, Medan, seperti dilansir salah satu media cetak, beberapa waktu lalu, membuat geram Anggota DPRD Medan. Para wakil rakyat tidak ingin Pemko Medan mengendapkan persoalan ini begitu saja dan mendesak Plt Inspektur Kota Medan […]

  • Stunting Ancaman Bagi Generasi Bangsa

    Stunting Ancaman Bagi Generasi Bangsa

    • calendar_month Selasa, 6 Sep 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengajak seluruh stackholder fokus benahi stunting dalam rapat kerja tim percepatan dengan Taman Pemulihan Gizi (TPG) dan enumerator dalam rangkat persiapan survey tim Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) di aula Ladang Sari Desa Gunung Tua, Kecamatan Panyabungan, Selasa (6/9/). “Perlu kita pahami […]

  • Jenazah Hasanuddin Ditemukan Bersimbah Darah

    Jenazah Hasanuddin Ditemukan Bersimbah Darah

    • calendar_month Sabtu, 18 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Kelurahan Kota Siantar, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara dikejutkan penemuan jenzah pria bersimbah darah, Sabtu dini hari (18/11/2017). Korban diketahui bernama Hasanuddin (40), warga Kelurahan Kota Siantar. Istri korban, Halimah Lubis (35) yang didampingi putrinya yang masih duduk di bangku SD menangis histeris begitu melihat jenazah korban. Kasat Reskrim […]

  • Misang Natorangan Ari

    Misang Natorangan Ari

    • calendar_month Jumat, 23 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Madung salaluma tarjadi di masyarakatta ise-ise halak namanjadi pahlawan kesiangan gorarna hasidunganna pasdo songon misang natorangan-ari, panaili rambon-rambon, pamikirna lange-lange, mabiar muse dope ona umban arena marreok-reok manuk ditonga borngin dipelosia. Pala marpili katua adong mei antong sijajang-jajangonna markaok-kaok tu jae tujulu mangajak-ajak halak anso idukung calon nia, arena calon katua natangkangnai ningia gorarna. Angke […]

expand_less