Senin, 5 Okt 2026
light_mode

TUNTUTAN MERDEKA

  • account_circle Supardi
  • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Supardi S.H.I
Sociopreneur / Founder Business Owners CommunitKetika Merdeka Hanya Terasa di Upacara

 

 

…

Ini bukan prosa. Bukan pula unjuk rasa.
Dan bukan curhatan orang yang sedang kecewa.

Ini hanya suara kecil dari kelas menengah yang setiap hari bekerja, membayar, bertahan, dan terus dipaksa percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Setiap Agustus kita kembali berbicara tentang kemerdekaan.
Bendera dikibarkan.
Lagu kebangsaan dinyanyikan.
Upacara dilaksanakan.
Anak-anak berbaris.
Pidato tentang perjuangan para pahlawan kembali terdengar.
Kita diminta mencintai negeri.
Tentu.
Siapa yang tidak?
Kita berutang kepada para pahlawan yang telah mempertaruhkan nyawa agar bangsa ini merdeka.

Tetapi setelah 81 tahun Indonesia merdeka, ada pertanyaan yang mungkin terdengar tidak nyaman:
Apa arti kemerdekaan bagi rakyat yang setiap pagi masih sibuk memikirkan bagaimana bertahan hidup sampai akhir bulan?

Bagi sebagian orang, kemerdekaan mungkin berarti bebas.
Bagi sebagian kelas menengah, kemerdekaan terkadang hanya berarti:
hari ini masih bisa membayar tagihan.
Bangun pagi.
Bukan karena suara ayam.
Bukan karena ingin menikmati matahari terbit.
Tetapi karena suara token listrik mengingatkan bahwa hidup harus segera dimulai.

Pagi-pagi antri Pertalite.
Kemudian bekerja.
Bekerja lagi.
Dan bekerja lebih keras.
Tetapi semakin keras bekerja, semakin banyak pula kebutuhan yang datang.
Uang sekolah anak.
Listrik.
Air.
Internet.
Belanja dapur.
Cicilan kendaraan.
Cicilan rumah.
Pajak.
Kebutuhan orang tua.
Kebutuhan keluarga.
Dan kebutuhan yang tidak pernah mau mengerti bahwa penghasilan kita terbatas.

Di sinilah kelas menengah berada.
Tidak cukup miskin untuk selalu mendapatkan bantuan.
Tetapi tidak cukup kaya untuk merasa aman.
Masih punya motor, dianggap mampu.
Masih punya telepon pintar, dianggap sejahtera.
Masih bisa makan di luar sesekali, dianggap baik-baik saja.
Padahal mungkin semua itu dibayar dengan cicilan.

Kelas menengah hari ini adalah kelas yang terlihat mampu dari luar, tetapi sering kali sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri di dalam.

Mau membeli atau menabung?
Mau membayar cicilan atau kebutuhan anak?
Mau memperbaiki kendaraan atau membayar uang sekolah?
Mau berobat atau menunggu sampai sembuh sendiri?
Mau menikmati hidup atau memikirkan bulan depan?
Kemerdekaan macam apa yang membuat orang harus terus memilih antara kebutuhan yang sama-sama penting?

Pedagang kecil pun tidak jauh berbeda.
Hari ini untung.
Besok belum tentu.
Harga modal naik.
Daya beli turun.
Pelanggan menawar.
Sewa tempat naik.
Pajak dan berbagai kewajiban tetap berjalan.
Ketika usaha berkembang, kewajiban ikut bertambah.
Ketika usaha jatuh, tidak ada yang ikut menanggung kerugian.
Lapak terancam digeser.
Tempat usaha terancam ditertibkan.
Pedagang diminta tertib.
Tetapi pertanyaannya:
Di mana ruang yang tertib untuk mereka mencari nafkah?

Kita sering berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.
Tentang investasi.
Tentang pembangunan.
Tentang angka-angka.
Tetapi rakyat tidak hidup dari angka.
Rakyat hidup dari harga beras.
Harga telur.
Harga minyak.
Harga bahan bakar.
Biaya sekolah.
Biaya kesehatan.
Harga sewa rumah.
Dan isi dompet pada tanggal tua.
Angka ekonomi boleh terlihat bagus.
Tetapi jika isi dompet rakyat semakin tipis, ada sesuatu yang perlu ditanyakan.
Karena kesejahteraan bukan hanya tentang berapa persen ekonomi tumbuh.
Kesejahteraan adalah ketika seorang ayah pulang bekerja tanpa dihantui pertanyaan:
“Besok uang dari mana?”

Lalu datanglah 17 Agustus.
Kita berkumpul.
Dana kegiatan dikumpulkan dari urunan.
Bendera dipasang.
Perlombaan dimulai.
Panjat pinang.
Pohon licin.
Hadiah di atas.
Orang-orang di bawah saling menopang.
Saling injak.
Saling tarik.
Saling sikut.
Semua demi mencapai sesuatu yang berada di atas.

Penonton bersorak.
Kita tertawa.
Bukankah tanpa sadar kita sedang melihat gambaran kehidupan sendiri?
Yang kuat naik.
Yang lemah menjadi pijakan.
Yang berhasil mencapai atas mendapatkan hadiah.
Yang jatuh terperosok ke bawah.
Kemudian kita menyebutnya permainan.

Lomba makan kerupuk.
Kerupuk digantung.
Peserta berusaha menghabiskannya tanpa menggunakan tangan.
Kita tertawa melihat orang kesulitan mendapatkan sesuatu yang sederhana.
Tetapi mungkin ada ironi yang lebih dalam.
Di luar arena perlombaan, banyak orang juga sedang berjuang mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:
makan.

Bedanya, dalam kehidupan nyata tidak ada penonton yang tertawa.

Lomba kelereng.
Bola kecil di atas sendok.
Sedikit saja kehilangan keseimbangan, gagal.
Bukankah hidup kelas menengah juga seperti itu?
Sedikit saja penghasilan berkurang.
Sedikit saja harga kebutuhan naik.
Sedikit saja ada anggota keluarga sakit.
Sedikit saja usaha mengalami kerugian.
Keseimbangan ekonomi keluarga bisa runtuh.

Balap karung.
Kaki dibungkus.
Lalu dipaksa bergerak maju.
Kita tertawa melihat peserta melompat-lompat.
Tetapi sebagian rakyat mungkin menjalani kehidupan dengan kaki yang juga terbelenggu.
Terbelenggu cicilan.
Terbelenggu utang.
Terbelenggu biaya hidup.
Terbelenggu pekerjaan yang tidak memberikan kepastian.
Terbelenggu kebutuhan keluarga.
Mereka ingin berlari.
Tetapi hanya mampu melompat.

Tarik tambang.
Yang satu menarik ke kanan.
Yang lain menarik ke kiri.
Yang kuat menang.
Yang lemah terseret.
Bukankah itu juga wajah kehidupan?
Kepentingan saling tarik-menarik.
Modal melawan tenaga.
Pemilik aset melawan penyewa.
Pengusaha melawan biaya produksi.
Pekerja melawan kebutuhan hidup.
Pedagang melawan kenaikan harga.
Rakyat kecil melawan keadaan.
Dan seperti biasa:
yang memiliki kekuatan lebih besar memiliki peluang lebih besar untuk menang.

Ironisnya, kita bersorak melihat semua itu. Seolah-olah hidup memang hanya permainan. Padahal bagi banyak orang, kalah dalam kehidupan bukan berarti pulang sambil tertawa.

Kalah berarti kehilangan pekerjaan.
Kalah berarti usaha tutup.
Kalah berarti rumah disita.
Kalah berarti anak berhenti sekolah.
Kalah berarti utang bertambah.
Kalah berarti keluarga harus memulai lagi dari nol.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita memperluas makna kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan asing.

Tetapi juga bebas dari ketakutan hidup yang terus-menerus.

Bebas dari rasa takut kehilangan pekerjaan.
Bebas dari kecemasan membayar biaya pendidikan anak.
Bebas dari ketakutan ketika anggota keluarga sakit.
Bebas dari ketidakpastian pendapatan.
Bebas dari jebakan utang.
Bebas dari keadaan di mana orang bekerja semakin keras tetapi tidak pernah benar-benar naik kelas.
Dan yang paling penting:
bebas untuk memiliki masa depan.

Sebab apa gunanya seseorang memiliki kebebasan berbicara, jika hidupnya tidak memiliki ruang untuk bernafas?
Apa gunanya ekonomi tumbuh, jika sebagian keluarga terus mengejar kebutuhan yang berlari lebih cepat daripada pendapatan?

Apa gunanya pembangunan terlihat megah, jika orang kecil masih takut kehilangan tempat untuk mencari nafkah?

Kita tidak meminta hidup mewah.
Kita hanya ingin hidup layak.
Kita tidak meminta semua orang menjadi kaya.
Kita hanya ingin orang yang bekerja keras memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.

Kita tidak meminta negara menyelesaikan semua masalah.

Kita hanya ingin sistem memberikan ruang yang adil bagi mereka yang mau berusaha.

Karena rakyat tidak membutuhkan janji bahwa hidup akan mudah.

Rakyat hanya membutuhkan kepastian bahwa kerja keras tidak sia-sia.

Maka pada 17 Agustus ini, mungkin kita tidak perlu terlalu cepat merasa puas hanya karena bendera sudah berkibar.

Mari bertanya lebih jauh.
Apakah pedagang kecil merasa merdeka?
Apakah buruh merasa merdeka?
Apakah petani merasa merdeka?
Apakah pekerja informal merasa merdeka?
Apakah anak muda merasa memiliki masa depan?
Apakah kelas menengah merasa aman?

Atau jangan-jangan kita hanya merayakan kemerdekaan setiap tahun, sementara sebagian rakyat masih berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan ekonomi setiap hari?

Ini bukan prosa.
Bukan unjuk rasa.
Bukan curhatan.
Ini adalah pertanyaan.

Dan pertanyaan tidak harus dijawab dengan marah.

Cukup dijawab dengan kenyataan.

Sebab merah putih tidak hanya berkibar di tiang. Ia seharusnya berkibar di dalam kehidupan rakyatnya.

Dan kemerdekaan tidak seharusnya hanya terdengar ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan.
Ia seharusnya terasa ketika rakyat pulang bekerja, membuka pintu rumah, melihat keluarganya, lalu berkata:
“Hari ini kita baik-baik saja.
Besok kita juga masih punya harapan.”

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya kita tuntut.

Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan.

Merdeka adalah ketika manusia memiliki ruang untuk hidup dengan bermartabat. ***

 

  • Penulis: Supardi
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelebaran Jalur Panyabungan Timur

    Pelebaran Jalur Panyabungan Timur

    • calendar_month Rabu, 28 Mar 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Dua alat berat sedang melakukan pelebaran badan jalan di jalur Panyabungan-Pagur di titik Desa Padang Laru. Sejak awal Maret 2018 badan jalan menuju Panyabungan Timur, Mandailing Natal ini diperlebar untuk memperlancar arus lalulintas. Amatan Mandailing Online,pekan lalu, lebar badan jalan ini mencapai 12 meter setelah diperlebar yang sebelumnya hanya sekitar 6 meter. Pelabaran jalan ini […]

  • PNPM – LMP Dipertanyakan

    PNPM – LMP Dipertanyakan

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Proyek PNPM – LMP Di beberapa Desa Dikecamatan Natal dan Kecamatan Muara Batang Gadis dipertanyakan. Hal ini Pnpm dari anggaran tahun 2010 dikecamatan ini masih banyak yang belum selesai dikerjakan belum lagi pengerjaannya yang asal-asalan.(MPOL)

  • SI RIRI

    SI RIRI

    • calendar_month Senin, 22 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Borngin tuari marnipi Si Riri. I nipinia i nida ia mada dompak bahat marpoken siri-siri i potang ni ari. Tai, ngabinoto sian dia rona adong mada sada ulok ri na manyotop siri-siri na dompak songgop i bungo mata ni ari. I buat Si Riri bulus lidi, oni ilibas ia mantong ulok ri i. Bope inda […]

  • Kasus Maga, Usut Gratifikasi Perpanjangan IUP Usaha Panas Bumi

    Kasus Maga, Usut Gratifikasi Perpanjangan IUP Usaha Panas Bumi

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam proses hukum, Polres Madina diminta mengedepankan sisi penyebab terjadinya penyerangan massa yang berujung pada pengerusakan serta meninggalnya Ispara Sakti Nasution alias Adek di Maga Lombang, Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal (Madina), Selasa (20/1) kemarin. “Kemudian saya juga mengharap agar masyarakat Lereng Sorik Marapi jangan mau lagi diadu domba dengan […]

  • Kunker DPRD: Kualitas Pendidikan Madina Jauh Tertinggal

    Kunker DPRD: Kualitas Pendidikan Madina Jauh Tertinggal

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kualitas pendidikan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) jauh tertinggal dibandingkan dengan Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPRD Madina Dodi Martua di Panyabungan, Ahad (20/03/2011), setelah pulang kunjungan kerja dari Kendal. Padahal, apabila dilihat dari banyaknya sekolah, alokasi dana, sarana dan prasarana di Madina, tidak berbeda jauh dengan […]

  • Akar Persoalan Keterpurukan Bangsa

    Akar Persoalan Keterpurukan Bangsa

    • calendar_month Selasa, 26 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PERTANYAAN mendasar yang sering muncul ke permukaan adalah: apakah negara yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya 65 tahun lalu ini, benar-benar sudah merdeka? Merdeka dalam arti berdaulat dalam segala aspek kehidupan bernegara? Untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut, tentu kita harus melihat situasi global dan nasional saat ini. Situasi global saat ini ditandai pertarungan bangsa-bangsa dalam membangun pengaruh […]

expand_less